4 Tips Punya Anak Sholeh Yang Bisa Kamu Lakukan, Wahai Para Orang Tua

Bismillah, ini adalah seri #SKJ (Sari Khutbah Jum’at) pertama yang akhirnya saya published. Sudah lama saya berkeinginan untuk menulis setiap materi khutbah sholat jum’at yang saya ikuti tiap minggu di beberapa masjid berbeda. Kali ini, saya alhamdulillah bisa kembali mengikuti sholat jum’at di Masjid Abdurrohim, Panjunan – Cirebon. Sekilas Tentang Masjid Abdurrohim  Penampakan masjid ini agak diluar lazimnya untuk daerah Cirebon karena masjid ini menggunakan dua blok ruko sebagai areanya. Dengan interior yang “tidak terlalu” seperti masjid pada umumnya, anda akan terkejut dengan aktifnya kegiatan keagamaan disini. Terlebih, di saat bulan Ramadhan, setiap malam masjid ini ramai dikunjungi tidak hanya saat tarawih tapi juga banyak anak muda ber-i’tikaf. 4 Tips Punya Anak Sholeh Materi khutbah jum’at kali ini adalah empat tips untuk menjadikan anak kita sholeh atau sholihah. Hal ini tentu penting sekali sebagai bagian tak terpisahkan dari materi parenting yang saat ini sedang marak didengungkan. Tentu saja, karena setiap manusia menyadari bahwa mereka tidak akan hidup selamanya, dan pada saatnya nanti mereka akan bergantung pada anak-anak mereka. Bahkan di salah satu ayat-Nya, Allah menyatakan bahwa di alam barzakh beberapa orang mendapatkan kedudukan dan kemuliaan hingga mereka bingung dan bertanya; “Ya Rabb, dari mana datangnya kemuliaan yang Engkau karuniakan ini?” Dan Allah pun menjawab; “itu semua karena do’a dan permohonan ampun anak-anak kalian”. Sungguh, anak yang sholeh atau sholihah adalah aset yang sangat berharga. Lantas, bagaimana agar anak-anak kita menjadi anak yang sholeh atau sholihah? #1. Do’a Orang Tua Sebagus apapun upaya kita sebagai orang tua, tentu hasil akhir akan ditentukan oleh-Nya. Karena itu, ada baiknya memang tips yang satu ini diletakkan di awal. Juga, karena do’a yang dianjurkan juga biasanya adalah do’a bagi para pasangan yang belum dikaruniakan keturunan.  Banyak contoh tuntunan do’a terkait keturunan yang baik, salah satunya yang senantiasa didengungkan oleh Nabi Ibrahim yang diabadikan oleh Allah di dalam al-Qur’an Surat As-Shaffat ayat 100 sebagai berikut: “Robbi Habliy Mina As-Sholihiina” Artinya: “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang sholeh” (Q.S.As-Shaffat : 100) #2. Teladan Orang Tua Mengingat bahwa anak adalah peniru yang terbaik, maka teladan orang tua menjadi sangat penting. Makin bagus amal ibadah kedua orang tua, akan mampu memberikan tidak hanya motivasi dan anjuran, akan tetapi juga teladan dan tuntunan untuk anak menjadi lebih baik.  Dari sini maka tidaklah salah apabila dikaitkan dengan do’a diatas, dimana orang tua tidak hanya meminta untuk dikaruniakan keturunan yang sholeh, namun juga untuk mampu menjadi imam yang muttaqien. Sebagaimana termaktub dalam Q.S.Al-Furqan ayat 74: Yang artinya:“…Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa.” (Al-Furqan 25:74) #3. Pendidikan Terbaik Di era informasi dewasa ini, bekal anak untuk bisa tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang mumpuni tidak cukup hanya dengan kemampuan atau skill kerja saja. Kepribadian yang kokoh hanya akan terwujud dengan pilar-pilar akhlaq yang kuat. Di sini pendidikan agama mengambil peran vital. Bahkan, sedari dini kita harus tanamkan pada anak-anak bahwasannya agama adalah “ageman” atau bekal hidup. Tidak hanya berisi ritual peribadatan vertikal kepada Sang Pencipta, Islam juga berisi panduan lengkap hidup mulai dari masuk WC hingga tata hidup bernegara. Sudah terlalu banyak contoh dimana anak-anak dengan kemampuan kerja mumpuni namun tidak didasari oleh akhlaq yang memadai, mengakibatkan mereka lupa dan kehilangan jati diri. Bahkan di beberapa kasus mereka berbalik durhaka kepada orang tua, na’udzubillah. #4. Makanan Halal dan Thoyyib Tumbuh kembang anak membutuhkan “bahan baku” yang harus dipastikan baik. Baik dari sisi perolehannya, juga baik dalam hal kualitasnya. Dalam Islam, makanan yang dianjurkan tidak hanya makanan yang halal, tapi juga halal dan thoyyib, baik dan bergizi. Dari makanan yang halal itulah anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang sholeh atau sholehah. Penutup Menyimak khutbah tadi membuat saya berpikir, di era sekarang ini, di jaman dimana halal dan haram menjadi terlalu samar, betapa tantangan mendidik anak menjadi semakin nyata. Kalau kita gagal, kita hanya akan mewariskan generasi-generasi yang lebih buruk perangainya di muka bumi ini. Na’udzhubillah.

