Belajar Tentang Rumus Kecewa Dari Pak Herman
Ini cerita hikmah dari seorang guru saya semasa di SMK dulu. Beliau guru mata pelajaran Kimia Analisa, Pak Herman namanya. Rambutnya masih lebat tapi berwarna perak merata, mungkin karena kebanyakan hapalan rumus reaksi kimia sehingga bereaksi juga dengan rambutnya. Satu cerita yang selalu kami ingat adalah beliau dan kendaraan operasionalnya. Sebuah motor, maaf, butut menjadi tunggangan kebanggaannya. Motor merah era produksi 70’an yang kecepatan larinya sudah tidak pernah melebihi angka 30 km/jam. Bahkan, kami para muridnya yang bandel ini (mungkin cuman saya dan gerombolan saya) seringkali menyalip beliau dari dua sisi dengan sepeda kami apabila kami dapati beliau di jalan pulang atau berangkat mengajar. Hal lain tentang tunggangannya adalah, saking sayangnya beliau dengan tunggangannya, hampir setiap minggu beliau turun mesin sang kuda besi dengan tangannya sendiri. Beliau mengerjakannya di halaman workshop sekolah selepas jam pelajaran. Yang sering terjadi adalah, banyaknya baut yang dibongkar akan “beranak” setelah tiba saatnya pasang. Lalu beliau akan selalu kebingungan dan akhirnya menyimpan baut yang tak beruntung itu beserta teman-teman senasib hasil bongkar mesin sebelumnya. Alhasil, kami semua selalu khawatir kalau di tengah jalan sang kuda besi mengalami cedera berat. Rumus Kecewa dari Pak Herman Dari sekian banyak rumus kimia yang beliau ajarkan, tak satupun nempel di otak saya sekarang, saat tulisan ini dibuat. Apalagi periuk bulanan saya sekarang ini jauh dari “dunia ghaib” yang beliau ajarkan. Namun, ada satu rumus yang selalu saya ingat untuk menjadi bekal hidup hingga kini. Kekecewaan (Kk) = Harapan (Ha) – Kenyataan (Ke) Beliau bilang, kekecewaan adalah kondisi yang seringkali dihindari oleh manusia. Tapi kebanyakan manusia tidak mau tau apa penyebabnya. Di sini seharusnya keahlian terkait aksi-reaksi dipergunakan. Bahwa setiap kejadian selalu mengandung potensi kekecewaan, karena manusia selalu menyelipkan harapan. Dalam rumus tersebut, kita diajarkan untuk tidak menghindari kekecewaan, tapi justru me-manage-nya dengan baik. Manajemen Kekecewaan Melalui rumus itu, kita tahu bahwa penyebab kekecewaan adalah harapan yang melebihi kenyataan. Sedangkan apabila kenyataan melebihi harapan akan menimbulkan kontra-kecewa, alias bahagia. Dari sini kemudian kita pahami bahwa kebanyakan kondisi kehidupan manusia akan lebih cenderung kepada kekecewaan. Karena hanya sedikit manusia yang menempatkan harapan secara proporsional, yang ada seringkali kita terlalu berharap akan sesuatu. Karena dalam rumus tersebut ada dua unsur yang berada diluar kendali kita (Ke dan Kk), maka manusia yang bijak seharusnya bisa mengendalikan Ha, satu-satunya faktor yang bisa dia kuasai. Karena kenyataan yang akan terjadi hanyalah milik Sang Maha Pemilik Skenario, dan kekecewaan adalah kondisi akibat yang hanya bisa kita perhitungkan tanpa kita bisa mengendalikannya secara utuh. Manusia cerdas adalah yang bisa berharap secara proporsional Kamu berharap tahun depan naik gaji, itu sudah pasti kan? Tapi berharaplah secara proporsional; lihat kinerja anda, lihat kondisi usaha. Itu pun masih bisa dibenturkan pada kekecewaan akibat subyektifitas pemberi gaji, betul kan? Begitulah, sekarang kita tahu bahwa harapan tak selamanya dan tak sepenuhnya positif. Berharap Agar Tak Pernah Kecewa Lalu, bagaimana agar kita terhindar dari kondisi kecewa? Dengan kata lain, bagaimana agar kita selalu bahagia? Kalau itu yang kita cari selama ini di dunia, maka selamat : Anda telah membuat Malaikat Jibril tertawa. Dalam sebuah riwayat dikisahkan, bahwa Jibril, Sang Panglima Para Malaikat yang susah tersenyum itu, pernah tertawa dan Nabi Muhammad pun bertanya kenapa? Jawabannya adalah kita, manusia yang selalu memburu bahagia di dunia padahal tidak akan didapati bahagia karena dunia itu fana. Dan sesungguhnya untuk membahagiakan diri kita hanya bisa dicapai dengan mencukupkan diri dengan Allah. Hasbunallaahu wa nikmal wakil. Dalam kaitannya dengan rumus di atas, maka sudah jelas bahwa satu-satunya harapan yang tidak akan menimbulkan kekecewaan adalah harapan hanya kepada-NYA. Mari petik hikmah dari setiap kejadian disekitar kita. @hartantoID
