Desember dan Kehebohannya

strategi jelang akhir tahun yang menakutkan

“Sudah Desember (akhir tahun) saja nih Mas, nggak kerasa setahun 2023 hampir berakhir. Banyak target rasanya belum tercapai atau terlaksana secara maksimal. Wajar nggak sih Mas? Perasaan begini terus tiap tahun?!” Seorang teman kemudian melanjutkan ceritanya perihal betapa menumpuknya pekerjaan di akhir tahun; penyesuaian anggaran, laporan biaya, laporan performa, gaji dan bonus, siklus penjualan, retensi pelangga, persediaan dan rantai pasokan, serta segala keruwetan lainnya yang dilengkapi dengan kesulitan dalam mempertahankan fokus. Menjelang akhir tahun memang bisa menjadi waktu yang menegangkan, terutama ketika harus menghadapi permintaan mendadak menjelang Tahun Baru. Agar Anda tidak terjebak dalam situasi yang menuntut, berikut adalah lima strategi yang dapat membantu mengatasi situasi darurat tersebut dengan lebih terorganisir: 5 Strategi Akhir Tahun agar Lebih Terorganisir 1. Antisipasi dan Konfirmasi Jika Anda memiliki firasat bahwa permintaan mendadak dapat datang, bijaklah untuk mengajukan pertanyaan lebih awal. Antisipasi dapat memberikan gambaran lebih baik dan mempersiapkan diri untuk tanggapan yang lebih efektif. 2. Manfaatkan Cuti Dengan Bijak Hak cuti adalah hak Anda. Jangan ragu untuk memanfaatkannya dengan bijak, terutama ketika ada kebutuhan mendadak. Jangan ragu untuk berkomitmen sepenuhnya pada waktu istirahat Anda. Pikirkan juga agar Anda dapat menghadapi permintaan mendadak yang mendobrak area cuti anda, seperti permintaan rapat mendadak di sela cuti? Kunci dari menghadapi hal ini adalah seni untuk mengatakan tidak secara tepat. 3. Klarifikasi Tugas dengan Jelas Sebelum mengambil langkah-langkah konkret, pastikan Anda memahami dengan jelas apa yang diminta dari Anda. Klarifikasi yang baik dapat mencegah kesalahpahaman yang tidak diinginkan. Hal ini untuk menghindari adanya permintaan lebih lanjut yang sebetulnya tidak perlu karena ketidakjelasan atas permintaan sebelumnya. Kondisi ini setidaknya menuntut dua keahlian. Pertama, adalah seni dalam membuat permintaan. Kedua, kejelasan dalam membuat perintah. Apalagi jika itu adalah sebuah permintaan mendadak di waktu yang mendesak, maka kejelasan (clarity) adalah kunci. 4. Prioritaskan Kewajiban Dalam situasi genting, bijaklah dalam menetapkan prioritas. Pilih kewajiban yang paling krusial dan perlakukan dengan urgensi. Fokus pada hal-hal yang paling esensial. Sebagai sebuah tips, anda bisa membuat list pertanyaan yang mungkin bisa ditanyakan kepada diri sendiri; Di sepanjang Desember yang padat jadwal ini, jika ada waktu yang sedikit longgar, apa yang akan dilakukan? Apakah ada rapat atau rencana pertemuan yang bisa dijadwalkan ulang ke Januari tahun depan?Adakah pekerjaan dalam list Desember kita yang memiliki dampak yang kurang signifikan? Pencegahan untuk Tahun Berikutnya Sambil mengatasi situasi saat ini, berpikirlah tentang langkah-langkah pencegahan agar tidak mengalami kesulitan yang serupa di tahun mendatang. Upaya pencegahan selalu lebih baik daripada pemulihan. Ada Tips Menghadapi Akhir Tahun Lain? Dengan menerapkan strategi-strategi ini, diharapkan akhir tahun Anda menjadi lebih terkelola dan tidak membebani. Apakah ada tips lain yang biasa Anda lakukan jelang akhir tahun seperti ini? Ataukah hanya jalani apa adanya seperti biasa saja?