#AADC2; Angka 2 dan Tanda Tanya itu?

Malam minggu kemarin, saya dan istri berkesempatan menonton sekuel dari sebuah film legendaris Ada Apa Dengan Cinta? yang dulu pertama tayang di 2002. Tak bisa dipungkiri, kami memang menunggu film ini. Dan, melalui tulisan ini saya ingin berbagi perasaan dan kesan dari acara nonton kami ini. Sebagai pengingat, ini bukan tulisan review film sebagaimana teman saya biasa lakukan. Saya jauh dari kapasitas itu. Keterikatan Setting AADC dan AADC2 Bagi Kami Dari sejak pertama diumumkan untuk dibuat sekuelnya, saya pribadi merasa sangat excited. Pertama, dan ini mungkin alasan dari hampir semua fans AADC dahulu, adalah adanya keterikatan emosi antara kehidupan kita sebagai fans dan setting dalam film tersebut. Bagi kami, AADC bukan sekedar film, lebih dari itu AADC adalah kisah bersama. Buat saya pribadi, Rangga yang dalam adegan terakhir pergi untuk menggapai cita-cita demi Cinta adalah representasi diri. Saya menonton film AADC dulu dengan kondisi LDR (Long Distance Relationship) karena harus mencari kuliah gratisan di Jakarta. Sementara “si Cinta” yang ingin saya ajak menonton sedang pula kuliah di Jogja, yang ini tidak gratisan. Rangga yang menjanjikan akan kembali dalam satu purnama untuk Cinta. Sedangkan saya adalah seorang anak culun, yang menganggap semua anak SMK hanya akan lulus dan mencari kerja. Tiba-tiba harus “setengah gila” mendapati pujaan hatinya kuliah di Jogja, kedokteran gigi pula !!! Maka mengutip janji si Rangga, saya pun berjanji akan pulang dengan bangga demi mendapatkan cintanya. Bukan untuknya, tapi untukku. Hash… Saya yakin, banyak sekali setting yang secara magis mengikat para fans seperti saya dan istri. Tidak heran tiket bioskop untuk film ini laris manis, bahkan kalau bisa pesan di depan. Beruntung saya sempat beli tiket di pagi hari dan menonton di malam harinya, bersama si Cinta yang telah kudapatkan cintanya. Hingga sekarang beranak 2(dua). Iya, dua, seperti AADC yang sudah menyertakan angka dua di belakang judulnya. Tapi kami menonton film ini hanya berdua, tanpa anak-anak karena memang film ini ratingnya untuk remaja/dewasa. Angka 2 dan Tanda Tanya Itu Dengan membawa memori versi masing-masing, semua penonton pasti kemudian punya ekspektasi. Perlu dicatat sebelumnya bahwa fans AADC tentu sekarang kondisinya sudah berbeda. Saya yang dulu nonton dari kepingan bajakan dan itu pun numpang di kamar kost teman, sekarang sudah bisa beli tiket nonton di eks-eks-wan, hehehe. Dari kondisi itu sudah cukup jelas bahwa ekspektasi sangat mungkin menjadi terlalu tinggi. Soal drama, saya rasa film ini tidak terlalu drama dalam hal alur cerita. Sebagai contoh, kenapa kemudian si Rangga memutuskan Cinta hanya melalui secarik kertas surat di era modern ini. Ternyata hanya karena Rangga merasa tidak mampu memenuhi bisikan Ayah Cinta saat kunjungan ke New York sebelumnya. Dia merasa belum mapan dan bisa membahagiakan sang pujaan hati. Rasa malu yang seolah sederhana sekali, namun sudah kian langka untuk saat ini. Kemudian, yang senantiasa di tunggu dari Rangga tentu puisi-puisinya. Belum lekang dari ingatan betapa film AADC sangat bisa memasyarakatkan sastra dan mensastrakan masyarakat. Bahkan, buku AKU karya Sumandjaya mendadak laris dan dicetak ulang. Begitu juga dalam sekuelnya di AADC2, Rangga tetap mempesona dengan puisi-puisinya. Si Cinta tetap sangat mendamba puisi dari Sang Rangga. Bacalah puisi dengan judul “Batas”. Yang kemudian akhirnya mampu mengubah segala asumsi ending dari AADC2: Batas – M. Aan Mansyur Semua perihal diciptakan sebagai batas. Membelah sesuatu dari sesuatu yang lain. Hari ini membatasi besok dan kemarin. Besok batas hari ini dan lusa. Jalan-jalan memisahkan deretan toko dan perpustakaan kota, bilik penjara dan kantor walikota, juga rumahmu dan seluruh tempat di mana pernah ada kita. Bandara dan udara memisahkan New York dan Jakarta. Resah di dadamu dan rahasia yang menanti di jantung puisi ini dipisah kata-kata. Begitu pula rindu, hamparan laut dalam antara pulang dan seorang petualang yang hilang. Seperti penjahat dan kebaikan dihalang uang dan undang-undang. Seorang ayah membelah anak dari ibunya—dan sebaliknya. Atau senyummu, dinding di antara aku dan ketidakwarasan. Persis segelas kopi tanpa gula menjauhkan mimpi dari tidur. Apa kabar hari ini? Lihat, tanda tanya itu, jurang antara kebodohan dan keinginanku memilikimu sekali lagi. Tanda Tanya Itu… Kenapa saya katakan puisi diatas menjadi klimaks pengubah akhir AADC2 ? Bagi saya pribadi, terasa sangat epic pada saat dulu AADC diakhiri dengan janji seorang Rangga untuk kembali dalam satu purnama. Benar-benar menyisakan tanda tanya di benak semua fans hingga ratusan purnama. Tapi di AADC2 tanda tanya itu berubah jadi angka 2. Puisi “Batas” benar-benar membawa saya pada awang seperti halnya dulu AADC akan berakhir. Tapi saat kemudian Cinta memutuskan pergi ke New York dan mengakhiri semua tanda tanya yang ada. Tidak Ada lagi fans yang akan mengasumsikan bagaimana akhirnya hubungan Cinta dan Rangga. Tidak ada tanda tanya hari ini, tidak di New York atapun Jakarta. Jadi jangan tanyakan lagi; Ada Apa Dengan Cinta? @hartantoID

