N untuk Nyali

Post kali ini bukan tentang nyali mengajak berkelahi ataupun bertengkar. Namun, ini cerita tentang pemimpin. Apa yang membuat seseorang menjadi pemimpin dan bagaimana kita belajar dalam setiap pekerjaan kita, apapun kerjanya. Gemetar rasanya waktu saya harus menghadap pimpinan saat itu. Setelah berulang kali saya cek dan cek ulang sebuah laporan tentang proyek pertama yang saya handle untuk perusahaan tempat saya baru berpindah kerja saat itu. Sebagai orang dengan background keuangan, saya merasa sudah sangat hati-hati mengelola pelaporan keuangan untuk proyek ini. Tapi tetap saja hasil akhirnya minus. Ratusan juta pula. Untuk proyek pertama, dan orang baru di sebuah korporasi menengah ini, saya tidak bisa menyembunyikan kegelisahan saya. Akhirnya, sudah tiba saatnya untuk mulai memaparkan pelaporan akhir proyek ini. Dan, pada baris terakhir saya laporkan saat itu; Maaf Pak, proyek kali ini menghasilkan kerugian untuk perusahaan. Hening, rasanya dunia berhenti. Ruangannya terasa sepi sekali, ditambah lagi hanya ada saya dan Beliau saja di ruangan itu. “Ya sudah, Namanya juga dagang ya adakalanya untung dan kadang rugi.” Singkat, memecah kesunyian dan ketakutan saya. Sudah? Sesederhana itu kah? Beginikah rasanya berwirausaha secara praktis? Ya, benar ini adalah cerita tentang proyek pertama saya di lapangan. Bukan lagi di belakang meja. Kawah Praktik Lapangan Setelah belajar di bangku kuliah yang sudah terpola untuk menghasilkan banker, sepanjang beberapa tahun berikutnya saya hanya mengamati bisnis dari atas kertas. Memang betul saya bisa membaca dan menganalisa bisnis lintas sectoral, tapi ya sekadar diatas kertas. Dari laporan keuangan yang ada, dari berbagai indikasi yang terbaca dari analisa atas berbagai komponen di dalamnya. Setelah memutuskan untuk berpindah tempat kerja. Mindset tentang bisnis benar-benar harus didobrak sedemikian rupa. Hal itulah yang rupanya menjadi agenda tersembunyi atasan langsung saya, yang kebetulan pemilik langsung usaha berupa korporasi lokal kelas menengah ini. Memang sama, bisnisnya lintas sektor mulai dari hotel sampai rumah sakit, mulai dari restoran hingga konstruksi. Bedanya saat ini adalah bahwa saya tidak hanya mengamatinya dari atas kertas kerja audit dan/atau analisa laporan keuangannya. Saya dipaksa belajar lembar demi lembar kejadian nyatanya. Tidak pakai agenda perkenalan berlama-lama, saya langsung diminta terlibat dalam sebuah proyek milyaran. Ya, milyaran pertama saya. Sebuah pekerjaan perbaikan jalur gas di area jawa barat yang mengalami lengkungan di tengah area sungainya. Jadilah itu kawah pertama bagi saya yang tidak akan terlupa. Teknis dan Non-Teknis Banyak sekali shock yang saya alami. Mulai dari perkara teknis dan non-teknis. Mulai dari perihal bicara dengan manager pelaksana hingga meredam protes warga. Semuanya pengalaman baru, di dunia baru, di area yang sama sekali tidak pernah saya sentuh sebelumnya. Maka jadilah saya harus menyingsingkan lengan baju dalam arti seutuhnya; secara fisik maupun psikis. Pagi hingga petang saya letakkan pena yang biasanya menjadi alat kerja saya, berganti dengan berbagai piranti keras pekerjaan lapangan lainnya. Sore hingga malamnya waktunya saya kembali berkutat dengan kertas kerja pelaporan dan segala hal terkait administrasinya. Memberikan saya pengalaman utuh tentang pekerjaan fisik sesungguhnya. Membawa saya kepada pengalaman masa beberapa bulan setelah lulus SMK. Kuli Bangunan dan PHK Pertama Waktu itu sekitar akhir tahun 2002. Saya yang lulusan SMK beradu kondisi dengan susah mencari kerja. Ibu saya, pahlawan saya selama-lamanya, mencoba mencarikan kegiatan untuk anaknya agar tidak malu katanya. Diikutkannya saya dalam rombongan proyek dari kenalannya. Laden, itu posisi saya. Tugasnya membawakan adukan semen dan pasir kepada tukang sepanjang posisi dia dalam bangunan. Jika sudah mulai naik pasangan batu bata, maka adukan (mortar) itu juga harus dibawa ke lokasi beliau diatas. Saya, yang waktu itu memegang ijazah SMK Tekstil jurusan Finishing, masih berharap bisa terlibat hingga akhir proyek. Sehingga bisa masuk kerja di lokasi tersebut karena kebetulan yang dibangun saat itu adalah pabrik tekstil. Tapi apa daya, hanya bertahan sekitar 20 hari dan saya pun mengalami PHK pertama kali. Belakangan saya paham, bahwa memang semakin mendekati finishing maka kebutuhan laden pun menurun. Jadi hanya perkara pengelolaan