MAKAYA, Mesin Uang dan Mantra Kaya

makaya mesin uang dan mantra kaya

Mesin Uang? “Tenang, nanti kita punya mesin uang”. Itulah kalimat pembuka dari sang Ibu saat Mas Doni, tamu bicaRABUsiness saya kali ini mengawali kisah masa kecilnya tentang wirausaha. Dan, rupanya yang dimaksud oleh ibunya sebagai mesin uang adalah sebuah kulkas. Dari situ Mas Doni diajari oleh Ibunda untuk produksi dan jual sendiri berbagai macam es. Dia jajakan ke kantin sekolah dengan sistem konsinyasi. Joint partner dengan Ibu Kantin. Inilah pelajaran pertama tentang bisnis yang diterima dari seorang Ibunda yang kesehariannya memang sebagai pedagang meskipun bersuamikan seorang tentara. Mas Doni kecil kemudian tumbuh dengan mindset wirausaha yang terasah. Hingga saat Sang Bunda memberikan kesempatan pada anak-anaknya memilih mainan untuk dibelikan di pasar, dia memilih membeli balon tiup untuk dijajakan kembali kepada teman-teman sepermainannya. Hingga saat remaja, saat dunia otomotif mulai menjadi kesehariannya, mindset wirausaha masih melekat. Sehingga hobi teman-temannya para pemilik mobil pun menjadi peluang bisnis modifikasi dengan bengkel dekat rumah sebagai rekanan. Desain, Sales, dan Bisnis Menginjak masa kuliah, justru aktivitas berdagang dan/atau usaha ditinggalkan sementara. Fokus belajar Manajemen Informatika dan kemudian mengantarkan Mas Doni menjadi desainer di sebuah perusahaan rotan. Di fase ini beliau banyak belajar tentang entitas usaha secara keseluruhan. Tentang eksport, desain, dan industri secara umum. Beranjak ke fase berikutnya, Mas Doni menjalani profesi sales di dunia otomotif. Kali ini banyak pelajaran tentang perencanaan usaha, khususnya penjualan dengan penuh strategi. Makaya, Sebuah Mantra Sejarahnya, Mas Doni dan kakak serta adik juga sepupunya dikumpulkan oleh Sang Kakek. Semua ditawari untuk menyampaikan permintaan; pengen belajar ajian apa? Sebagaimana remaja pada masa itu, rata-rata menjawab; pengen bisa beladiri, kebal, dan lain sebagainya. Tapi tidak untuk Mas Doni kecil. Setengah berbisik dia minta ke kakeknya; pengen kaya raya. Sang kakek pun menjawab setengah membelalak; Makaya (baca; kerja). Dari situlah nama Makaya menjadi sebuah nama yang dipilih untuk usahanya. Es Krim, Affogato, dan de Javu Mesin Uang Fase terakhir dari bekerja dengan orang adalah di bidang es krim. Dan, tanpa disadari Mas Doni mengulang perjalanan masa kecil dengan mesin uangnya. Menjajakan es krim dari kantin sekolah yang satu ke kantin sekolah lainnya. Hanya saja, dengan berbagai pelajaran sebelumnya. Aktivitas es krim ini membawa kecintaannya pada bisnis kopi. Loh? Koq bisa? Iya, affogato lah pintu masuknya. Sebuah menu kopi yang dipadukan dengan es krim. Dari situ kemudian Mas Doni menjadi BigDon dengan brand Makaya : coffee, snack, ice cream. Berawal dari tiga orang di April 2019 dan sekarang sudah menjadi trmpat nongkrong terkemuka dengan punggawa tidak kurang dari 8 orang. Makaya akan terus berkembang membuka peluang di berbagai kota lainnya. Sukses untuk Makaya. Semoga berjaya dan menebar manfaat sebanyak-banyaknya. Karena bermanfaat itulah sejatinya makna dari kaya raya. O iya, kalau ingin mendengar langsung wawancara dengan Mas Doni ini, langsung ke Spotify ini ya. Jangan lupa di follow!

BATAS

1

Yang menjadikan laut terlihat menakutkan, bahwa dia tampak tak berbatas.Sebagaimana juga setiap masalah terkesan sebegitu beratnya, karena kita belum tau ujung penyelesaiannya..Yang membuat laut begitu mengerikan, adalah karena kita tak melihat garis pantai seberangnya.Demikian juga setiap pekerjaan terasa sangat melelahkan, manakala kita tidak tau pasti kapan berakhirnya..Yang menyebabkan laut begitu menyeramkan, adalah karena terhalangnya tatap dari daratan di dasarnya.Begitu juga manusia yang berjalan congkak di atas bumi, saat dia lupa bahwa ajal akan tiba tepat pada waktunya..Maka ketahuilah bahwa setiap masalah tentu hadir berikut penyelesainnya.Sadarilah bahwa setiap pekerjaan harus ada tenggat penyelesaiannya.Dan diatas semuanya, bahwa hidup di dunia ada maut untuk mengakhirinya.

