Saat itu saya sedang ada casual meeting dengan seorang teman. Ada rencana kerjasama dalam pengembangan usaha. Sebuah kafe kecil di pelataran sebuah pusat perbelanjaan menjadi pilihan. Bukan hanya karena lokasinya yang terbuka dan cenderung kasual, tapi juga memang karena dekat dengan kantornya beliau yang bersangkutan. Dan, karena saya datang lebih awal maka saya yang pilih tempat ketemuan. Segelas lemon tea hangat menemani waktu saya menunggu yang tak berapa lama. Sejurus kemudian rekan saya datang, dia memesan kopi dan duduk di seberang meja saya.
Saat pembicaraan baru berjalan beberapa menit, selintas ada sosok yang saya kenal. Namanya juga tempat umum dan cenderung terbuka. Teman saya ini kemudian menghampiri tempat duduk kami. Saya pun kemudian memperkenalkan kedua teman saya itu. Keduanya kemudian ngobrol ringan. Teman saya yang baru saja menyapa dan menghampiri kami ini duduk di kursi di meja pelanggan sebelah kami. Dengan jarak yang cukup dekat, seperti layaknya di kafe outdoor.
Yang menarik kemudian, adalah teman saya yang mampir ini kemudian tidak beranjak dari duduknya. Bahkan semakin intens “nimbrung” di setiap topik pembicaraan kami. Hal ini tentu membuat saya dan rekan saya kurang nyaman. Karena meskipun sifatnya kasual, kami bermaksud membicarakan hal bisnis yang cukup intens. Yang sudah barang tentu menjadi kurang nyaman jika ada “orang ketiga” yang menyimak dan bahkan “nimbrung obrolan” jika topik ini diangkat ke atas meja.
Pernahkah rekan tumbuh mengalami hal serupa???
Lima Jenis Manusia dalam Kehadiran

Ingatan saya tertuju pada sebuah petuah guru di sebuah majelis ilmu. Bahwa setidaknya ada 5 (lima) jenis manusia terkait kehadirannya.
- Pertama adalah manusia wajib. Dialah sosok yang kehadirannya mutlak dibutuhkan. Jika dia tidak ada maka ada yang salah dengan kondisi selanjutnya.
- Kedua, adalah manusia sunah. Dia sosok yang diharapkan kehadirannya. Tapi jika pun dia tidak ada, maka semua pun baik-baik saja. Hanya saja kurang istimewa.
- Ketiga, adalah manusia mubah. Dia sosok flat aja sih sederhananya. Adanya tidak menambah Istimewa, tidak adanya juga tidak mengurangi apa-apa.
- Keempat, adalah manusia makruh. Ini tipe manusia yang sebisa mungkin dihindari. Karena meskipun kehadirannya tidak memberi mudharat, tapi ketidak-hadirannya justru membuat suasana menjadi lebih baik.
- Manusia kelima, dan ini ultimate villain sih, manusia haram. Yang ini semenggoda apapun harus dihindari kehadirannya. Karena datangnya memberi bahaya, dan ketiadaannya memberikan kebaikan.
Sekurang-kurangnya sepanjang hidup kita seharusnya berupaya sekuat tenaga menjadi manusia sunnah. Yang meski absennya tidak mengapa, tapi hadirnya dirindukan. Memberi manfaat meski bukan sebuah keharusan. Memberikan kesan meski bukan sebuah keniscayaan. Dan, yang juga menjadi satu paket dari nasihat ini adalah bahwa sepanjang hidup kita terus berjuang antara rentang wajib – haram ini. Karena begitulah rupanya hidup di dunia, terombang-ambing antara satu titik dan titik lainnya.
Baca juga: Tentang Bengkel Nekat – Membuat Bisnis Bengkel Mobil
Manusia Sepertiga – 3 Dimensi Ketercerahan Jiwa Manusia

Sepaket dengan nasihat yang pertama tadi, dari Guru yang sama saya mendapati pemahaman akan adanya tiga dimensi ketercerahan jiwa manusia.
