Di Persimpangan Antara
Pagi iringi setiap langkah menjejak bumi guna meraih sebentuk mimpi bagi setiap makhluk insani. Tak sadar kaki-kaki kita membentuk nada selayaknya intro dari sebuah koor besar setiap hari. Hanya ada sejenak jeda sebelum akhirnya kembali lagu dari setiap kita dimainkan. Tidak ada yang berubah, hanya saja sebagai kesatuan lagu kita terkadang bertukar nada dengan instrumen lainnya agar harmoni tercipta. Begitulah setiap pagi mengawali sebagai intro. Kehidupan tak pernah berhenti menyanyikan lagunya, tinggal siapa yang “dapat giliran” untuk memainkan nada tinggi di suatu hari dan merubah intonasi merendah di hari berikutnya. Setiap kita adalah bagian dari harmoni. Lantas, adakah jeda/antara dalam memainkannya? Tentu, setiap kita juga pernah mengalami seolah setiap nada yang kita mainkan menjadi sumbang, parau, dan bahkan sulit terdengar. Itulah jeda dimana seharusnya kita menekan tombol “mute” dengan deskripsi “instrospeksi”. Sesederhana itulah kita berjama’ah; ketika setiap yang kita lakukan selalu salah dimata orang lain disekitar kita sementara kita merasa telah mengambil tindakan yang tepat, maka berhentilah memajukan “aku” dan mulailah “introspeksi”. Dan, jangan berhenti melakukannya sampai kita selaras selaku jama’ah. Karena kita terlahir tak sendirian. Sudah terlebih dahulu ada Ibu yang mengandung kita selama 9 bulan, beliau tak pernah berhenti mengerti kita bahkan jika harus mengorbankan nyawanya untuk melahirkan kita sebagai “nyawa” baru baginya. Telah terlebih dahulu ada ayah kita yang tak henti menjaga kita dengan segenap keras sebagai penyeimbang kelembutan yang kita tuai dari seorang Ibu. Telah terlebih dahulu ada orang-orang yang lebih tua dari kita, yang kita tidak bisa jumawa atas pengalamannya dalam menghirup udara dan menapaki bumi ini. Sudah terlebih dahulu ada anggota jama’ah lainnya yang menerima kita dengan lapang sebagai bagian baru sebuah harmoni. Maka maknailah semuanya dengan syukur tiada henti, menjaga tempo dan harmonisasi, agar lagu yang kita mainkan tidak pernah terhenti mewarnai hari. Lalu bagaimana mengembalikan segenap harmoni itu? Mudah saja, gunakan garpu tala, jangan suara anda. Ambil nada standar A minor, jangan tertipu dengan C major yang terlalu sering terdengar sama. Ketika kita merasa salah jalan, maka gunakan Al-Qur’an dan Sunnah Rosul sebagai media penunjuk arah kita. Jika jama’ah lainnya merasa terganggu dengan ulah kita, maka kembalikan kepada hakikat berjama’ah sesuai kedua tala tersebut. Sehingga kita tidak berlama-lama berkubang dalam keterasingan. Percaya dan yakin bahwa kita dalam kuasa-Nya, itulah kunci ketepatan dan kecepatan introspeksi. Soal hati, percayakan pada Yang Maha Membolak-balikkan Hati, Allah Ya Muqollibul Qulub. Jika kita merasa terasing, dan merasa bisa kembali bergabung dengan jama’ah dengan membawa congkak atas segenap capaian, tentu itu adalah layaknya C Major yang tertukar dengan A Minor. Bukan materi yang dikedepankan dalam harmoni ini. Karena dengan materi kita tak jarang bisa merasa hidup tanpa yang lainnya. Dengan capaian benda kita terlalu sering merasa mampu mengungguli satu sama lain, dan merasa bahwa si fulan tak berhak berada dalam hidup kita dan si anu lebih ideal. Dengan materi, sesungguhnya kita diuji apakah kita menjadikannya alat, atau justru kita diperalat. Dan, apabila itu yang terjadi maka proses selanjutnya yang akan mendera adalah rakus yang tiada henti menggoda. Akan selalu terasa ada yang bisa mengungguli kita secara materi, dan itu membuat kita “tergila-gila” untuk mengunggulinya