Bisnis

Jangan Gagal Tiga Kali! Kegagalan dalam Membangun Usaha yang sering Dialami

Banyak data menyebutkan bahwa hanya kurang dari sepertiga usaha rintisan yang bisa bertahan melalui tahun pertama. 

Berikutnya hanya sekitar separo dari yang bertahan itu yang bisa melalui tahun kedua. Ini tentu menjadi jawaban kunci kenapa jumlah wirausahawan di negara kita tidak beranjak menyentuh 5%. Pertanyaan berikutnya adalah; kenapa?

Dari pengalaman kami selama beberapa tahun ini menemani banyak rekan tumbuh UMKM dan Startup, faktor utama yang menjadi penyumbang minimnya keberhasilan adalah ketidaksiapan para pelaku. Kemudian, dari beberapa ketidaksiapan yang kami dapati, berikut adalah 3 (tiga) hal terbesar sebagai rangkumannya – 3 kegagalan yang biasa terjadi dalam usaha.

Gagal Menjajakan Ide

Banyak ide usaha bagus bermunculan. Banyak ide sangat bagus ditemukan. Tapi sedikit yang  kemudian bisa teralisasikan. Tentu tidak sedikit yang kemudian lompat pada sebuah pernyataan: pasti idenya tidak punya modal untuk direalisasikan.
Dalam pengalaman kami, kepemilikan modal bukanlah hal utama. Setidaknya, itu tidak pernah menjadi syarat untuk kita bisa memiliki ide. Memang sering kita dengar ungkapan bahwa orang berduit cenderung lebih cerdas. Tapi bukankah orang yang terlibat dalam kesulitan adalah orang pertama yang mendapat kesempatan untuk memberikan berbagai perspektif tentang solusi yang bisa ditawarkan?

 

 

gagal mengembangkan ide usaha menjadi usaha
Salah satu kegagalan membangun usaha: Mengubah IDE HEBAT menjadi sesuatu yang nyata!

Sesungguhnya setiap ide tentu akan menemukan jodohnya dalam bentuk modal. Baik itu berupa investasi kepemilikan bersama, atau modal dalam bentuk pinjaman. Hanya saja akses ke arah itu terkadang yang menjadi kendala. Dalam konteks tulisan ini, sebagaimana kami sebutkan di awal, akses dimaksud adalah kemampuan pemilik ide dalam menjajakan idenya sebagai sebuah potensi usaha.

Dari kasus serupa kami banyak membantu beberapa rekan tumbuh dari berbagai kalangan. Dengan ide yang sangat beragam. Tentu kami memberikan pendampingan standar dalam menyusun Business Plan, Business Process, Value Proposition, dan sederet tools lainnya. Tapi tentu, sebagus apapun tools-nya akan menjadi tumpul jika tidak dikomunikasikan dengan baik. Dalam hal ini kepada investor.
Kemampuan mengenali calon investor menjadi kunci awal kesuksesan proses “ngamen” yang sering kami alami. Karena meskipun tujuannya sama, yaitu gain atas investasinya, tiap investor punya keunikan tersendiri sebagai pribadi. Ada yang cenderung pada industri tertentu. Ada juga yang terpaku pada daerah tertentu. Belum lagi jika dibumbui dengan karakter personal yang beragam; mulai dari yang suka meeting secara formal, sampai ada yang lebih nyaman berdiskusi di pelataran masjid.

Gagal Menjual Produk

Setelah fase menjajakan ide terlampaui dengan sukses. Tantangan berikutnya adalah bagaimana menjual produk yang dihasilkan. Tentu, setelah fase development yang tidak kalah pentingnya.
Banyak dari para pebisnis pemula rekan tumbuh kami mengalami kesulitan dalam hal memasarkan produknya. Padahal saat rencana usaha disusun di awal, mereka berkeyakinan bahwa banyak calon pembeli atas produknya.

 

kegagalan usaha yang sering dijumpai
Membuat usaha itu gak mudah, termasuk menjual produk. Ini salah satu kegagalan usaha yang sering dijumpai

Sebagaimana menjadi pemahaman bersama, bahwa kondisi pasar saat ini sangatlah berbeda dari masa sebelumnya. Konsumen yang semakin terkoneksi menjadi penyumbang utama tuntutan bergesernya pola dan cara pemasaran.

Akan tetapi satu hal yang tidak berubah, bahwa kunci pemasaran adalah komunikasi yang baik antara penjual dengan calon pembeli. Hanya saja tentu, medium dan pola komunikasinya yang berubah seiring zaman.
Kemampuan mengenal konsumen secara akurat inilah yang menurut kami kurang banyak dikuasai oleh para pelaku UMKM dan Startups.

Gagal Menyusun Tim

Hal yang jadi pilar berikutnya dalam memulai usaha adalah team setup. Tidak terkecuali untuk Startup dan UMKM. Bisnis tidak akan bisa berjalan efektif dan berkembang jika mengandalkan one man show. Dalam menyusun tim inilah, para founders harus menemukan kombinasi tim yang tepat. Yang bisa saling melengkapi. Sehingga bisa bersinergi dan menjadikan langkah usaha menjadi mantap dan terarah.

kegagalan dalam usaha yang umum terjadi
Membangun tim yang bisa sinergi demi kemajuan usaha – ini salah satu kegagalan dalam usaha yang umum terjadi pada UMKM ataupun Startups

Permasalahannya adalah, khusus untuk Startup dan UMKM adalah:

Sedikit sekali yang bisa setup team by design. 

Bukan hanya karena keterbatasan resources untuk membentuk tim by design, tapi juga kurangnya kemampuan personal para pelaku untuk bisa mengenali tim nya. Misalnya, seorang founder dengan backgroung keuangan belum tentu mampu secara by design mencari tim untuk melengkapi sisi marketing, operasional, dan selanjutnya.

Kembali, masalah kemampuan komunikasi itulah yang menjadi pijakan awal dalam membentuk tim. Karena untuk ukuran Startup dan UMKM, para founder lah “tim rekrutmen” dari bisnis itu sendiri.

Mau Ikut Gagal Atau…

Kalau diperhatikan dari ketiga kegagalan di atas, ada satu benang merah: kemampuan berkomunikasi secara efektif. Itulah kenapa tidak mengherankan bahwa banyaknya kelas pelatihan komunikasi seolah berkejaran dengan kelas kewirausahaan. Tapi pertanyaannya; seberapa efektif kelas itu membantu para pelaku wirausaha pemula dalam mengembangkan bisnisnya?

Tentu harus diukur; misalnya dengan keberhasilan mereka menemukan investor setelah mengikuti kelas? Apakah setelahnya interaksi dengan pelanggan menjadi lebih menghasilkan? Apakah dengan ilmu yang diperoleh dapat secara efektif membantu mereka menyusun tim yang solid dan sinergis? Atau, bagaimana jika ada pelatihan dengan target 5 detik pertama membaca karekter lawan bicara?

@hartantoID

Leave a Reply