proyek saja yang mengakibatkan saya mengalami PHK pertama. “Bapak tuh pasti pernah ngalamin jadi kuli bangunan ya? Kelihatan banget kalo sayang sama tukang dan laden.” Sebuah kalimat dari Mang Enggol, tukang di proyek saya sendiri, sekitar dua puluh tahun setelahnya. Apa yang Membuat Seseorang Menjadi Pemimpin? “Pak Tan, ini namanya Laporan Perhitungan Laba Rugi kan?” Tanya Boss saya, yang membuyarkan lamunan saya. Di ruangan meeting itu, jauh setelah jam kantor berakhir, hanya kami berdua. Dan itu adalah awal kebiasaan kami untuk deep talk. Yang sejatinya, menjadi wadah saya belajar dari Beliau secara intensif. “Iya Pak, memang itu penamaan standarnya secara profesi” jawab saya secara lugu. Secara saya karyawan baru, mau setinggi apapun posisi saya di kantor itu, pun yang bertanya di depan saya adalah atasan saya, pemilik perusahaan pula. “Kalo emang namanya gitu, ya berarti sah-sah saja kalo hasil hitungannya rugi kan?” tukas Beliau, santai. Membuat saya tidak bisa menahan untuk bertanya; Kenapa bisa sesantai itu Pak? Lanjut lah pembicaraan itu menjadi catatan penting bagi saya. Tentang wirausaha secara umum, hingga ajaran strategis dan taktis lainnya. Di mana yang terpenting dari momen itu adalah tentang nyali. Yang selalu beliau ulang-ulang; Ya, Beliau dan akhirnya satu kantor, memang lebih suka memanggil saya dengan suku kata tengah nama saya. Semua nasihat Beliau menjadi bekal berharga bagi perjalanan panjang saya berikutnya. Yang khusus dari kejadian kali ini adalah, bahwa ini merupakan proyek pertama saya, lebih tepatnya proyek milyaran pertama saya. Yang anehnya, impact ke saya justru menebalkan makna wejangan a la Jawa yang sudah lama jadi pegangan saya; “Ojo gumunan, ojo getunan, ojo kagetan, ojo aleman” Memang sudah lama itu jadi salah satu “sangu” saya sebagai orang keuangan. Sehingga berapapun angka yang tertera dalam data saya tidak menjadikan saya silau. Tapi bedanya memang, ini laporan dari sebuah pekerjaan yang saya terlibat langsung, sementara laporan yang biasanya saya audit dan analisa adalah hasil kerja orang lain. Membaca Diri, Membaca Orang Lain Dari kejadian di atas, jadilah bekal bagi saya untuk mengenali berbagai fenomena sesama pengusaha pemula. Tidak sedikit dari rekan saya yang terasa sekali “kagetan”-nya. Dan, itu pun menjadi alasan terjadinya kejadian-kejadian miss-management berikutnya. Berapa banyak dari kita yang menyaksikan pedagang kecil jadi kalap saat menerima order membludak? Sehingga seolah untungnya tidak terasa? Benarlah kemudian kata salah satu
Peluang Baru Kewirausahaan

Kewirausahaan tidak hanya mengacu pada ide-ide baru tetapi juga pada tindakan nyata yang membuka pintu gerbang bagi peluang baru kewirausahaan. Hal ini dapat berupa produk inovatif, ekspansi ke pasar yang belum dieksplorasi, atau bahkan pembentukan organisasi baru. Bagaimana seorang pengusaha memahami dan menjalankan strategi kewirausahaannya dapat menentukan kesuksesan dari peluang usaha atau peluang bisnis baru ini. Bundel Sumber Daya dan Pembentukan Peluang Baru Kewirausahaan Pada intinya, strategi kewirausahaan melibatkan penciptaan dan eksploitasi peluang baru. Peluang-peluang ini mungkin muncul dari pengenalan produk baru, penetrasi pasar baru, atau bahkan pembentukan organisasi yang benar-benar baru. Bagaimana seorang pengusaha memanfaatkan strategi kewirausahaannya mencerminkan serangkaian keputusan, tindakan, dan reaksi yang bertujuan untuk menghasilkan dan kemudian mengeksploitasi peluang baru tersebut. Bundel sumber daya menjadi dasar bagi peluang-peluang baru ini. Dengan menggabungkan pengetahuan pasar, teknologi, dan sumber daya lainnya, seorang pengusaha menciptakan fondasi yang kuat untuk memasuki arena bisnis yang belum dieksplorasi. Namun, keberhasilan jangka panjang dari peluang baru ini tergantung pada seberapa berharga (valueable), langka (rare), dan sulit untuk ditiru (inimitable) dari bundel sumber daya yang mendasarinya. Penilaian dan Eksploitasi Peluang Baru Penciptaan bundel sumber daya yang baru merupakan langkah awal. Pengusaha kemudian perlu menentukan apakah bundel tersebut benar-benar bernilai, langka, dan sulit untuk ditiru. Ini melibatkan penilaian tentang apakah produk baru atau pasar baru tersebut cukup menarik untuk dieksploitasi. Keputusan untuk memanfaatkan atau tidak memanfaatkan peluang baru kewirausahaan ini bergantung pada sejauh mana seorang pengusaha memiliki