kembali. Pada saat itulah, kita sudah terkena hubbud dunia, dan takut mati. Na’udzubillah. Kesombongan, sungguh suatu wujud yang sulit diruntuhkan bahkan dengan api yang menghitam. Hanya shaum yang bisa melalapnya habis, mengikisnya tanpa bekas. Untuk itulah Ramadhan itu hadir, sebagai bulan dimana bahkan setiap hembus nafas kita mawujud sebagai ibadah. Dalam Ramadhan kita bersihkan tidak hanya badan, bukan sebatas hati, namun juga meliputi ruh kita tersucikan. Marhaban Ya Ramadhan. Inilah waktu yang paling baik untuk kita ber-introspeksi, selaku pribadi, sebagai anggota keluarga, sebagai bagian dari suatu harmoni. Waktu terbaik untuk kita menunaikan segenap kalibrasi dalam segenap dimensi hidup kita. Sehingga mampu didapati lagi harmoni, dalam setiap jejak langkah kita, dalam setiap nada yang kita titi bersama. Selamat datang Bulan Seribu Bulan, semoga kita semua terpanggil dalam tempaannya, semoga kita semua tertera dalam golongan taqwa. -amru nofhart-
With All My Respects
Look at the men covered their blood withThe Vulcanic Dust as the women and child got the sameLook at the mountain faces the world withThe dark side of Mr.Mann state Look at around before you decide to makeSome reasons to ask where is the Monarchie?Look at the mirror that show you up the shadowWho gives you a reason to be deserve at your point With all my respects, with all those sandsWe are not what you said with your intensionWe are now litle bit down, drawn on yourSistematic reduction through the genocidal democracy “Sampaikan salamku padanya di ujung cahaya, hanya saja cahaya belum bisa menembus bebal kearifan tirai jendelanya yang belum terbuka oleh latensi, di ujung do’a…..kami meminta “ -amru nofhart-
Sang Pengendali Hati
Mungkin tahun kemarin kita dirundung duka, bisa jadi akhir tahun ini kita serasa tertawa sepanjang tahun.Tak jarang kemarin kita merasa paling sengsara, namun seakan semua sirna hanya karena tawa lepas yang kita jumpai pagi ini.Bisa saja beberapa detik barusan kita merasa berhasil, namun tak ayal sontak bisa saja semua buyar dengan hanya beberapa kalimat berita kegagalan. Itulah kuasa-Nya, itulah prerogatif-Nya, Sang Pengendali Hati. (bersambung)-amru nofhart-
Kutipan Kritikan Kepemimpinan
Satu hari memang tak pernah beranjak dari angka 24 jam (more or less), tapi makna yang dibawa selalu berbeda dari satu hari ke hari lainnya. Sebagaimana pernah saya kutip pula, hal ini memang bukti bahwa setiap hari adalah ciptaan yang berbeda dimana kita harus mampu mengambil sebanyak mungkin modal darinya (lihat entri : Waktu). Seperti juga hari ini, selayak sengatan yang seolah “dinanti”, ada makna yang hadir di pagi ini melalui sebuah kutipan. Tak asing lagi bahwa tokoh tersebut adalah idola saya, namun yang membuat saya banyak malu adalah bahwa kutipan tersebut diteruskan oleh seorang teman yang – mohon maaf – jauh dari kriteria pemberi nasihat selama ini. Dan, “sengatan” ini semakin terasa manakala di-konteks-kan dengan kondisi sekarang, saat ini !!! Subhanallah !!! Allah selalu punya cara unik untuk menyayangi setiap makhluk-Nya.Adalah Khalifah Umar r.a ; “Orang yang paling aku sukai adalah dia yang menunjukkan kesalahanku”. Subhanallah, betapa indah kepemimpinan beliau. Ada banyak “pesan pribadi” untuk saya sebenarnya, dan akan coba saya general-kan sehingga mampu memberi manfaat sebesar-besarnya untuk semua. Pertama, bahwa kutipan tersebut membawa arti tersendiri karena penyaji-nya adalah teman yang menurut penilaian saya selama ini – sekali lagi mohon maaf – bukan tempat bagi saya minta nasihat. Hal ini