Bergerak – Bertahan – Berkembang

tentang bergerak bertahan dan berkembang dalam hidup

“Gimana sih cara lo bertahan Bro?” Sebuah pertanyaan mengawali perbincangan sore itu. Dengan seorang teman lama, sahabat, dan bahkan sudah saya anggap sebagai kakak karena perannya. Kami pernah belajar di tempat yang sama, bekerja di kota yang sama. Dalam sebuah periode pernah saya panggil dia Boss, dan di periode berikutnya dia panggil saya Boss. Memulai: Sebuah Tiket Satu Arah “Lo resign gw tau kayak apa beratnya, dan sepengetahuan gw jadinya nggak punya gajian lagi. Bulanan pasti berat, banyak cicilan, tapi Lo bertahan. Bahkan tidak hanya bertahan, gw lihat Lo berkembang. Apa sih rahasianya?” Kembali pertanyaannya terelaborasi dengan jelas. Dan, saya butuh waktu lama untuk mencoba menjawab secara gamblang. Sebab dalam pandangan saya, tidak bisa dipungkiri bahwa lebih banyak keberuntungan dibandingkan keberhasilan dalam kisah kewirausahaan saya. “Gini loh Bro, kita sama-sama banker sebelumnya. Dan sekarang, kita sama-sama tau; gw udah jauh dari kapasitas itu. Bahkan tepat saat ini kondisi gw boleh dibilang menggelikan untuk dikaitkan dengan background sebagai banker…” Dia melanjutkan ceritanya, kondisinya, keluhannya. Dan, saya mencoba menjadi pendengar yang baik. Tapi rupanya bukan itu yang ingin dia dapati. Dia butuh ngobrol, butuh jawaban. Maka jawaban saya; “Mungkin karena gw udah kepepet, jadinya sebisa mungkin bergerak maju. Karena resign yang Lo inget waktu itu gw ambil adalah tiket satu arah. Tidak ada jalan kembali selain berubah dari pria berpenghasilan tetap menjadi pria yang tetap berpenghasilan.” Susu Habis – Sebuah Penanda Maka kemudian mengalirlah cerita kami berdua sembari mencari irisan tiap peristiwanya. Tak lupa kami mencatat setiap kegagalan sebagai bentuk pembelajaran, dan keberhasilan sebagai wujud kesyukuran. “Terus di momen apa Lo merasa ini jalan yang tepat?” Waduh, sejujurnya pertanyaan ini juga selalu terngiang di kepala saya. Karena bagi saya, keputusan untuk memulai dengan tiket satu arah tadi sudah bulat. Tapi permasalahannya adalah saya memulai Ketika sudah memiliki istri dan 3 orang anak, bahkan anak ketiga kami lahir berselang bulan setelah saya resign. Saya masih sangat ingat komentar seorang teman kala itu; “kalo Boss tau Lo bakalan punya anak bayi lagi gw yakin nggak akan diijinin tuh Lo resign” Maka kemudian saya coba uraikan bahwa perasaan mantap bahwa ini jalur yang tepat adalah saat istri tidak lagi uring-uringan saat susu sang bayi hampir habis. Dia tidak lagi diam seribu bahasa dengan muka masam. Atau yang lebih perih apabila dia kemudian meminta ijin untuk mengganti merk susu yang mahal itu dengan yang lebih sesuai dengan saldo rekening. Hingga di sebuah sore, susu anak ketiga kami habis. Tapi istri saya tersenyum dan bilang; “Bapak insya Allah mau dapat rejeki lagi deh, soalnya susu si kecil sudah hampir habis.” Dengan senyum termanis yang selalu menjadi modal terbesar saya. Saat itulah saya merasa; inilah jalan yang tepat, inilah hal yang layak untuk diperjuangkan. “Sebentar, ini soal apa sih? Koq jadinya gw yang diwawancara?” Momentum dan Angka 40 “Gini…. Akhirnya mengalir lah cerita dari sahabat, saudara, dan kakak kelas saya ini. Bagaimana kondisinya, yang menurut dia berada di titik yang paling menyedihkan sepanjang perjalanannya hingga saat ini. Dari sisi keuangan, perjalanan karir, hubungan keluarga, hingga kandasnya impian untuk bisa menjalin hubungan ke jenjang yang lebih serius. Hingga akhirnya meluncur lah kalimat tanya di awal tadi; gimana caranya bertahan hidup? Tapi kali ini ditambah dengan harapan darinya, bahwa barangkali ini turning point dia setelah menapaki usia 40. Dan seperti biasa, diskusi kami selalu bisa lintas sudut pandang. Karena meski berbeda keyakinan beragama, tapi sahabat saya ini satu dari beberapa teman berbeda keyakinan yang bisa sangat terbuka untuk diskusi perihal sensitive sekalipun tentang perihal agama. Pertama, kelilingi diri dengan networking yang mendukung untuk bertumbuh. Saya merasa sangat beruntung bahwa bahkan di tempat kerja terakhir mendapatkan akses untuk networking tersebut dan juga kesempatan belajar. Demikian juga setelah resign, saya bersyukur bisa berkenalan dan dikelilingi orang-orang yang memberikan banyak sekali kesempatan dan pembelajaran. Baik yang lebih senior maupun yang relative lebih muda dari saya, semuanya memberikan hikmah pembelajaran. Saya sering bilang kepada beberapa teman; dari yang muda saya belajar untuk tetap menjaga semangat dan kemauan belajar, dan dari yang muda saya belajar tentang kewaspadaan dan kebijaksanaan. Kedua, mulai saja dari apa yang sengaja atau tidak sengaja kita berada di ranah itu sekarang. Kami sama-sama orang keuangan secara background pendidikan, kemudian sahabat saya ini mendapat kesempatan untuk mendalami audit di bidang IT. Jadilah itu bridging untuk membuat dia seperti sekarang ini; digital enthusiast. Maka saya minta yang bersangkutan untuk menyusun semacam portfolio yang bisa ditawarkan secara massif terkait digital agency dan layanan turunannya. Ketiga, syukuri momentum untuk menjadi amunisi agar senantiasa bergerak dan berkembang. Banyak sudah cerita seseorang memulai usaha seolah karena keterpaksaan. Bagi saya itu hanya momentum, yang harus dijaga dan disyukuri.  Karena terkadang seseorang harus berada di tempat yang tidak dikehendaki, untuk dapat membangun kekuatan yang bahkan tidak dia bayangkan untuk dimiliki. 40 dan 3 Arah Jadi, kembali kepada perihal angka 40 tahun. Sedari diucapkan oleh sahabat saya ini cukup mengundang ketertarikan saya untuk berbincang perihal keistimewaannya. Dikabarkan bahwa angka 40 memang sebuah titik penentu. Jika baik dia di saat berumur 40, maka akan seterusnya baik. Sebaliknya jika saat berumur 40 masih suka akan keburukan, maka hal itu akan menjadi candu yang sulit dihilangkan. Boleh dibilang, umur 40 adalah waktunya manusia kembali kepada fitrahnya. Sebagaimana ditegaskan Khairil Anwar; “Sekali berarti, sudah itu mati”. Barangkali itulah alasan kenapa usia 40 juga dianggap sebagai usia kematangan, kedewasaan, kemampuan untuk memimpin. Konon, ketika Imam Syafi’i berumur 40 tahun, ia berjalan memakai tongkat. Ketika ditanya hal itu ia berkata, “Supaya saya selalu ingat bahwa saya adalah seorang musafir.” Setidaknya ada tiga tanggung jawab yang diemban oleh mereka yang berumur 40+.  Pertama, tanggung jawab ke atas yaitu taat kepada Allah dan Rasulullah, menghormati kedua orang tua dengan ketaatan, kesabaran, finansial dan perhatian. Kedua, tanggung jawab ke bawah yakni menyayangi dan menguatkan anak-anaknya dengan ilmu, pengarahan, kasih sayang, finansial dan teladan.  Ketiga, tanggung jawab ke samping, yaitu bersinergi dengan mitra hidup, istri/suami, saudara/i, dan tetangga dalam rangka membangun rumah tangga dan kehidupan sosial masyarakat yang rukun, aman dan damai. Bertahan Lalu Berkembang Bagi saya, sudah sejak lama saya mengangankan; mau dikenal sebagai apa nanti saya setelah