Jangan Gagal Tiga Kali! Kegagalan dalam Membangun Usaha yang sering Dialami

2

Banyak data menyebutkan bahwa hanya kurang dari sepertiga usaha rintisan yang bisa bertahan melalui tahun pertama.  Berikutnya hanya sekitar separo dari yang bertahan itu yang bisa melalui tahun kedua. Ini tentu menjadi jawaban kunci kenapa jumlah wirausahawan di negara kita tidak beranjak menyentuh 5%. Pertanyaan berikutnya adalah; kenapa? Dari pengalaman kami selama beberapa tahun ini menemani banyak rekan tumbuh UMKM dan Startup, faktor utama yang menjadi penyumbang minimnya keberhasilan adalah ketidaksiapan para pelaku. Kemudian, dari beberapa ketidaksiapan yang kami dapati, berikut adalah 3 (tiga) hal terbesar sebagai rangkumannya – 3 kegagalan yang biasa terjadi dalam usaha. Gagal Menjajakan Ide Banyak ide usaha bagus bermunculan. Banyak ide sangat bagus ditemukan. Tapi sedikit yang  kemudian bisa teralisasikan. Tentu tidak sedikit yang kemudian lompat pada sebuah pernyataan: pasti idenya tidak punya modal untuk direalisasikan. Dalam pengalaman kami, kepemilikan modal bukanlah hal utama. Setidaknya, itu tidak pernah menjadi syarat untuk kita bisa memiliki ide. Memang sering kita dengar ungkapan bahwa orang berduit cenderung lebih cerdas. Tapi bukankah orang yang terlibat dalam kesulitan adalah orang pertama yang mendapat kesempatan untuk memberikan berbagai perspektif tentang solusi yang bisa ditawarkan?     Salah satu kegagalan membangun usaha: Mengubah IDE HEBAT menjadi sesuatu yang nyata! Sesungguhnya setiap ide tentu akan menemukan jodohnya dalam bentuk modal. Baik itu berupa investasi kepemilikan bersama, atau modal dalam bentuk pinjaman. Hanya saja akses ke arah itu terkadang yang menjadi kendala. Dalam konteks tulisan ini, sebagaimana kami sebutkan di awal, akses dimaksud adalah kemampuan pemilik ide dalam menjajakan idenya sebagai sebuah potensi usaha. Dari kasus serupa kami banyak membantu beberapa rekan tumbuh dari berbagai kalangan. Dengan ide yang sangat beragam. Tentu kami memberikan pendampingan standar dalam menyusun Business Plan, Business Process, Value Proposition, dan sederet tools lainnya. Tapi tentu, sebagus apapun tools-nya akan menjadi tumpul jika tidak dikomunikasikan dengan baik. Dalam hal ini kepada investor. Kemampuan mengenali calon investor menjadi kunci awal kesuksesan proses “ngamen” yang sering kami alami. Karena meskipun tujuannya sama, yaitu gain atas investasinya, tiap investor punya keunikan tersendiri sebagai pribadi. Ada yang cenderung pada industri tertentu. Ada juga yang terpaku pada daerah tertentu. Belum lagi jika dibumbui dengan karakter personal yang beragam; mulai dari yang suka meeting secara formal, sampai ada yang lebih nyaman berdiskusi di pelataran masjid. Gagal Menjual Produk Setelah fase menjajakan ide terlampaui dengan sukses. Tantangan berikutnya adalah bagaimana menjual produk yang dihasilkan. Tentu, setelah fase development yang tidak kalah pentingnya. Banyak dari para pebisnis pemula rekan tumbuh kami mengalami kesulitan dalam hal memasarkan produknya. Padahal saat rencana usaha disusun di awal, mereka berkeyakinan bahwa banyak calon pembeli atas produknya.   Membuat usaha itu gak mudah, termasuk menjual produk. Ini salah satu kegagalan usaha yang sering dijumpai Sebagaimana menjadi pemahaman bersama, bahwa kondisi pasar saat ini sangatlah berbeda dari masa sebelumnya. Konsumen yang semakin terkoneksi menjadi penyumbang utama tuntutan bergesernya pola dan cara pemasaran. Akan tetapi satu hal yang tidak berubah, bahwa kunci pemasaran adalah komunikasi yang baik antara penjual dengan calon pembeli. Hanya saja tentu, medium dan pola komunikasinya yang berubah seiring zaman. Kemampuan mengenal konsumen secara akurat inilah yang menurut kami kurang banyak dikuasai oleh para pelaku UMKM dan Startups. Gagal Menyusun Tim Hal yang jadi pilar berikutnya dalam memulai usaha adalah team setup. Tidak terkecuali untuk Startup dan UMKM. Bisnis tidak akan bisa berjalan efektif dan berkembang jika mengandalkan one man show. Dalam menyusun tim inilah, para founders harus menemukan kombinasi tim yang tepat. Yang bisa saling melengkapi. Sehingga bisa bersinergi dan menjadikan langkah usaha menjadi mantap dan terarah. Membangun tim yang bisa sinergi demi kemajuan usaha – ini salah satu kegagalan dalam usaha yang umum terjadi pada UMKM ataupun Startups Permasalahannya adalah, khusus untuk Startup dan UMKM adalah: Sedikit sekali yang bisa setup team by design.  Bukan hanya karena keterbatasan resources untuk membentuk tim by design, tapi juga kurangnya kemampuan personal para pelaku untuk bisa mengenali tim nya. Misalnya, seorang founder dengan backgroung keuangan belum tentu mampu secara by design mencari tim untuk melengkapi sisi marketing, operasional, dan selanjutnya. Kembali, masalah kemampuan komunikasi itulah yang menjadi pijakan awal dalam membentuk tim. Karena untuk ukuran Startup dan UMKM, para founder lah “tim rekrutmen” dari bisnis itu sendiri. Mau Ikut Gagal Atau… Kalau diperhatikan dari ketiga kegagalan di atas, ada satu benang merah: kemampuan berkomunikasi secara efektif. Itulah kenapa tidak mengherankan bahwa banyaknya kelas pelatihan komunikasi seolah berkejaran dengan kelas kewirausahaan. Tapi pertanyaannya; seberapa efektif kelas itu membantu para pelaku wirausaha pemula dalam mengembangkan bisnisnya? Tentu harus diukur; misalnya dengan keberhasilan mereka menemukan investor setelah mengikuti kelas? Apakah setelahnya interaksi dengan pelanggan menjadi lebih menghasilkan? Apakah dengan ilmu yang diperoleh dapat secara efektif membantu mereka menyusun tim yang solid dan sinergis? Atau, bagaimana jika ada pelatihan dengan target 5 detik pertama membaca karekter lawan bicara? @hartantoID