Membaca atau Menulis dulu?

Pernah isi sebuah form yang menanyakan hobi kamu? Seberapa sering kita dapati orang dengan hobi membaca atau menulis? Seberapa yakin kamu dengan pernyataan hobi membaca dan menulis tersebut? Banyak dari kita menyatakan membaca dan menulis sebagai hobi, baik dalam kolom isian, ataupun percakapan sederhana sehari-hari. Tapi faktanya, kebanyakan menjadikan membaca dan menulis hanya sebagai “pelarian” agar tidak terkesan tidak punya hobi. Ya iyalah, kan memang kehidupan sehari-hari kita tidak bisa lepas dari baca dan tulis. Membaca untuk Menulis Nah, balik ke dunia tulis digital kekinian, a.k.a blogging. Saya pribadi sih merasa sangat butuh membaca dibanding menulis. Dan, saya rasa virus butuh membaca itu yang saat ini kurang. Banyak orang ingin bisa menulis tanpa mau banyak membaca (kalimat ini juga terutama untuk diri saya sendiri). Itu sudah seperti orang pengen lancar buang air besar tanpa mau makan. Mendekati hil yang mustahal bukan? Sederhananya begini; membaca memberi banyak input, sedang kan menulis mengeluarkan sebentuk output. Nah, jadi semakin jelas kan mana yang harus didahulukan? Seorang blogger pun demikian, tidak mungkin ada output berupa tulisan darinya tanpa adanya aktivitas menyerap bahan dari sekitar, yang kemudian bisa kita generalisasi sebagai membaca. Membaca dalam hal ini meliputi pengamatan sekeliling, melatih kepekaan terhadap lingkungan, menangkap apapun yang terjadi di lingkungan kita sebagai bahan perenungan.  Dalam dunia digital seperti sekarang ini, lingkungan menjadi sangat luas, bahkan world-wide. Mendengar dan Berbicara Perumpamaan di atas juga bisa diterapkan dalam keseharian. Banyak membaca bisa diartikan banyak mendengar.  Menulis adalah bentuk grafis dari berbicara. Seorang yang pandai berbicara, dalam artian positif, tentu harus banyak mendengar. Kalau tidak, tidak akan bertambah kemampuannya dalam berbicara. Bukankah, berbicara hanya mengulang apa yang kita sudah ketahui. Sedang kan mendengar memberi kita banyak pengetahuan baru.Nah nambah lagi kan? Kesimpulan Jadi, mana yang lebih dulu kalian lakukan? Membaca, menulis atau mendengar? Apapun yang kalian pilih, semua itu bagus kok dan kegiatan positif. Jalani yang kalian inginkan.  Selamat membaca. @hartantoID

