100 hari dan Orang-Orang dari Masa Lalu

1

Mother : by Manuel Schinner 100 Hari Dan Orang-orang dari Masa Lalu Sembilan bulan engkau mengandungku Membawaku dalam kepayahanmu Diantaranya sembari engkau mengejar ijazah persamaan SD-mu. Disambi juga dengan agenda mengaji mingguan ke majelis Kyai Dimyati. Sungguh, meski tak sadar secara pasti namun itulah pondasi yang akan membentuk diri. Dalam timangan aku dibesarkan sebagai putra pertama kebanggaan. Kenakalanku selagi kecil menjadi kelucuan pelipur payahmu. Disanding aku dibesarkan dalam buaian penuh kasih sayang. Diantaranya sembari engkau jajakan makanan di pertunjukan kesenian malam di setiap hajatan. Waktu itu, di bawah gerobak engkau hamparkan selendang sebagai alas tidurku diatas rumput lapang. Sungguh, inilah kenangan jelas akan makna perjuangan yang paling membekas. Dalam lafal do’amu aku jalani segenap jenjang pendidikan. Mulai SD, SMP, SMK, hingga kuliah yang kebanyakan tak berbayar. Mungkin memang tak pernah kau ajarkan aku bagaimana PR diselesaikan. Tapi bukankah semua telah kau ajarkan ketika aku dalam kandungan? Sejatinya do’a dan perlindunganmulah yang menjadikanku mampu. Sehingga kebanggaanmu atasku hanyalah wujud lain rasa syukurmu kepada-NYA. Di setiap untai do’amu selalu engkau sisipkan namaku. Sungguh itulah yang membuatku merindumu. Kini, setelah lebih 100 hari engkau berpulang kepada-Nya. Bahkan kuyakini disana engkau tetap membanggakanku ke sepenjuru penghuni syurga. Bahwa dengan itulah engkau ungkapkan rasa syukurmu kepada Rabb-mu. Dan, kini menjadi tugasku untuk melanjutkan tali yang pernah kau ikat. Yang tiada akan erat jika tanpamu. Meski mereka kini tampak seperti orang-orang dari masa lalu. Tetap akan kupenuhi kewajibanku. Semoga setiap kebaikan dariku meski sedikit, senantiasa mengalir kepadamu selaku pendidik. Semoga segenap do’a yang terbaik, hanya untukmu yang selalu memberiku yang terbaik. Ampuni, Kasihi di Yaa Rabb Ma’afkan kesalahannya, Muliakanlah dia Dengan Rahmat-Mu Tuhan Yang Maha Pengasih Di selepas 100 hari, untukmu Ibu.

Tips Conference Meeting Untuk Startup

3

Sebagaimana janji saya pada postingan Suluk Raden Kopi sebelumnya, kali ini saya akan berbagi catatan saya terkait online atau conference meeting via livestreaming. Baca dulu: Suluk Raden Kopi (2) : Tips Bekerja dari Rumah Sebagian pengusaha pemula atau startups, belum memiliki ruang yang representative untuk menerima tamu dan/atau kliennya. Karenanya kemudian mengadakan pertemuan di luar kantor menjadi pilihan masuk akal. Berbagai alasan pun bisa dan harus diungkapkan kepada klien untuk menutupi keterbatasan ini. Anda bisa sampaikan bahwa pemilihan tempat dilandasi keinginan anda untuk memudahkan klien. Agar tidak terlalu jauh dari kantor, misalnya. Bahkan seorang Sandiaga Uno pun mengalami hal serupa, sebagaimana beliau ungkap dalam bukunya; Kerja Tuntas Kerja Ikhlas. Nah, di era digital sekarang ini ada lagi pilihan selain meeting di area publik. Yaitu online meeting atau conference meeting. Meskipun di jaman sekarang menjadi jamak orang lebih melek digital, tapi tentu dalam pelaksanaannya harus juga disiasati agar optimal. Sebagai bagian dari IDcaster (Indonesia Digital Broadcaster) alhamdulillah saya dimudahkan dengan teman-teman yang sangat berpengalaman menangani corporate meeting yang sudah pasti menuntut kualitas layanan prima. Berdasar pengalaman itulah kemudian saya ingin berbagi tips terkait online conference meeting ini. Tips Conference Meeting Untuk Startup – Suluk Raden Kopi (3) #1. Jaringan Internet yang Stabil Ini adalah hal paling mendasar, jaringan internet. Dan, sebagai catatan, kalau selama ini kita lebih cenderung concern kepada kapasitas download, maka untuk konteks online meeting kita juga harus memperhatikan kapasitas upload kita. Memang benar, di negara kita tercinta ini kecepatan internet masih boleh dibilang lemot. Saya dan teman-teman sendiri mengalaminya saat mengawali jasa livestreaming di tahun 2014 lalu. Betapa musuh kami yang utama bukan pesaing usaha melainkan jaringan yang lemot. Banyak klien kami merasa belum bisa menikmati produk kami saat itu bukan karena belum membutuhkan, tapi karena kualitas livestreaming kami sangat bergantung pada kecepatan internet yang ada. Namun seiring perkembangan industri IT di Indonesia, kini kecepatan jaringan internet sudah semakin mendukung. Bahkan, platform livestreaming itu sendiri pun berkembang. Dari sekedar aplikasi yang “nempel” pada aplikasi lainnya seperti Facebook, IG, dll. Hingga aplikasi khusus livestreaming lainnya. #2. Setting Ruangan Conference Ini terkait citra usaha di mata klien. Mengingat online meeting bersifat live atau siaran langsung, maka persiapan harus sematang mungkin. Sebagaimana saya tuliskan dalam serial Suluk Raden Kopi sebelumnya, tempat khusus untuk bekerja di rumah juga sangat penting. Tempat ini juga bisa disiasati sebagai spot anda untuk mengadakan teleconference meeting dengan klien. Saya punya pengalaman menarik dalam hal ini. Suatu ketika dalam rangka presentasi jasa layanan livestreaming kami untuk corporate meeting kita harus melakukan demo atas jasa layanan tersebut. Kebetulan kalau ini di Tempat Nongkrong Seru alias Coffeeshop, kalau di rumah, ruangan harus disulap loh! Karena memang kami tidak dapat melakukan presentasi tersebut secara full-team, maka jadilah salah satu dari kami di rumah mengadakan trial teleconference meeting dengan rekan-rekan yang berada di ruang rapat klien. Karena hal itu dilakukan secara on-spot, jadi persiapan menjadi sangat minim. Alhasil beberapa komen iseng pun muncul dari klien kami; bisa nggak sih gordyn di belakang warnanya jangan itu? dll. #3. Persiapan Materi Jarak Jauh Sekali lagi yang perlu diingat, bahwa meskipun terasa dekat tetap saja ini adalah meeting jarak jauh. Maka kemudian tools untuk berkomunikasi dan pendukung materi rapat pun membutuhkan persiapan yang khusus. Misalnya bagaimana menggunakan whiteboard virtual secara leluasa sehingga bisa menjadi alat bantu penjelasan sebagaimana dalam rapat tatap muka pada umumnya. Demikian juga dengan materi, sebisa mungkin dipersiapkan sehingga bisa dipahami dengan potensi pertanyaan yang minim. Hal ini mengingat semakin banyak pertanyaan yang muncul, maka potensi miss-persepsi dikarenakan jarak pun semakin banyak. #4. Trial Before Meetup Apabila persiapan sudah matang, jangan lupa untuk melakukan trial meeting. Ini penting, mengingat bagaimana pun juga ini layaknya pertunjukan dimana kita saling menonton. Butuh gladi-resik yang memastikan penampilan kita di mata klien akan tampak prima. Beberapa hal yang menjadikan trial ini begitu penting diantaranya adalah:– Kestabilan jaringan yang harus teruji– Penggunaan aplikasi yang bisa jadi belum familiar bagi kita dan/atau klien– Tampilan di layar yang terkadang tidak sesuai atau harus disesuaikan dengan kebutuhan. Latihan dulu bersama tim #5. Minutes of Meeting Tetap Penting Dalam setiap meeting, tetap saja yang terpenting adalah notulen. Hal ini mengingat pentingnya follow up dari setiap point yang dibahas dalam rapat. Salah satu keunggulan online meeting adalah, kita memiliki opsi untuk merekam kejadian rapat tersebut sehingga juga bisa berfungsi sebagai notulen. Selain tentu juga dokumen tertulis yang bisa dijadikan dasar tindakan kita dan klien atas hasil rapat tersebut. Kalau Kamu Gimana? Nah, itu dia tips untuk meeting online secara mandiri. Untuk hasil yang lebih professional, saya sarankan gunakan jasa digital broadcaster atau jasa livestreaming berpengalaman. Mereka tentu lebih menguasai tentang kebutuhan terkait online meeting ini secara lebih professional.

