Kamisharing

KamiSharing: Dari 22 Ribu Menjadi…

Waktunya KamiSharing kembali. Kali ini akan sharing tentang membangun hubungan yang kuat – networking yang tidak hanya sekadar memiliki jaringan namun juga koneksi yang dalam. Hubungan dalam bisnis yang memang tidak sebatas bisnis saja.

“Jangan pernah remehin siapapun Mas, kita tidak pernah tau apapun yang akan terjadi sedetik ke depan, apalagi masa depan dan karir orang.” Kalimat itu nggak akan pernah saya lupa. Dari salah seorang mentor saya, yang tidak hanya memberikan kalimat tapi juga memperkenalkan saya kepada orang-orang dengan konteks yang relate dengan petuah tadi.

Ini adalah tentang membangun hubungan yang kuat. Karena berjejaring tidak hanya butuh memperluas, tapi juga butuh memperkuat hubungan di dalamnya.

Dari 22 Ribu

“Bro, gw mau mulai usaha di kampung halaman dulu dah. Sekalian nemenin nyokap yang udah sepuh” seorang mentor saya waktu itu berpamitan untuk memulai ‘babat alas’ kepada seorang teman sesama perantau di ibu kota.

Teman sajawat saja sebenarnya, berbeda ranah usaha, hanya karena berangkat dari daerah yang sama sehingga sering bercengkerama bersama. Dari mulai sekadar ngopi, haha-hihi, atau hanya berkabar perkembangan yang meskipun sangat berbeda hamparan usaha.

“Aman Mas, tapi ini kalo mau nyoba cari sangu balik, ini ada kerjaan yang bisa dicoba kalo berani” sang sahabat menawarkan sebuah peluang sembari bercanda. Long story short, project besar itu jadi shake hand project keduanya. Bagi mentor saya, ini besar sekali. Mengerjakan sebuah kantor dari orang penting di republik ini. Tapi rupanya tidak bagi sahabat beliau.

“Mas ingat nggak, saya datang pake honda 70, nawarin cetak kartu nama ke sampeyan, senilai 22rbu”. Jleb. Guru saya ini kembali teringat peristiwa sekian tahun sebelumnya.

Saat seseorang datang ke tempat beliau bekerja, menawarkan jasa cetak kartu nama dengan cara yang tidak biasa. Tapi akhirnya pun, order itu terjadi dengan nilai transaksi 22 ribu itu secara biasa. Business as usual. Sekali lagi, itu bagi beliau. Tapi tidak bagi si penerima order.

Dua puluh dua ribu yang membekas. Dua puluh dua ribu yang bahkan mungkin serasa hidup dan mati bagi si penerima. Dari sini kita bisa makin meyakini, bahwa sesuatu yang dari hati dan penuh ketulusan nilainya akan melebihi dari label yang bisa ditakar.

Belajar Rencana Keuangan dari Zappos

belajar bisnis dari zappos

Zappos adalah sebuah perusahaan online yang menjual sepatu dan fashion yang berbasis di Las Vegas. Perjalanan perusahaan ini pun menarik untuk dikulik dan jadi pembelajaran untuk UMKM Indonesia. Yuk, kita belajar…

Continue Reading

Memaknai Hubungan dalam Bisnis

Sependek perjalanan saya dalam berwirausaha, seringkali kita dengar bahwa berjejaring adalah salah satu kunci keberhasilan. Bahkan dalam pelajaran agama, bersilaturahmi adalah kunci datangnya rejeki. Pun sering kita dengar, kita adalah rata-rata dari sepuluh orang terdekat kita. Bukankah begitu juga terkait rejeki.

Yang sering luput dari pembelajaran adalah, bagaimana agar jejaring yang ada tidak hanya luas tapi juga mendalam. Karena ikatan yang rentan tentu akan lekas selesai sehingga luasnya jaringan tidak akan bertahan lama. Lalu, bagaimana seharusnya hubungan dalam bisnis?

Transaksi dan Trust

Adalah sebuah ujaran umum, bahwa kepercayaan salah satunya terjadi saat ada transaksi antar dua orang. Dalam banyak kasus, seperti yang sudah pernah beberapa kali saya sampaikan; uang tidak akan merubah siapa anda, dia hanya menunjukkan siapa anda sebenarnya.

Dalam hal contoh kasus mentor saya ini, transaksi 22 ribu yang melibatkan beliau dan sahabatnya ini menjadi milestone penting bagi keduanya. Saat itu keduanya masih sama-sama merintis, dan sama-sama memahami betapa pentingnya closing untuk sebuah transaksi.

Dan yang menarik adalah, dari 22 ribu kemudian berbalas ratusan ribu kali lipat, keduanya tetap sahabat yang sama. Yang sama-sama mengingatkan saya;

bahwa tidak ada orang penting dan tidak penting dalam dunia bisnis, semua harus dihormati secara adil dan setulus hati.

dalam membangun hubungan kuat penting tetap jadi diri sendiri

Stay Clean, Stay Who You Are

“Apa sebenarnya rahasia karakter kinerja sahabat Bapak ini sehingga sedemikian kuat dia berjejaring?” tanya saya tidak tahan untuk senantiasa belajar.

Beliau tidak pernah berubah. Ya, sesingkat itu. Tapi tentu, tidak sesederhana itu.

Yang tampak jelas adalah, beliau masih dengan antusiasme yang sama waktu menerima order 22 ribu dan memberikan order dengan nilai ratusan ribu kali lipat sekian tahun setelahnya. Seolah keduanya hanya angka, tapi timbangan kedekatan persahabatannya itu yang senantiasa harus dijaga.

Kita tentu mahfum, dalam rangka pengembangan usaha kita harus kenal sebanyak mungkin orang. Tapi untuk tidak terkontaminasi atas lingkungan dan tetap menjadi diri sendiri, terutama jika sudah terkait angka, tentu juga kita sering mendengar betapa sulitnya untuk tetap dijaga.

Rupanya, sekadar menjaga diri untuk tidak berubah karena rupiah itu sudah sangat menyangkut tirakat multi dimensi.

Sering kita dengar betapa kita bisa belajar dari ikan di laut, yang meski hidupnya di dalam kubangan garam raksasa tapi tetap saja dia tidak ikut asin. Jika ikan sudah asin, itu pertanda dia sudah mati.

Saya termasuk orang yang relative “usil” dalam hal belajar sejarah. Dalam hal ini, pernah saya mendengar ungkapan bahwa dunia itu serasa air laut yang bisa kita tampung dalam tangkupan kedua telapak tangan kita.

Tidak akan pernah memberikan puas jika mata kita terpaku pada banyaknya air laut di lautan yang “kita pikir” bisa kita tadah. Tapi bagi saya, pertanyaan usilnya bukan perihal daya tampung dan potensinya. Pertanyaan saya kepada guru ngaji saya justru;

Kenapa perumpamannya menggunakan air laut?

Rupanya, di situlah rahasianya. Air laut itu tidak pernah mampu menghapuskan dahaga. Sedikit maupun banyaknya. Semakin diteguk, semakin membuat kerongkongan terasa kering dan seolah akan butuh lebih banyak.

Leave a Reply