Pertama, ketercerahan spiritual. Kedua, ketercerahan mental. Ketiga, ketercerahan intelektual. Adapun produknya adalah ketercerahan yang keempat, yakni ketercerahan moral.
Ada orang yang sangat mumpuni di ranah intelektual. Gelar akademisnya berjajar dengan pencapaian yang tak kurang-kurang. Tak terhitung sudah dijadikan rujukan dalam hal pengamatan. Tapi efektifitas fungsinya bisa mandul, ternyata karena tidak didukung oleh kecerahan spiritual dan mental. Pintar, tapi mentalnya bobrok dan spiritualitasnya tak bercakrawala. Sehingga ilmunya berdiri sendiri. Sedangkan perilakunya, kebiasaan, dan Keputusan-keputusan yang dibuatnya, tidak mencerminkan ketinggian dan kecanggihan ilmunya.
Ada pula orang yang mentalnya bagus, teguh pendirian dan memiliki keberanian serta daya juang. Kalau bicara tidak bohong, jika berjanji ditepati, apabila dipercaya tidak berkhianat. Tapi ternyata juga belum mampu menjadi solusi dalam dan bagi khalayak bermasyarakat. Rupanya karena pengetahuannya terlalu dasar untuk memahami keadaan yang tidak lagi sederhana.
Langkah-langkahnya sering keliru dan tak jarang dinilai naif. Bahkan jika sampai pada taraf ketegasan cenderung tampak brutal, radikal. Rupanya karena terbiasa berpikir hanya linier hitam-putih. Keadaan ini semakin tidak tertolong dengan minimnya keterbimbingan spiritual di dalam dirinya.
Potensi ketiga adalah orang yang spiritualnya bagus, dijamin kejujurannya, bisa diandalkan keshalihannya, khusyu’ hidupnya, intens ibadahnya. Namun tidak bisa berbuat banyak dalam pertarungan-pertarungan sosial secara meluas. Rupanya karena kurang ketercerahan intelektualitasnya untuk menghadapi dunia, sehingga tidak pula bisa menerapkan kehebatan mentalnya. Karena tidak ada agenda untuk menyalurkannya.
Secara probabilitas, yang akan sering kita jumpai dalam kehidupan adalah manusia sepertiga.
Baca juga: Menjadi Manusia Berguna seperti Charlie di The Amateur
Dua Panduan, Satu Jurusan
Sekurang-kurangnya, dua panduan itulah yang saya sering ingat untuk satu jurusan : bagaimana berperilaku untuk dan dalam hal berhubungan secara sosial. Karena sebagai manusia yang masih menjalani hidup di dunia, kita tentu akan banyak bertemu dengan persimpangan-persimpangan episode kehidupan dengan manusia lainnya.
Yang saya pahami, kita semua adalah pemeran utama dalam kisah kita di dunia. Sementara yang lain adalah peran pendukung, figuran, atau bahkan mungkin cameo dalam pementasan kita. Begitu juga dengan kita sendiri dalam potongan cerita manusia lainnya. Bisa jadi hanya figuran, cameo, atau paling banter peran pendukung bagi cerita yang bersangkutan.
Cukup jadilah rekan pemeran yang terbaik. Jadi figuran juga figuran yang dikenang. Jadi cameo juga cameo yang memberi nilai tambah. Jadi peran pendukung yang bisa memberi Kesan positif bagi si pemeran utama. Sehingga saat Sang Sutradara menengok pada cerita kita sendiri, dia akan memberikan alur cerita terbaik-Nya.
“Mas, lain kali kalo kita diskusi private saja lah ya. Susah juga nyari tempat, Mas-nya lumayan artis rupanya”
Begitu rekan saya menutup diskusi kami kali ini sembari jalan ke area parkir.