Suluk Raden Kopi (2) : 5 Tips Bekerja dari Rumah

7

Seiring alih profesi saya dari sebelumnya 11 tahun sebagai karyawan dan sekarang jadi full-time entrepreneur, saat ini saya jadi lebih sering bekerja dari rumah. Meskipun sebenarnya sewaktu bekerja di perusahaan terakhir saya juga sudah sering memulai remote working. Hal ini karena si big boss juga dalam sebulan ngantor paling banter seminggu. Jadi ya koordinasi lebih sering menggunakan komunikasi jarak jauh. Sekarang, semenjak tidak punya boss lagi, praktis tempat kerja saya ya di rumah. Mengurus kedai kopi dan/atau unit usaha yang sedang kami rintis pun banyak dari rumah. Pengalaman bekerja dari rumah selama sekitar 11 bulan itulah yang kemudian ingin saya bagi, atau minimal catatan pribadi saya, sebagai bagian dari seri Suluk Raden Kopi. Suluk Raden Kopi #2: 5 Tips Bekerja dari Rumah SOHO : beddo Sebagian besar pengusaha pemula (startup) memulai bisnisnya dengan markaz operasi di rumahnya. Bahkan beberapa dari garasi di samping rumahnya. Sederhananya, dari rumah juga. Para pekerja freelancer juga melakukan hal serupa, mereka melakukan usaha dan/atau pekerjaannya dari rumah. Tapi seberapa efektif kah bekerja dari rumah jika dibandingkan dengan, misalnya, sewa kantor? Hal ini tentu tergantung dari sifat dan jenis pekerjaannya. Tapi yang pasti, bekerja dari rumah memiliki tantangan tersendiri untuk tetap menjadi produktif. Berikut tips bekerja dari rumah untuk tetap produktif. #1. Alokasikan Ruang Tertentu sebagai Kantor Kenapa ini adalah tips yang pertama? Karena bekerja dari rumah bukan berarti bekerja di “sekujur” rumah anda. Bisa berabe kan kalau dokumen berserakan di mana-mana? Alat kerja berserakan? ATK berhamburan? Ini serius loh. Apalagi untuk seorang Bapak muda dengan tiga anak kecil seperti saya. Bisa senewen kalau harus berbagi space dengan mereka untuk bermain. Makanya, sesederhana apapun sangat penting untuk memiliki ruang tertentu tempat kita bekerja.  Saya pribadi menggunakan sudut kecil antara rak buku dan area sholat yang relatif steril dari jangkauan anak-anak. Tentu mereka tetap bisa ikut berpartisipasi di meja kerja saya seperti foto berikut ini nih: #2. Tentukan Jam Operasional Senyaman Mungkin Bekerja dari rumah tentu tidak ada mesin absensi. Tapi bukan berarti kemudian kita boleh bekerja 24 jam selama 7 hari dalam seminggu. Bukan hanya tidak sehat untuk diri sendiri. Keluarga pun butuh anda untuk tetap hadir secara utuh sebagai bagian keluarga. Bukan “orang lain” yang numpang ngantor di rumah. Karena di rumah sendiri, maka pergunakanlah keunggulan anda berupa kebebasan mengatur jam operasional senyaman mungkin. Meskipun tidak bisa dipungkiri, dalam banyak kasus pengusaha pemula waktu kerja menjadi sangat tidak menentu. Maka sangat penting untuk bisa memiliki penafsiran anda sendiri terhadap frasa berikut; Berkantor di rumah, bisa kerja kapan saja dan libur kapan saja. Sekedar sharing, saya sendiri menetapkan waktu operasional kantor di rumah saya minggu – kamis. Mulai bekerja setelah shubuh, dengan jeda waktu dhuha, waktu dhzuhur, makan siang, dan berakhir selepas ashar. Di luar itu, waktu ketemu dengan beberapa kolega saya anggap waktu saya bersosialisasi di luar jam kantor. #3. Jaga Mood dengan Tetap “Berangkat Ngantor” Tips yang berikut ini saya dapat dari owner perusahaan terakhir tempat saya bekerja dulu. Beliau pernah bilang; untuk jaga mood, tetaplah bedakan penampilan antara santai di rumah dan waktu ngantor di rumah. Ini saya jalankan dan terbukti berhasil untuk jaga mood. Tetap mandi pagi dan berpenampilan dengan pakaian kerja, meskipun tentu bukan seragam. Hal ini juga menunjukkan bagaimana kita menghargai diri dan pekerjaan kita. #4. Tetap Bekerja dengan Target Kalau sudah bekerja dengan waktu yang kita atur sendiri sesuai kebutuhan produktifitas kita. Dengan tempat dan suasana yang kita atur sendiri. Tentu sangat logis jika kemudian kita bisa meraih target yang kita tetapkan sendiri. Dalam kenyataannya, banyak kemudian para pengusaha pemula menjadi lupa menentukan target. Mereka terlena dengan kondisi kebebasan yang tidak jarang menjadi tujuan yang terbayang di awal. Saya sendiri selalu mengingatkan diri saya bahwa dengan keputusan saya menjalani usaha sendiri, sebisa mungkin target yang saya raih harus lebih dari apa yang sudah saya capai di tempat kerja sebelumnya. Tokh dengan bekerja sendiri (berwirausaha) saya mempunyai kendali penuh atas faktor-faktor pendukung produktifitas saya. #5. Atur Meeting di Luar Rumah Ini hal yang paling menyenangkan menurut saya. Meskipun sebagian menganggap ini sebagai kelemahan, karena kita tidak punya ruang meeting khusus. Bagi saya, dengan kantor di rumah, berarti ruang rapat saya dengan klien adalah di manapun tempat di luar rumah. Dalam perkembangannya sekarang, ruang meeting menjadi lebih flexible. Bisa di kedai kopi milik teman, restoran kegemaran klien yang akan ditemui, lobby hotel, tempat jogging, bahkan warung kopi di pinggir pantai. Buat saya, hal ini juga menjadi ajang pembuktian bagi saya bahwa nilai diri tidak dapat diukur dari tempat. Tetapi lebih kepada bagaimana kita diterima sebanyak mungkin relasi dengan rentang yang sangat bervariasi. Di era digital ini, ada juga pilihan ruang rapat di dunia maya. Sebagaimana yang sering saya lakukan dengan teman-teman saya di IDcaster, juga dengan beberapa klien dengan domisili di luar kota yang berjarak sementara meeting terkadang mendadak. Dalam kasus demikian, asal ada jaringan internet, maka SOHO (Small Office Home Office) atau tempat mana pun bisa menjadi ruang rapat bagi saya. Tentu harus juga disesuaikan tampilan dengan kebutuhan meeting yang akan dilakukan. Insya Allah, saya akan tulis catatan saya terkait meeting online ini di seri berikutnya. Semoga catatan ini bermanfaat. Salam Teleportasi Manfaat @hartantoID