Mabok Minuman Soda di Jepara
Ini cerita saya sekitar dua tahun yang lalu, saat itu memang masih banyak kerjaan yang mengharuskan saya sering ke bumi Kartini tersebut. Saat itu bahkan saya harus stay di kota pusat ukiran di Indonesia itu selama seminggu lebih, menemani seorang rekanan dari Korea untuk install sebuah alat disebuah pembangkit listrik disana. Mungkin, sudah jadi kebiasaan orang negeri ginseng kalau selepas kerja seharian mereka lalu menghabiskan malam dengan makan dan minum soju (minuman fermentasi tradisional mereka). Nah, berhubung disini susah didapati komoditi tersebut, maka kami habiskan malam dengan makan sea food dan main billiard, ditemani minuman karbonasi yang berwarna hitam itu tuh… Saya dan Minuman Soda Serta Billiard Dulu, memang saya sangat menggemari minuman soda ini. Saking sukanya, sampai di masa sulit pun saya agendakan bersama seorang teman kalau akhir bulan habis gajian selalu membeli satu botol besar untuk sekedar menghabiskan malam dengan bermain gitar, obrolan ngalor-ngidul sampai larut, dengan cemilan kecil seadanya. Pun, dengan bermain billiard. Sebenarnya itu adalah mainan lama semasa SMP dulu, bukan karena suka, hanya saja kebetulan permainan itu ada di sebelah persis mesin permainan ding-dong sehingga mau tidak mau menjadi familiar dan sesekali kami memainkannya. Nah, lebih karena dilatarbelakangi sentimen masa lalu tersebut, maka saya sangat menikmati agenda tiap malam tersebut. Kami selesaikan pekerjaan di lapangan sekitar jam 16:30, bersiap dan membersihkan badan di hotel sampai lepas maghrib, kemudian bergadang tiap malam di tepi pantai hingga paling awal jam 23:00. Begitu seterusnya hingga tanpa saya sadari, tiap malam saya habiskan rata-rata 4-5 botol minuman soda tersebut. Mabok Minuman Soda (Akhirnya…) Di Jepara Di hari ke delapan saat sarapan di pagi hari, kelainan mulai saya rasakan di perut saya. Nasi goreng yang sangat lezat kelihatannya itu pun, susah masuk dan mengalami penolakan dari lambung saya. Akhirnya sarapan saya sudahi dan segera saya isi perut dengan teh manis hangat, berharap ini hanya masuk angin yang memang biasa menimpa saya. Semakin siang saya rasakan badan semakin dingin dan perut makin terasa tidak karuan, setiap yang saya makan atau minum langsung ditolak oleh lambung dan akhirnya saya muntahkan keluar, sudah persis orang hamil muda, hehehe. P3K pun segera dilakukan, saya dibawa ke klinik terdekat dan sang mantri (maaf disana belum ada dokter) menyatakan saya terkena “bising lambung”. Sebuah diagnosa “aneh” tapi cukup menggambarkan apa yang saya rasakan. Karena keterbatasan fasilitas medis, saya pun terpaksa dilarikan ke Semarang, dengan kondisi sepanjang perjalanan saya mengerang kesakitan seperti orang hendak melahirkan (padahal tadi siang baru hamil muda ya?). Hampir semua penumpang yang berada satu mobil bareng saya merasakan kecemasan, bahkan teman saya dari Korea yang tidak paham bahasa Indonesia pun ikut panik melihat wajah saya yang semakin cerah alias pucat, padahal biasanya saya hitam manis. Rupanya bahasa kesakitan itu sama di semua negara. Di dekat kota Semarang, salah satu rekan berinisiatif menghubungi istri saya untuk memberi kabar dan sekaligus berkonsultasi apakah ada obat tertentu untuk saya. Agak maksa memang karena istri saya dokter gigi, sedangkan yang saya derita saat itu terkait lambung. Tapi namanya istri memang dokter segala penyakit, dia langsung minta rombongan saya berhenti dan mencari susu sapi putih kemasan kaleng bergambar beruang putih yang iklannya ular naga putih. Absurb… Akhirnya, “bising lambung” yang saya derita pun mereda, dan saya bisa meneruskan perjalanan hingga ke rumah saya. Bertemu istri saya, dan kemudian dirawat selama seminggu karena asam lambung saya masih tergolong tinggi. Dari saat itu, saya pribadi menjauhi minuman soda itu. Dan, pelajaran yang saya petik adalah bahwa segala sesuatu yang terlalu memang memabukkan, dan berakibat buruk untuk diri kita sendiri. Bahkan air putih pun kalau kita minum secara berlebihan pasti akan ada efek buruknya, menurut saya. Bagaimana menurut teman-teman? Adakah cerita mabok lainnya? @hartantoID
Pakai Nota Nggak Mas?