5 DETIK PERTAMA

3

INTERPERSONAL SKILL Statistik menunjukkan, bahwa UKM yang berhasil bertahan melewati tahun pertama hanya 20%. Kemudian menjadi kurang dari 50%-nya yang melewati tahun berikutnya. Ini menjadi bukti bahwa eksekusi yang baiklah yang menjadikan ide bernilai mahal. Sejauh pengalaman saya, sedari 2016 menemani beberapa rekan tumbuh UMKM dan startup, banyak bertebaran ide yang sangat bagus yang hanya hangus. Tidak jarang hal ini disebabkan oleh minimnya kemampuan para penemu ide untuk mengkomunikasikannya. Baik kepada calon pelanggan. Terlebih kepada calon investor. Salah satu kunci komunikasi yang efektif adalah, memahami lawan bicara dengan segala keunikannya. Karena meskipun semua investor memiliki tujuan yang sama : gain atas investasinya, tapi cara menyampaikannya tentu berbeda tiap orangnya. Itulah pentingnya interpersonal skill.   Bagaimana kalau ada sebuah kelas berbayar Rp 250rbu, bersertifikat LKP Wirausaha, eksklusif hanya 30 orang, yang bisa membuat kita memahami lawan bicara setidaknya 60% hanya dengan menatap wajahnya di 5 (LIMA) DETIK pertama??? Dan setelah ngobrol 1 menit melengkapi pengetahuan kita secara utuh tentang lawan bicara???   Masih mikir ulang? Bagaimana kalo setelah kelas, masih diberi BONUS mentoring via Telegram tentang 4DX (4 Diciplines of Execution) melengkapi rencana eksekusi atas setiap ide bisnis Anda? Buruan amankan seat Anda !!! CP: Amru   0878-8119-9191

SANG PANGERAN

5

Ngantepi Islamnya samya Nglampahi parentah dalil Ing Quran pan Ayat Katal … Bersama memantapkan Islamnya Melaksanakan perintah Dalil Dalam Al-Qur’an Surah At-Taubah (Kyai Mojo, 1828) Penantian Dua Tahun Mendengar kabar bahwa Ustadz Salim A. Fillah akan menulis soal sosok ini menjadikan saya sangat bersemangat. Bahkan cenderung cerewet, di setiap postingan beliau yang menyertakan spoiler saya selalu berkomentar: “kapan terbit Ustadz?” Dan, akhirnya penantian itu pun terbayar lunas. Buku novel sejarah berjudul Sang Pangeran dan Janissary Terakhir mendarat di rumah dengan penuh gairah. Gairah untuk dibaca tentunya. Ditambah lagi, ada PR dari Ustadz Salim untuk menulis resensinya. Wah, tantangan nih. Tapi pasti tidak mudah. Dan terbukti. Memang susah. Bukan Sekadar Perang Jawa Dari lamanya penantian yang tadi saya ceritakan. Akhirnya datang juga buku yang benar-benar berbobot. Secara harfiah juga. Sudah dapat saya terka bahwa riset untuk menyusun buku ini bukan riset kaleng-kaleng. Saya sudah banyak persiapan bahwa ini bukan hanya “kisah perang seba’da maghrib” sebagaimana sering saya dengar selagi kecil. Cuilan bocoran di bawah judulnya benar-benar harus selalu diingat oleh setiap pembaca buku ini. Kisah, Kasih, dan Selisih dalam Perang Diponegoro. Hal ini untuk selalu menjaga ke-eling lan waspada-an setiap pembaca untuk setiap kejutannya. Simpul Jawa – Turki Inilah kejutan pertama yang harus diselami oleh setiap pembaca Sang Pangeran dan Janissary Terakhir. Bagaimana ternyata geopolitik bukanlah barang baru bagi masyarakat Nusantara. Novel ini pun seolah bertutur tentang dua sisi. Sang Pangeran di satu sisi. Dan Janissary asal Turki di sisi lainnya. Keduanya seolah berbagi porsi dalam kisah di buku ini. Melompat silang kesana kemari. Sesekali atraksi ini memang membuat pambaca harus ekstra waspada, apalagi jika kita berharap plot di kisah ini serupa garis lurus. Membaca novel sejarah ini serupa film Avenger seri terakhir. Sesaat di Tegalrejo, 1825. Lantas melompat ke Istanbul, 1821. Mundur lagi ke Makkah, 1803. Untuk kemudian kembali ke Pegunungan Serayu, 1830. Sejarah dan Optimisme Banyak sekali bertebaran diksi khas dalam buku ini. Dari yang ngapaq sampai yang kekinian. Bahkan yang tersamar sekalipun, menurut saya. Misalnya, jawaban “adalah siyapp” sering saya bunyikan “ahsiyapp” di masa sekarang. Meski tentu konteks sejarahnya menjadi agak menipis jika dibunyikan seperti itu. Tapi justru hal itulah yang membuat saya agak berpikir lama, kenapa Ustadz Salim memilih hal demikian? Padahal dengan kekayaan diksi yang beliau miliki bukan hal mudah menurut saya untuk menjaga kemurnian rasa sejarah dari novel ini. Di bagian akhir buku baru bisa saya pahami pesannya. Setidaknya menurut saya, sekali lagi. Bahwa sejarah tidak hanya untuk jadi bahan bacaan usang. Bahwa kita harus banyak belajar dari setiap fragmen sejarah di sekitar kita. Bukankah sejarah kerap berulang? Dan cara terbaik mengambil pelajaran dari sebuah sejarah adalah menyongsongnya dengan optimisme untuk masa depan. Penutup Meminjam pitutur Cak Nun dalam sebuah forum Maiyah, bahwa kita belajar sejarah untuk tidak lupa siapa diri kita. Bahwa kita adalah Garuda. Tapi kenyataan sekarang bahwa kita bahkan tidak sadar bagaimana bersikap sebagai Garuda. Bagaimana ketangkasan Garuda dalam mencari penghidupan dengan berburu penuh keberanian dan gagah. Bukan dengan mengais dan tangan tertadah. Dari Novel ini kita akan semakin yakin. Bahwa kita adalah Garuda. ….Wus dadi karsaning Suksma/Tanah Jawa pinasthi mring Hyang Widi/Kang duwe lakon Sira//“….Sudah menjadi kehendak Yang Maha EsaTanah Jawa telah ditakdirkan oleh Sang PenciptaKamulah yang kan menjadi peran utama”(babad Dipanegara, II: 121) @hartantoID