sangat memukul bahwasannya kebenaran dapat datang dari manapun sekehendak-Nya. Bahwa yang menurut kita baik belum tentu demikian menurut Allah, begitu pula sebalikna. Mungkin sederhana, tapi memang kita tidak boleh sekalipun menilai buku hanya dari sampulnya. Dialah Sang Pengendali Hati, sesuka Dia dari mana akan menurunkan nasihat. Kedua, bahwa redaksi resmi kutipan tersebut tidak lain dan tidak bukan dari tokoh pemimpin yang selama ini saya klaim saya “gandrungi”. Kembali hal ini mengoyak saya, bahwasannya terlalu jumawa untuk saya menggandrungi seorang tokoh tanpa tau setiap kalimat pendiriannya, setiap perilaku tauladannya. Hal ini menjadi cambuk untuk setiap waktunya kita kembali belajar dan ber-introspeksi. Ketiga, dengan kondisi saat ini (lihat entri: dimana persimpanganku), kembali kutipan ini memberi makna lebih mendalam. Bahwasannya tidak ada permasalahan yang luput dari pantauan-Nya. Tidak segelintir hati pun yang tiada Dia ketahui isi dan gejolaknya. Apapun yang kita fikir dan rasakan, akan selalu mendapat atensi dari-Nya. Sebagai pungkasan, bagaimana kita mensikapi segala kondisi ini. Bagaimana kita melaksanakan perintah-Nya.Berat memang, tapi inilah jalan-Nya. Bukankah setiap keberatan dari kita selalu ada nilai disisi-Nya manakala kita mampu melampauinya??? -amru nofhart-
dimanakah persimpanganku?
Seolah setiap episode berselang pariwara, serasa itulah waktu ini terlewati… Yah, sejengkal demi sejengkal impian terwujud untuk kemudian melahirkan masa dimana kekosongan berisi senandung kesunyian.Terkadang bisa sebagus pelangi setelah deras hujan sehingga mampu melahirkan kembali impian yang benar-benar baru. Namun tak sedikit pula yang harus menikmati jeda iklan dengan terpaku dan penuh hasrat tak tentu karena seolah tiada lagi channel dengan tayangan bagus untuk dinikmati. Alhasil…. “K.O.S.O.N.G” Kini, saat ini,tepat saat jari-jari ini mencoba untuk menari,hanya berselang dari beberapa masa dengan hampa.Hanya bertaut beberapa iklan produk yang kurang mampu menggugah semangat, KENAPA? Apakah benar semua harus berjeda? katanya memang hidup tak harus selalu kencang berlari, sesaat kita perlu untuk rehat dan menghela nafas untuk kemudian berjalan kembali. Tapi bagaimana cara kita mengisi jeda itu?bagaimana kita menikmati rangkaian pariwaranya sehingga kita tidak perlu ganti channel?ataukah hidup memang sebuah pilihan sehingga berpindah adalah sebuah keniscayaan?lalu dimana harga sebuah kesetiaan, loyalitas, dan pengabdian?atau itu semua memang tidak kita perlukan? Gamang, mungkin itu kalimat yang paling mendekati apa yang kadang – kalau tidak terlalu sering-kita rasakan sembari menikmati peralihan waktu tanpa tempat berganti. Well, setidaknya saat ini harus dipaksakan untuk menikmati waktu meski dengan pergerakan minim.Tokh sekarang sudah mulai bermunculan iklan yang dapat dinikmati.Make it positive! -amru nofhart-
sound of empty
Raga ini tetap menapaki hari, menyiangi malam. Udara tetap dapat mengalir di dalamnya, dengan segenap kompleksitas pernafasan yang sekarang tak hanya sekedar bermuatan denyut, namun juga debar entah… Jiwa ini seolah tak lagi mampu memetakan arah fikir, bahkan dalamnya pandang tak mampu lagi memberikan gambaran meski hanya setitik tentang makna sebuah senyuman… Sekarang, detik ini pun, jika ada segenap rasa, tak mampu lagi ada aksara untuk menamainya.Entah karena langkah yang kian harus memberat karena memang telah masanya, entah juga karena memang perlu untuk sejenak tak melangkah lagi, lalu kemudian berlari.Syair pun tak lagi indah, karena hanya keluh dan peluh ‘nan tercipta. This is the real sound of me, the sound of empty..now!!!!!!-amru nofhart-