Aku dan Emakku

11

lotus : pitara.com Hari ini, tepat seminggu sudah Emak (Ibu) saya berpulang. Sakit yang menahun yang justru membaik di beberapa minggu terakhir sebelum mangkatnya, menjadikan saya semakin yakin bahwa ini semua sudah pepesten dari Sang Khaliq. Kesedihan sudah merupakan sebuah keniscayaan bagi saya dan segenap keluarga. Tapi tentu kita semua harus senantiasa eling bahwa cara terbaik menyayangi beliau saat ini adalah dengan mengikhlaskannya.  Mengingat hanya kebaikannya, dan mendo’a untuk segenap kebaikannya di alam kubur sana. Bukankah kematian adalah juga nasihat? Lemper dan Perjuangan Ini adalah kisah tentang perjuangan. Yang akan saya selalu ingat, termasuk dengan cara menuliskannya di sini, dan akan saya sampaikan kepada anak-anak saya kelak. Saat itu saya masih duduk di kelas tiga sekolah dasar. Adik saya belum juga masuk sekolah, masih harus saya gendong kemana-mana. Bapak saya yang seorang kuli di pabrik gula seringkali harus dinas malam. Memastikan perjalanan sepur tebu dari lahan tanam ke pabrik dengan aman. Penghasilan yang jauh dari mapan memaksa Ibu saya harus memutar otak mencari tambahan. Setiap sore Ibu saya membuat jajan dari bahan ubi. Lemper namanya di kampung saya. Adonan ubi dibungkus daun pisang, disajikan hangat dengan parutan kelapa di atasnya. Setiap hujan datang, jajan ini jadi primadona. Mengantisipasi permintaan pasar, tak pelak saya pun dikaryakan. Daerah operasi pun dibagi. Ibu saya menjajakan lemper dari ujung timur ke area Selatan desa. Sedangkan saya berjalan kaki dari arah utara menyusur area barat kampung. Tentu dengan tetap menggendong adik saya. Kami pun kemudian bertemu di tengah. Di sebuah rumah mewah di depan musholla Darussalam. Di dalamnya ada majelis ta’lim adz-dzikra tempat saya mengaji di malam harinya.  Keluarga pemilik rumah itu biasanya membeli barang dagangan kami dalam jumlah banyak. Mungkin memang karena penghuninya adalah keluarga besar. Mungkin juga karena kasihan dengan saya yang seringnya sudah kuyup kedinginan. grittier: mind42.com Daya Juang sebagai Warisan Ibu dan Bapak saya bukan dari kalangan berada. Bahkan sampai akhir hayatnya tidak ada sebentuk harta sebagai warisan dari Ibu untuk kami yang ditinggalkan. Untuk mampu mengenyam pendidikan sampai perguruan tinggi seperti yang saya sandang saat ini pun, lebih banyak karena gratisan alias beasiswa. Selebihnya karena suntikan dana dari kerja serabutan sembari sekolah yang saya jalani semenjak SMP. Tapi bukan berarti peran Ibu hilang. Justru saya meyakini bahwa sekecil apapun kebaikan yang bisa saya capai hanya karena kebaikannya dan Bapak saya.  Daya juang, itulah yang beliau tanam dan wariskan kepada saya. Tanpa itu, saya rasa tidak akan menjadi seperti saat ini. Dari berjualan lemper itulah, daya juang saya ditempa. Bukan sekedar rupiah tambahan yang kemudian bisa kami kais. Lebih dari itu, kemandirian menjadi pondasi kokoh yang kami raih. Bi’idznillah. Bukankah setiap orang tua harus mampu mempersiapkan anaknya untuk bisa melanjutkan hidup tanpa kehadiran mereka? Semoga kemuliaan senantiasa tercurah untukmu Emakku di alam kubur sana. Allahummaghfirlaha warhamha wa’afiha wa’fu’anha.