SAL, Levelmu Belum Tepat – Bukan Di Sini

8

Hartanto.id – Berikut ini adalah sebuah cerita seru. Bahkan boleh dibilang, merupakan salah satu fragmen terseru dalam masa saya bekerja sebagai VP. Walaupun waktu itu saya hanya VP di di sebuah group usaha kecil dan di kota yang juga tidak besar, namun saya berharap, cerita ini bisa menjadi gambaran besar. Sudah jamak diketahui bahwa dalam sebuah transformasi organisasi akan selalu ada gejolak. Apalagi jika sebuah family company mencoba berbenah ke arah yang lebih terbuka. Tidak jarang penentangan terjadi dengan dorongan alam bawah sadar organisasi.  Seperti sebuah kultur. Saya kebetulan direkrut sebagai langkah awal transformasi tersebut. Dari kolusi ke meritokrasi. Tapi tentu sebagai langkah awal tidak pernah mudah. Manager HRD Baru Sebagai VP, saya ditugaskan membawahi banyak departemen. Di holding itu sendiri. Ataupun koordinator bagi hampir semua sister company. Di tahun-tahun awal itulah saya butuh membenahi kepersonaliaan. Terlebih setelah HRD lama pensiun dini. Maka tibalah masa untuk merekrut officer baru. Pilihan jatuh pada kandidat dari Big Boss. Hanya sebuah ilustrasi – bukanlah SAL ya.  Sudah bukan pilihan keluarga memang. Tapi masih dengan pertimbangan ikatan emosional. Sebut saja namanya “Sal”. Nanti di akhir tulisan akan ada alasan untuk penyebutan ini. SAL dan Bebannya Sal ini anak baik. Komunikasinya bagus. Mudah bergaul dengan senior. Bahkan di usianya yang muda sekalipun. Punya daya tarik personal yang bisa dibilang charming. Fresh graduate pula. Buat saya, awalnya, ini adalah modal yang sangat bagus. Bukankah salah satu fungsi HRD adalah komunikasi yang baik dengan seluruh lapisan? Apalagi di holding ini banyak senior. Saya pun mengalaminya di awal-awal periode saya bergabung. Bulan pertama dilewati dengan pengenalan. Internal maupun eksternal. Sebagaimana dugaan, anak ini mudah bergaul. Supel, dan disukai teman ngobrolnya. Laporan itu saya peroleh dari hampir semua pihak yang berkaitan dengannya agar lebih obyektif. Namun, tidak serta-merta saya iya-kan. Saya tahan karena saya paham betul masih ada nada sungkan dari setiap laporan saya. Bukankah Sal adalah pilihan big-boss? Bulan kedua target pun saya geser. Dari perkenalan dengan personel, menjadi perkenalan dengan pekerjaan. Apa-apa saja yang menjadi pekerjaan manajer lama yang harus dia teruskan, perbaiki, atau bahkan hentikan.  Bekerja dalam TIM.  Saya berharap Sal bisa memilah ketiganya dengan sempurna. Benar-benar berharap banyak. Dengan background dan karakter nothing to lose yang saya dapati di dirinya. Setidaknya di kesan awalnya. Namun ternyata, karakter tanpa beban itulah yang jadi titik krusialnya. Untuk setiap kondisi yang dia tidak menguasainya, dia bahkan terlalu tanpa beban untuk berlaku tidak tahu. Padahal, posisi dia sebagai manager HRD tidak boleh seperti itu. Sederhananya, dia menjadi tidak paham tentang jenjang dan struktur komunikasi dalam perusahaan. Padahal itu tugas utama dia sebagai kepala kepersonaliaan. Bypass Komunikasi Ketidakpuasan penanganan masalah-masalah yang diajukan kepada Sal, akhirnya berbuah banyaknya bypass dari rekan-rekan di hampir semua lini. Langsung kepada saya dan Bu Boss, memang beliau yang membidangi kepersonaliaan. Saya, menanggapi hal itu sebagai bentuk ketidakpercayaan. Atas kapasitas Sal sebagai pimpinan dan pemegang tanggung jawab terhadap hal-hal yang dikeluhkan.  Sementara Bu Boss, dengan segala kebijakannya menganggap itu sebagai proses belajar.  Saya keukeuh dan berargumen, bahwa dalam konteks ini tidak boleh dijadikan proses belajar. Urgensi permasalahannya tidak bisa ditangani sebagai studi kasus. Sal pun tetap tidak beranjak belajar di bulan ketiga. Juga bulan keempat, saat berakhirnya masa percobaan. Dia masih asyik dengan agenda kongkow-kongkownya. Dengan setiap mitra kerjanya. Memang penting untuk menjaga komunikasi informal. Hanya jika fungsi official pokoknya terpenuhi. Baca juga: Kompetensi, Kompeten untuk Gengsi atau Kompeten dan Berprestasi Tapi yang terjadi sebaliknya. Agendanya sepanjang masa percobaan cenderung hanya mengejar keterkenalan dirinya sebagai pejabat baru. Tapi setiap permasalahan yang datang padanya tidak langsung tertangani dengan alibi masih dalam proses penyesuaian. Buat saya ini fatal. Bagian personalia menghadapi masalah keseharian. Setidaknya urusan gaji dan tunjangan saja harus dikerjakan setiap bulan. Tidak bisa menunggu pemahaman setelah masa percobaan. Penilaian kerja itu nyata SAL. Sayangnya SAL, Levelmu belum tepat. Nasib SAL, Pada Akhirnya…  Masa percobaan usai. Dan rapat pimpinan pun digelar, untuk evaluasi. Saya sampaikan pandangan menyeluruh, hasil observasi sepanjang 4 bulan. Mulai dari keunggulan dan harapan pada Sal. Hingga perkembangan dan dinamika yang terjadi atas setiap sepak terjangnya. Dia enak sebagai teman ngobrol, tapi bukan sebagai pemegang control. Dia populer, tapi belum bisa jadi manager. Apalagi jika kami berharap bisa visioner, untuk menjadi inisiator pengembangan sumber daya manusia korporasi kami. Yang itu adalah kunci ditengah perkembangan usaha kami. Tibalah saat itu. Saat saya harus menjadi juru bicara penentu. Menyampaikan ketidaksesuaian antara harapan dan perolehan kami. Atas kinerja yang menjadi hak kami atas Sal. Dengan ke-muda-annya, saya sampaikan bahwa masih banyak kesempatan yang lebih baik untuknya di luar sana. Akhirnya, terucaplah tanggapan dari Sal yang akan selalu saya ingat: “Somebody has to go to the LEFT to get everything RIGHT” Saya menyebutnya SAL, dari kata SALAH. Bukan berarti dia yang salah. Tapi keputusan kami memberinya mandat yang belum pada tempatnya, itulah yang harus diperbaiki.