Pengembangan Bisnis (Business Development)

apa itu pakar pengembangan bisnis

“Mendorong Pertumbuhan: Peran Pakar Pengembangan Bisnis bagi UKM” Dalam lanskap bisnis yang cepat dan kompetitif saat ini, Usaha Kecil dan Menengah (UKM) memainkan peran penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan inovasi. Namun, UKM menghadapi tantangan unik, dan untuk menghadapi medan yang kompleks ini, peran Pakar Pengembangan Bisnis menjadi sangat penting. Artikel ini akan membahas pentingnya Pengembangan Bisnis bagi UKM dan mengapa keahlian sosok satu ini menjadi sangat berharga. Menggali Potensi: Signifikansi UKM UKM adalah tulang punggung banyak ekonomi, berkontribusi secara signifikan terhadap lapangan kerja, PDB, dan inovasi. Mereka sering memiliki kegesitan dan kreativitas yang mungkin kurang dimiliki oleh perusahaan besar. Namun, UKM sering menghadapi keterbatasan dalam hal sumber daya, akses pasar, dan arah strategis. Peran Penting Pengembangan Bisnis bagi UKM Pengembangan Bisnis bagi UKM bukan hanya tentang pertumbuhan; ini tentang pertumbuhan yang berkelanjutan dan strategis. Berikut adalah mengapa ini sangat penting: Perluasan Pasar Pakar Pengembangan Bisnis membantu UKM mengidentifikasi pasar baru dan peluang perluasan. Mereka memberikan wawasan tentang tren pasar, analisis pesaing, dan identifikasi audiens target. Perencanaan Strategis Mengembangkan strategi pertumbuhan yang komprehensif sangat penting bagi UKM. Business Development Specialist akan bekerja erat dengan UKM untuk menciptakan rencana yang disesuaikan dengan tujuan jangka panjang mereka. Membangun Hubungan Membangun dan merawat hubungan dengan klien potensial, mitra, dan investor penting bagi UKM. Pakar ini biasanya unggul dalam jaringan dan membangun koneksi ini. Pembiayaan dan Akuisisi Modal Akses modal bisa menjadi tantangan besar bagi UKM. Dalam hal inilah, dibutuhkan seorang Business Developmet Specialist yang akan membantu UKM mempersiapkan presentasi investor dan mengatasi kompleksitas dalam mendapatkan dana. Pengembangan Produk dan Layanan Beradaptasi dan berinovasi dalam produk dan layanan sangat penting untuk tetap kompetitif. Pakar Pengembangan Bisnis memberikan panduan tentang pengembangan produk, layanan dan posisi UKM di pasar saat ini dibandingkan para pesaingnya. Efisiensi Biaya dan Optimisasi Sumber Daya UKM sering beroperasi dengan sumber daya terbatas. Pakar Pengembangan Bisnis membantu mengidentifikasi peluang penghematan biaya, menyempurnakan proses, dan mengoptimalkan alokasi sumber daya. Mitigasi Risiko Setiap bisnis memiliki risiko. Pakar Pengembangan Bisnis membantu UKM mengidentifikasi risiko potensial dan mengembangkan strategi untuk menguranginya. Perluasan Skala Seiring dengan pertumbuhan, UKM menghadapi tantangan unik. Pakar Pengembangan Bisnis memberikan panduan dan keahlian yang diperlukan untuk mengembangkan operasi dengan efisien. Mengapa Pakar Pengembangan Bisnis Penting: Para pakar ini membawa keterampilan khusus yang mungkin tidak dimiliki UKM secara internal. Mereka menawarkan perspektif segar dan membawa pengetahuan, kontak industri, dan pengalaman yang berlimpah. Keahlian mereka dapat membuat perbedaan besar dalam kesuksesan dan pertumbuhan UKM. Itulah Peran Pakar Pengembangan Bisnis untuk UKM! Dalam lanskap bisnis yang terus berubah, UKM harus tetap kompetitif dan tangkas. Pakar Pengembangan Bisnis memainkan peran kunci dalam merancang jalur untuk mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan dan sukses bagi UKM. Keahlian mereka dalam ekspansi pasar, perencanaan strategis, membangun hubungan, dan lainnya adalah instrumen penting dalam membantu UKM mengatasi tantangan dan memanfaatkan peluang. Saat UKM terus berkembang, peran Pakar Pengembangan Bisnis semakin penting, memberikan keahlian dan panduan yang diperlukan untuk membuka potensi penuh dari kontributor penting ini terhadap perekonomian global.