Oleh-Oleh dari Jogja

14

Lebaran 1438 H (bertepatan 2017M) ini jadwal trip kami bergeser secara signifikan. Sedianya kami fokuskan acara di Comal – Pemalang, berganti ke Bantul – Jogja karena ada kabar duka. Kakek kami berpulang tepat di hari ke-25 Ramadhan 1438 H kemarin. Menjadikan kami berkumpul seluruhnya di Bantul sebagaimana permintaan beliau. Tapi tentu dalam suasana yang berbeda. Berlibur ke Bantul – Jogja, selalu memberi saya rasa dan nilai berbeda. Jika harus menggunakan ungkapan sederhana, maka kalimat seorang Joko Suud – pengamat budaya, adalah yang paling saya suka; Wisata lambat a la Jogja. Di sini waktu berjalan sangat lama, karenanya penuh penghayatan dan sarat makna. Pasar Angkruksari, Bantul – Jogja Pasar dan Kerinduan Akhir dari Ramadhan, dan budaya mudik di negara kita, menjadikan skala transaksi di pasar-pasar kampung mendadak ber-amoeba berkali-kali lipat. Aliran dana yang “mudik” dari kota-kota besar membanjiri pasar udik dengan daya beli yang meningkat tajam. Alhasil, pasar jadi semakin riuh. Begitupun dengan pasar tradisional terdekat dari kampung kami ini, Pasar Angkruksari Kabupaten Bantul. Belum lama pasar ini direlokasi, menjadikannya lebih rapi dan bersih dengan daya tampung parkir yang mempu menyaingi pusat perbelanjaan modern. Dalam riuh pasar ini, saya mendapati sepasang suami istri yang menjajakan urung-kupat (bungkus kupat dari daun kelapa) yang sedang asyik melayani pesanan pelanggan. Saya dan istri ikut meramaikan dagangannya. Sudah jadi tradisi kami merayakan Iedul Fitri ditemani makanan khas ini. Karena ramainya pesanan, sediaan urung-kupat yang sudah jadi milik si Bapak mulai menipis. Membangkitkan niat saya untuk menjalani lagi hobi saya selagi kecil; menganyam urung-kupat. Jadilah saya berlomba dengan si Bapak melayani pesanan pelanggan. Saya lakukan ini sukarela, bahkan dengan sukacita, karena aktifitas ini memberikan saya sedikit penawar rindu untuk segera bertemu Ayah di Comal sana. Ya, beliau yang mengajari saya di waktu kecil menganyam urung-kupat untuk kemudian menjualnya kepada para tetangga yang memesan. Membuat urung kupat di Pasar Angkruksari, Bantul Ada Kaizen di Lapangan Mojo Sholat Ied kali ini memang bukan yang pertama saya jalani di lapangan Mojo, Kretek – Bantul, Jogjakarta. Tapi sebagaimana saya sampaikan sebelumnya, selalu ada nilai yang bisa saya ambil pelajaran dari setiap kunjungan saya ke Jogja. Begitupun kali ini, isi khutbah Ied yang disampaikan dalam bahasa Jawa kromo inggil seperti biasa memberi saya ilmu baru yang sayang kalau untuk tidak saya bagikan. Minimal saya abadikan dalam catatan ini. Bahwa bulan Ramadhan adalah bulan tarbiyah (bulan pembelajaran) sudah sering kita dengar. Dan bahwa setelah Ramadhan adalah bulan seharusnya kita mengaplikasikan hasil pembelajaran sebelumnya, juga setiap tahun didengungkan. Tapi, kondisi bahwa setelah Ramadhan ibadah kita semakin menurun adalah juga hal yang sangat banyak kita jumpai. Lalu bagaimana caranya agar kita bisa meningkatkan taraf ibadah kita di bulan Syawal sebagaimana namanya (syawal = peningkatan)? Maka inilah tips Kaizen (continues improvement) dalam beribadah dari sang khatib di lapangan Mojo: Senantiasalah perbaharui niat, dan ingatlah bahwa kita bisa mati kapan saja. Inilah yang disebut manajemen kematian. Suasana selepas sholat Ied 1438H di Lapangan Mojo Kupat dan Lebaran Yang berikut ini adalah duet maut tak terpisahkan. Bagi kami, dan saya rasa juga bagi kita semua muslim di Indonesia, ketupat (orang Jawa bilang kupat) dan Iedul Fitri (lagi, orang Jawa bilang lebaran) adalah dua hal yang saling khas. Tapi apakah anda tau makna dibalik penyebutan berbeda oleh orang Jawa untuk keduanya? Kali ini saya dapat pelajaran lagi dari penceramah di acara halal-bihalal dukuh kami. Sudah tradisi tahunan juga, bahwa setiap lebaran pemuda masjid kami menjadi panitia penyelenggaraan halal-bihalal. Sebuah ajang silatil arham antar warga dukuh dan sanak-saudara yang kemungkinan baru datang dari luar kota. Kupat, menurut Kyai Sujadi – penceramah di acara tadi, adalah sebutan yang diberikan oleh para wali untuk makanan berbahan beras dan berbungkus daun kelapa yang masih muda (janur). Kupat bermakna “ngaku lepat” atau mengaku bersalah sebagai bentuk lanjutan dari rangkainan peribadatan selama bulan Ramadhan. Bagaimana caranya ngaku lepat? ya dengan menjalankan “laku papat” atau empat hal: Lebar – Luber – Lebur – Labur. Kupat ; Ngaku lepat kanti laku ingkang papat. Lebar artinya selesai dalam bahasa Jawa. Mengandung makna bahwa kita telah selesai dari agenda pembelajaran selama Ramadhan sebagai bulan pembakar, penempa keimanan kita menuju derajat taqwa. Luber artinya berlebih dalam bahasa Jawa. Mengandung makna bahwa sebagai bentuk syukur kita senantiasa harus berbagi atas nikmat berlebih yang telah kita peroleh selama ini. Bertautan dengan ini adalah agenda zakat fitrah yang menjadi amalan di penghujung Ramadhan. Lebur artinya leleh dalam bahasa Jawa. Mengandung makna terleburnya segenap dosa dan kesalahan kita melalui Ramadhan yang dalam bahasa Arab juga berarti bulan pembakar. Labur artinya mengecat dinding dengan warna putih dari kapur. Ini aktifitas yang hampir “punah” dalam menyambut Iedul Fitri di kampung-kampung belakangan ini. Mengandung makna pengaplikasian kesucian yang telah kita peroleh setelah lulus dari pembelajaran Ramadhan. Semoga oleh-oleh dari Jogja kali ini bisa saya bagikan manfaatnya. Salam Teleportasi Manfaat @hartantoID