Bisnis dan Momentum

10

Nada dering di handphone pagi itu menunjukkan ada panggilan dari nomor tak dikenal. Beruntung aktivitas memang sudah masuk jadwal kerja meskipun ngantor dari rumah. Singkat cerita, itu adalah kontak dari seseorang di kampung halaman. Menawarkan sebentuk kerjasama pengembangan usaha. Dia dapat nomor saya dari social media. Saya sebenarnya kurang yakin. Untuk membuka usaha di kampung sendiri. Entah kenapa. Rasanya seperti kekhawatiran tercampurnya liburan dan pekerjaan. Atau hanya karena belum pernah dicoba. Terlebih lagi, bidang yang ditawarkan belum pernah masuk Curriculum Vitae (CV) saya. Akan tetapi, pandangan lain justru datang dari partner saya. Yang sekaligus jadi mentor harian saya. Sejak 2 (dua) tahun lalu. Beliau melihat ini peluang besar. Untuk menghidupkan jaringan bisnis saya di kampung halaman sendiri, dari sebelumnya sekadar jaringan pertemanan. Terlebih tawaran yang datang tidak terlampau susah secara teknis. Semacam membantu si penelepon tadi untuk menangkap kuota yang terlalu besar baginya sebagai putera daerah. Yang kejatuhan durian karena datang investor untuk membangun usaha di wilayahnya. Yang lebih meyakinkan lagi, mentor saya ini punya segudang pengalaman di bidang ini. Terkadang… kita memang harus membuka mata lebar-lebar. Ke sekeliling, termasuk ke atas. Agar bisnis dan momentum tidak hilang begitu saja dalam hidup kita.  Okay, confirmed. Ambil. Proses awal pun berjalan. Rapat demi rapat secara marathon dilalui. Persis, seperti awal feeling awal: saya sering mudik dan beberapa kali tanpa agenda keluarga. Hingga akhirnya, setelah semua fase persiapan di atas kertas rampung. Tibalah waktu untuk mencari permodalan. It’s ngamen time. Dan di sini ujian sebenarnya. Begini, karena memang itu bukan field base saya, maka kolam saya untuk cari investor pun tidak cocok. Itu yang salah tertanam di saya awalnya. Dan itu menentukan semuanya. Momentum dalam Bisnis Sebenarnya bukan hal yang baru saya dengar terkait hal ini. Bahwa sangat penting bagi pebisnis pemula seperti saya ini, untuk bisa menangkap peluang secara jeli. Maka dari itu latihan adalah jalan satu-satunya. Konsekuensinya; kegagalan adalah keniscayaan.  Makanya ada kredo: habiskan jatah gagalmu. Bukan berarti tidak akan ada kegagalan setelahnya. Hanya saja pebisnis jadi semakin terlatih untuk mem-bau-i sedini mungkin. Itu menurut pandangan saya. Baca juga: Bisnis VS Investasi – Apa Bedanya? Dalam kasus cerita saya di atas. Akhirnya saya dapat investor tapi sudah sangat terlambat. Setidaknya itu terlihat dari hitungan penawaran yang kemudian direvisi oleh penelepon tadi. Semula kamilah yang akan jadi majority. Dengan harapan bisa menjadi “penyelamat muka” bagi sang putera daerah. Tapi karena keterlambatan ini, kami harus mau menjadi sekadar minority dalam hal margin keuntungan yang dibagi. Peluang ada di hadapan artinya ada MOMENTUM. Bisnis dan momentum ini harus jeli. Terutama dalam memanfaatkan momentum dalam bisnis! Apa Itu Momentum… Apa Saja yang Perlu Diperhatikan Terkait Momentum (Peluang Usaha) ini? Sejujurnya saya paling susah mencerna pelajaran Fisika semasa SMK dulu. Terlalu ghaib buat saya. Tapi karena kebutuhan menuliskan momentum ini jadi saya sedikit membaca kembali apa itu momentum: n (U) 1. a force that increases the rate of development of a process(physics) 2. the quantity of motion of moving objects, measured as its mass multiplied by its speed (OXFORD : Advanced Learner’s Dictionary) Intinya sih, ada beberapa hal terkait momentum ini yang harus diperhatikan: #1. Momentum Searah dengan Kecepatan Karena momentum ini adalah besaran vektor, yaitu besaran yang dipengaruhi oleh arah. Maka hal pertama yang harus diperhatikan adalah arah. Dalam tadabbur saya terkait momentum dalam bisnis, kemana arah kita menangkap peluang adalah sangat berpengaruh terhadap momentum yang dihasilkan. Terkait cerita sebelumnya, ke mana arah saya mencari investor sangatlah berpengaruh terhadap daya tangkap saya terkait momentum. Karena kebingungan saya, maka kemudian arah saya pun memutar sehingga mengakibatkan keterlambatan. Yang mana itu sangat fatal dalam menangkap peluang bisnis. Atau setidaknya kita kehilangan kesempatan. Opportunity lost. Baca juga: Tips Investasi ala Raden Kopi #2. Bergerak untuk Mendapatkan Momentum Hal kedua adalah momentum dimiliki oleh benda yang bergerak. Mudahnya, momentum adalah kecenderungan benda yang bergerak untuk melanjutkan gerakannya pada kelajuan yang konstan. Momentum tidak dimiliki oleh benda yang diam. Adalah sangat kebangetan apabila saya bilang saya punya opportunity lost sebelum saya bergerak untuk menangkap sebuah peluang. Lost-nya dari mana wong nggak ada usaha sama sekali? Jadi intinya, tetaplah bergerak dalam upaya memperoleh momentum. Ambil momentumnya, karena di era yang berubah sangat cepat ini kesalahan yang fatal adalah saat tidak melakukan apapun Kesimpulan Seperti yang sudah sering kita dengar. Kesuksesan hanya merupakan pertemuan antara kesempatan dan kesiapan. Latih kesiapan dengan keahlian professional yang searah dengan kesuksesan yang ingin diraih. Dan temukan kesempatan dengan tetap bergerak. Ngomong-ngomong, kesempatan pengembangan usaha yang ada di awal cerita tadi akhirnya tidak kami ambil. Karena dengan margin yang mepet sementara operasional harus jarak jauh, maka itu berarti juga kerugian bagi kami di akhir perhitungannya. @hartantoID