MAKAYA, Mesin Uang dan Mantra Kaya

makaya mesin uang dan mantra kaya

Mesin Uang? “Tenang, nanti kita punya mesin uang”. Itulah kalimat pembuka dari sang Ibu saat Mas Doni, tamu bicaRABUsiness saya kali ini mengawali kisah masa kecilnya tentang wirausaha. Dan, rupanya yang dimaksud oleh ibunya sebagai mesin uang adalah sebuah kulkas. Dari situ Mas Doni diajari oleh Ibunda untuk produksi dan jual sendiri berbagai macam es. Dia jajakan ke kantin sekolah dengan sistem konsinyasi. Joint partner dengan Ibu Kantin. Inilah pelajaran pertama tentang bisnis yang diterima dari seorang Ibunda yang kesehariannya memang sebagai pedagang meskipun bersuamikan seorang tentara. Mas Doni kecil kemudian tumbuh dengan mindset wirausaha yang terasah. Hingga saat Sang Bunda memberikan kesempatan pada anak-anaknya memilih mainan untuk dibelikan di pasar, dia memilih membeli balon tiup untuk dijajakan kembali kepada teman-teman sepermainannya. Hingga saat remaja, saat dunia otomotif mulai menjadi kesehariannya, mindset wirausaha masih melekat. Sehingga hobi teman-temannya para pemilik mobil pun menjadi peluang bisnis modifikasi dengan bengkel dekat rumah sebagai rekanan. Desain, Sales, dan Bisnis Menginjak masa kuliah, justru aktivitas berdagang dan/atau usaha ditinggalkan sementara. Fokus belajar Manajemen Informatika dan kemudian mengantarkan Mas Doni menjadi desainer di sebuah perusahaan rotan. Di fase ini beliau banyak belajar tentang entitas usaha secara keseluruhan. Tentang eksport, desain, dan industri secara umum. Beranjak ke fase berikutnya, Mas Doni menjalani profesi sales di dunia otomotif. Kali ini banyak pelajaran tentang perencanaan usaha, khususnya penjualan dengan penuh strategi. Makaya, Sebuah Mantra Sejarahnya, Mas Doni dan kakak serta adik juga sepupunya dikumpulkan oleh Sang Kakek. Semua ditawari untuk menyampaikan permintaan; pengen belajar ajian apa? Sebagaimana remaja pada masa itu, rata-rata menjawab; pengen bisa beladiri, kebal, dan lain sebagainya. Tapi tidak untuk Mas Doni kecil. Setengah berbisik dia minta ke kakeknya; pengen kaya raya. Sang kakek pun menjawab setengah membelalak; Makaya (baca; kerja). Dari situlah nama Makaya menjadi sebuah nama yang dipilih untuk usahanya. Es Krim, Affogato, dan de Javu Mesin Uang Fase terakhir dari bekerja dengan orang adalah di bidang es krim. Dan, tanpa disadari Mas Doni mengulang perjalanan masa kecil dengan mesin uangnya. Menjajakan es krim dari kantin sekolah yang satu ke kantin sekolah lainnya. Hanya saja, dengan berbagai pelajaran sebelumnya. Aktivitas es krim ini membawa kecintaannya pada bisnis kopi. Loh? Koq bisa? Iya, affogato lah pintu masuknya. Sebuah menu kopi yang dipadukan dengan es krim. Dari situ kemudian Mas Doni menjadi BigDon dengan brand Makaya : coffee, snack, ice cream. Berawal dari tiga orang di April 2019 dan sekarang sudah menjadi trmpat nongkrong terkemuka dengan punggawa tidak kurang dari 8 orang. Makaya akan terus berkembang membuka peluang di berbagai kota lainnya. Sukses untuk Makaya. Semoga berjaya dan menebar manfaat sebanyak-banyaknya. Karena bermanfaat itulah sejatinya makna dari kaya raya. O iya, kalau ingin mendengar langsung wawancara dengan Mas Doni ini, langsung ke Spotify ini ya. Jangan lupa di follow!

BATAS

1

Yang menjadikan laut terlihat menakutkan, bahwa dia tampak tak berbatas.Sebagaimana juga setiap masalah terkesan sebegitu beratnya, karena kita belum tau ujung penyelesaiannya..Yang membuat laut begitu mengerikan, adalah karena kita tak melihat garis pantai seberangnya.Demikian juga setiap pekerjaan terasa sangat melelahkan, manakala kita tidak tau pasti kapan berakhirnya..Yang menyebabkan laut begitu menyeramkan, adalah karena terhalangnya tatap dari daratan di dasarnya.Begitu juga manusia yang berjalan congkak di atas bumi, saat dia lupa bahwa ajal akan tiba tepat pada waktunya..Maka ketahuilah bahwa setiap masalah tentu hadir berikut penyelesainnya.Sadarilah bahwa setiap pekerjaan harus ada tenggat penyelesaiannya.Dan diatas semuanya, bahwa hidup di dunia ada maut untuk mengakhirinya.