informasi yang cukup untuk membuat keputusan dan apakah jendela kesempatan masih terbuka. “Lebih baik memulai dengan tidak sempurna, daripada menunggu sempurna tapi kehilangan momentum.” Kemampuan pengusaha untuk menilai informasi yang cukup bergantung pada stok informasi yang tersedia dan tingkat kenyamanan pengusaha untuk membuat keputusan tanpa informasi yang sempurna. Dalam dunia yang cepat berubah, kadang-kadang pengusaha harus mengambil risiko dengan informasi yang terbatas untuk tidak kehilangan peluang berharga yang mungkin tidak lagi tersedia di masa depan. Ini adalah tantangan kritis dalam eksploitasi peluang baru usaha. Keunggulan Bersaing dan Manfaat Menjadi Pemain Pertama Kesuksesan dalam memanfaatkan peluang baru memerlukan bahwa perusahaan pengusaha memiliki keunggulan bersaing. Pengusaha sering kali mengklaim bahwa keunggulan bersaing mereka berasal dari menjadi yang pertama di pasar. Memimpin sebagai pemain pertama bisa memberikan sejumlah keuntungan yang dapat meningkatkan kinerja, seperti keuntungan biaya, persaingan yang berkurang, pengamanan sumber pasokan dan distribusi penting, memperoleh posisi utama di pasar, dan mendapatkan keahlian melalui partisipasi awal. Namun, menjadi pemain pertama tidak selalu berarti sukses. Bahkan ada kondisi tertentu yang dapat mendorong pemain pertama menuju kerugian kinerja. Ketidakstabilan tinggi dalam lingkungan sekitar peluang baru, kurangnya kemampuan di antara tim manajemen untuk mendidik pelanggan, dan kurangnya kemampuan tim manajemen untuk mendirikan hambatan masuk dan imitasi untuk memperpanjang waktu kepemimpinan/keunggulan perusahaan adalah beberapa faktor yang dapat mengubah keuntungan pemain pertama menjadi kerugian. Risiko dan Strategi Mengurangi Ketidakpastian Peluang baru kewirausahaan selalu membawa risiko, terutama karena pengusaha seringkali tidak pasti tentang permintaan pasar, perkembangan teknologi, dan tindakan pesaing. Untuk mengurangi sebagian atau semua ketidakpastian ini dan dengan demikian mengurangi risiko kerugian, pengusaha dapat menggunakan strategi tertentu. Dua strategi tersebut adalah cakupan pasar dan imitasi. Cakupan Pasar Cakupan pasar adalah pilihan pengusaha tentang kelompok pelanggan mana yang akan dilayani dan bagaimana cara melayani mereka. Sebagai contoh, pilihan antara cakupan yang sempit dan luas dapat memengaruhi seberapa banyak perusahaan akan terlibat dalam inovasi dan seberapa banyak mereka akan mengambil risiko. Kedua-duanya memiliki implikasi besar untuk kesuksesan dalam eksploitasi peluang baru. Imitasi Imitasi, di sisi lain, melibatkan meniru praktik perusahaan lain, apakah perusahaan-perusahaan itu berada dalam industri yang akan dimasuki atau dalam industri terkait. Pendekatan “me too” dan penerapan model bisnis waralaba adalah contoh strategi imitasi. Ini dapat membantu mengurangi ketidakpastian karena perusahaan dapat belajar dari keberhasilan dan kegagalan orang lain, serta mengadopsi praktik terbaik. Organisasi Baru: Beban dan Kelebihan dari Kedalaman Baru Selain menciptakan produk atau menjelajahi pasar baru, kewirausahaan juga dapat berarti pembentukan organisasi baru. Namun, ini membawa tantangan tersendiri bagi pengusaha yang tidak dihadapi oleh mereka yang mengelola perusahaan yang sudah mapan. Tantangan ini, dikenal sebagai beban kebaruan, mencerminkan biaya yang lebih tinggi dari belajar tugas-tugas baru, konflik yang meningkat atas peran dan tanggung jawab yang baru dibuat, dan kurangnya jaringan komunikasi informal yang baik. Meskipun begitu, organisasi baru juga dapat memiliki beberapa kelebihan dari kebaruan, yang paling penting adalah peningkatan kemampuan untuk mempelajari pengetahuan baru. Ini dapat memberikan keunggulan strategis yang penting dibandingkan dengan pesaing mapan, terutama dalam lingkungan yang dinamis dan berubah. Kesanggupan organisasi baru untuk belajar dengan cepat dan beradaptasi dapat menjadi pembeda kritis dalam mencapai keberhasilan jangka panjang. Kesimpulan Sebagai rangkuman, kewirausahaan bukan hanya tentang menciptakan hal-hal baru tetapi juga tentang mengelola risiko, memanfaatkan keunggulan bersaing, dan mengadaptasi strategi untuk mengurangi ketidakpastian. Pengusaha yang sukses harus pandai membuka pintu peluang baru kewirausahaan, menilai risiko secara bijak, dan menggunakan keahlian kewirausahaan mereka untuk mencapai kinerja dan inovasi yang berkelanjutan.
