Reboan

Satu Shift, Dua Dunia: Menjaga Waras di Tengah Target dan Tanggung Jawab

Apakah work life balance untuk pelaku bisnis – dalam hal ini pelaku UMKM – masih penting dan perlu diupayakan? Apa juga keseimbangan antara hidup dan kerja bagi pebisnis sebenarnya serta cara mengatur keseimbangan ini? Sebelum masuk ke pembahasan detail, simak cerita singkat ini:


Pukul 8 pagi, Pak Ujang sudah membuka bengkel motornya. Jam 10 malam, lampu bengkelnya masih menyala. “Nunggu satu lagi, katanya urgent,” ujarnya sambil tersenyum lelah.

Kalimat itu terdengar wajar, bahkan terkesan heroik. Tapi di baliknya, tersembunyi sebuah pertanyaan penting: sampai kapan seorang pelaku usaha harus terus bekerja tanpa batas waktu, tanpa ruang untuk pulih?

Saat Pekerjaan Menyatu dengan Kehidupan

keseimbangan kerja dan hidup

Dalam dunia UMKM, garis antara waktu kerja dan waktu pribadi sangat kabur. Banyak pelaku usaha yang menjalankan usahanya dari rumah, bersama keluarga, bahkan sambil menggendong anak. Tak jarang, waktu makan siang jadi waktu membalas pesan pelanggan.

Bagi sebagian orang, ini adalah bukti semangat. Tapi jika dibiarkan terus-menerus, kerja yang tidak terkendali dapat berubah menjadi kelelahan kronis, menurunkan produktivitas, bahkan menyebabkan relasi pribadi retak. Di sinilah pentingnya membahas work-life balance, bahkan dalam ruang sekecil warung, bengkel, atau kios kelontong.

Baca juga: Menata Ulang Bisnis dengan Tata Ulang Letak dalam Bisnis

Apa Itu Work-Life Balance dan Mengapa Penting?

Work-life balance atau keseimbangan antara kerja dan kehidupan pribadi, adalah konsep tentang kemampuan seseorang dalam menjalankan tanggung jawab profesional tanpa mengorbankan kualitas hidup pribadinya. Bukan soal mengurangi jam kerja, tetapi tentang mengelola waktu, energi, dan fokus dengan sehat.

Menurut Greenhaus & Allen (2011), keseimbangan ini terjadi ketika seseorang merasa puas dan berfungsi optimal baik dalam peran pekerjaan maupun kehidupan pribadinya. Dalam konteks manajemen operasi, ini terkait langsung dengan desain pekerjaan yang manusiawi — pekerjaan yang tidak sekadar menargetkan hasil, tapi juga mempertimbangkan kondisi pelakunya.

Baca juga: Pemasaran Digital untuk UMKM – Penggunaan E-Commerce Hingga Privasi Data

Cerita dari Warung Kopi Reza

Reza adalah pemilik warung kopi sederhana di tepi jalan kampus. Dulu, ia buka dari jam 7 pagi hingga 11 malam — sendirian. Pendapatan cukup besar, tapi ia sering mengeluh lemas, murung, dan mudah emosi.

Setelah mengikuti pelatihan inkubasi UMKM, Reza mencoba membuat perubahan kecil:

  • Ia merekrut staf paruh waktu untuk shift sore,
  • Menyederhanakan menu di malam hari,
  • Menentukan batas jam operasional hingga maksimal jam 9 malam.

Dalam tiga bulan, Reza merasa lebih bertenaga, lebih fokus melayani pelanggan, dan bahkan bisa kembali bermain gitar di akhir pekan. Bukan omzet yang naik drastis, tapi kualitas hidupnya.

Work-life balance bukan tentang bekerja lebih sedikit. Ini soal memilih cara kerja yang tidak menggerus sisi manusia kita.

Baca juga: Growth Plan untuk UMKM Indonesia – Kunci Bertahan Di Ekonomi Stagnan

Langkah Nyata Menciptakan Work Life Balance untuk Pelaku Bisnis

work life balance untuk pelaku bisnis
Bagaimana cara menerapkan work life balance untuk pelaku bisnis?

Berikut adalah beberapa pendekatan praktis yang bisa Anda mulai hari ini:

1. Buat jadwal kerja yang manusiawi.

Tetapkan waktu mulai dan selesai yang tegas. Hindari kerja larut tanpa jeda. Jadwal kerja ini layaknya sedang bekerja di kantor, sehingga ada batas mana kerja mana kehidupan pribadi.

2. Sediakan waktu istirahat harian.

Rehat 15 menit setiap 2–3 jam bisa menjaga fokus dan tenaga. Bahkan mesin saja perlu waktu turun mesin untuk perawatan, begitu juga pelaku UMKM, perlu istirahat.

3. Pisahkan ruang pribadi dan ruang kerja.

Meski bekerja dari rumah, ciptakan batas fisik atau waktu untuk “pulang”. Ini salah satu cara menciptakan work life balance untuk pelaku bisnis. Jika saat ini “kantor” ada di rumah, maka, jadikan ruang kantor itu untuk kerja di jadwal yang ditentukan. Kamu harus tegas dalam hal ini.

4. Libatkan keluarga dalam perencanaan.

Saat keluarga tahu ritme usaha Anda, mereka akan lebih memahami dan mendukung.

Penutup: Mengukur Sukses dengan Waras

Sebagai pelaku usaha, mudah sekali kita terjebak dalam kebanggaan kerja keras — sampai lupa bahwa tubuh dan pikiran juga butuh ruang bernapas. Padahal, justru ketika kita sehat dan tenang, keputusan bisnis jadi lebih tajam, pelayanan jadi lebih tulus, dan hidup terasa lebih seimbang.

Jadi, kalau malam ini Anda masih di toko pukul 10, cobalah tanya:

Apakah saya sedang bekerja membangun masa depan, atau sedang perlahan mengikis masa kini?

Referensi Akademik & Literasi Tambahan

One Response

  1. Cantika Aura Juni 12, 2025

Leave a Reply