Runang
Banyak sekali masalah yang besar namun kemudian disikapi dan dimaknai dengan sangat kerdil. Ada banyak perkara yang seharusnya luas namun kemudian dikomentari secara sempit. Semua itu dilakukan oleh banyak orang, banyak kepentingan, banyak lisan berkata meski sampai tak jelas yang mana yang merupakan cerminan fikir dan yang mana yang merupakan cerminan fakir. Dalam istilah ayah saya, ini “runang” namanya (sing seru ingkang menang-yang lantang yang menang). Hari-hari ini para makmum sedang berfikir untuk menerima atau tidak imam-nya, untuk dapat mengarungi perjalanan 5 tahun mendatang yang sudah barang tentu tidak ada salahnya kalau kita bayangkan penuh dengan kesulitan yang harus dihadapi. Dalam pada itu akhirnya banyak dari kita yang terjebak dalam cara berpikir yang picik, yang sempit, yang bahkan pada akhirnya lepas dari arti (apalagi makna) dari kata yang sedang dipergunjingkan.Menengok para pembesar kita terlebih dahulu; yang meng-atas nama-kan rakyat bersama-sama membentuk satu poros, koalisi, gabungan, atau apapun namanya, untuk berusaha merumuskan segenap strategi yang sejatinya sebagai arah bangsa ini melaju 5 tahun ke depan.Namun apa yang bisa kita lihat dengan mata telanjang kami, dengan mata kami yang hanya menamatkan sekolah dasar untuk kemudian menjadi kuli & PKL, dengan mata telanjang kami yang tentu lebih sejuk untuk melihat acara komedi di TV?Yang kami lihat hanya para pembesar dengan kepentingan kecil, yang bisa kami saksikan hanya sosok yang dibungkus pakaian rapi baik untuk raganya maupun keinginannya, yang bisa kami indera-kan hanya para terpelajar yang mungkin belum sempat belajar untuk bisa melihat kami, mewakili kami, menolong kami, membimbing kami, menuntun kami, menjadi Imam kami. Salahkah kami yang hanya bisa melihat dengan kekaguman pada pemimpin yang sekarang?salahkah kami yang masih mempunyai harapan untuk bisa dipimpin lagi oleh beliau 5 tahun mendatang?Keterbatasan dasar kami untuk melihat bukan berarti bisa diobati dengan adu mulut yang sejatinya hanya runang?Dengan mata telanjang ini kami ingin coba sampaikan penglihatan kami, impian kami, bayangan indah kami.Betapa indahnya apabila kita bisa berjama’ah sholat dalam hal ini?Dengan sebelumnya bersama-sama merasa terpanggil dengan panggilan yang sama, dengan sebelumnya bersuci untuk memasuki arenanya yang telah kita sucikan pula, kemudian kita memuja keagungan-Nya dalam mengharap ridho-Nya untuk meluruskan niat kita dan melancarkan usaha kita, lalu kita terima siapapun imam kita dengan kriteria-Nya dan bukan kriteria kita yang kecil ini, lalu kita merapatkan barisan dengan tidak memberikan sejengkal-pun ruang syetan untuk mengoyak kebersamaan ini, kemudian setiap kita punya porsi baik imam maupun makmum untuk bersuara, apabila imam benar kita aminkan dan apabila salah kita ingatkan dengan tata cara yang santun sesuai tuntunan-Nya, sehinga pada akhirnya kita menyudahi usaha kita dengan penuh keselamatan yang kita tebar ke kiri dan kanan kita.Dan apabila dalam pelaksanaanya terdapat kesalahan kolektif, yang tidak kita sadari hingga tidak ada satupun dari kita yang mampu mengingatkan pada saat pelaksanaan, maka kita bersama-sama memohon ampunan-Nya dan bukan saling menyalahkan. Dan apabila dalam pelaksanaannya terdapat keberhasilan jama’ah, maka kita panjatkan syukur pada-Nya sehingga kita ditambahkan nikmat-Nya, dan bukan saling menjual keberhasilan tersebut hanya untuk kepentingan salah satu dari kita, beberapa gelintir dari kita, beberapa baris dari jama’ah kita.Subhanallah, betapa indah pelajaran Allah tentang jama’ah sholat. -amru nofhart-