Pertaruhan Sumber Daya Manusia

“Menurut kamu, apa challenge berikutnya?” tanya beliau kali ini. Seperti biasanya, perbincangan berdua dengan para mentor selalu saya manfaatkan untuk belajar. Sebisa mungkin mendengar, bertanya hanya jika terdesak, bicara hanya jika diminta. Kali ini rupanya benar-benar saya ditanya oleh beliau, perihal usaha yang kita kelola bersama. Lebih tepatnya, saya sekadar bantu beliau kelola. “Fase berikutnya setelah scale-up ya standarnya di human resource management sih Pak” jawab saya standar. Sekilat mungkin, sembari tidak sabar menunggu elaborasi dari beliau. Memang, kondisinya seharusnya sudah memasuki tantangan sumber daya manusia kali ini. “Ya, lebih tajam lagi; penempatan personel tim secara tepat.” Tantangan UMKM: Ketepatan Di Tengah Keterbatasan Sumber Daya Manusia Memang betul, UMKM atau rintisan mempunyai keterbatasan dalam hal sumber daya. Tidak terkecuali sumber daya manusia. Saat PR mengenai scale-up telah terakomodir, maka tantangan berikutnya adalah HRD. 1. Memahami Dinamika UMKM Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) membentuk tulang punggung ekonomi nasional, memainkan peran penting dalam mendorong inovasi dan memberikan peluang pekerjaan. Namun, perjalanan skala usaha bagi UMKM datang dengan sejumlah tantangan unik. Tidak seperti perusahaan besar, UMKM sering beroperasi dengan sumber daya terbatas, anggaran yang ketat, dan struktur organisasi yang lebih kecil. Saat UMKM memulai langkah ekspansi, HR menjadi penentu keberhasilan. Tantangannya terletak pada pemahaman dinamika khusus yang membedakan UMKM. Berbeda dengan perusahaan besar, UMKM sering beroperasi dengan tim yang lebih kecil, menuntut pendekatan yang lebih serbaguna dari para profesional HR. Dari merekrut dan mempertahankan bakat hingga membentuk budaya perusahaan, HR di UMKM perlu menavigasi tantangan ini dengan kefasihan strategis. “Kalo gw taruh orang yang lapangan banget ke ranah manajerial dan/atau perencanaan strategis, kita bakalan kehilangan dua pos. Eksekusi dan Strategi nggak optimal jadinya.” Begitu pelajaran dari mentor saya kali ini. 2. Strategi Rekrutmen dan Akuisisi Personel Salah satu tantangan terdepan yang dihadapi UMKM selama scale-up adalah menarik dan mempertahankan bakat terbaik. Persaingan untuk profesional berkompeten sangat ketat, dan UMKM sering bersaing dengan perusahaan lebih besar dengan sumber daya yang lebih besar. Untuk mengatasi hambatan ini, strategi akuisisi bakat dan rekrutmen strategis menjadi penting. UMKM dapat memanfaatkan kelincahan mereka sebagai keunggulan. Kecepatan memungkinkan mereka mengimplementasikan pendekatan rekrutmen inovatif, seperti membangun merek pengusaha yang kuat yang menekankan peluang dan tantangan unik bekerja di UMKM yang berkembang. Jaringan dalam lingkaran industri, bermitra dengan institusi pendidikan, dan memanfaatkan platform online juga dapat memperkuat upaya rekrutmen. Kerja sama dengan komunitas lokal dan memupuk budaya kerja yang positif adalah elemen tambahan yang dapat membuat UMKM lebih menarik bagi calon karyawan. Dengan menyoroti peluang pertumbuhan karir, lingkungan kerja yang mendukung, dan rasa tujuan, UMKM dapat bersaing dengan sukses untuk menarik bakat terbaik dibandingkan perusahaan besar. “Yakinkan bahwa bergabung dengan kita artinya juga menjadi besar bersama kita. Sense of ownership itu yang harus dipastikan sedari awal” 3. Menanamkan Budaya Perusahaan yang Kuat Seiring dengan pertumbuhan UMKM, menjaga dan membina budaya perusahaan yang kuat menjadi semakin penting. Berbeda dengan organisasi yang lebih besar, UMKM sering memiliki lingkungan kerja yang lebih akrab di mana kontribusi setiap anggota tim terasa nyata. Kedekatan ini menciptakan peluang unik untuk membangun budaya yang bersatu dan positif yang terasa di seluruh organisasi. Para profesional HR di UMKM harus secara proaktif terlibat dalam membentuk dan menjaga budaya yang sejalan dengan nilai dan tujuan perusahaan. Komunikasi memainkan peran sentral—memastikan bahwa tim memahami misi, visi, dan nilai bersama perusahaan menciptakan rasa memiliki dan tujuan. 