BISNIS vs INVESTASI

12

Banyak yang bertanya; bisnis apa yang cocok untuk saya yang sudah terlanjur repot di zona nyaman? Seringkali saya jawab sekenanya; “Anda yakin itu zona nyaman? Kalo iya, koq malah bikin repot?”  Sebenarnya ada jawaban pendahuluan yang harusnya selalu diingat; anda yakin kepingin bisnis? Maka tinggalkan zona nyaman. Atau kalau masih ingin tetap nyaman, coba dulu berinvestasi sebelum berbisnis. Yap, ini adalah catatan tentang bisnis vs investasi a la Suluk Raden Kopi. Business Vs Investasi – Kamu pilih yang mana? Apa Itu Bisnis? Bisnis atau business dalam bahasa Inggris berarti perusahaan atau usaha. Makna yang sering dimaksudkan terkait pertanyaan di pembuka tulisan ini adalah membuka usaha mandiri. Dari sini harusnya, setidaknya menurut saya, berbisnis berarti mendirikan usaha sendiri dan/atau bermitra dengan investor atau co-founder. Dengan batasan ini, maka akan sangat berbeda antara membuka gerai waralaba dengan membuka cafe sendiri meskipun bisa jadi uang yang dikeluarkan untuk memulainya bisa jadi sama. Juga, ada perbedaan antara menjadi agen penjualan dengan membeli barang sendiri dan menjualnya setelah melalui proses pemberian nilai tambah kepada barang tersebut tadi. Baca juga: Pentingnya Rencana Bisnis Faktanya, terkadang orang rancu dalam menggunakan istilah ini.  Lihat saja jawaban beberapa teman yang ketika bertemu saling bertegur kabar dengan ungkapan; bisnis apa sekarang? Business is the activity of making, buying, selling or supplying things for money; commerce; trade. Apa Itu Investasi? Investasi adalah keterlibatan dalam sebuah bisnis atau unit usaha dalam bentuk kepemilikan saham dan/atau modal. Batasan investasi biasanya dengan nominal modal yang disetorkan tanpa ikut di dalam pengelolaan bisnis dimaksud. Atas kepemilikan atas usaha dalam bentuk permodalan itulah kemudian sang investor mendapat pembagian hasil usaha secara berkala dalam PROSENTASE BAGIAN yang telah disepakati di awal. Sementara JUMLAH HASIL yang dibagi tentu berbeda tiap periodenya. Hal ini kembali lagi merujuk kepada kondisi usaha yang berjalan. Bisa jadi bulan ini untung, bisa juga bulan depan untung lagi. Tentu, kapan-kapan juga bisa rugi. Lalu bagaimana untuk sama-sama meyakini itu untung atau rugi? Di sinilah perlunya pencatatan dan pembukuan, bahkan jika dimungkinkan oleh Akuntan yang dipercaya kedua pihak sebagai pihak ke-tiga. Invest: to use money to buy e-g shares or property, develop business enterprise, etc in order to earn interest, bring profit or improve the quality of something.  Bagaimana Perbandingan Keduanya: Bisnis vs Investasi? Lantas apa bedanya? Jelas beda dari sisi resiko dan perolehannya. Dalam ilmu Ekonomi seringkali kita dengar norma umum; high risk high return. Resiko tinggi tentu memberi peluang untung yang tinggi juga. Kalau sudah resiko tinggi tapi peluang untungnya kecil, itu konyol namanya. Kalau resiko rendah maunya untung besar, hati-hati anda terjerat investasi bodong, hehehe. Seorang pebisnis menghadapi resiko lebih tinggi secara relatif jika dibandingkan dengan investor. Pebisnis harus memastikan operasional berjalan sebagaimana mestinya untuk mencapai target usaha. Karenanya sudah selayaknya dalam sebuah kerjasama biasanya pelaksana akan memperoleh bagian lebih besar dari seorang investor murni. Sementara investor bukannya tanpa resiko untuk menanggung rugi bilamana unit usaha tempat dia berinvestasi dirundung kerugian. Hanya saja tentu bagian ruginya tidak sebesar bagian rugi dari pebisnis pelaksana. Di sini kemudian kita bisa melihat asas keadilan. Kesimpulan Dengan catatan di atas semoga bisa menjadi pengingat bersama. Bahwa apapun kapasitas kita sebaiknya Kita senantiasa mampu berhitung dengan cermat. Kalau anda ingin berbisnis, maka cermatlah mengukur resiko bisnis. Mulai dari yang bisa anda kuasai. Kemudian tekuni, pastikan anda ahli di bidang itu. Dan segeralah membesar dengan keahlian anda itu. Jika anda adalah investor, maka berinvestasilah di unit usaha yang dapat anda percaya; pelakunya, bidang usahanya, resiko dan keuntungannya. Dan, jika anda butuh akuntan untuk menjembatani platform investasi dan bisnis anda. Khususnya di ranah UMKM dan Startup. Barangkali kita bisa lanjutkan diskusi sebagai Rekan Tumbuh. Business Development Specialist@hartantoID

Pilih Mana : Resign atau Dipecat ?