Yang Membuat Kita Seperti Sekarang

Seorang teman lama kirim chat dan bilang akan mampir untuk ngopi. Dengan gembira saya persilahkan dan segera saya siapkan 3 gelas kecil kopi karena dia bilang akan mengajak temannya ikut serta. Tidak sampai hilang hangat dan wangi kopi yang saya seduh, kedua tamu itu pun akhirnya mengucap salam di ujung pintu. Dan, perkenalan dan pembicaraan pun dimulai. Sebenarnya pembicaraan hanya seputar perkenalan normal dengan teman baru saya ini, dibumbui memori kisah saya dengan teman lama yang tak kalah seru. Sampailah pada sebuah pernyataan, atau saya catat sebagai pertanyaan, dari teman baru ini; “apapun kondisi kita sekarang ini, tentu ada hal-hal yang membentuknya”. Dalam hati saya bertanya; apa yang membuat kita seperti sekarang ini – terutama saya sendiri? Yang Membuat Kita Seperti Sekarang Lama saya pikirkan hal itu. Kalau saja setiap orang berhitung nikmat yang sekarang ini diterima, pasti lah semua orang akan merasa “berhutang”. Karena sejatinya terlalu banyak nikmat untuk dibayar dengan usaha atau amalan kita seorang diri. Pasti ada peran dan/atau jasa pihak lain? Investasi atau Usaha? Kalau dianalogikan dalam kekayaan material, ada dua penyebab seseorang untuk (terlihat) kaya. Apakah dia memiliki usaha (bisa juga masuk kategori karyawan), ataukah dia punya investasi yang mengirimkan kekayaan padanya tanpa dia ikut terjun dalam pengelolaan investasi itu.  Singkat kata; apakah kita kaya karena kita seorang investor ataukah kita kaya karena kita businessman. Dalam hubungan dengan nikmat secara keseluruhan, saya rasa tidak ada dari kita yang cukup jumawa untuk mengatakan bahwa ini adalah hasil usaha kita. Memangnya siapa kita sehingga layak punya kenikmatan sedemikian banyak? Mulai dari rambut yang menghiasi kepala, hingga kuku yang sehat tidak cantengan, adalah sekujur nikmat yang menempel di tubuh kita. Belum lagi segala fasilitas di jagat raya ini yang mendukung kita untuk berlaku sebagai manusia, makhluk-NYA yang paling sempurna. Rasanya memang kita harus meyakini bahwa terlalu banyak pemberian kepada kita. Investasi Tanpa Rugi Pernah dengar seseorang berlaku baik dan mendapat balasan? Sekarang ini banyak bertebaran anjuran untuk berbuat serupa dengan “iming-iming” balasan dari Allah. Nggak salah sih, malah bener banget; tokh Allah Subhanahu wa Ta’ala juga sudah berjanji dan Dia Maha Menepati Janji. Tapi, menilik pada analogi investor-businessman diatas, menjadikan saya sangat malu untuk menagih janji itu. Sehingga kalaupun kita harus rumongso sudah berinvestasi, tentu hanya dengan kemurahan dari-NYA lah kita menikmati hasil berupa kenikmatan sekarang ini. Ibaratnya, kita taruh deposito sedikiiiiiitttttt banget, tapi Sang Pengelola begitu mahirnya sehingga hasil yang dibagi ke kita sedemikian luar biasa mencukupi kehidupan kita. Jadi, sudah ketemu kah jawaban untuk pertanyaan: Apa yang membuat kita seperti sekarang ini? Tetaplah bertanya dan mencari. Dalam nuansa biso rumongso nanging ora rumongso biso. Salam berbagi.@hartantoID

BMW atau Mercy ?

Dalam musim liburan di penghujung 2015 kali ini, saya dan istri berkesempatan untuk berpartisipasi dalam meramaikan jalur macet Brebes – Tegal pada hari jum’at kemarin (25 Desember 2015). Tadinya kami berpikir sudah lengang karena sudah hari kedua semenjak libur panjang kali ini dimulai. Ternyata asumsi kami salah total, perjalanan ngebut kami harus berhenti di area Brebes. Kemacetan yang menahan laju kami hingga perjalanan Cirebon – Comal yang sewajarnya kami tempuh maksimal 3 jam menjadi molor sampai 7 jam !!!!!!! Di tengah kemacetan, masih di area Brebes mendekati alun-alun, tiba-tiba di samping kanan saya ada penampakan seksi yang cukup bisa menjadi pencuci mata kami. Sebuah mercy open cab yang serasa salah jalur karena sangat tersiksa kelihatannya menyaksikan mobil dengan potensi laju kencang harus merayap bersama rakyat jelata lainnya. Sambil mencoba menikmati kemacetan yang membuat kaki kiri saya kesemutan, kembali terbayang sebuah ungkapan dari seorang teman pehobi otomotif: Kalau masih nyetir untuk diri sendiri masih bagus beli BMW, kalo sudah ada yang nyetirin baru beli Mercy. Dari ingatan akan kalimat tersebut lalu jadilah saya amati penumpang mobil mahal di depan saya ini. Kabin hanya diisi oleh seorang laki-laki, yang kemudian membuat saya bergumam; kira-kira dia pemilik mobil itu atau driver ya? ah…istiqomah saja lah pada pendapat tadi, berarti ini driver yang akan jemput penumpang sang pemilik mobil, hehehe. Karena berasumsi itu driver, dan kemungkinan besar saya salah, maka saya beranikan diri untuk ngajak kebut-kebutan. Pertimbangan lainnya adalah, dan ini alasan sesungguhnya, karena ini lagi macet. Jadi saya pikir mobil 3M atau R3 sama aja kalo macet ya maksimal 10 KM per jam. Akhirnya, dengan track Brebes – Pemalang yang ditempuh dari jam 13:58 – 20:15, saya berhasil menyalip Bang Benz sebanyak 3 kali, dan dia menyalip saya 2 kali (notes: beliau berhenti di SPBU Brebes dan Tegal masing-masing sekali). Demikianlah, cerita liburan kami di jalan pantura. Bagaimana liburan teman-teman semua? Anyway, kalau anda mudik dan nyetir sendiri mending pakai BMW daripada Mercy. Kalau tidak ada, ya mending pake R3 seperti saya, hehehe… @hartantoID