“Pakai nota nggak mas?” sering saya ditanya seperti itu saat mengisi BBM di beberapa SPBU dalam beberapa kesempatan. Awalnya saya anggap itu biasa saja, bahkan beberapa kali saat istri bertanya kenapa kita ditanya seperti itu saya jawab (setengah asal) bahwa itu adalah SOP (Standard Operating Procedures) si Mas atau Mbak petugas SPBU. Padahal, sembari menjawab saya pun sebenarnya bepikir, kalau itu SOP kenapa tidak semua ditanyai hal serupa? terutama pengendara sepeda motor. Pun pada saat saya berperjalanan dinas, seringkali driver saya harus meminta struk bukti bayar, kalau tidak bisa-bisa kita melenggang tanpa nota dan akhirnya nggak bisa reimburse ke kantor, tekor dah. Suatu Hari Tentang Pakai Nota Nggak Mas Tibalah tadi siang pada saat saya dapat traktiran temen untuk late lunch bersama. Saat membahas “tampang” dan kaitannya dengan posisi dalam menghadapi pelanggan bisnis masing-masing. Timbul sebuah celetukan ; “kalo saya isi bensin aja sering ditanya; pake nota nggak mas?, padahal kan itu mobil saya sendiri?” Begitu polos teman saya berucap dan ditanggapi tawa renyah teman lainnya, termasuk saya setelah sekian detik agak telmi. Jadi selama ini??? Saya dianggap supir saat isi bensin mobil dengan istri saya di sebelah saya? Apakah tampang saya kurang meyakinkan untuk punya mobil setidaknya meskipun cicilan? Terus, kenapa waktu perjalanan dinas saya nggak nyetir dan driver kantor yang tinggi gede itu kudu minta struk? Apakah kalo yang nyetir saya dan si driver jadi penumpang, kemudian saya ditawarin juga: pake nota nggak mas? Jadi??? Nggak-nggak-nggak….pasti ada yang salah…mungkin karena kebiasaan saya kalo isi bensin pasti turun dan ngajak Mbak atau Mas nya ngobrol. Saya sih berniat untuk lebih “nguwongake” sembari nantinya membayar dengan tangan kanan saya. Sederhana saja sih alasannya, karena lubang tangki bensin berada di sisi kiri maka kalau saya tidak turun terpaksa akan kerepotan membayar dari bangku setir saya. Rupanya, menjadi sopan tidak serta merta mendapat apresiasi ya? Atau kesopanan hanya diperuntukkan bagi orang-orang dengan tampang kurang meyakinkan, setidaknya untuk memiliki sebuah mobil? hehehe… Yang pasti, hari ini saya menjadi sadar bahwa ada unsur “guyon” dalam setiap tawaran dari Mas atau Mbak petugas SPBU; pakai nota nggak mas? Tanpa saya berpikir untuk mengubah kebiasaan untuk turun dalam setiap kesempatan isi bensin. Nilai lebihnya sekarang, saya bisa menambahkan lebih banyak senyum pada saat menjawab tawaran tersebut: nggak usah Mas/Mbak, makasih. Kembali saya harus mengingat, bahwa akan jauh lebih baik kalau kita dianggap lebih rendah dari sejatinya kita (setidaknya dalam hitungan kita sendiri ya), daripada kita dianggap lebih tinggi dari kondisi kita semestinya. Terlebih dalam hal duniawi seperti kaya, berkedudukan tinggi, berpendidikan tinggi, dan lain sebagainya. Sementara dalam hal ibadah pun, menurut saya, akan jauh lebih melegakan apabila kita dijauhkan dari anggapan lebih alim dari orang lain. Bukankah bebannya akan jadi lebih berat? Dalam hal duniawi saja, akan sangat menyiksa manakala kita dilabeli terlalu tinggi dari nilai kita sesungguhnya. Akibatnya minimal kita jadi susah cari utangan ke teman :p Belum lagi kalau kemudian kita terbawa gaya hidup sebagaimana label yang diberikan lingkungan sekitar kita. Baju harus top branded, makan di restoran mahal, dan sebagainya. Apalagi dalam hal ibadah, sangat berbahaya kalau kita dianggap lebih alim dari sejatinya kita. Gampang sekali bisikan syetan menjadi menyesatkan kita. Paling sederhananya, setiap amalan yang coba kita lakukan menjadi berbumbu riya, na’udhzubillah min dzalik. Belum lagi kalau kemudian kita terbawa nafsu untuk kemudian memiliki semangat menggurui dengan pemahaman yang minim, alhasil kita tidak hanya tersesat seorang diri tapi juga menyesatkan orang lain. Jadi, mulai sekarang saya akan lebih menikmati setiap kali Mas atau Mbaknya menawarkan: “Pakai nota nggak Mas?” Bagaimana dengan kalian teman-teman? @hartantoID
Menutup Aurat Sejak Dini