Suluk Raden Kopi (1) : Pentingnya Rencana Bisnis

19

Mulai 1 Muharram 1438 H, yang bertepatan 1 Oktober 2016 kemarin, saya putuskan untuk menjadi full-time entrepreneur setelah sebelumnya beberapa kali mencoba menjalaninya sebagai sambilan. Salah satu unit usaha yang kemudian saya geluti adalah mengelola sebuah kedai kopi, atau lebih tepatnya coffee corner karena memang baru sebatas sebuah pojok kopi di sebuah resto. Pengalaman kedai kopi, yang kami beri nama Raden Kopi, inilah yang kemudian sedari awal ingin saya bagi melalui blog ini. Minimal, menjadi catatan pribadi saya sebagai bahan perbaikan berkelanjutan yang menjadi keharusan dalam berwirausaha. Baca juga: Hubungan Harga Baju, Harga Diri dan Harga Kopi Catatan-catatan terkait Raden Kopi ini akan saya tulis dalam beberapa sub-judul dengan judul besar Suluk Raden Kopi. Suluk Raden Kopi #1 : Pentingnya Rencana Bisnis Sebagian besar dari kita tentu seringkali mendengar istilah business plan. Tapi sebenarnya, sebelum membahas terlebih jauh, apa definisi business plan?  Rencana bisnis adalah pernyataan formal atas tujuan berdirinya sebuah bisnis, serta alasan mengapa pendirinya yakin bahwa tujuan tersebut dapat dicapai, serta strategi atau rencana-rencana apa yang akan dijalankan untuk mencapai tujuan tersebut. Rencana bisnis juga dapat mengandung informasi tentang latar belakang organisasi atau tim yang bertanggung jawab memenuhi tujuan itu. Sebagaimana kutipan uraian wikipedia di atas, sebuah rencana bisnis dapat kita kenali dengan ciri-ciri singkat sebagai berikut: Pentingnya Rencana Bisnis….  #1. Berisi Tujuan Berdirinya Bisnis (WHAT) Ini hal mendasar yang nampaknya makin kurang dibahas secara serius seiring maraknya semangat berwirausaha dan/atau mendirikan start-up.Dalam tinjauan kasus industri kafe atau tempat nongkrong, sekarang ini (setidaknya di  kota saya tinggal, Cirebon) banyak bermunculan tempat nongkrong baru yang umurnya cenderung singkat. Di lokasi yang sama saja, bisa berubah menjadi 3 tempat nongkrong yang berbeda dalam waktu kurang dari 3 tahun. Dari kacamata saya, hal penting yang menjadi penyebab silih-bergantinya tempat nongkrong sekarang ini adalah kurang kuatnya konsep yang akan diusung oleh tempat usaha itu. Apa tujuan besar dari usaha, dalam hal ini kafe, yang akan didirikan? Dalam catatan saya, banyak dari tempat nongkrong di kota saya ini, dan mungkin juga di kota anda, hanya sekedar ikut trend. Tidak memiliki tujuan besar yang sedemikian kuatnya sehingga layak diperjuangkan dengan target yang realistis dan tidak musiman. #2. Alasan Kuat akan Tercapainya Tujuan (WHY) Perbedaan seorang pemimpi dengan pemimpin adalah di huruf “n”. Ada yang mengartikan faktor “n” disini adalah “nyali” untuk mewujudkan mimpi tersebut. Nyali yang hanya bisa lahir dan bertahan karena sebuah alasan yang sangat kuat untuk bisa berdarah-darah mewujudkannya.Sebagai gambaran, kalau sebuah kafe direncanakan hanya untuk meraup rupiah melihat adanya trend (dan ini juga tidak sepenuhnya salah), maka alasan tercapainya tujuan tersebut akan sangat dangkal. Misal; karena modalnya dari pinjaman maka WHY yang muncul adalah karena kalau tidak berhasil maka akan punya outstanding hutang yang membahayakan kondisi finansial. Sekali lagi, hal ini pun tidak sepenuhnya salah. Hanya saja, kurang kuat sebagai penopang keberlangsungan usaha. #3. Strategi untuk Tercapainya Tujuan (HOW) Setelah tujuan ditetapkan, motivasi didapat, tentu hal berikutnya adalah bagaimana caranya agar tujuan itu terealisasi. Melanjutkan analogi pemimpi tadi, tentu layak untuk ditentukan langkah pertama dan selanjutnya apa yang harus dilanjutkan setelah bangun tidur dan bertekad mewujudkan mimpi itu.Banyak hal bisa dibahas dalam hal ini. Yang jelas dan pasti, dalam sebuah rencana bisnis seorang pengusaha pemula harus bisa merumuskan secara rinci strategi-strategi yang akan diterapkan dalam bisnisnya. Dalam pelaksanaannya boleh saja strategi ini bersifat dinamis, akan tetapi bukan berarti tidak merencanakan apa-apa menjadi lebih baik. Karena rencana tanpa aksi adalah mimpi, tapi aksi tanpa rencana adalah mimpi buruk. #4. Informasi Tim (WHO) Rencanakan dengan matang dan libatkan tim…  Siapa yang bertanggung jawab akan tercapainya ketiga hal tersebut diatas? Bagaimana seorang pembaca bisa diyakinkan bahwa tujuan mulia dengan motivasi kuat disertai strategi yang hebat mampu dieksekusi dengan baik? Di sinilah pentingnya kita memaparkan siapa tim kita dalam sebuah rencana bisnis. Jika Anda berencana membuat sebuah kedai kopi dengan konsep unik dan nilai tambah yang besar bagi para penikmat kopi. Maka sangat penting mencantumkan siapa barrista yang akan didapuk meracik kopi untuk para pelanggan. Penting bagi para pembaca rencana bisnis untuk memperoleh keyakinan mendasar akan tercapainya target usaha.  Yang terjadi belakangan adalah, orang beramai-ramai membuat kafe atau tempat nongkrong dengan tujuan untuk meraup potensi pasar. Alasannya pun sebagaimana sudah disampaikan, dangkal.  Berikutnya, strategi yang disusun pun cenderung sekedar untuk menciptakan keramaian. Dan, point terakhir yang sangat fatal adalah: mereka lupa bahwa ini adalah tetap saja bisnis Food & Beverage yang mengutamakan kualitas produk sajian. Tidak perduli sebagus apa tempat anda, kalau makanan dan/atau minuman anda tidak dapat menarik pelanggan, maka umur usaha kafe anda dalam hitungan singkat. Meramu Rencana Bisnis Bukanlah Proses Sekali Jadi Tulisan di atas merupakan hasil renungan atas apa yang saya lakukan dengan Raden Kopi. Boleh saja digunakan dalam menerapkan rencana bisnis Anda. Tapi, harus diingat kalau rencana bisnis itu bukanlah proses sekali jadi.  Selain itu, setiap usaha akan memiliki karakteristik berbeda yang perlu dipahami setiap orang yang ingin meramu business plan. Semoga tulisan ini bermanfaat. Bagi yang ingin berdiskusi bagaimana meramu sebuah rencana bisnis; apapun bisnis yang ingin didirikan (asal halal ya), feel free to contact me. @hartantoID

Adakah Hubungan antara Bekerja dengan Rizqi?