4. Mengelola SDM dengan Sumber Daya Terbatas Keunikan UMKM, terutama dalam hal sumber daya yang terbatas, mendorong perlunya pengelolaan SDM yang lebih efektif dan efisien dibandingkan dengan korporasi besar. Dengan tim yang mungkin lebih kecil dan dana yang terbatas, UMKM perlu fokus pada strategi yang memberikan dampak maksimal dengan sumber daya yang tersedia. Pentingnya Peran HR dalam Sumber Daya Manusia (yang Terbatas) Penting bagi HR di UMKM untuk memahami prioritas bisnis utama dan menyelaraskan strategi sumber daya manusia dengan tujuan pertumbuhan jangka panjang. Ini melibatkan identifikasi bakat internal, pengembangan keterampilan internal, dan penciptaan jalur karir yang jelas untuk memanfaatkan potensi penuh tim yang ada. Keterlibatan dan pengembangan karyawan menjadi kunci. Dengan memahami aspirasi karyawan dan memberikan pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan bisnis, UMKM dapat memaksimalkan potensi setiap individu dalam tim. Kreativitas dalam merancang kebijakan insentif dan pengembangan karyawan juga dapat meningkatkan motivasi dan retensi karyawan. Tentu, tantangan sumber daya memerlukan solusi yang cerdas dan inovatif. HR di UMKM perlu menjadi pemimpin strategis yang mengarahkan sumber daya manusia menuju tujuan bisnis, sambil tetap sensitif terhadap keterbatasan yang mungkin ada.
Pembelajar Yang Tangkas

Membuka Kesuksesan dengan menjadi Pembelajar yang Tangkas – sebuah kehebatan kemampuan belajar dalam hidup Di tengah lanskap kerja yang dinamis dan terus berkembang, kemampuan beradaptasi dengan cepat bukan hanya sifat berharga—ini adalah kebutuhan. Masuklah learning agility, sebuah keterampilan yang sangat dicari yang memberdayakan individu untuk meraih wawasan dari pengalaman, memastikan keberhasilan dalam situasi yang tidak dikenal. Artikel ini menggali esensi menjadi pembelajar yang tangkas dan menyajikan strategi praktis untuk meningkatkan learning agility Anda. Memiliki sosok profesional dengan kemampuan ini dapat membantu bisnis Anda tumbuh dan berkembang. Memahami Learning Agility: Kunci untuk Kehandalan Profesional yang Luwes Learning agility bukan sekadar kata yang sedang tren; ini adalah keterampilan kunci yang berkontribusi pada penciptaan tenaga kerja yang fleksibel, mobile, dan tahan banting. Bayangkan seorang pemimpin yang dengan lancar mentransfer keahliannya di berbagai bagian organisasi, menunjukkan adaptabilitas dan kecakapan. Individu dengan learning agility tinggi muncul sebagai ahli yang diandalkan untuk proyek-proyek bergengsi dan posisi-posisi berdampak tinggi, menjadi tulang punggung inovasi dan kemajuan organisasi. 3 Ciri Pembelajar yang Tangkas Untuk mencari tahu siapa saja dalam organisasi Anda yang memiliki kemampuan ini – si pembelajar yang tangkas, ada 3 ciri yang dapat Anda perhatikan dari sosok mereka. 1. Rasa Ingin Tahu sebagai Dorongan Pembelajar yang tangkas memiliki rasa ingin tahu yang tak terpuaskan. Mereka didorong untuk mengeksplorasi dan memahami kompleksitas berbagai subjek, membentuk pola pikir yang merangkul pembelajaran berkelanjutan. Sosok ini biasanya selalu memiliki: “WHY” dalam benaknya. Pertanya kenapa ini yang mendorong dia mencari tahu lebih lanjut mengenai sesuatu hal dan hal inilah yang membuatnya selalu belajar dan belajar. 2. Adaptabilitas dalam Aksi Terbuka terhadap perubahan adalah pijakan learning agility. Pembelajar yang tangkas menyambut situasi baru dengan pandangan positif, melihat tantangan sebagai peluang pertumbuhan daripada rintangan. Mudah beradaptasi terhadap rintangan yang ada bukanlah dalam arti melarikan diri dari rintangan, namun secara kreatif (ditunjang dengan ciri nomor 1 di atas), sosok ini akan mencari cara dan solusi dari rintangan yang dihadapkan kepadanya. 