Banyak yang beranggapan bahwa menutup aurat (terutama bagi muslimah) harus didahului dengan tertutupnya aurat hati. Padahal seharusnya keduanya bisa berjalan paralel tanpa urutan waktu. Faktanya, menutup aurat sebagaimana cara berpakaian lainnya, tidak bisa lepas dari pembiasaan. Orang yang biasa pake topi misalnya, bisa jadi hilang pede pada saat topinya hilang. Sedangkan bagi yang tidak terbiasa seperti saya, pake topi sesekali malah bikin sakit kepala. Dalam Islam, menutup aurat adalah kewajiban bagi seorang muslim atau muslimah yang telah baligh. Karenanya cara paling ideal adalah dengan membiasakan sedari dini cara berpakaian secara syar’i. Maka jangan heran apabila kita jumpai seoran muslimah yang sudah baligh dan pada saat ditanya; “kenapa tidak berjilbab?” jawabnya ; “panas” atau “gerah”. Lain hal jika sudah dibiasakan sejak dini, bahkan di kota Cirebon, Jawa Barat, yang terkenal ongkep sekalipun, kedua putri kami senantiasa “goreh” kalau bepergian tanpa mengenakan gamis anak yang sering mereka sebut “baju seragamis”, hehehe. Bagi anda yang sedang ingin membiasakan anak-anak anda berpakaian secara syar’i, boleh tengok koleksi kami di . Kami menyediakan produk lokal dengan kualitas internasional dan harga terjangkau. Berbagai merk menjadi koleksi kami diantaranya gamis anak ABR, Takua, Ulfa, dan juga pesanan design anda sendiri. Butuh gamis anak murah berkualitas? Hubungi N3 Collection di 0838-7223-7222 atau di pin BB: 59D5D8F6 @hartantoID
Ibu, Peran dan Tantangan Zaman
Kabut masih membungkus area yang tergolong perbukitan ini. Diatas jalan terjal hampir 45o itu tapak kaki tanpa alas itu sudah menuruni membawa badan dan barang dagangan di bakul yang tertambat diatas punggung yang sengaja dibungkukkan untuk berkompromi dengan gravitasi. Sejatinya masih sangat wajar jika gigi-giginya bersahutan menahan dingin, namun beban dan jarak yang ditempuh memaksa bulir keringat untuk membasahi kening lembutnya. Bulir yang membuat semakin dingin jika terterpa angin. Di seberang pandang telah nampak kerumunan yang seolah tak menghiraukan dingin sekitar. Ya, pasar tradisional itu telah mulai bertransaksi sejak para jama’ah shubuh mengucap salam, dan Bu Surti menjadi peserta kerumunan yang ‘agak terlambat’ bergabung. Berbekal buah yang telah dipetik sore kemarin, jarak ditempuh dari rumahnya di ujung bukit demi sekedar rupiah untuk membantu perekonomian rumah tangganya yang telah dikaruniai seorang putra yang kini mulai duduk di bangku SD. Emansipasi, itu selentingan yang sering ia curi dengar di televisi tetangganya, yang juga satu-satunya televisi bersama untuk dua puluh rumah sekitarnya. Makna pastinya Bu Surti tidak tau dan tidak mau tau. Yang ada di benaknya hanyalah bahwa dengan kata itu orang di sekitar semakin “memaklumi” kerja kerasnya setiap pagi dalam menjaga dapurnya tetap ngebul. Atas nama emansipasi, yang bisa jadi salah arti, berapa banyak Surti-Surti lain yang harus meninggalkan “hobi” masaknya di pagi buta? Atas nama ekonomi, yang juga bisa jadi salah ukuran, berapa banyak anak-anak yang mengalami pembatasan peran IBU yang seharusnya bisa lebih luas? Sekedar berbagi cerita ringan sembari menemani anak-anak menikmati acara TV kesayangan mereka, menina-bobokkan sang buah hati dengan suara lembut diselingi lantunan lagu, menutup mata mereka dan membukanya kembali keesokan harinya dengan kecup hangat… Terlalu banyak anak-anak yang harus kehilangan keindahan momen-momen itu. Apa yang mereka dapati hanyalah seorang Ibu yang tiap pagi mengecupnya dan mengucap sampai jumpa, untuk kemudian tidak lagi mereka temui sampai kantuk mendera mereka. Siang, sore, dan malam mereka habiskan dengan seorang pembantu/babysitter. Sekali lagi, atas nama emansipasi dan ekonomi, yang bisa jadi salah arti dan salah ukur. Ibu, betapa sejatinya peran itu begitu sentral. Menjadi pengimbang generasi sekarang (suami) dan memberi tauladan bagi generasi mendatang (anak-anak). Kalau peran itu kemudian harus berkurang, maka mungkin makna yang diperoleh dari emansipasi barulah kemunduran, dan mungkin ekonomi yang diperjuangkan hanyalah takaran untuk kerugian. Karena menjadi istri seutuhnya, dan menjadi ibu seluruhnya, adalah jauh lebih baik. Menjadi fulltime mom, tetap bisa seiring dengan emansipasi yang diperjuangkan R.A Kartini yang harum namanya. Karena untuk menjadi fulltime mom, harus tetap cerdas dan berpendidikan tinggi. Menjadi fulltime mom, juga tetap bisa harmonis dengan aktivitas keekonomian produktif. Karena zaman tidak hanya memberi tuntutan, tapi juga kemajuan dan kemudahan. Selamat Hari Ibu. @hartantoID