Belajar Tentang Rumus Kecewa Dari Pak Herman

Ini cerita hikmah dari seorang guru saya semasa di SMK dulu. Beliau guru mata pelajaran Kimia Analisa, Pak Herman namanya. Rambutnya masih lebat tapi berwarna perak merata, mungkin karena kebanyakan hapalan rumus reaksi kimia sehingga bereaksi juga dengan rambutnya. Satu cerita yang selalu kami ingat adalah beliau dan kendaraan operasionalnya. Sebuah motor, maaf, butut menjadi tunggangan kebanggaannya. Motor merah era produksi 70’an yang kecepatan larinya sudah tidak pernah melebihi angka 30 km/jam. Bahkan, kami para muridnya yang bandel ini (mungkin cuman saya dan gerombolan saya) seringkali menyalip beliau dari dua sisi dengan sepeda kami apabila kami dapati beliau di jalan pulang atau berangkat mengajar. Hal lain tentang tunggangannya adalah, saking sayangnya beliau dengan tunggangannya, hampir setiap minggu beliau turun mesin sang kuda besi dengan tangannya sendiri. Beliau mengerjakannya di halaman workshop sekolah selepas jam pelajaran. Yang sering terjadi adalah, banyaknya baut yang dibongkar akan “beranak” setelah tiba saatnya pasang. Lalu beliau akan selalu kebingungan dan akhirnya menyimpan baut yang tak beruntung itu beserta teman-teman senasib hasil bongkar mesin sebelumnya. Alhasil, kami semua selalu khawatir kalau di tengah jalan sang kuda besi mengalami cedera berat. Rumus Kecewa dari Pak Herman Dari sekian banyak rumus kimia yang beliau ajarkan, tak satupun nempel di otak saya sekarang, saat tulisan ini dibuat. Apalagi periuk bulanan saya sekarang ini jauh dari “dunia ghaib” yang beliau ajarkan. Namun, ada satu rumus yang selalu saya ingat untuk menjadi bekal hidup hingga kini. Kekecewaan (Kk) = Harapan (Ha) – Kenyataan (Ke) Beliau bilang, kekecewaan adalah kondisi yang seringkali dihindari oleh manusia. Tapi kebanyakan manusia tidak mau tau apa penyebabnya. Di sini seharusnya keahlian terkait aksi-reaksi dipergunakan. Bahwa setiap kejadian selalu mengandung potensi kekecewaan, karena manusia selalu menyelipkan harapan. Dalam rumus tersebut, kita diajarkan untuk tidak menghindari kekecewaan, tapi justru me-manage-nya dengan baik. Manajemen Kekecewaan Melalui rumus itu, kita tahu bahwa penyebab kekecewaan adalah harapan yang melebihi kenyataan. Sedangkan apabila kenyataan melebihi harapan akan menimbulkan kontra-kecewa, alias bahagia. Dari sini kemudian kita pahami bahwa kebanyakan kondisi kehidupan manusia akan lebih cenderung kepada kekecewaan. Karena hanya sedikit manusia yang menempatkan harapan secara proporsional, yang ada seringkali kita terlalu berharap akan sesuatu. Karena dalam rumus tersebut ada dua unsur yang berada diluar kendali kita (Ke dan Kk), maka manusia yang bijak seharusnya bisa mengendalikan Ha, satu-satunya faktor yang bisa dia kuasai. Karena kenyataan yang akan terjadi hanyalah milik Sang Maha Pemilik Skenario, dan kekecewaan adalah kondisi akibat yang hanya bisa kita perhitungkan tanpa kita bisa mengendalikannya secara utuh. Manusia cerdas adalah yang bisa berharap secara proporsional Kamu berharap tahun depan naik gaji, itu sudah pasti kan? Tapi berharaplah secara proporsional; lihat kinerja anda, lihat kondisi usaha. Itu pun masih bisa dibenturkan pada kekecewaan akibat subyektifitas pemberi gaji, betul kan?  Begitulah, sekarang kita tahu bahwa harapan tak selamanya dan tak sepenuhnya positif. Berharap Agar Tak Pernah Kecewa Lalu, bagaimana agar kita terhindar dari kondisi kecewa? Dengan kata lain, bagaimana agar kita selalu bahagia? Kalau itu yang kita cari selama ini di dunia, maka selamat : Anda telah membuat Malaikat Jibril tertawa. Dalam sebuah riwayat dikisahkan, bahwa Jibril, Sang Panglima Para Malaikat yang susah tersenyum itu, pernah tertawa dan Nabi Muhammad pun bertanya kenapa? Jawabannya adalah kita, manusia yang selalu memburu bahagia di dunia padahal tidak akan didapati bahagia karena dunia itu fana.  Dan sesungguhnya untuk membahagiakan diri kita hanya bisa dicapai dengan mencukupkan diri dengan Allah. Hasbunallaahu wa nikmal wakil. Dalam kaitannya dengan rumus di atas, maka sudah jelas bahwa satu-satunya harapan yang tidak akan menimbulkan kekecewaan adalah harapan hanya kepada-NYA. Mari petik hikmah dari setiap kejadian disekitar kita.  @hartantoID