Jangan Gagal Tiga Kali! Kegagalan dalam Membangun Usaha yang sering Dialami

2

Banyak data menyebutkan bahwa hanya kurang dari sepertiga usaha rintisan yang bisa bertahan melalui tahun pertama.  Berikutnya hanya sekitar separo dari yang bertahan itu yang bisa melalui tahun kedua. Ini tentu menjadi jawaban kunci kenapa jumlah wirausahawan di negara kita tidak beranjak menyentuh 5%. Pertanyaan berikutnya adalah; kenapa? Dari pengalaman kami selama beberapa tahun ini menemani banyak rekan tumbuh UMKM dan Startup, faktor utama yang menjadi penyumbang minimnya keberhasilan adalah ketidaksiapan para pelaku. Kemudian, dari beberapa ketidaksiapan yang kami dapati, berikut adalah 3 (tiga) hal terbesar sebagai rangkumannya – 3 kegagalan yang biasa terjadi dalam usaha. Gagal Menjajakan Ide Banyak ide usaha bagus bermunculan. Banyak ide sangat bagus ditemukan. Tapi sedikit yang  kemudian bisa teralisasikan. Tentu tidak sedikit yang kemudian lompat pada sebuah pernyataan: pasti idenya tidak punya modal untuk direalisasikan. Dalam pengalaman kami, kepemilikan modal bukanlah hal utama. Setidaknya, itu tidak pernah menjadi syarat untuk kita bisa memiliki ide. Memang sering kita dengar ungkapan bahwa orang berduit cenderung lebih cerdas. Tapi bukankah orang yang terlibat dalam kesulitan adalah orang pertama yang mendapat kesempatan untuk memberikan berbagai perspektif tentang solusi yang bisa ditawarkan?     Salah satu kegagalan membangun usaha: Mengubah IDE HEBAT menjadi sesuatu yang nyata! Sesungguhnya setiap ide tentu akan menemukan jodohnya dalam bentuk modal. Baik itu berupa investasi kepemilikan bersama, atau modal dalam bentuk pinjaman. Hanya saja akses ke arah itu terkadang yang menjadi kendala. Dalam konteks tulisan ini, sebagaimana kami sebutkan di awal, akses dimaksud adalah kemampuan pemilik ide dalam menjajakan idenya sebagai sebuah potensi usaha. Dari kasus serupa kami banyak membantu beberapa rekan tumbuh dari berbagai kalangan. Dengan ide yang sangat beragam. Tentu kami memberikan pendampingan standar dalam menyusun Business Plan, Business Process, Value Proposition, dan sederet tools lainnya. Tapi tentu, sebagus apapun tools-nya akan menjadi tumpul jika tidak dikomunikasikan dengan baik. Dalam hal ini kepada investor. Kemampuan mengenali calon investor menjadi kunci awal kesuksesan proses “ngamen” yang sering kami alami. Karena meskipun tujuannya sama, yaitu gain atas investasinya, tiap investor punya keunikan tersendiri sebagai pribadi. Ada yang cenderung pada industri tertentu. Ada juga yang terpaku pada daerah tertentu. Belum lagi jika dibumbui dengan karakter personal yang beragam; mulai dari yang suka meeting secara formal, sampai ada yang lebih nyaman berdiskusi di pelataran masjid. Gagal Menjual Produk Setelah fase menjajakan ide terlampaui dengan sukses. Tantangan berikutnya adalah bagaimana menjual produk yang dihasilkan. Tentu, setelah fase development yang tidak kalah pentingnya. Banyak dari para pebisnis pemula rekan tumbuh kami mengalami kesulitan dalam hal memasarkan produknya. Padahal saat rencana usaha disusun di awal, mereka berkeyakinan bahwa banyak calon pembeli atas produknya.   Membuat usaha itu gak mudah, termasuk menjual produk. Ini salah satu kegagalan usaha yang sering dijumpai Sebagaimana menjadi pemahaman bersama, bahwa kondisi pasar saat ini sangatlah berbeda dari masa sebelumnya. Konsumen yang semakin terkoneksi menjadi penyumbang utama tuntutan bergesernya pola dan cara pemasaran. Akan tetapi satu hal yang tidak berubah, bahwa kunci pemasaran adalah komunikasi yang baik antara penjual dengan calon pembeli. Hanya saja tentu, medium dan pola komunikasinya yang berubah seiring zaman. Kemampuan mengenal konsumen secara akurat inilah yang menurut kami kurang banyak dikuasai oleh para pelaku UMKM dan Startups. Gagal Menyusun Tim Hal yang jadi pilar berikutnya dalam memulai usaha adalah team setup. Tidak terkecuali untuk Startup dan UMKM. Bisnis tidak akan bisa berjalan efektif dan berkembang jika mengandalkan one man show. Dalam menyusun tim inilah, para founders harus menemukan kombinasi tim yang tepat. Yang bisa saling melengkapi. Sehingga bisa bersinergi dan menjadikan langkah usaha menjadi mantap dan terarah. Membangun tim yang bisa sinergi demi kemajuan usaha – ini salah satu kegagalan dalam usaha yang umum terjadi pada UMKM ataupun Startups Permasalahannya adalah, khusus untuk Startup dan UMKM adalah: Sedikit sekali yang bisa setup team by design.  Bukan hanya karena keterbatasan resources untuk membentuk tim by design, tapi juga kurangnya kemampuan personal para pelaku untuk bisa mengenali tim nya. Misalnya, seorang founder dengan backgroung keuangan belum tentu mampu secara by design mencari tim untuk melengkapi sisi marketing, operasional, dan selanjutnya. Kembali, masalah kemampuan komunikasi itulah yang menjadi pijakan awal dalam membentuk tim. Karena untuk ukuran Startup dan UMKM, para founder lah “tim rekrutmen” dari bisnis itu sendiri. Mau Ikut Gagal Atau… Kalau diperhatikan dari ketiga kegagalan di atas, ada satu benang merah: kemampuan berkomunikasi secara efektif. Itulah kenapa tidak mengherankan bahwa banyaknya kelas pelatihan komunikasi seolah berkejaran dengan kelas kewirausahaan. Tapi pertanyaannya; seberapa efektif kelas itu membantu para pelaku wirausaha pemula dalam mengembangkan bisnisnya? Tentu harus diukur; misalnya dengan keberhasilan mereka menemukan investor setelah mengikuti kelas? Apakah setelahnya interaksi dengan pelanggan menjadi lebih menghasilkan? Apakah dengan ilmu yang diperoleh dapat secara efektif membantu mereka menyusun tim yang solid dan sinergis? Atau, bagaimana jika ada pelatihan dengan target 5 detik pertama membaca karekter lawan bicara? @hartantoID

5 DETIK PERTAMA

3

INTERPERSONAL SKILL Statistik menunjukkan, bahwa UKM yang berhasil bertahan melewati tahun pertama hanya 20%. Kemudian menjadi kurang dari 50%-nya yang melewati tahun berikutnya. Ini menjadi bukti bahwa eksekusi yang baiklah yang menjadikan ide bernilai mahal. Sejauh pengalaman saya, sedari 2016 menemani beberapa rekan tumbuh UMKM dan startup, banyak bertebaran ide yang sangat bagus yang hanya hangus. Tidak jarang hal ini disebabkan oleh minimnya kemampuan para penemu ide untuk mengkomunikasikannya. Baik kepada calon pelanggan. Terlebih kepada calon investor. Salah satu kunci komunikasi yang efektif adalah, memahami lawan bicara dengan segala keunikannya. Karena meskipun semua investor memiliki tujuan yang sama : gain atas investasinya, tapi cara menyampaikannya tentu berbeda tiap orangnya. Itulah pentingnya interpersonal skill.   Bagaimana kalau ada sebuah kelas berbayar Rp 250rbu, bersertifikat LKP Wirausaha, eksklusif hanya 30 orang, yang bisa membuat kita memahami lawan bicara setidaknya 60% hanya dengan menatap wajahnya di 5 (LIMA) DETIK pertama??? Dan setelah ngobrol 1 menit melengkapi pengetahuan kita secara utuh tentang lawan bicara???   Masih mikir ulang? Bagaimana kalo setelah kelas, masih diberi BONUS mentoring via Telegram tentang 4DX (4 Diciplines of Execution) melengkapi rencana eksekusi atas setiap ide bisnis Anda? Buruan amankan seat Anda !!! CP: Amru   0878-8119-9191