Yang Terbaik, Untukmu Mbahku Yang Terbaik
Dulu, semasa saya masih belajar berjalan, beliau adalah sosok single-parent yang kesetiaannya jauh melampaui eranya. Beliau mengumpulkan ke-enam putra-putrinya yang lima diantaranya sudah berkeluarga dan sudah beranak satu dalam satu bangunan besar tanpa paku yang kami sebut rumah joglo. Ya, “mangan ora mangan sing penting kumpul” nampaknya sangat dipegang teguh. Hingga saya dan beberapa sepupu yang terlahir dalam rumah besar itu, mampu menikmati indahnya kebersamaan, guyub meski dalam keterbatasan. Ketika beberapa cucunya, termasuk saya, sudah mulai harus mengenal bangku SD beliau pun tak pernah kehilangan peran. Dengan kondisi yang ada dia mendidik kami semua menjadi pekerja keras. Pagi sebelum subuh kami berlima bangun untuk membantunya menyiapkan nasi megono beserta seluruh lauknya sebagai dagangan di pagi hari. Tangan-tangan kecil kami mengerjakan apapun yang bisa kami kontribusikan; mengupas nangka, memarut kelapa, mengiris bawang merah dan bumbu lainnya. Hingga semua dari kami memiliki “kenal lahir” berupa goresan luka akibat pisau yang menyayat ujung jari kami yang luput dari pengamatan mata kami yang masih terhinggapi kantuk. Sebelum adzan subuh berkumandang, maka semua dagangan harus sudah siap di sebuah lincak di depan rumah joglo kami. Dan, Sego Megono Mak Rasumi pun siap menyapa para pelanggan. Tiba waktunya berangkat sekolah, kami pun berbaris di belakangnya yang sedang sibuk melayani pembeli. Di selanya kami mendapat kepingan uang logam sebagai hasil jerih payah kami dini hari tadi, untuk uang saku kami. Setelah mendapat uang saku kami pun menyalami beliau dan berangkat ke sekolah. Diusapnya ubun-ubun kami seraya mengucap doa semoga kami diberi kejernihan fikir dalam belajar sehingga memperoleh ilmu yang bermanfa’at untuk masa depan kami yang lebih bermartabat. Sebuah ritual yang kami selalu banggakan kepada teman-teman kami yang tak punya nenek sehebat beliau. Berangsur masa, anak-anaknya pun mulai memisahkan diri dengan membangun rumah sendiri untuk setiap keluarga. Meski masih dalam satu blok, namun rumah joglo itu pun mulai terasa sepi. Dagangannya pun mulai beliau kurangi karena faktor usia yang tak lagi memungkinkan. Hingga akhirnya aktivitas kesukaannya itu pun harus beliau hentikan karena penyakit yang dideritanya. Kemarin, setelah sekian lama hanya kudengar kabar dari tempat perantauan, akhirnya kulihat kondisinya yang benar-benar telah berbeda. Meringkuk dengan tubuh yang hampir kehilangan daging. Hanya tulang yang terbungkus keriput kulit yang kian mempertegas udzur usianya yang telah melampaui 80 tahun. Gerak tubuhnya hanya sebatas berguling ke kiri dan ke kanan dengan sangat lamban, tak segesit dulu waktu beliau mengomandani kami semua mencipta orkestra Sego Megono di malam buta. Kedua mata beliau pun lebam dikelilingi memar akibat peredaran darah yang tak lagi lancar. Sesekali beliau menangis meneteskan air mata dan peluh, entah karena apa, karena tak lagi jelas beliau berbicara. “Sopo…?” mungkin itu yang dapat kupahami dari ucapnya ketika kuucap salam dengan sedu yang tertahan. Dan, hanya bisa kukecup keningnya sambil sesenggukan….. Ya, Mbahku benar-benar sudah renta dan tak berdaya. Tapi segenap peran dan jasanya tetap tak tergantikan. Dialah yang terbaik, dialah pondasi segenap watak kami. Dia simbol Djawa bagi kami. Dalam isak yang sesekali tak tertahan, kulantunkan sebuah surat dari kitab suci Al-Qur’an. Dengan segenap harap semoga hanya yang terbaik yang dilimpahkan atasnya, Mbahku, Mak Rasumi, yang terbaik. -amru nofhart-