3. Penyelesaian Masalah yang Efektif Kemampuan untuk menavigasi tantangan kompleks adalah ciri khas learning agility. Pembelajar yang sigap dan unggul dalam menganalisis masalah, merancang solusi inovatif, dan mengimplementasikannya dengan cemerlang. Strategi untuk Meningkatkan Learning Agility Sosok pembelajar ini sebenarnya dapat “diciptakan”. Berikut cara agar menjadi sosok pembelajar tangkas seperti yang disebutkan di atas. 1. Variasi Pengalaman Cari aktif peluang untuk terlibat dalam berbagai pengalaman, baik dalam atau di luar peran Anda saat ini. Paparan terhadap berbagai tantangan memperluas keterampilan Anda dan meningkatkan adaptabilitas. Kembangkan diri dengan berbagai keterampilan – jangan batasi diri di dalam kotak Anda saat ini. 2. Terima Umpan Balik dengan Positif Umpan balik konstruktif adalah alat yang kuat untuk pertumbuhan. Kembangkan pola pikir yang menyambut umpan balik sebagai jalan untuk perbaikan, dan gunakan untuk menyempurnakan pendekatan dan strategi Anda. 3. Bentuk Jaringan Pembelajaran Lingkupi diri Anda dengan individu yang menginspirasi pembelajaran. Jaringan dengan beragam sudut pandang memberikan wawasan berharga dan mendorong perkembangan berkelanjutan. 4. Tetapkan Tujuan yang Menantang Dorong batasan Anda dengan menetapkan tujuan yang ambisius namun dapat dicapai. Menghadapi tantangan langsung mengembangkan ketahanan dan mengasah kemampuan Anda untuk belajar efektif di bawah tekanan. 5. Refleksi atas Pengalaman Luangkan waktu untuk merenung atas pengalaman Anda. Mengambil pelajaran dari keberhasilan dan kegagalan memperkaya pemahaman Anda. Selain itu hal ini dapat meningkatkan kapasitas Anda untuk menerapkan pengetahuan baru. Menjadi Pembelajar yang Tangguh dari Sekarang Di dunia di mana perubahan adalah satu-satunya konstan, learning agility muncul sebagai penentu permainan. Dengan menggambarkan ciri-ciri pembelajar yang tangkas dan menerapkan strategi untuk perbaikan terus-menerus, individu dapat menempatkan diri mereka sebagai aset tak tergantikan dalam setiap lanskap profesional. Saat kita merangkul sifat berkembangnya pekerjaan, membudayakan learning agility bukan hanya keterampilan tetapi mindset—yang mendorong kita menuju kesuksesan berkelanjutan dan pemenuhan dalam karier kita.
Tentang Penipuan

KamiSharing kali ini bicara tentang penipuan oleh orang yang sudah dipercaya. Kita tak bisa menduga apa yang bisa dilakukan oleh seseorang, sekalipun telah mengenalnya sekian lama. Pagi ini saya dapat kesempatan emas, untuk ngopi bareng seorang mentor. Kesederhanaan, itu yang selalu saya pelajari dari beliau. Tapi kali ini, untuk lebih ke sekian kalinya saya bertandang ke rumah beliau, saya kembali berharap belajar hal baru dari beliau. Sempat salah lokasi ke rumah yang baru, rupanya Beliau sedang di rumah bertuahnya. Di situ ada meja pingpong yang digunakan warga sekitar untuk ngariung, menghabiskan pagi, mencari keringat, sembari menjalin kedekatan di perumahan yang lekat dengan hidup sendiri-sendiri. “Saya habis kena tipu orang kepercayaan saya Mas.” Beliau mengawali ceritanya, membuat sruputan kopi saya agak terjeda. Beliau? Kena tipu? Tapi sebisa mungkin saya tidak bertanya. Jaga diri, kan ini sepertinya ini hal sensitif untuk diceritakan. Dan, saya juga sedang khusyu’ dengan lontong dan tahu Sumedang yang menemani obrolan tentang penipuan kali ini. Cerita Tentang Penipuan – Background Story “Mas pernah dengar PT. XXX? Itu usaha saya sejak 2014, tapi sudah auto pilot. Saya hampir nggak pernah aktif disitu. Disamping itu lebih bersifat social entrepreneur, membantu para petani mendistribusikan hasil panennya ke beberapa teman nongkrong saya yang buka usaha F&B” Rupanya Beliau melanjutkan ceritanya. Tentang bagaimana seorang kepercayaannya di bisnis yang dimaksud melakukan telikung yang cukup tajam dan kentara. Bagaimana mungkin seseorang yang dipasrahi bisnis sedemikian all-out-nya justru membuka pintu pengkhianatan? Bayangkan; jaringan petani dari yang bersangkutan, jaringan pembeli dari yang bersangkutan, modal dari yang bersangkutan, sistem dari yang bersangkutan. Koq bisa-bisanya seseorang yang dikaruniai kemudahan semacam itu masih kepikiran