15

Sekitar 4 atau 5 tahun yang lalu, saya kedatangan seorang tamu spesial. Saat itu memang posisi saya sudah sebagai VP di sebuah konglomerasi kecil. Di kota yang juga belum besar. Tamu spesial itu adalah seorang kakak kelas di SMK dulu. Spesialnya, tamu – kakak kelas saya ini, membawa sebuah pertanyaan. Pertanyaan itu adalah: Pilih Resign atau Dipecat? Comfort vs Adveture (IG post by @hartantoID) Sebelumnya bisa baca juga : 5 Tips Resign Untuk Dicermati Memang bukan tanpa sebab. Sebelum akhirnya bertemu kami memang intens berkomunikasi jarak jauh. Banyak hal kami bicarakan. Tentu tidak lepas dari kondisi masing-masing. Di aktivitas keseharian. Beliau adalah seorang country manager sebuah perusahaan investasi asing. Yang baru melebarkan sayap di negara kita. Sehingga banyak hal saya belajar darinya. Salah satunya ya terkait pertanyaan itu tadi: pilih Resign atau Dipecat? Hubungan Kerja adalah Hubungan Professional Menariknya dari obrolan kami adalah; kami melakukannya pada saat sama-sama jadi kuli. Sekeren apapun gelar kami saat itu : Vice President Director dan Country Manager. Tetap saja kami adalah orang gajian. Yang tidak memiliki perusahaan itu. Kami do-ers, bukan owners. Jadi, awareness kami tentu seharusnya berbeda terkait hubungan kerja. Di awal kami sama-sama bersepakat. Bahwa hubungan kerja antara karyawan dan pemilik adalah murni hubungan professional. Memang tidak jarang beberapa teman di posisi seperti kami atau yang lainnya diberi apresiasi seolah sebagai anggota keluarga pemilik. Tapi tetap saja, berbeda pada kenyataannya. Dalam kerangka hubungan professional itulah kemudian kita berdiskusi. Bahwa harus ada keseimbangan antara hak dan kewajiban. Hak dan Kewajiban Professional Sederhananya, para pekerja mendapat kompensasi finansial. Baik itu gaji, bonus, fasilitas, dan sederet allowances lainnya. Sebaliknya, pemberi kerja mendapatkan performa. Mulai dari capaian target, pemenuhan peran, dan sekumpulan tanggung jawab pekerjaan lainnya. Idealnya, kedua hal tersebut diatas berlaku seimbang. Antara kompensasi yang diberikan dengan performa yang diberikan. Pekerja tersejahterakan. Pemberi kerja bahagia. Pada kenyataannya, hubungan antara keduanya senantiasa dinamis. Terkadang pekerja merasa terdhzolimi. Tak jarang pemberi kerja kurang happy. Di sinilah konflik bermula. Dari sudut pandang pekerja. Sekali lagi, karena kami membahasnya pada saat itu sebagai pekerja. Saat hak yang kita nikmati kurang berimbang dengan kewajiban yang telah kita tunaikan. Maka secara professional sebaiknya kita resign. Mencari keseimbangan baru dengan pemberi kerja baru. Atau, jika kita menikmati lebih dari hak yang pantas atas performa kita untuk perusahaan. Alangkah bijaknya jika kita juga resign. Sebelum pemberi kerja memecat kita. Di situlah pertanyaan itu muncul: kita memilik resign atau dipecat? Hak dan Kewajiban dalam Partnership Sekarang, setelah memutuskan menjadi full-time entrepreneur, keseimbangan itu tetap menjadi concern saya dan tim. Kenyataan bahwa tidak mungkin kita mewujudkan setiap ide bisnis dengan resources sendiri, membuat partnership dan/atau hadirnya investor adalah sebuah keniscayaan. Proklamasi Kerjasa (IG post by : @hartantoID) Sebagai pandangan lain dalam partnership, bisa juga dibaca: 3 Tips Investasi a la Raden Kopi Seperti hubungan antara pekerja dan pemberi kerja, partnership juga mengalami dinamika. Yang bahkan lebih berwarna. Hal ini diperkuat lagi dengan kondisi bahwa di awal kerjasama, kedua pihak akan berdiri setara. Sehingga tawar-menawar terkait hak dan kewajiban dalam partnership agreement ini menjadi sangat cair. Selayaknya dalam hubungan pekerja-pemberi kerja, hubungan antar partner bisnis juga seharusnya berada dalam ekuilibrium. Jika tidak, tentu dinamika hubungan itu akan menemukan kembali keseimbangannya. Entah dengan memperbaharui proporsi, atau yang paling buruk adalah putusnya hubungan kerjasama antara kedua pihak. Menjadi professional dalam hal partnership adalah sesederhana menjadi proporsional sesuai dengan kapasitas diri. Karena dalam partnership, sinergi sangatlah harus diutamakan. Dan setiap pihak harus senantiasa berpandangan positif demi keberlangsungan usaha bersama. Bagaimana dengan Hidup Kita? Kalau kita harus menimbang antara hak dan kewajiban dalam hidup, tentu akan senantiasa tidak berimbang. Sudah menjadi watak dasar sepertinya, untuk setiap manusia mendahulukan untuk memperoleh hak dibandingkan memenuhi kewajiban. Bahkan, tidak akan pernah memadai jika kita menghitung nikmat yang telah diberikan oleh Sang Pemberi Hidup dibandingkan dengan apa yang sudah kita lakukan untuk memenuhi perintah-NYA. Jika kita menggunakan batang-batang pohon sebagai pena dan air laut sebagai tinta untuk menuliskannya. Pun tidak akan tercukupi tulisan kita atas nikmat-nikmat dari-NYA. Maka merujuk pada perumpamaan sebelumnya; apakah yang seharusnya kita lakukan dengan hidup kita. Tentu pilihannya bukan resign atau dipecat. Sebab kalau kita resign, di kolong langit sebelah mana akan kita hidup? Sedangkan DIA adalah pemilik sekujur alam semesta. Pun, tidak mungkin kita dipecat. Karena DIA adalah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Rahman dan Rahiim, itu fitur utama-NYA. @hartantoID