Republik Jejaring Sosial
Apa yang terjadi sekarang, bisa jadi hanya merupakan mimpi di masa lalu. Nampaknya kutipan tersebut sangat pas disematkan untuk fenomena social media yang makin marak sekarang ini. Dan kali ini, saya coba berbagi sudut pandang lain dari fenomena tersebut, benar-benar dari sudut. Beberapa waktu lalu pernah ditayangkan di televisi seorang penarik becak melakukan “marketing” jasanya melalui jejaring facebook. Sekitar sebulan yang lalu salah satu akun twitter yang saya follow bercerita bahwa sopirnya menanyakan PIN Blackberry sang majikan biar bisa di-add di Contact BBM sang supir. Tiga pekan yang lewat seorang teman bercerita bahwa saat mencari pembantu dia mencoba meminta tolong pembantu tetangganya yang kemudian menyebarkan informasi lowongan tersebut via akun twitter. Dan, hampir tiap malam pedagang nasi goreng keliling yang lewat di depan rumah selalu membuka diskusi politik dengan bekal informasi dari acara debat di televisi dan situs berita online dari telepon genggam pintar miliknya. Bukannya bermaksud negatif dengan contoh saudara-saudara kita diatas sebagai subject. Hanya sebagai gambaran ekstrim bahwa akses informasi sekarang ini sudah menyentuh setiap lapisan masyarakat sampai ke akar rumput. Memang masih ada orang seperti guru saya yang hanya tidak bisa dan tidak mau punya HP, bingung katanya. Tapi bagi tukang traktor sebelah rumah di kampung, HP sangat penting untuk bisa memberitahu pemilik lahan yang sudah dia bajak sawahnya bahkan pada saat yang empunya belum bangun tidur. Yang membuat miris, terkadang masih sangat sering dijumpai ketidak-sesuaian antara supply informasi dengan needs sang pemilik akses. Sehingga tidak jarang terjadi distorsi atas maksud yang ingin disampaikan oleh sang penyebar berita. Meski tidak dipungkiri juga ada beberapa pihak yang kemudian memanfaatkan gap ini sebagai ladang pembodohan dan pembalikan opini publik. Contoh paling gampang adalah sang pedagang nasi goreng diatas. Mustinya, menurut saya, lebih penting baginya kebutuhan informasi atas berapa harga bahan-bahan yang harus dia beli besok di pasar dini hari. Atau mungkin juga dia bisa collect data nomer ponsel langganan sehingga dia bisa punya hotline untuk setiap pesanan yang menunggu di sepanjang gang dan blok perumahan. Bukannya malah, maaf, menghakimi setiap yang “dinyatakan” bersalah oleh acara debat televisi untuk ikhwal yang dia tidak paham betul. Parahnya lagi, dibumbui dengan fanatisme terkadang sang pedagang nasgor merasa lebih cocok jadi menteri daripada pejabat yang sekarang. Dan tak jarang dia menghujat setiap tokoh yang dirasa kurang kompeten, tentu dalam takaran sesuai informasi yang dia peroleh. Tak kurang setiap berselang satu pelanggan sang pedagang eksis di akun jejaring sosialnya dengan luapan emosi atas perihal yang dia rasakan berdasarkan informasi tersebut. Sekali lagi saya tambah mengerti sebuah kutipan, bahwa demokrasi menuntut adanya kesiapan infrastruktur pendukungnya, yang salah satu diantaranya adalah kecerdasan rakyat sebagai penguasa demokrasi. -amru nofhart-
Kangen Ayah
Siang ini terasa sangat terik di kota ini, 39oC tapi terasa “gemrojos”. Ruteku siang ini masih sama, jemput istri di salah satu pusat kesehatan masyarakat, terus pulang untuk makan siang bersama, sebuah rutinitas yang tak pernah terasa membosankan. Dalam kendaraan sembari nunggu “bell” pulang istri, panas semakin terasa, bahkan piranti pendingin pun seperti tak mampu membendung tatapan tajam mentari atas bumi siang ini. Lepuh rasanya kalau harus bertahan dalam kaleng bermesin ini, akhirnya kuputuskan untuk keluar sambil ngaso mencari udara segar. “Panas ya Nak ?” tiba-tiba suara itu terasa sangat akrab. Seorang bapak kira-kira seusia ayahku, lengkap dengan gerobak dorongannya yang ternyata juga masih menepi dari teriknya mentari siang ini. Seketika teringat ayah yang juga berprofesi sama dengan beliau, pedagang keliling. Tak jelas keringat atau tepatnya peluh menetes mengiringi parau jawabku: “Iya Pak”. Dan, tanpa pikir panjang aku pesan seporsi bakwan malang yang kulihat