untuk nelikung? Tentang Sifat Rakus Manusia “Orang itu Mas, kalo udah ketemu rakus ya nggak akan ada cukupnya. Mau dikasih segimana juga pasti otaknya mikir kurang dan kurang terus.” Kembali Beliau menjelaskan dan saya pun kembali mencatat. Sembari menyeruput kopi, pikiran saya pun berkembara ke dalam adegan di sebuah film lama. Saya ingat judulnya Hacker, yang menceritakan sekelompok anak muda yang melakukan kejahatan perbankan berupa carding. Dalam sebuah adegan, ada quote yang entah kenapa terngiang membersamai seruputan kopi saya kali ini; “Money doesn’t change people, it reveals them” Bahwa uang tidak membuat orang berubah, dia hanya menunjukkan siapa orang itu sebenarnya. Entah kenapa saya lebih suka sudut pandang ini ketimbang beberapa nasihat yang bernada sebaliknya; menyalahkan uangnya sebagai faktor pengubah. Terdengar lebih introspektif. Ya, saya sepakat bahwa uang tidak pernah membuat orang berubah, dia hanya menunjukkan watak asli dari orang tersebut. Yang barangkali belum terlihat jelas sebelumnya. Label Harga Seseorang “Saya niatkan usaha itu untuk sama-sama bekerja sosial Mas, karena hitungannya pasti mepet kalo secara keuangan. Tokh dia juga masih aktif bekerja sebagai professional, sebagaimana saya. Hanya saja manakala dia berubah haluan ingin menjadikannya ladang cuan dengan cara-cara kotor; tekan petani untuk dapat harga beli murah dan menipu pelanggan untuk dapat harga jual mahal, kedua arah dengan membawa nama saya. Di situ dia melabeli harganya sendiri.” Sesungguhnya inilah yang jadi pikiran saya sedari awal; apakah tokoh kita ini nggak tau siapa yang dia telikung? Betapa sempit pola pikirnya jika dia merasa bisa menipu seperti itu selamanya? Lebih jleb lagi manakala mentor saya kali ini bilang, bahwa ini hanya efek jera buat dia. Saya tau sampai titik mana saya harus kembali menolongnya. Di sinilah label itu berfungsi; menunjukkan harganya. Sementara yang dipertunjukkan oleh mentor saya ini; kesederhanaan dalam segala aspek. Setiap kali saya berkesempatan bertemu selalu saja “seragamnya” kaos putih a la Pak Tani dan celana olahraga seadanya. Sembari melayani tetangga kompleks untuk sekadar ngopi dan main pingpong. Meski saya seringkali dengar cerita kehebatannya dari seantero jaringannya. Dari para petinggi daerah hingga tokoh nasional. Semua seolah tidak membuat beliau silau. Justru disitulah letak kemuliaan, tidak pada yang tampak tapi yang tersembunyi. Rumus Socio-Preneur a la Beliau “Sedari tadi rasanya yang ada adalah list of don’t semua ya Pak?” Tanya saya. Rupanya Beliau paham maksud saya, as always. “Manfaatkan jaringan atasmu untuk membantu jaringan bawahmu. Itu rumus kebermanfaatannya Mas.” Beliau memungkasi penuturannya. Siapapun pasti punya jaringan, circle kalo kata anak sekarang. Dan, di antara circle kalian pasti ada lapis-lapis berbeda mengacu pada kebutuhan ekonomis dan pemenuhannya. Coba telusuri, berapa dari jaringan kita yang di bawah bisa tertolong dengan kita menjadi jembatan untuk terkoneksinya dengan jaringan kita yang di atas? Ya, sesederhana itu untuk menjadi seorang sociapreneur a la beliau. “Karena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfa’at bagi manusia lainnya” Tapi ingat, bermanfaat ya. Bukan dimanfaatkan, apalagi ditipu. “Eh, jadi gimana nasibnya sekarang Pak?” saya jadi kepo ingin tahu kelanjutan cerita tentang penipuan yang tertangkap basah itu. Setelah merugikan berbagai pihak selama sekitar dua tahun itu. “Sudah diselesaikan secara kekeluargaan Mas, bagi saya selama dia kooperatif dan mau mengakui kesalahannya itu jalan yang terbaik.” Tukas beliau. “Wah, kalo masih mencak-mencak dan coba ingkar sih bisa jadi selesai se-keluarga-nya ya Pak? Eh…
Wanita dalam UMKM