Mabok Minuman Soda di Jepara

Ini cerita saya sekitar dua tahun yang lalu, saat itu memang masih banyak kerjaan yang mengharuskan saya sering ke bumi Kartini tersebut. Saat itu bahkan saya harus stay di kota pusat ukiran di Indonesia itu selama seminggu lebih, menemani seorang rekanan dari Korea untuk install sebuah alat disebuah pembangkit listrik disana. Mungkin, sudah jadi kebiasaan orang negeri ginseng kalau selepas kerja seharian mereka lalu menghabiskan malam dengan makan dan minum soju (minuman fermentasi tradisional mereka). Nah, berhubung disini susah didapati komoditi tersebut, maka kami habiskan malam dengan makan sea food dan main billiard, ditemani minuman karbonasi yang berwarna hitam itu tuh… Saya dan Minuman Soda Serta Billiard Dulu, memang saya sangat menggemari minuman soda ini. Saking sukanya, sampai di masa sulit pun saya agendakan bersama seorang teman kalau akhir bulan habis gajian selalu membeli satu botol besar untuk sekedar menghabiskan malam dengan bermain gitar, obrolan ngalor-ngidul sampai larut, dengan cemilan kecil seadanya. Pun, dengan bermain billiard. Sebenarnya itu adalah mainan lama semasa SMP dulu, bukan karena suka, hanya saja kebetulan permainan itu ada di sebelah persis mesin permainan ding-dong sehingga mau tidak mau menjadi familiar dan sesekali kami memainkannya. Nah, lebih karena dilatarbelakangi sentimen masa lalu tersebut, maka saya sangat menikmati agenda tiap malam tersebut. Kami selesaikan pekerjaan di lapangan sekitar jam 16:30, bersiap dan membersihkan badan di hotel sampai lepas maghrib, kemudian bergadang tiap malam di tepi pantai hingga paling awal jam 23:00. Begitu seterusnya hingga tanpa saya sadari, tiap malam saya habiskan rata-rata 4-5 botol minuman soda tersebut. Mabok Minuman Soda (Akhirnya…) Di Jepara Di hari ke delapan saat sarapan di pagi hari, kelainan mulai saya rasakan di perut saya. Nasi goreng yang sangat lezat kelihatannya itu pun, susah masuk dan mengalami penolakan dari lambung saya. Akhirnya sarapan saya sudahi dan segera saya isi perut dengan teh manis hangat, berharap ini hanya masuk angin yang memang biasa menimpa saya. Semakin siang saya rasakan badan semakin dingin dan perut makin terasa tidak karuan, setiap yang saya makan atau minum langsung ditolak oleh lambung dan akhirnya saya muntahkan keluar, sudah persis orang hamil muda, hehehe. P3K pun segera dilakukan, saya dibawa ke klinik terdekat dan sang mantri (maaf disana belum ada dokter) menyatakan saya terkena “bising lambung”. Sebuah diagnosa “aneh” tapi cukup menggambarkan apa yang saya rasakan. Karena keterbatasan fasilitas medis, saya pun terpaksa dilarikan ke Semarang, dengan kondisi sepanjang perjalanan saya mengerang kesakitan seperti orang hendak melahirkan (padahal tadi siang baru hamil muda ya?). Hampir semua penumpang yang berada satu mobil bareng saya merasakan kecemasan, bahkan teman saya dari Korea yang tidak paham bahasa Indonesia pun ikut panik melihat wajah saya yang semakin cerah alias pucat, padahal biasanya saya hitam manis. Rupanya bahasa kesakitan itu sama di semua negara. Di dekat kota Semarang, salah satu rekan berinisiatif menghubungi istri saya untuk memberi kabar dan sekaligus berkonsultasi apakah ada obat tertentu untuk saya. Agak maksa memang karena istri saya dokter gigi, sedangkan yang saya derita saat itu terkait lambung. Tapi namanya istri memang dokter segala penyakit, dia langsung minta rombongan saya berhenti dan mencari susu sapi putih kemasan kaleng bergambar beruang putih yang iklannya ular naga putih. Absurb… Akhirnya, “bising lambung” yang saya derita pun mereda, dan saya bisa meneruskan perjalanan hingga ke rumah saya. Bertemu istri saya, dan kemudian dirawat selama seminggu karena asam lambung saya masih tergolong tinggi. Dari saat itu, saya pribadi menjauhi minuman soda itu. Dan, pelajaran yang saya petik adalah bahwa segala sesuatu yang terlalu memang memabukkan, dan berakibat buruk untuk diri kita sendiri. Bahkan air putih pun kalau kita minum secara berlebihan pasti akan ada efek buruknya, menurut saya. Bagaimana menurut teman-teman? Adakah cerita mabok lainnya?   @hartantoID

Pakai Nota Nggak Mas?