masih penuh di gerobaknya. Ya, mendadak kangen ayahku. Meski sejak lulus sekolah kejuruan aku terbiasa merantau jauh dari beliau, namun tak pernah henti aku selalu merasa kangen. Terlebih pada saat seperti ini, dengan melihat rekan-rekan seprofesi beliau, rasanya sangat merindu. Mungkin siang ini ayahku juga masih menepi dari sengatan mentari. Biasanya beliau membasuh setiap peluhnya dimana saja beliau temui surau atau masjid sembari menghadap-Nya. Meski beliau selalu bilang lebih menikmati dhzuhur di musholla dekat rumah, namun rekor itu jarang tercapai. Biasanya dagangan beliau masih terlalu banyak kalau harus dibawa pulang, alhasil yang sering beliau capai hanya sholat ashar di musholla dekat rumah kami. Bagi ayah dan teman-temannya, tak ada pilihan lain kecuali tetap menggendong/mengayuh/mendorong gerobak dagangannya meski dalam jilatan tajam terik matahari. Itu semua mereka nikmati sambil menjajakan dengan suara parau barang dagangannya. Berharap di setiap pintu yang mereka ketuk dengan teriakan terendam keringat mereka, ada potential buyer atas dagangan mereka. Pernah suatu hari, ayah pulang di tengah hari dengan dagangan hampir utuh, dan gerobak rusak akibat tersenggol mobil. Alhasil, beliau harus dirawat karena luka lecet dan dagangannya pun kami nikmati sekeluarga, pun setelah kami bagi dengan tetangga sekitar. “Tak mengapa, besok masih ada hari untuk berjualan lagi” begitu ucap ayah lirih sambil menahan perih obat yang kuoleskan di lukanya. Bagi ayah, berusaha setiap hari adalah jihad yang sesungguhnya. Apapun beliau pertaruhkan untuk dapat menghidupi kami sekeluarga dengan rizqi yang halal dan barokah. Selepas menikmati bakwan malang ini aku langsung telpon ayah. Beliau alhamdulillah sudah dirumah, memang sengaja bawa sedikit barang dagangan agar cepat pulang, karena sore ini beliau harus melihat sawah yang baru saja ditanami benih tadi pagi. -amru nofhart-
Beda Prinsip
Memaknai hal perbedaan memang selalu memberikan sensasi berbeda di tiap kasusnya. Beda postur tubuh, beda warna kulit, beda bahasa, beda suku, beda sudut pandang, dan masih banyak lagi perbedaan lainnya. Sejenak saya ingat satu scene di serial Avatar, ada pesan yang coba disampaikan disana bahwa kita semua sesungguhnya satu asal, namun tersebar ke seluruh penjuru dunia sehingga membuat kita beragam. Dan, karena satu asal itu pula, sesungguhnya kita semua terhubung dan terkait satu sama lain.Kembali kepada ajaran ngaji pada Ustadz semasa kecil saya, bahwa sesungguhnya manusia diciptakan dari hanya seorang Nabi Adam, kemudian darinya dicipta Siti Hawa, untuk kemudian keduanya ber-keturunan dan menyebar ke seluruh penjuru bumi hingga saat ini. Sesungguhnya ada kesamaan pesan disini, bahwa kita bersaudara. Signifikansi perbedaan inilah yang kemudian menjadi beragam. Ada satu hal kecil menurut seseorang namun itu seolah klimaks buat orang lain. Ada perihal yang ‘terampuni’ buat si A namun seolah ‘fatal’ dalam pandangan si B. Tapi, benarkah bisa demikian berbeda? Bukankah kita berawal dari satu asal dan saling terkait? Bukankah seharusnya kita punya satu standar? Bukankah standar itu yang seharusnya menjadi ‘ikatan’ yang menunjukkan bahwa kita satu asal? Karena seharusnya perbedaan mampu membawa berkah. Ada kisah yang bisa saya bagi mengenai hal ini.Dulu, Agustus 2002 sore hari, selembar surat panggilan tes kepesertaan beasiswa datang terlambat 1 bulan ke tangan seorang anak lulusan SMK yg di pagi harinya, di hari ke-15 dia bekerja, baru saja di-PHK dari jabatannya sebagai kuli bangunan karena proyek hampir selesai dan biaya personel harus dikurangi. Keterlambatan ini karena pihak desa menelantarkan surat tersebut di baki dokumen, karena tidak ada petugas khusus pengantar surat ke rumah-rumah sebagaimana di kota, dan karena menurut petinggi dusun paling surat itu isinya hal remeh seputar sekolah si anak. Walhasil, si anak dengan mulut gemetar “memerintahkan” pihak Balai Desa untuk membuat semacam pernyataan bersalah dan permohonan agar panggilan test bagi si anak dapat diproses ulang. Dengan berang sang kepala desa teriak sembari menggebrak meja kerjanya; “Kamu mau menurunkan saya dari jabatan kepala desa?!”