“doku ritsu”
Independence, sebuah kata sarat makna akan kemandirian, symbol kemajuan yang harus dicapai dengan penuh perjuangan, menentang arus untuk bisa membuktikan bahwa dengan kemandirian akan tetap bisa muncul kreasi penuh idealisme dan kokoh pendirian. Zaman sendiri sekarang ini telah menyeret segenap kemandirian hampir menjadi kemustahilan, hampir di semua lini kehidupan. Semua langkah sekarang ini seolah telah ter-skenario oleh mainstream, yang sebenarnya kadang membingungkan mana yang sebab dan mana yang akibat.Lihatlah betapa mudah sekarang ini produk tak ada lagi yang mampu membawa kesegaran melebihi sepoi angin di pagi hari, seolah hanya seperti embun yang hanya mampu sekedar bertahan untuk tidak lagi tampak setelah ada sengatan matahari pagi yang seyogyanya hanya sekedar hangat. Dan, hal ini hampir terjadi di semua jenis industri, di semua produk pemikiran.Belum lagi kalau kita menengok pada beberapa korban yang terombang-ambing dalam arus tak jelas ini. Seseorang pernah mengatakan; bukankah yang terbawa arus itu hanya kotoran dan sampah? Perlu banyak sekali tenaga dan usaha untuk keluar dari “keteraturan” ini. Bahwa matahari akan selalu terbit setelah tenggelam adalah pasti, namun bukankah juga suatu kepastian bahwa setiap hari adalah ciptaan yang baru? Dalam semangat inilah, seharusnya setiap kita bisa meng-optimal-kan segenap volume otak kita untuk bisa berkreasi, merombak segenap keterkekangan pola pikir kita.Dari semangat ini pula kita harusnya yakin bahwa setiap kita punya kemampuan untuk dapat mencapai batas optimal peran kita di dunia ini, yaitu sebagai khalifah.Bayangkan bahwa seandainya kita punya modal waktu, katakanlah, 65 tahun untuk hidup dan berkarya, seberapa besar optimalisasi kita atas modal tersebut kalau kita tidak bisa menjaga semangat berkarya sampai 50 tahun, misalnya?Bayangkan bahwa seandainya kita ditakdirkan, katakanlah, mampu menjadi seorang pengusaha sukses, seberapa besar optimalisasi kita atas takdir tersebut kalau kita hanya mau menjadi buruh di toko orang dan merasa sesekali menikmati akan hal tersebut?Saya pikir, disinilah makna; Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum hingga kaum itu sendiri merubahnya. Dalam kaitannya dengan segenap kondisi yang terjadi sekarang ini; dengan lagu2 yang cenderung seragam hanya untuk masuk di media, dengan barang2 produksi yang kalo tidak branded seolah tidak layak pakai, dengan pemikiran selalu belum mampu men-sikapi perbedaan secara proporsional sebagai berkah, tentu perlu perjuangan keras untuk bisa keluar dari ke-terkungkung-an tersebut.So, let’s build your own “doku ritsu”!!!!! -amru nofhart-
Malu & Takut
Terkadang kita tidak bisa membedakan kapan kita membutuhkan malu & takut dan kapan malu & takut itu justru menjadi hambatan untuk kita.Beberapa kali dalam perjalanan ini, dan mungkin juga perjalanan kita semua, kita merasa malu & takut akan satu hal, seseorang, sebuah kondisi, diri sendiri, dan tentunya kepada-Nya. Seberapa besar batas kepantasan yang kita miliki untuk malu & takut pada-Nya?Dengan waktu yang tersia-siakan, mulut yang tak terjaga dari dusta kepada-Nya, nafsu yang tak jarang menjerumuskan kita, iman yang lebih sering turun daripada naik, kesabaran yang dengan “sok tau” kita nyatakan berbatas padahal kesabaran tidak dicipta berujung tanpa ikhlas, segenap congkak yang membuat setiap orang kita sebut banyak bicara padahal hakikinya saling mengingatkan