Sering nggak dengar ungkapan atau pernyataan seperti ini: “Kalau nggak banting tulang, terus anak istri mau makan apa?” “Yang rajin aja susah hidupnya, apalagi yang malas?” Atau seperti ini: “Yang penting berusaha, hasil kan Allah, Tuhan Yang Maha Esa, yang punya kuasa.” Yup, banyak pola pikir dan sudut pandang terkait aktivitas bekerja, berikut segala atributnya, dengan rizqi atau jaminan hidup seseorang di dunia. #1. Jaminan atas Rizqi Di beberapa kesempatan seringkali kita dapati nasihat menyejukkan ini. Bahwa di dalam hidup ini tidak perlu resah dengan rizqi yang kita butuhkan untuk hidup. Sungguh pun demikian, kenyataannya lebih banyak orang yang kemudian disibukkan dengan aktivitas yang seolah harus dilakukan untuk menggaransi berlakunya jaminan ini. Menjadi aneh memang, pada saat kemudian kita direpotkan dengan aktivitas yang tidak perlu. Lha bagaimana dianggap perlu, wong kita sibuk kalang-kabut hanya untuk melakukan sesuatu yang dijamin tidak akan meleset oleh yang memberi jaminan??? Ibarat sederhananya begini; kita beli barang, yang mana kita mendapat jaminan akan adanya penggantian spare parts selama kurun waktu tertentu. Kemudian  dalam kurun waktu tersebut terjadi kerusakan dan kita seolah lupa jaminan dimaksud, berupaya sekuat tenaga mengganti spare parts itu sendiri. Segala daya upaya kita lakukan hanya untuk membuat barang dimaksud tidak lagi original. Betapa meruginya kita. Maka dalam konteks inilah kemudian seharusnya kita sesering mungkin mengingat akan adanya klausul jaminan berikut ini; “Tidak akan diwafatkan seorang anak Adam melainkan sudah kami cukupkan rizqi Kami untuknya.” #2. Bekerja untuk Bersyukur Kalau kemudian jaminan untuk hidup ini sudah ada, lantas untuk apa kita bekerja? Bukankah tidak sedikit orang menjadikan agenda pemenuhan “kebutuhan” dimaksud sebagai motivasi dalam bekerja? Dalam hal ini, kisah seorang Nabi Daud kiranya dapat menjadi pemantik lentera pemahaman kita. Adalah Daud ‘alaihissalam, seorang raja orang Israel, yang sudah tentu kaya. Akan tetapi tetap menekuni usahanya untuk membuat baju zirah dan mendapatkan keuntungan daripadanya, kemudian beliau gunakan untuk menghidupi keluarganya. Sebenarnya, apa perintah Allah, Tuhan Yang Maha Esa, dalam hal ini kepada beliau? Tertera jelas dalam al-Qur’an bahwasannya Allah memerintahkan Sang Nabi untuk bekerja sebagai bentuk rasa syukur. Menarik bukan? Inilah kisah nyata yang patut menjadi panutan. Rasa syukur adalah bentuk terima kasih seorang hamba kepada Sang Pencipta atas setiap kemurahan-NYA. Dalam hal ini, kiranya tidak terlalu mengada-ada pada saat kita mengaitkan rasa syukur ini dengan jaminan rizqi di atas. Disebabkan karena jaminan Allah atas rizqi di dalam hidup kita, lantas kita bersyukur dalam bentuk bekerja. Dan, insya Allah, dikarenakan wujud syukur kita itu maka kemudian Allah menambahkan nikmat-NYA. “Barangsiapa bersyukur akan Aku tambahkan nikmat dari-Ku. Tapi barang siapa mengingkarinya, sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih.” Kesimpulan Kita tentu tidak ingin masuk ke dalam golongan yang mengingkari nikmat-nikmat Allah bukan? Termasuk di dalamnya nikmat berupa jaminan atas rizqi dimaksud. Sungguh, cerita berikut mungkin mampu menggugah hati kita tentang bagaimana merumuskan bentuk kepasrahan atas pastinya janji Allah, dengan usaha yang kita lakukan sebagai bentuk rasa syukur. Alkisah, seekor bayi anak gagak dilahirkan dengan kondisi badan yang putih, tidak serupa dengan ayah ibunya yang hitam. Karena hal perbedaan ini kemudian, sang induk meninggalkan anaknya karena kurang yakin. Namun mereka tidak meninggalkannya sepenuhnya, hanya mengamati dari jarak yang aman. Allah memberikan rahmat-Nya bahkan untuk seekor bayi gagak. Dia berikan aroma wangi saat sang anak gagak kelaparan dan membuka mulutnya. Wangi itu kemudian memancing serangga datang sehingga mudah untuk dimangsa menjadi makanan bagi sang bayi. Setelah kenyang, wangi itu pun Dia cabut sehingga tak ada lagi serangga yang datang mengganggu. Begitu seterusnya hingga tubuh bayi gagak menghitam, dan orang tuanya kembali kepada keyakinannya akan anaknya dan kemudian merawatnya. Mari Teleportasikan Manfaatnya. @hartantoID