…. Dan, tidak sampai dua detik anak itu terdiam, lalu dengan tangan kecilnya menggebrak meja yang sama dan teriak; “Kalau ya kenapa? Tokh Bapak masih punya pekerjaan lain, sedangkan saya pengangguran sekarang?!” Singkat kata, sang kepala desa bersedia membuat surat tersebut, dan si anak alhamdulillah bisa lolos seleksi beasiswa tersebut. Namun malang bagi Bapak Kepala Desa, dia keburu dipaksa mundur oleh warganya karena insiden tersebut. Di situlah segenap faktor latar belakang mengambil peran. Urgensi suatu masalah bagi setiap kepala tentu berbeda, sehingga tak jarang tanggapan dan penanganan atas suatu hal menjadi sangat berbeda antara yang terjadi dengan yang diharapkan, sehingga tak jarang terjadi pertentangan. Ngomong-ngomong, seberapa penting urgensi surat si Udin sehingga langsung dibalas oleh Mr. President ? -amru nofhart-
Sabar Hingga Ikhlas
Adakah pernah terpikir oleh kita bahwa sabar adalah kata kerja paling menyebalkan? Bahkan tak jarang mendengarnya pun langsung mengundang reaksi berlebih untuk segera menyudahi dengan pertanyaan balik; “mau sampai kapan?”; bahkan oleh orang yang dahulu telah terbukti kesabarannya sekalipun. Sabar menjadi trending topic bagi siapa saja yang dalam episode hidupnya saat ini sedang dalam babak cobaan dan/atau ujian. Bagi setiap mata yang hanya bisa memandang tanpa bisa terpejam meski hanya sejenak untuk bisa membayangkan untuk bisa memiliki sesuatu dalam pandangan itu. Bagi setiap tangan yang hanya bisa tergenggam mengeras tanpa bisa melaju semau nafsu untuk meluluhlantakkan segenap apa yang menjadi penghalang di depannya. Bagi kaki-kaki yang terbelenggu untuk melangkah tanpa berani untuk meneruskan keteguhan hati dalam mewujudkan setiap rencana menjadi nyata. Sabar, bisa jadi merupakan “penyebab” bagi setiap keterkekangan tadi. Pertanyaannya terkadang – kalau tidak mau disebut selalu- adalah sudah tepatkah sabar kita? Tepat guna, tepat waktu, tepat takarannya? Ataukah sesungguhnya pertanyaan-pertanyaan itu tidak perlu ada dalam konteks sabar?Bisa dibilang, sesungguhnya kalau sabar itu dalam track yang benar maka tidak akan pernah ada pertanyaan-pertanyaan itu. Sebagaimana tawakkal adalah jawaban setelah ikhtiar yang nyata. Selaku khusyu’ menjadi pamungkas atas sholat yang benar. Maka sabar yang sesuai garis tuntunan-Nya akan berakhir pada ikhlas. Seorang sahabat mendadak saya rindukan pagi ini. Terdorong atas perasaan tak biasa itu saya coba hubungi lewat telpon. Setelah basa-basi biasa, tanpa dinyana beliau bercerita panjang lebar mengenai “bencana demi bencana” yang sedang beliau alami. Kebangkrutan usahanya, keterseokan rumah tangganya yang diakibatkan karenanya, hingga kedua anaknya yang terpaksa harus resign dari sekolahnya karena tunggakan bayaran yang tak kunjung bisa dipenuhi oleh sang ayah, sahabat saya ini. Pungkasan dari ceritanya ini sungguh mengejutkan saya, beliau bertanya; “sesungguhnya apa maunya Gusti Allah atas saya?” Kontan saja yang terlontar dari saya adalah resep sabar. Namun yang terdengar berikutnya justru dia makin menjadi dalam maki hidupnya, na’udzubillah. Setelah semua mereda, kami berdua bersama-sama mengingat, bahwa sesungguhnya Allah tidak pernah menguji hamba-Nya melebihi kemampuannya, sesungguhnya Dia adalah sesuai sangkaan kita pada-Nya, dan sesungguhnya setiap ujian adalah demi kita agar menjadi lebih baik.Dalam tiga kalimat itulah, kami temui optimisme karena pasti kita diberi ujian sepaket dengan kemampuan untuk melampauinya, kami dapati bahwa pasti setiap garis hidup darinya adalah yang terbaik untuk kita, dan sungguh, kami sadari bahwa hanya dengan melalui setiap ujian dengan ikhtiar berujung tawakkal, sholat dalam capaian khusyu’, dan sabar hingga ujung keikhlasan, semuanya tentu akan menjadikan kita lebih baik. Coba periksa garis-garis tangan kita, bayangkan sebagai garis-garis kehidupan kita, lalu kepalkan tangan kita. Bukankah tak seorang pun mampu menggenggam utuh kehidupannya? -amru nofhart-