Mengapa 90% Strategi Bisnis Gagal? Mengenal Bad Strategy dan Cara Memperbaikinya Menurut Richard Rumelt

Home >> Reboan >> Mengapa 90% Strategi Bisnis Gagal? Mengenal Bad Strategy dan Cara Memperbaikinya Menurut Richard Rumelt
good strategy bad strategy richard rumelt

Mengapa 90% Strategi Bisnis Gagal? Mengenal Bad Strategy dan Cara Memperbaikinya Menurut Richard Rumelt

Executive Summary: Perbandingan Cepat Good Strategy Bad Strategy

FiturGood Strategy (Strategi Baik)Bad Strategy (Strategi Buruk)
FondasiDiagnosis masalah yang jujur dan mendalam.Fluff (jargon kosong) dan mimpi tanpa dasar.
FokusMemilih satu atau dua target krusial.Mencoba mengejar semua peluang sekaligus.
Elemen IntiDiagnosis, Kebijakan Pemandu, Tindakan Terkoordinasi.Pernyataan visi yang muluk dan target finansial.
OutputTindakan nyata yang saling menguatkan.Kebingungan operasional dan konflik internal.

Karena jika Anda hanya memiliki kumpulan target tanpa diagnosis masalah yang jujur, Anda tidak sedang berstrategi—Anda hanya sedang membuat daftar harapan yang mahal.

Ilusi Strategi di Era Modern

Hampir setiap pemimpin bisnis mengklaim mereka memiliki strategi. Kita menyusunnya di awal tahun dalam rapat kerja yang melelahkan. Kita menuliskannya dalam proposal yang tebal dan presentasi yang memukau dengan grafik warna-warni. Strategi seolah menjadi simbol otoritas bahwa kita tahu apa yang sedang kita lakukan.

Namun ada satu kenyataan pahit yang jarang kita hadapi secara jujur: Apakah yang selama ini kita sebut sebagai strategi benar-benar strategi? Atau jangan-jangan itu hanya daftar rencana, kumpulan target, atau sekadar harapan yang ditata dengan rapi menggunakan istilah-istilah keren?

Banyak organisasi berhenti setelah mereka memiliki analisis. Mereka merasa sudah berstrategi karena sudah melakukan analisis SWOT atau memiliki visi 2030. Padahal, memahami bukan berarti menentukan. Melihat bukan berarti memilih. Di sinilah letak jurang antara keberhasilan dan kegagalan masif yang sering terjadi di industri.

Mengapa 90% Strategi Bisnis Gagal?

Kegagalan strategi biasanya bukan terletak pada eksekusi yang buruk, melainkan pada rancangan yang memang cacat sejak awal. Richard Rumelt dalam karyanya Good Strategy Bad Strategy yang fenomenal menjelaskan bahwa strategi buruk memiliki karakteristik yang sangat spesifik yang sering kali dianggap sebagai “praktik manajemen yang baik” oleh orang awam.

Strategi buruk tidak muncul karena kurangnya kecerdasan. Ia muncul karena keinginan untuk menghindari pilihan-pilihan sulit. Pemimpin sering kali ingin menyenangkan semua departemen, sehingga strategi yang dihasilkan adalah kompromi yang tumpul dan tidak memiliki fokus.

Berikut adalah dekonstruksi mengapa mayoritas strategi gagal membawa perubahan yang berarti bagi bisnis.

kenapa bisnis gagal - pelajaran dari buku good strategy bad strategy
Kenali apa yang membuat bisnis Anda gagal – pelajaran dari buku Good Strategy Bad Strategy dari Richard Rumelt

Anatomi Bad Strategy: Membedah 4 Pilar Kegagalan

Menurut Richard Rumelt di buku Good Strategy Bad Strategy ini, ada empat pilar yang menandai sebuah strategi buruk. Jika Anda menemukan salah satu dari ini dalam dokumen rencana perusahaan Anda, segera lakukan evaluasi.

1. Fluff (Bahasa Kosong)

Fluff adalah penggunaan kata-kata besar atau jargon teknis untuk menutupi kurangnya substansi. Sering kali, definisi strategi diubah menjadi kalimat-kalimat rumit yang terdengar intelektual namun tidak memberikan instruksi kerja apa pun.

Contoh fluff: “Strategi kita adalah menjadi pemimpin pasar melalui inovasi berkelanjutan dan sinergi operasional yang berpusat pada pelanggan.” Kalimat ini terdengar bagus, tetapi tidak mengatakan apa pun tentang masalah apa yang sedang dipecahkan atau langkah spesifik apa yang diambil.

2. Failure to Face the Challenge (Gagal Menghadapi Tantangan)

Strategi adalah cara untuk mengatasi hambatan. Jika strateginya tidak mendefinisikan apa hambatan utamanya secara spesifik, maka itu bukan strategi. Tanpa definisi tantangan, Anda tidak bisa mengevaluasi apakah strategi tersebut berhasil atau gagal.

Banyak perusahaan hanya menuliskan target (seperti menaikkan omzet 20%) tanpa menyebutkan tantangan struktural yang menghalangi pencapaian tersebut.

3. Mistaking Goals for Strategy (Menganggap Target Sebagai Strategi)

Banyak manajer yang menganggap bahwa menetapkan target performa adalah strategi. Target finansial atau angka pertumbuhan bukanlah strategi. Itu adalah hasil yang diinginkan. Strategi adalah bagaimana Anda mencapai hasil tersebut di tengah persaingan dan keterbatasan sumber daya.

4. Bad Strategic Objectives (Tujuan Strategis yang Buruk)

Tujuan strategis yang buruk adalah tujuan yang gagal menangani masalah kritis atau tujuan yang tidak bisa dilaksanakan. Biasanya, ini berupa daftar keinginan yang panjang (laundry list of projects) yang tidak memiliki keterkaitan satu sama lain dan tidak memiliki prioritas.