3 Tips Investasi a la Raden Kopi

16

Seiring beralihnya aktivitas dari zona karyawan menjadi full-enterpreneur, maka tawaran investasi dan kerjasama dalam bisnis menjadi semakin sering kami hadapi. Reaksi kami pun, dari yang semula haus investasi (ini biasanya dialami oleh pemula seperti kami), sampai kemudian pilah-pilih. Baca juga: Tips Bekerja dari Rumah Hingga akhirnya kami bisa petakan mana yang feasible mana yang hanya “ngamen” mencari pemula untuk merasakan manisnya rugi di dunia bisnis dan/atau investasi. Dari berbagai pengalaman itulah, kami coba rangkum dalam sharing Suluk Raden Kopi kali ini tentang 3 Tips Investasi a la Raden Kopi. Tips Investasi A La Raden Kopi Mungkin buat kalian, tips investasi berikut ini sudah biasa. Tapi setidaknya, inilah yang kami alami dan kami ingin bagikan di sini. #1. Selalu Ingat Aturan Baku: High Risk High Return Tips investasi yang pertama ini adalah semacam credo di dunia investasi : High Risk – High Return. Bahwa untuk mendapatkan hasil lebih tinggi sudah sewajarnya resiko yang akan muncul juga lebih tinggi. Artinya, semakin banyak potensi untung juga harus dibaca sebagai semakin banyak potensi ruginya. Terlihat sederhana memang, tapi seringkali faktor inilah yang luput dari perhatian kita di awal adanya tawaran investasi dan/atau kerjasama bisnis. Kebanyakan justru terjebak pada paradoks pemahamannya; kita tergiur untung yang besar dengan resiko seminimal mungkin. Baca juga: Tips Mengundurkan Diri dari Kerja Resiko yang nampak mengecil ini, biasanya berkamuflase dalam bahasa: kepastian return. Padahal, dalam investasi dan/atau bisnis; kepastian yang hakiki adalah ketidakpastian itu sendiri. Jika kita selalu berpegang pada pemahaman yang utuh tentang credo ini. Maka kemungkinan kita tergiur pada tawaran investasi abal-abal akan hilang setidaknya 50%. Itu menurut kami ya.   Sisa 50%-nya? baca terus tips berikutnya ya. #2. Pegang Selalu Nilai Bisnis Ini: Trust itu Diperoleh bukan Diminta Saya pernah sharing di sebuah blog lain bahwa modal utama berwirausaha itu bukan uang, tapi kepercayaan. Dalam praktiknya, trust atau kepercayaan ini tidak pernah diminta. Kepercayaan sesungguhnya harus diperoleh sehingga baru bisa disebut kepercayaan. Dalam hal membangun kepercayaan dalam bermitra, banyak orang memiliki standar masing-masing. Yang tentunya berbeda kadar dari satu orang dengan lainnya. Lalu bagaimana penerapannya dalam menganalisa sebuah tawaran investasi dan/atau kerjasama bisnis? Sederhana saja, gunakan ukuran paling sensitif untuk pribadi anda sebagai penilaian awal. Selebihnya akan muncul intuisi-intuisi tidak terduga seperti yang pernah saya alami berikut ini. Dalam perjalanan saya berwirausaha yang baru seumur jagung ini, ada satu hal yang selalu saya pegang dalam hal bermitra; “Tidak akan lebih tinggi seseorang dengan merendahkan orang lain, tidak akan lebih mulia seseorang dengan menghinakan orang lain.” Biasanya, dalam hal kita bertemu dengan orang baru, sudah sewajarnya kita mencoba mencari orang-orang yang dia kenal dan kita juga kenal. Meski terkadang korelasinya terlalu jauh, biasanya ini efektif menjadi “jembatan” untuk saling menakar reputasi masing-masing dalam industri yang akan kita kerjasamakan baik dalam bentuk investasi maupun kooperasi. Ketika membicarakan orang yang saling kita kenal itulah kemudian kita bisa menakar bagaimana nilai calon partner kita ini. Baca juga: Belajar dari Kekecewaan Terlepas dari benar atau tidaknya hal yang dibicarakan, tentu akan lebih elok apabila kita bisa mendapati kesimpulan bahwa calon partner kita bisa menjaga diri dari merendahkan dan/atau menghinakan pribadi orang yang kita sebut “jembatan perkenalan” itu tadi. #3. The Devil is in The Detail Setelah tawaran investasi kita takar wajar dalam hal resiko dan return yang dijanjikan. Setelah kita sekadar yakin atas kepribadian calon partner kita. Tips terakhir ini yang butuh tenaga ekstra namun butuh kecepatan karena merupakan pertimbangan terakhir kita menyatakan iya atau tidak. Yup, detail terkait kerjasama menjadi sebuah tahapan yang wajib dipertimbangkan. Karena biasanya dalam detail itulah muncul banyak ketidak-cocokan yang bisa merusak kedua pertimbangan yang sebelumnya di-iyakan. Sebagai contoh; termin pengembalian investasi, hitungan bagi hasil yang disepakati,  mekanisme pembayaran, dll. semuanya bisa menjadi batu sandungan yang mampu meruntuhkan hubungan baik jika tidak disepakati di awal secara terperinci. Dalam fase inilah, sesungguhnya kehadiran akuntan sebagai pihak ketiga sangat dibutuhkan. Professionalismenya harus mampu menjadi pemberi keyakinan (assurance) bagi kedua pihak bahwa dalam perjalanan kerja sama bisnis yang sudah pasti penuh ketidakpastian akan bisa diselesaikan dengan jalur yang saling memenangkan (win-win solution). Featured Link: IDpreneurs – Konsultan Bisnis Usaha Anda Sekian sharing dari kami, semoga bisa menjadi manfaat bagi semua. @hartantoID

pustaka naik kelas daftar rekomendasi buku hartanto

Pustaka Naik Kelas

Ada fase dalam perjalanan bekerja dan berusaha ketika pertanyaan tidak...

hartanto

Copyright @Hartanto.id 2026