“Pakai nota nggak mas?” sering saya ditanya seperti itu saat mengisi BBM di beberapa SPBU dalam beberapa kesempatan. Awalnya saya anggap itu biasa saja, bahkan beberapa kali saat istri bertanya kenapa kita ditanya seperti itu saya jawab (setengah asal) bahwa itu adalah SOP (Standard Operating Procedures) si Mas atau Mbak petugas SPBU. Padahal, sembari menjawab saya pun sebenarnya bepikir, kalau itu SOP kenapa tidak semua ditanyai hal serupa? terutama pengendara sepeda motor. Pun pada saat saya berperjalanan dinas, seringkali driver saya harus meminta struk bukti bayar, kalau tidak bisa-bisa kita melenggang tanpa nota dan akhirnya nggak bisa reimburse ke kantor, tekor dah. Suatu Hari Tentang Pakai Nota Nggak Mas Tibalah tadi siang pada saat saya dapat traktiran temen untuk late lunch bersama. Saat membahas “tampang” dan kaitannya dengan posisi dalam menghadapi pelanggan bisnis masing-masing. Timbul sebuah celetukan ; “kalo saya isi bensin aja sering ditanya; pake nota nggak mas?, padahal kan itu mobil saya sendiri?” Begitu polos teman saya berucap dan ditanggapi tawa renyah teman lainnya, termasuk saya setelah sekian detik agak telmi. Jadi selama ini???  Saya dianggap supir saat isi bensin mobil dengan istri saya di sebelah saya? Apakah tampang saya kurang meyakinkan untuk punya mobil setidaknya meskipun cicilan? Terus, kenapa waktu perjalanan dinas saya nggak nyetir dan driver kantor yang tinggi gede itu kudu minta struk? Apakah kalo yang nyetir saya dan si driver jadi penumpang, kemudian saya ditawarin juga: pake nota nggak mas? Jadi??? Nggak-nggak-nggak….pasti ada yang salah…mungkin karena kebiasaan saya kalo isi bensin pasti turun dan ngajak Mbak atau Mas nya ngobrol. Saya sih berniat untuk lebih “nguwongake” sembari nantinya membayar dengan tangan kanan saya. Sederhana saja sih alasannya, karena lubang tangki bensin berada di sisi kiri maka kalau saya tidak turun terpaksa akan kerepotan membayar dari bangku setir saya. Rupanya, menjadi sopan tidak serta merta mendapat apresiasi ya? Atau kesopanan hanya diperuntukkan bagi orang-orang dengan tampang kurang meyakinkan, setidaknya untuk memiliki sebuah mobil? hehehe… Yang pasti, hari ini saya menjadi sadar bahwa ada unsur “guyon” dalam setiap tawaran dari Mas atau Mbak petugas SPBU; pakai nota nggak mas? Tanpa saya berpikir untuk mengubah kebiasaan untuk turun dalam setiap kesempatan isi bensin.  Nilai lebihnya sekarang, saya bisa menambahkan lebih banyak senyum pada saat menjawab tawaran tersebut: nggak usah Mas/Mbak, makasih. Kembali saya harus mengingat, bahwa akan jauh lebih baik kalau kita dianggap lebih rendah dari sejatinya kita (setidaknya dalam hitungan kita sendiri ya), daripada kita dianggap lebih tinggi dari kondisi kita semestinya. Terlebih dalam hal duniawi seperti kaya, berkedudukan tinggi, berpendidikan tinggi, dan lain sebagainya. Sementara dalam hal ibadah pun, menurut saya, akan jauh lebih melegakan apabila kita dijauhkan dari anggapan lebih alim dari orang lain. Bukankah bebannya akan jadi lebih berat? Dalam hal duniawi saja, akan sangat menyiksa manakala kita dilabeli terlalu tinggi dari nilai kita sesungguhnya. Akibatnya minimal kita jadi susah cari utangan ke teman :p Belum lagi kalau kemudian kita terbawa gaya hidup sebagaimana label yang diberikan lingkungan sekitar kita. Baju harus top branded, makan di restoran mahal, dan sebagainya. Apalagi dalam hal ibadah, sangat berbahaya kalau kita dianggap lebih alim dari sejatinya kita. Gampang sekali bisikan syetan menjadi menyesatkan kita. Paling sederhananya, setiap amalan yang coba kita lakukan menjadi berbumbu riya, na’udhzubillah min dzalik. Belum lagi kalau kemudian kita terbawa nafsu untuk kemudian memiliki semangat menggurui dengan pemahaman yang minim, alhasil kita tidak hanya tersesat seorang diri tapi juga menyesatkan orang lain. Jadi, mulai sekarang saya akan lebih menikmati setiap kali Mas atau Mbaknya menawarkan: “Pakai nota nggak Mas?” Bagaimana dengan kalian teman-teman? @hartantoID