SANG PANGERAN

5

Ngantepi Islamnya samya Nglampahi parentah dalil Ing Quran pan Ayat Katal … Bersama memantapkan Islamnya Melaksanakan perintah Dalil Dalam Al-Qur’an Surah At-Taubah (Kyai Mojo, 1828) Penantian Dua Tahun Mendengar kabar bahwa Ustadz Salim A. Fillah akan menulis soal sosok ini menjadikan saya sangat bersemangat. Bahkan cenderung cerewet, di setiap postingan beliau yang menyertakan spoiler saya selalu berkomentar: “kapan terbit Ustadz?” Dan, akhirnya penantian itu pun terbayar lunas. Buku novel sejarah berjudul Sang Pangeran dan Janissary Terakhir mendarat di rumah dengan penuh gairah. Gairah untuk dibaca tentunya. Ditambah lagi, ada PR dari Ustadz Salim untuk menulis resensinya. Wah, tantangan nih. Tapi pasti tidak mudah. Dan terbukti. Memang susah. Bukan Sekadar Perang Jawa Dari lamanya penantian yang tadi saya ceritakan. Akhirnya datang juga buku yang benar-benar berbobot. Secara harfiah juga. Sudah dapat saya terka bahwa riset untuk menyusun buku ini bukan riset kaleng-kaleng. Saya sudah banyak persiapan bahwa ini bukan hanya “kisah perang seba’da maghrib” sebagaimana sering saya dengar selagi kecil. Cuilan bocoran di bawah judulnya benar-benar harus selalu diingat oleh setiap pembaca buku ini. Kisah, Kasih, dan Selisih dalam Perang Diponegoro. Hal ini untuk selalu menjaga ke-eling lan waspada-an setiap pembaca untuk setiap kejutannya. Simpul Jawa – Turki Inilah kejutan pertama yang harus diselami oleh setiap pembaca Sang Pangeran dan Janissary Terakhir. Bagaimana ternyata geopolitik bukanlah barang baru bagi masyarakat Nusantara. Novel ini pun seolah bertutur tentang dua sisi. Sang Pangeran di satu sisi. Dan Janissary asal Turki di sisi lainnya. Keduanya seolah berbagi porsi dalam kisah di buku ini. Melompat silang kesana kemari. Sesekali atraksi ini memang membuat pambaca harus ekstra waspada, apalagi jika kita berharap plot di kisah ini serupa garis lurus. Membaca novel sejarah ini serupa film Avenger seri terakhir. Sesaat di Tegalrejo, 1825. Lantas melompat ke Istanbul, 1821. Mundur lagi ke Makkah, 1803. Untuk kemudian kembali ke Pegunungan Serayu, 1830. Sejarah dan Optimisme Banyak sekali bertebaran diksi khas dalam buku ini. Dari yang ngapaq sampai yang kekinian. Bahkan yang tersamar sekalipun, menurut saya. Misalnya, jawaban “adalah siyapp” sering saya bunyikan “ahsiyapp” di masa sekarang. Meski tentu konteks sejarahnya menjadi agak menipis jika dibunyikan seperti itu. Tapi justru hal itulah yang membuat saya agak berpikir lama, kenapa Ustadz Salim memilih hal demikian? Padahal dengan kekayaan diksi yang beliau miliki bukan hal mudah menurut saya untuk menjaga kemurnian rasa sejarah dari novel ini. Di bagian akhir buku baru bisa saya pahami pesannya. Setidaknya menurut saya, sekali lagi. Bahwa sejarah tidak hanya untuk jadi bahan bacaan usang. Bahwa kita harus banyak belajar dari setiap fragmen sejarah di sekitar kita. Bukankah sejarah kerap berulang? Dan cara terbaik mengambil pelajaran dari sebuah sejarah adalah menyongsongnya dengan optimisme untuk masa depan. Penutup Meminjam pitutur Cak Nun dalam sebuah forum Maiyah, bahwa kita belajar sejarah untuk tidak lupa siapa diri kita. Bahwa kita adalah Garuda. Tapi kenyataan sekarang bahwa kita bahkan tidak sadar bagaimana bersikap sebagai Garuda. Bagaimana ketangkasan Garuda dalam mencari penghidupan dengan berburu penuh keberanian dan gagah. Bukan dengan mengais dan tangan tertadah. Dari Novel ini kita akan semakin yakin. Bahwa kita adalah Garuda. ….Wus dadi karsaning Suksma/Tanah Jawa pinasthi mring Hyang Widi/Kang duwe lakon Sira//“….Sudah menjadi kehendak Yang Maha EsaTanah Jawa telah ditakdirkan oleh Sang PenciptaKamulah yang kan menjadi peran utama”(babad Dipanegara, II: 121) @hartantoID