untuk kebaikan. Dan dengan segenap dosa yang terlampau besar untuk sebentuk tubuh yang terlalu kecil jika kita mampu mendongak untuk melihat semesta ciptaan-Nya……apakah kita masih punya batas malu & takut kepada-Nya?Sungguh, tidak ada malu & takut yang melebihi kepada-Nya. Namun apakah kemudian Dia berhenti mengasihi kita (secara pribadi) sebagai hamba?Gusti Allah ora pernah sare, kalimat itu yang terngiang dalam benak ketika air mata ini menetes mendapati bahwa masih, dan akan selalu, ada jalan untuk setiap persoalan yang kita hadapi. Bahwa Dia tidak pernah luput atas penglihatan-Nya kepada kita. Dalam termenung suatu ketika saya merasa malu & takut yang teramat sangat kepada-Nya.Demi mendapati bahwa masalah yang saya hadapi seolah tidak seorang pun dapat membantu, selayak setiap orang hanya mampu memojokkan bahwa saya yang harus menyelesaikan sendiri masalah tersebut, sementara untuk memohon kepada-Nya saya merasa terlalu “kotor” untuk hanya sekedar menundukkan kepala didepan-Nya sekalipun. Dan apabila syetan telah menggoda, maka diri ini merasa bahwa apabila diawali lagi untuk membersihkan diri sekarang untuk sekedar merasa pantas untuk meminta kepada-Nya, maka seolah kita merasa lebih hina mendapati diri yang hanya bisa taat manakala mengharap manfa’at. Sungguh sejatinya itu adalah bentuk lain dari kecongkakan seorang hamba, padahal di hadapan Tuannya, hanya Dia yang berhak untuk sombong. Berangkat dari kebimbangan itu, masalah satu per satu terurai seiring dengan air mata yang menitik setiap kali bersujud memohon pada-Nya.Dan dengan semudah membalikkan telapak tangan, Dia memberi apapun yang kita minta bahkan yang tanpa suara sekalipun.Subhanallah, walhamdulillah, wa la ilaha illallahu, Allahu Akbar…… -amru nofhart-
Waktu
“Setiap hari, bila fajar telah menyingsing, pasti ada panggilan dari Tuhan Yang Maha Pemurah melalui lidah hari itu: “Hai anak Adam, aku adalah ciptaan yang baru. Aku menyaksikan segala amalmu. Untuk itu, ambillah bekal dariku dengan amal shaleh, karena sesungguhnya pada hari kiamat nanti aku tidak akan kembali lagi” (Hasan al-Basri) Sungguh bagi kita tidak ada modal di dunia ini selain umur, waktu yang harus kita lalui.Dan sungguh telah disampaikan kepada kita bahwa setiap insan dalah keadaan merugi atas modal tersebut, kecuali kita bisa memanfaatkannya untuk beriman, beramal shaleh, saling mengingatkan dalam kebenaran, dan saling mengingatkan dalam kesabaran.Adakah rumusan lain yang lebih taktis untuk memanfaatkan modal ini? Dalam pada itu setiap manusia tidak pernah mengerti secara pasti berapa modal (umur) yang dimiliki. Maka untuk variabel ini tentu diluar kuasa kita, kita hanya diberi beberapa ukuran yang bisa menambah positif setiap detik yang diberikan kepada kita.Seperti halnya dalam setiap hitungan dimana variabel “x” belum kita ketahui, tentu untuk mendapatkan nilai sebesar-besarnya dari “x” adalah dengan memperbanyak faktor pengali dari variabel tersebut. Adapun seperti telah diketahui faktor-faktor tersebut adalah; iman, amal shaleh, kebaikan, dan kesabaran. Semuanya adalah nilai-nilai positif, yang saya yakin dan percaya secara sederhana pun kita bisa memperkaya faktor-faktor tersebut.Dan, mungkin ada baiknya kita menyusun suatu tabel dengan variabel2 tersebut diatas, tentu dengan secara objektif menyertakan fluktuasinya. Karena mungkin, dengan seperti itu bisa mengingatkan kita akan berapa “untung” kita dari modal yang ada pada kita. Karena kalau tidak, tanpa kita sadari kita sudah kehabisan modal, dan kita “tutup buku” dengan saldo “rugi”. -amru nofhart-