Harga Baju, Harga Diri, dan Harga Kopi

Salah satu dari sedikit baju yang saya punya adalah hoodie sporty dengan logo menyerupai ✔. Beberapa waktu yang lalu, hoodie tersebut sering saya kenakan pada saat acara jamuan makan malam dengan kolega kerja. Yang menarik adalah, karena jamuan makan biasanya di resto atau lounge dengan harga secangkir kopi puluhan ribu, maka hoodie tersebut dianggap barang mahal. Awalnya saya tidak terlalu memperhatikan hal itu. Terlebih, karena memang pakaian tersebut saya beli murah, tidak semahal perkiraan teman-teman. Sampai pada siang tadi saya alami kejadian ini. Dari Sebuah Hoodie Pagi ini, karena di Kota Wali yang biasanya panas ini terasa mendung, saya putuskan pakai hoodie. Aktifitas yang sekarang ini mulai membiasa, antar-jemput anak sekolah saya lakoni sendiri karena istri sedang cuti setelah melahirkan sebulan yang lalu. Tiba di sekolah si bungsu, masih sekitar 30 menit lagi sebelum bel pulang. Saya putuskan untuk ngopi di warung seberang jalan. Di warung itu rupanya ada beberapa orang sedang ngopi juga menjadi teman ngobrol saya. Obrolan berkisar di seputaran event “maulidan” yang memang lagi happening di kota ini. Beberapa diantara mereka membahas agenda kapan baiknya mengajak anak-anak ke sana. Sampailah kemudian kepada sub-bahasan tentang apa yang mau dibeli di pasar malam maulidan itu. Saya masih setia menjadi pendengar saja. Sebagai perantau di kota ini sejak 2008, memang saya baru ke acara tahunan itu sekali. Seorang anak muda kemudian membuyarkan lamunan saya dengan sebuah pertanyaan; “itu kaos yang Bapak pakai beli di muludan juga kan?” Sontak saya kaget dan hanya bisa tersenyum sembari kembali menikmati kopi di cangkir saya. Rupanya, diam dan senyum saya langsung diartikan secara template sebagai “iya” oleh si penanya tadi. Jadilah hoodie saya dilabeli barang pasar malam dengan harga obral, hehehe. Tak mengapa buat saya, bahkan menyenangkan karena bisa lebih blended ngopi di warung ini. Namun tak lupa saya mengambil pelajaran dari hal tersebut. Busanamu Bukan Harga Dirimu Dulu, semasa SMP saya pernah mendapat sebuah ujaran dari guru PKK saya;  Ajining rogo ono ing busono Ajining diri ono ing kedhaling lathi Agomo agemaning diri  Saya, dan mungkin beberapa teman lainnya, memahami ini secara harfiah. Bahwa dengan baju yang bagus maka diri semakin diajeni (baca: dihargai). Memang tidak juga sepenuhnya keliru, namun rasanya menjadi kurang tepat manakala disandingkan dengan dua pitutur berikutnya. Bahwa lisan, dan agama menjadi ukuran dan pegangan yang sesungguhnya. Dalam kasus tadi, saya mengambil pelajaran betapa hoodie yang saya pakai pun menjadikan saya lebih berharga diri dalam pergaulan. Tentu, dengan nilai yang lebih lentur. Di saat saya berjumpa dengan kolega saya dengan kopi secangkir Rp 25.000,-, maupun di warung dengan bapak-bapak tadi dan kopi secangkir Rp 2.500,-. Buat saya, harga diri adalah ketika kita diterima diantara manusia lain dengan baik. Kegembiraan bagi saya adalah saat bisa ngobrol dan bertukar pikiran dengan kolega kerja saya. Kegembiraan pula bagi saya ketika bisa diterima di obrolan warung kopi tadi. Akhirnya, saya akhiri sruputan terakhir dari kopi yang saya pesan dan kemudian saya bayar sepersepuluh lebih murah dari kopi di lounge itu. Agak tergesa saya langkahkan kaki untuk menyeberang dan menjemput Kayna, putri pertama saya. Namun kembali saya harus tersentak saat si abang yang tadi bertanya; “jadi bisa ke muludan bareng nggak mas? tolong kasih lihat penjual kaosnya ya.” Dan, saya pun takut untuk tersenyum lagi kali ini. Salam Teleportasi Manfaat. @hartantoID

Dari Dapur untuk Beddo

Seorang teman designer interior pernah mengatakan, bahwa jantung kebutuhan renovasi sekarang ini ada di dapur. Ya, ruang dapur secara harfiah. Menurutnya, saat ini bahkan untuk hunian kecil melahirkan permintaan khusus untuk interior design and build service-nya. Apa Itu Interior Design and Build? Untuk teman saya ini dan beberapa koleganya, tentu sudah tidak asing lagi dengan istilah interior design and build. Tapi bagi saya dan beberapa rekan yang orang awam, mungkin tidak ada salahnya kita mengenal terlebih dahulu apa itu interior design and build? Interior design itu sendiri bermakna a planned choice of style, colour, furniture, etc. for the inside of a house (OXFORD : Advanced Learner’s Dictionary, 1995). Jadi, secara sederhana dapat diartikan bahwa interior design adalah pilihan yang direncanakan untuk sisi dalam sebuah rumah, meliputi gaya, warna, perabot, dan lain sebagainya. Interior design and build itu sendiri, adalah istilah dalam dunia interior yang menerangkan sebuah jasa yang ditawarkan oleh perusahaan konsultan interior. Lingkup pekerjaan dari interior design and build itu sendiri meliputi jasa konsultasi interior, jasa design interior, hingga akhirnya design itu sendiri dieksekusi proses produksi untuk kemudian diinstal di rumah klien. Kenapa dari dapur? Kembali kepada statemen di atas, kenapa permintaan interior design and build lahir dari dapur? Menurut teman saya ini, kebutuhan interior di dapur yang identik dengan nama kitchen set, adalah sebuah kebutuhan unik. Kitchen set memberi pilihan customized mengikuti kebutuhan setiap rumah. Dan, kitchen set juga mempunyai karakteristik yang relatif modular. Sehingga dari kedua keunikannya ini, kitchen set akan menjadi pintu masuk paling ideal baik dari sisi demand maupun supply. Apabila dapur sudah tertata, biasanya akan memberi motivasi lebih bagi pemilik rumah untuk kemudian mempercantik huniannya dengan pilihan yang terencana, sebagaimana deskripsi interior design diatas. Nah, bagi anda yang membutuhkan jasa interior design and build di Cirebon dan sekitarnya, hubungi segera 0811-243-9191. email : beddo@grageindonesia.com IG : @beddo_id website : www.beddo.grageindonesia.com Mari berbenah dari dapur. Mari Teleportasikan Manfaatnya. @hartantoID