SAL, Levelmu Belum Tepat – Bukan Di Sini

8

Hartanto.id – Berikut ini adalah sebuah cerita seru. Bahkan boleh dibilang, merupakan salah satu fragmen terseru dalam masa saya bekerja sebagai VP. Walaupun waktu itu saya hanya VP di di sebuah group usaha kecil dan di kota yang juga tidak besar, namun saya berharap, cerita ini bisa menjadi gambaran besar. Sudah jamak diketahui bahwa dalam sebuah transformasi organisasi akan selalu ada gejolak. Apalagi jika sebuah family company mencoba berbenah ke arah yang lebih terbuka. Tidak jarang penentangan terjadi dengan dorongan alam bawah sadar organisasi.  Seperti sebuah kultur. Saya kebetulan direkrut sebagai langkah awal transformasi tersebut. Dari kolusi ke meritokrasi. Tapi tentu sebagai langkah awal tidak pernah mudah. Manager HRD Baru Sebagai VP, saya ditugaskan membawahi banyak departemen. Di holding itu sendiri. Ataupun koordinator bagi hampir semua sister company. Di tahun-tahun awal itulah saya butuh membenahi kepersonaliaan. Terlebih setelah HRD lama pensiun dini. Maka tibalah masa untuk merekrut officer baru. Pilihan jatuh pada kandidat dari Big Boss. Hanya sebuah ilustrasi – bukanlah SAL ya.  Sudah bukan pilihan keluarga memang. Tapi masih dengan pertimbangan ikatan emosional. Sebut saja namanya “Sal”. Nanti di akhir tulisan akan ada alasan untuk penyebutan ini. SAL dan Bebannya Sal ini anak baik. Komunikasinya bagus. Mudah bergaul dengan senior. Bahkan di usianya yang muda sekalipun. Punya daya tarik personal yang bisa dibilang charming. Fresh graduate pula. Buat saya, awalnya, ini adalah modal yang sangat bagus. Bukankah salah satu fungsi HRD adalah komunikasi yang baik dengan seluruh lapisan? Apalagi di holding ini banyak senior. Saya pun mengalaminya di awal-awal periode saya bergabung. Bulan pertama dilewati dengan pengenalan. Internal maupun eksternal. Sebagaimana dugaan, anak ini mudah bergaul. Supel, dan disukai teman ngobrolnya. Laporan itu saya peroleh dari hampir semua pihak yang berkaitan dengannya agar lebih obyektif. Namun, tidak serta-merta saya iya-kan. Saya tahan karena saya paham betul masih ada nada sungkan dari setiap laporan saya. Bukankah Sal adalah pilihan big-boss? Bulan kedua target pun saya geser. Dari perkenalan dengan personel, menjadi perkenalan dengan pekerjaan. Apa-apa saja yang menjadi pekerjaan manajer lama yang harus dia teruskan, perbaiki, atau bahkan hentikan.  Bekerja dalam TIM.  Saya berharap Sal bisa memilah ketiganya dengan sempurna. Benar-benar berharap banyak. Dengan background dan karakter nothing to lose yang saya dapati di dirinya. Setidaknya di kesan awalnya. Namun ternyata, karakter tanpa beban itulah yang jadi titik krusialnya. Untuk setiap kondisi yang dia tidak menguasainya, dia bahkan terlalu tanpa beban untuk berlaku tidak tahu. Padahal, posisi dia sebagai manager HRD tidak boleh seperti itu. Sederhananya, dia menjadi tidak paham tentang jenjang dan struktur komunikasi dalam perusahaan. Padahal itu tugas utama dia sebagai kepala kepersonaliaan. Bypass Komunikasi Ketidakpuasan penanganan masalah-masalah yang diajukan kepada Sal, akhirnya berbuah banyaknya bypass dari rekan-rekan di hampir semua lini. Langsung kepada saya dan Bu Boss, memang beliau yang membidangi kepersonaliaan. Saya, menanggapi hal itu sebagai bentuk ketidakpercayaan. Atas kapasitas Sal sebagai pimpinan dan pemegang tanggung jawab terhadap hal-hal yang dikeluhkan.  Sementara Bu Boss, dengan segala kebijakannya menganggap itu sebagai proses belajar.  Saya keukeuh dan berargumen, bahwa dalam konteks ini tidak boleh dijadikan proses belajar. Urgensi permasalahannya tidak bisa ditangani sebagai studi kasus. Sal pun tetap tidak beranjak belajar di bulan ketiga. Juga bulan keempat, saat berakhirnya masa percobaan. Dia masih asyik dengan agenda kongkow-kongkownya. Dengan setiap mitra kerjanya. Memang penting untuk menjaga komunikasi informal. Hanya jika fungsi official pokoknya terpenuhi. Baca juga: Kompetensi, Kompeten untuk Gengsi atau Kompeten dan Berprestasi Tapi yang terjadi sebaliknya. Agendanya sepanjang masa percobaan cenderung hanya mengejar keterkenalan dirinya sebagai pejabat baru. Tapi setiap permasalahan yang datang padanya tidak langsung tertangani dengan alibi masih dalam proses penyesuaian. Buat saya ini fatal. Bagian personalia menghadapi masalah keseharian. Setidaknya urusan gaji dan tunjangan saja harus dikerjakan setiap bulan. Tidak bisa menunggu pemahaman setelah masa percobaan. Penilaian kerja itu nyata SAL. Sayangnya SAL, Levelmu belum tepat. Nasib SAL, Pada Akhirnya…  Masa percobaan usai. Dan rapat pimpinan pun digelar, untuk evaluasi. Saya sampaikan pandangan menyeluruh, hasil observasi sepanjang 4 bulan. Mulai dari keunggulan dan harapan pada Sal. Hingga perkembangan dan dinamika yang terjadi atas setiap sepak terjangnya. Dia enak sebagai teman ngobrol, tapi bukan sebagai pemegang control. Dia populer, tapi belum bisa jadi manager. Apalagi jika kami berharap bisa visioner, untuk menjadi inisiator pengembangan sumber daya manusia korporasi kami. Yang itu adalah kunci ditengah perkembangan usaha kami. Tibalah saat itu. Saat saya harus menjadi juru bicara penentu. Menyampaikan ketidaksesuaian antara harapan dan perolehan kami. Atas kinerja yang menjadi hak kami atas Sal. Dengan ke-muda-annya, saya sampaikan bahwa masih banyak kesempatan yang lebih baik untuknya di luar sana. Akhirnya, terucaplah tanggapan dari Sal yang akan selalu saya ingat: “Somebody has to go to the LEFT to get everything RIGHT” Saya menyebutnya SAL, dari kata SALAH. Bukan berarti dia yang salah. Tapi keputusan kami memberinya mandat yang belum pada tempatnya, itulah yang harus diperbaiki.