Menutup Aurat Sejak Dini

Banyak yang beranggapan bahwa menutup aurat (terutama bagi muslimah) harus didahului dengan tertutupnya aurat hati. Padahal seharusnya keduanya bisa berjalan paralel tanpa urutan waktu. Faktanya, menutup aurat sebagaimana cara berpakaian lainnya, tidak bisa lepas dari pembiasaan. Orang yang biasa pake topi misalnya, bisa jadi hilang pede pada saat topinya hilang. Sedangkan bagi yang tidak terbiasa seperti saya, pake topi sesekali malah bikin sakit kepala. Dalam Islam, menutup aurat adalah kewajiban bagi seorang muslim atau muslimah yang telah baligh. Karenanya cara paling ideal adalah dengan membiasakan sedari dini cara berpakaian secara syar’i. Maka jangan heran apabila kita jumpai seoran muslimah yang sudah baligh dan pada saat ditanya; “kenapa tidak berjilbab?” jawabnya ; “panas” atau “gerah”. Lain hal jika sudah dibiasakan sejak dini, bahkan di kota Cirebon, Jawa Barat, yang terkenal ongkep sekalipun, kedua putri kami senantiasa “goreh” kalau bepergian tanpa mengenakan gamis anak yang sering mereka sebut “baju seragamis”, hehehe. Bagi anda yang sedang ingin membiasakan anak-anak anda berpakaian secara syar’i, boleh tengok koleksi kami di . Kami menyediakan produk lokal dengan kualitas internasional dan harga terjangkau. Berbagai merk menjadi koleksi kami diantaranya gamis anak ABR, Takua, Ulfa, dan juga pesanan design anda sendiri. Butuh gamis anak murah berkualitas? Hubungi N3 Collection di 0838-7223-7222 atau di pin BB: 59D5D8F6 @hartantoID

Ibu, Peran dan Tantangan Zaman

Kabut masih membungkus area yang tergolong perbukitan ini. Diatas jalan terjal hampir 45o itu tapak kaki tanpa alas itu sudah menuruni membawa badan dan barang dagangan di bakul yang tertambat diatas punggung yang sengaja dibungkukkan untuk berkompromi dengan gravitasi. Sejatinya masih sangat wajar jika gigi-giginya bersahutan menahan dingin, namun beban dan jarak yang ditempuh memaksa bulir keringat untuk membasahi kening lembutnya. Bulir yang membuat semakin dingin jika terterpa angin. Di seberang pandang telah nampak kerumunan yang seolah tak menghiraukan dingin sekitar. Ya, pasar tradisional itu telah mulai bertransaksi sejak para jama’ah shubuh mengucap salam, dan Bu Surti menjadi peserta kerumunan yang ‘agak terlambat’ bergabung. Berbekal buah yang telah dipetik sore kemarin, jarak ditempuh dari rumahnya di ujung bukit demi sekedar rupiah untuk membantu perekonomian rumah tangganya yang telah dikaruniai seorang putra yang kini mulai duduk di bangku SD. Emansipasi, itu selentingan yang sering ia curi dengar di televisi tetangganya, yang juga satu-satunya televisi bersama untuk dua puluh rumah sekitarnya. Makna pastinya Bu Surti tidak tau dan tidak mau tau. Yang ada di benaknya hanyalah bahwa dengan kata itu orang di sekitar semakin “memaklumi” kerja kerasnya setiap pagi dalam menjaga dapurnya tetap ngebul. Atas nama emansipasi, yang bisa jadi salah arti, berapa banyak Surti-Surti lain yang harus meninggalkan “hobi” masaknya di pagi buta? Atas nama ekonomi, yang juga bisa jadi salah ukuran, berapa banyak anak-anak yang mengalami pembatasan peran IBU yang seharusnya bisa lebih luas? Sekedar berbagi cerita ringan sembari menemani anak-anak menikmati acara TV kesayangan mereka, menina-bobokkan sang buah hati dengan suara lembut diselingi lantunan lagu, menutup mata mereka dan membukanya kembali keesokan harinya dengan kecup hangat… Terlalu banyak anak-anak yang harus kehilangan keindahan momen-momen itu. Apa yang mereka dapati hanyalah seorang Ibu yang tiap pagi mengecupnya dan mengucap sampai jumpa, untuk kemudian tidak lagi mereka temui sampai kantuk mendera mereka. Siang, sore, dan malam mereka habiskan dengan seorang pembantu/babysitter. Sekali lagi, atas nama emansipasi dan ekonomi, yang bisa jadi salah arti dan salah ukur. Ibu, betapa sejatinya peran itu begitu sentral. Menjadi pengimbang generasi sekarang (suami) dan memberi tauladan bagi generasi mendatang (anak-anak). Kalau peran itu kemudian harus berkurang, maka mungkin makna yang diperoleh dari emansipasi barulah kemunduran, dan mungkin ekonomi yang diperjuangkan hanyalah takaran untuk kerugian. Karena menjadi istri seutuhnya, dan menjadi ibu seluruhnya, adalah jauh lebih baik. Menjadi fulltime mom, tetap bisa seiring dengan emansipasi yang diperjuangkan R.A Kartini yang harum namanya. Karena untuk menjadi fulltime mom, harus tetap cerdas dan berpendidikan tinggi. Menjadi fulltime mom, juga tetap bisa harmonis dengan aktivitas keekonomian produktif. Karena zaman tidak hanya memberi tuntutan, tapi juga kemajuan dan kemudahan. Selamat Hari Ibu. @hartantoID

pustaka naik kelas daftar rekomendasi buku hartanto

Pustaka Naik Kelas

Ada fase dalam perjalanan bekerja dan berusaha ketika pertanyaan tidak...

hartanto

Copyright @Hartanto.id 2026