5 Tips Resign Untuk Dicermati

Tahun 2002 silam, saya merasakan pedihnya PHK pertama yang harus dihadapi. Saat itu tim kuli bangunan yang saya ikuti harus mengurangi personel karena proyek sudah mendekati proses akhir. Saat itu posisi saya masih sama dengan posisi waktu masuk, pastinya karena baru 3 minggu, yaitu seorang “laden” atau helper. Tugas saya sederhana, membawa mortar dan bahan bangunan lainnya dari tempat adukannya untuk digunakan sang tukang. Sebuah posisi sederhana untuk saya yang saat itu lulusan sekolah kejuruan spesialisasi kimia tekstil dengan nilai yang tidak jelek-jelek amat. Di akhir September kemarin, saya justru mengakhiri karir saya di sebuah group usaha yang cukup besar dengan posisi yang jauh lebih baik. Yah, saya resign – alias mengundurkan diri, bukan karena tidak kompeten ya. Setidaknya, nama saya tercantum sebagai Assistant Director. Perbedaan capaiannya tentu sudah sangat jauh. Tapi justru karena itu menimbulkan sebuah pertanyaan bahkan bagi diri saya sendiri. Ada hikmah apa yang bisa dipetik dari resign ini? Ada 5 point yang saya bisa catat dari resign ini, setidaknya bisa jadi bahan saya pribadi untuk instrospeksi. #1 Jangan Pernah Rencanakan Resign Dari karier saya pertama sebagai kuli bangunan hingga terakhir asisten pemilik group usaha, saya tidak pernah (berhasil) merencanakan untuk resign. Kalau untuk kasus pertama, saat jadi kuli bangunan, jelas lah ya saya nggak bakal berani merencanakan resign. Itu murni PHK karena pengurangan karyawan, eh kuli, clear. Beranjak pada kasus terakhir, saya pun tidak resign dengan rencana. Setidaknya, beberapa kali saya merencanakan resign dan selalu gagal dengan segudang pertimbangan pribadi dan/atau keluarga. Sahabat dan senior saya Febriyan Lukito adalah orang yang paling sering bilang; yakin lo? Dan, akhirnya beberapa kali terbukti keraguannya berbuah batalnya saya resign. Dari beberapa kejadian itu saya berkesimpulan, resign bukanlah sesuatu yang bisa direncanakan. Setidaknya dalam kasus saya. Hal ini mungkin karena setiap kali memulai dan/atau menerima sebuah pekerjaan saya selalu menjalaninya sepenuh hati. Satu kalimat yang selalu saya ingat adalah;  “Jika kita mulai kehilangan semangat dalam menjalani sebuah pekerjaan maka ingatlah di luar sana banyak orang yang memimpikan bisa menjalani pekerjaan kita” #2 Materi bukan Alasan Pindah atau Resign yang Tepat Meski bukan berasal dari keluarga yang berkecukupan, bahkan cenderung kekurangan, saya tidak pernah punya niatan menumpuk materi. Bahkan pada saat saya menjadi kuli bangunan yang naksir calon dokter gigi pun, saya bukan pemimpi yang baik soal materi. Mungkin latar belakang didikan keluarga membentuk saya sedemikian rupa. Dalam dunia kerja pun, jika materi yang dikejar maka akan sangat berdampak buruk bagi perjalanan karier kita pribadi. Bagaimana tidak, karena sebesar apapun materi yang dikejar akan selalu ada pembanding yang membuat seseorang mencari pekerjaan dengan kompensasi materi yang lebih dan lebih lagi. Dalam kasus saya, beberapa kali merencanakan resign untuk sebuah posisi di perusahaan lain dengan renumerasi lebih banyak, saya selalu gagal. Berbagai macam hal menjadi penyebabnya. Tapi yang paling menjadi catatan bagi saya adalah, beberapa kali saya justru menolak posisi yang ditawarkan dengan take home pay tinggi. Hal ini dikarenakan pertimbangan keluarga yang menjadi jauh lebih berharga jika harus dibandingkan dengan tingginya materi yang ditawarkan. Untuk point yang satu ini saya selalu ingat wejangan dari teman saya : “Lakukan apa yang membuat kamu dan keluargamu bahagia, jangan ukur kebahagiaanmu dengan standar temanmu dan keluarganya.” Baca juga: Tips untuk Para Orang Tua untuk Punya Anak Sholeh #3 Kantor adalah Kampus, Selalu ada Waktu Kelulusan Kalau materi kemudian sudah bukan menjadi alasan, maka biasanya ilmu dan pengetahuan yang bisa diperoleh di sebuah perusahaan menjadi poin lebih penting untuk dipertimbangkan. Dari sudut pandang inilah kemudian, salah seorang teman saya menyebut kantornya sebagai kampus, tempat menimba ilmu Saya yakin, banyak dari kita yang berada pada posisi “ngampus” di kantor. Kalau sudah demikian, saya yakin anda semua sadar bahwa akan tiba masanya kelulusan. Semoga kelulusan dimaksud adalah waktu untuk menerapkan ilmu yang sudah dipelajari. Atau minimal lulus untuk menimba ilmu lebih banyak lagi di tempat lain. Dalam analogi “ngampus”, ada yang bisa selesai dengan durasi normal; ada yang bisa ikut program percepatan; ada juga yang butuh mengulang beberapa mata kuliah sehingga waktu yang dibutuhkan lebih panjang. Masuk golongan manapun, yang penting kita tetap fokus pada tujuan awal untuk belajar. Asal jangan sampai kita terlalu menikmati menjadi mahasiswa abadi. #4 Momen vs Masalah Inilah yang seringkali terjadi, kerancuan mengenai pemicu kenapa seseorang kemudian memutuskan resign. Hal ini tentu tidak lepas dari pertanyaan setiap orang ketika kemudian kita memberitahukan bahwa kita akan resign; “emang ada masalah apa?” Loh, emangnya harus ada masalah untuk resign?Bagi saya, penting untuk selalu menanamkan pada diri pribadi dan teman-teman semua yang kemudian saya tinggalkan; bahwa saya tidak resign karena ada masalah. Kalaupun ada masalah, katakanlah perbedaan pendapat, itu tentu bisa saja terjadi kapan pun. Maka selalu saya katakan bahwa itu hanyalah momen yang diberikan oleh Sang Pemilik skenario hidup anda sebagai penentu kapan anda harus melakukan sesuatu.Masalah, kalau tidak untuk disebut sebagai dinamika, akan selalu ada dalam hubungan kerja. Baik kepada atasan, rekan kerja, maupun bawahan, akan selalu ada pola komunikasi yang dinamis. Maka jika kemudian anda memutuskan resign karena ada “masalah” dan pindah ke tempat kerja lain, maka anda harus bersiap untuk selalu resign. #5 Apa Itu Step-Up? Setelah perihal momen, berikutnya adalah tujuan. Sedikit kembali ke point ke #3 maka kita harus menetapkan target perbaikan sebagai penanda waktunya kelulusan (baca: resign). Maka seharusnya kita menetapkan secara definitif apa itu lompatan atau step-up?Dalam kasus saya, yang kemudian berhasil mengalahkan segala rencana resign sebelumnya adalah kemantapan untuk berwirausaha. Dan, benar saja, hal ini yang kemudian membuat pembicaraan “pamit” yang saya sampaikan dengan Si Boss menjadi mulus. Bahkan, berikutnya beliau menyampaikan rasa bangganya bahwa ada anak buahnya yang kemudian step-up.Baca juga: Nilai seorang manusia Kesimpulan Bagi saya, kesuksesan adalah sebuah proses. Sedangkan pencapaian baik dalam hal materi dan/atau lainnya hanyalah sebuah parameter ikutan. Dalam hal parameter ini, tujuan seseorang dengan orang lainnya bisa saja serupa atau bahkan sama. Tapi pilihan jalan menuju kepada tujuan itu boleh saja berbeda.Karena kemerdekaan sejatinya adalah kebebasan untuk bisa saja salah, tapi bukan kebebasan untuk menjadi salah. Hidup terlalu singkat untuk dijalani sebagai orang lain, maka tentukanlah jalan hidupmu !!! @hartantoID

pustaka naik kelas daftar rekomendasi buku hartanto

Pustaka Naik Kelas

Ada fase dalam perjalanan bekerja dan berusaha ketika pertanyaan tidak...

hartanto

Copyright @Hartanto.id 2026