Bisnis dan Momentum

10

Nada dering di handphone pagi itu menunjukkan ada panggilan dari nomor tak dikenal. Beruntung aktivitas memang sudah masuk jadwal kerja meskipun ngantor dari rumah. Singkat cerita, itu adalah kontak dari seseorang di kampung halaman. Menawarkan sebentuk kerjasama pengembangan usaha. Dia dapat nomor saya dari social media. Saya sebenarnya kurang yakin. Untuk membuka usaha di kampung sendiri. Entah kenapa. Rasanya seperti kekhawatiran tercampurnya liburan dan pekerjaan. Atau hanya karena belum pernah dicoba. Terlebih lagi, bidang yang ditawarkan belum pernah masuk Curriculum Vitae (CV) saya. Akan tetapi, pandangan lain justru datang dari partner saya. Yang sekaligus jadi mentor harian saya. Sejak 2 (dua) tahun lalu. Beliau melihat ini peluang besar. Untuk menghidupkan jaringan bisnis saya di kampung halaman sendiri, dari sebelumnya sekadar jaringan pertemanan. Terlebih tawaran yang datang tidak terlampau susah secara teknis. Semacam membantu si penelepon tadi untuk menangkap kuota yang terlalu besar baginya sebagai putera daerah. Yang kejatuhan durian karena datang investor untuk membangun usaha di wilayahnya. Yang lebih meyakinkan lagi, mentor saya ini punya segudang pengalaman di bidang ini. Terkadang… kita memang harus membuka mata lebar-lebar. Ke sekeliling, termasuk ke atas. Agar bisnis dan momentum tidak hilang begitu saja dalam hidup kita.  Okay, confirmed. Ambil. Proses awal pun berjalan. Rapat demi rapat secara marathon dilalui. Persis, seperti awal feeling awal: saya sering mudik dan beberapa kali tanpa agenda keluarga. Hingga akhirnya, setelah semua fase persiapan di atas kertas rampung. Tibalah waktu untuk mencari permodalan. It’s ngamen time. Dan di sini ujian sebenarnya. Begini, karena memang itu bukan field base saya, maka kolam saya untuk cari investor pun tidak cocok. Itu yang salah tertanam di saya awalnya. Dan itu menentukan semuanya. Momentum dalam Bisnis Sebenarnya bukan hal yang baru saya dengar terkait hal ini. Bahwa sangat penting bagi pebisnis pemula seperti saya ini, untuk bisa menangkap peluang secara jeli. Maka dari itu latihan adalah jalan satu-satunya. Konsekuensinya; kegagalan adalah keniscayaan.  Makanya ada kredo: habiskan jatah gagalmu. Bukan berarti tidak akan ada kegagalan setelahnya. Hanya saja pebisnis jadi semakin terlatih untuk mem-bau-i sedini mungkin. Itu menurut pandangan saya. Baca juga: Bisnis VS Investasi – Apa Bedanya? Dalam kasus cerita saya di atas. Akhirnya saya dapat investor tapi sudah sangat terlambat. Setidaknya itu terlihat dari hitungan penawaran yang kemudian direvisi oleh penelepon tadi. Semula kamilah yang akan jadi majority. Dengan harapan bisa menjadi “penyelamat muka” bagi sang putera daerah. Tapi karena keterlambatan ini, kami harus mau menjadi sekadar minority dalam hal margin keuntungan yang dibagi. Peluang ada di hadapan artinya ada MOMENTUM. Bisnis dan momentum ini harus jeli. Terutama dalam memanfaatkan momentum dalam bisnis! Apa Itu Momentum… Apa Saja yang Perlu Diperhatikan Terkait Momentum (Peluang Usaha) ini? Sejujurnya saya paling susah mencerna pelajaran Fisika semasa SMK dulu. Terlalu ghaib buat saya. Tapi karena kebutuhan menuliskan momentum ini jadi saya sedikit membaca kembali apa itu momentum: n (U) 1. a force that increases the rate of development of a process(physics) 2. the quantity of motion of moving objects, measured as its mass multiplied by its speed (OXFORD : Advanced Learner’s Dictionary) Intinya sih, ada beberapa hal terkait momentum ini yang harus diperhatikan: #1. Momentum Searah dengan Kecepatan Karena momentum ini adalah besaran vektor, yaitu besaran yang dipengaruhi oleh arah. Maka hal pertama yang harus diperhatikan adalah arah. Dalam tadabbur saya terkait momentum dalam bisnis, kemana arah kita menangkap peluang adalah sangat berpengaruh terhadap momentum yang dihasilkan. Terkait cerita sebelumnya, ke mana arah saya mencari investor sangatlah berpengaruh terhadap daya tangkap saya terkait momentum. Karena kebingungan saya, maka kemudian arah saya pun memutar sehingga mengakibatkan keterlambatan. Yang mana itu sangat fatal dalam menangkap peluang bisnis. Atau setidaknya kita kehilangan kesempatan. Opportunity lost. Baca juga: Tips Investasi ala Raden Kopi #2. Bergerak untuk Mendapatkan Momentum Hal kedua adalah momentum dimiliki oleh benda yang bergerak. Mudahnya, momentum adalah kecenderungan benda yang bergerak untuk melanjutkan gerakannya pada kelajuan yang konstan. Momentum tidak dimiliki oleh benda yang diam. Adalah sangat kebangetan apabila saya bilang saya punya opportunity lost sebelum saya bergerak untuk menangkap sebuah peluang. Lost-nya dari mana wong nggak ada usaha sama sekali? Jadi intinya, tetaplah bergerak dalam upaya memperoleh momentum. Ambil momentumnya, karena di era yang berubah sangat cepat ini kesalahan yang fatal adalah saat tidak melakukan apapun Kesimpulan Seperti yang sudah sering kita dengar. Kesuksesan hanya merupakan pertemuan antara kesempatan dan kesiapan. Latih kesiapan dengan keahlian professional yang searah dengan kesuksesan yang ingin diraih. Dan temukan kesempatan dengan tetap bergerak. Ngomong-ngomong, kesempatan pengembangan usaha yang ada di awal cerita tadi akhirnya tidak kami ambil. Karena dengan margin yang mepet sementara operasional harus jarak jauh, maka itu berarti juga kerugian bagi kami di akhir perhitungannya. @hartantoID

pustaka naik kelas daftar rekomendasi buku hartanto

Pustaka Naik Kelas

Ada fase dalam perjalanan bekerja dan berusaha ketika pertanyaan tidak...

hartanto

Copyright @Hartanto.id 2026