Baca juga: Panduan Lengkap Blue Ocean Strategy di 2026 untuk UKM Indonesia

The Kernel: Inti dari Good Strategy

Sebuah strategi yang baik memiliki struktur logis yang kuat yang disebut oleh Rumelt sebagai “The Kernel” (Inti). Inti strategi ini terdiri dari tiga elemen yang tidak bisa dipisahkan.

Diagnosis

Langkah pertama dalam strategi yang baik adalah diagnosis. Diagnosis adalah proses mengidentifikasi sifat dari tantangan yang dihadapi. Diagnosis yang baik menyederhanakan kompleksitas situasi dengan fokus pada aspek yang paling kritis.

Diagnosis yang jujur sering kali terasa tidak nyaman. Ia memaksa kita mengakui kelemahan internal atau ancaman eksternal yang nyata. Tanpa diagnosis, tindakan kita hanya akan menjadi tebak-tebakan yang mahal.

Guiding Policy (Kebijakan Pemandu)

Setelah tantangan didiagnosis, langkah berikutnya adalah menetapkan kebijakan pemandu. Ini adalah pendekatan keseluruhan yang dipilih untuk mengatasi hambatan yang diidentifikasi dalam diagnosis.

Kebijakan pemandu berfungsi sebagai kompas. Ia tidak mendikte tindakan detail, tetapi ia membatasi pilihan arah. Ia menciptakan batasan sehingga seluruh tim tahu apa yang harus dilakukan dan, yang lebih penting, apa yang tidak boleh dilakukan.

Coherent Actions (Tindakan Terkoordinasi)

Elemen terakhir adalah serangkaian tindakan yang terkoordinasi. Ini bukan sekadar daftar tugas biasa. Setiap tindakan dalam strategi yang baik harus saling menguatkan.

Koordinasi adalah sumber kekuatan yang luar biasa. Jika tim pemasaran, tim produk, dan tim operasional melakukan tindakan yang saling mendukung berdasarkan diagnosis yang sama, maka dampak yang dihasilkan akan jauh lebih besar daripada sekadar jumlah dari bagian-bagiannya.

Baca juga: Pahami Cara Diagnosis Masalah yang Perlu Anda Terapkan di Bisnis Anda

Sumber Kekuatan (Sources of Power) dalam Strategi

Strategi yang hebat tidak hanya bertahan, tetapi ia mengeksploitasi sumber kekuatan tertentu untuk memenangkan persaingan.

Leverage (Daya Ungkit)

Strategi yang baik menemukan titik di mana upaya kecil dapat menghasilkan hasil yang besar. Daya ungkit ini muncul dari kombinasi antara antisipasi, wawasan tentang situasi, dan konsentrasi sumber daya pada titik kritis tersebut.

Focus (Fokus)

Fokus berarti mengarahkan sumber daya ke satu atau beberapa tujuan tertentu yang akan memberikan keuntungan kompetitif. Kebanyakan perusahaan gagal karena mereka terlalu tipis dalam menyebar sumber daya mereka ke terlalu banyak inisiatif.

Design (Desain)

Anggaplah strategi sebagai desain sistem, bukan sekadar pilihan. Sebuah strategi yang dirancang dengan baik melibatkan sinkronisasi yang ketat antar berbagai bagian organisasi sehingga kompetitor sulit untuk menirunya.

Studi Kasus 2026: Implementasi Kernel di Era Digital

Di tahun 2026, tantangan bisnis semakin kompleks dengan integrasi AI dan perubahan perilaku konsumen yang sangat cepat. Kita bisa melihat perbedaan antara perusahaan yang hanya menggunakan jargon “Digital Transformation” (Bad Strategy) dengan perusahaan yang melakukan diagnosis nyata terhadap hambatan efisiensi mereka (Good Strategy).

Contoh nyata adalah perusahaan logistik lokal yang mendiagnosis bahwa masalah utama mereka bukan pada jumlah kurir, melainkan pada latensi data di gudang. Mereka tidak menetapkan target “Pengiriman Tercepat”, melainkan kebijakan pemandu “Otomasi Data Aliran Keluar” dengan tindakan terkoordinasi berupa integrasi sensor IOT dan pelatihan ulang staf gudang. Hasilnya, efisiensi naik 40% tanpa penambahan biaya tenaga kerja.

Buku Good Strategy Bad Strategy

Artikel ini dibuat berdasarkan summary buku Good Strategy dan Bad Strategy dari Richard Rumelt – Buku strategi yang worth untuk dibaca lebih dalam dan diterapkan dalam bisnis Anda.

Latihan Mandiri: Catatan Jeda Mingguan

Strategi bukan tentang terlihat siap. Strategi adalah tentang bersedia melihat dengan jujur, memilih dengan tegas, dan bertindak dengan konsisten. Semua itu tidak bisa digantikan oleh istilah apa pun.

Luangkan waktu 20 menit untuk menulis:

“Hal-hal yang selama ini saya sebut sebagai strategi, dan kemungkinan bahwa itu bukan strategi.”

Jangan melakukannya untuk menyalahkan diri sendiri atau merapikan dokumen. Lakukan hanya untuk melihat dengan lebih jernih dari sebelumnya. Jawaban dari pertanyaan itu mungkin tidak nyaman, tapi justru di situlah pintu pertumbuhan yang sesungguhnya terbuka.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

pustaka naik kelas daftar rekomendasi buku hartanto

Pustaka Naik Kelas

Ada fase dalam perjalanan bekerja dan berusaha ketika pertanyaan tidak...

hartanto

Copyright @Hartanto.id 2026