Tentang Wanita dalam UMKM: Mengapa Sedikit UMKM Dipimpin Wanita? Tren rendahnya perempuan dalam memimpin Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) seringkali membuat kita bertanya-tanya: apa yang sebenarnya terjadi di belakang layar? Banyak teori populer yang beredar, mulai dari pandangan bahwa perempuan tidak cocok menjadi pemimpin hingga anggapan bahwa mereka lebih suka menjalankan peran di belakang layar. Namun, apakah benar bahwa kurangnya perempuan di kursi kepemimpinan UMKM sepenuhnya merupakan pilihan mereka sendiri? Menyingkap Rintangan: Wanita dan Kepemimpinan Mari kita gali lebih dalam. penulis berpendapat bahwa masalah ini kurang berkaitan dengan kapabilitas perempuan dan lebih kepada bagaimana kita mengartikan kualitas kepemimpinan. Apakah mungkin bahwa sifat-sifat tertentu yang sering dihubungkan dengan kepemimpinan malah menjadi rintangan bagi para wanita? Menurut penulis, satu hal yang signifikan adalah kesalahpahaman terhadap sifat-sifat kepemimpinan. Percaya diri, yang sering dianggap sebagai karakteristik yang melekat pada pemimpin pria, terkadang disalahartikan sebagai kompetensi. Dengan kata lain, seseorang yang penuh percaya diri tetapi mungkin kurang kompeten bisa jadi lebih mudah mencapai puncak tangga karir daripada rekan wanitanya yang sebenarnya lebih berkualifikasi. Namun, Bagaimana Hal Ini Berkaitan dengan UMKM? Bagi para pelaku UMKM, terutama para wanita yang menjalankan bisnis mereka sendiri, penerimaan keliru terhadap sifat-sifat kepemimpinan dapat menjadi penghalang yang signifikan. Dalam dunia yang semakin kompetitif ini, penting untuk menyadari bahwa kepemimpinan tidak selalu identik dengan arogansi atau kepercayaan diri yang berlebihan. Jika kita menghubungkan ini dengan konteks UMKM, penting untuk memahami bahwa kepemimpinan tidak selalu harus bersifat dominan atau ekstrovert. Sebagai pemilik UMKM, keberhasilan seringkali ditentukan oleh kemampuan untuk bersikap inklusif, mendengarkan, dan berkolaborasi. Mungkin saatnya kita mengubah pandangan kita tentang sifat-sifat kepemimpinan yang efektif dalam ranah UMKM. Jadi, apa langkah-langkah yang bisa diambil, terutama oleh para wanita dalam UMKM Indonesia, untuk mengatasi rintangan ini? Langkah-Langkah Mengatasi Rintangan Terkait Wanita dalam UMKM Pertama-tama, adalah penting untuk mengakui dan merayakan keunikan dan kelebihan yang dimiliki oleh para pemimpin perempuan. Kreativitas, empati, dan kemampuan berkolaborasi adalah aset berharga yang sering dimiliki oleh para wanita dalam dunia bisnis. 1. Penciptaan Budaya Kepemimpinan Inklusif Untuk para pemilik UMKM, langkah pertama adalah menciptakan budaya kepemimpinan yang inklusif. Ini melibatkan penghargaan terhadap perbedaan dan penerimaan terhadap berbagai gaya kepemimpinan. Dalam lingkungan yang mendukung, perempuan akan merasa lebih nyaman untuk mengembangkan potensi kepemimpinan mereka. 2. Pemberdayaan Melalui Pelatihan dan Pengembangan Penting untuk memberdayakan para pelaku UMKM, terutama perempuan, melalui pelatihan dan pengembangan kepemimpinan. Program pelatihan yang fokus pada pengembangan keterampilan manajerial, komunikasi efektif, dan pengelolaan tim dapat membantu meratakan lapangan bermain. 3. Mendorong Gaya Kepemimpinan yang Berbeda Menyadari bahwa kepemimpinan tidak memiliki satu ukuran yang pas untuk semua, pelaku UMKM dapat mendorong pengakuan dan penerimaan terhadap gaya kepemimpinan yang berbeda. Perempuan sering membawa pendekatan yang lebih kolaboratif dan mendengarkan, yang bisa menjadi keunggulan dalam mengelola tim dan menghadapi tantangan bisnis. 3. Penetapan Kriteria Kepemimpinan yang Holistik Dalam proses rekrutmen atau promosi manajerial, kriteria kepemimpinan harus diperluas. Selain aspek-aspek seperti adaptabilitas dan kreativitas, penilaian juga seharusnya mencakup kemampuan untuk membangun hubungan yang kuat dan memotivasi tim. Ini membantu menciptakan landasan yang lebih menyeluruh untuk mengevaluasi potensi kepemimpinan. 4. Jaringan dan Dukungan Komunitas Membangun jaringan dan mendapatkan dukungan dari komunitas bisnis dapat menjadi langkah penting. Melalui mentorship dan kolaborasi, perempuan dalam UMKM dapat mendapatkan pandangan berharga dan dukungan yang diperlukan untuk mengatasi tantangan dan meraih sukses. Republik Jejaring Sosial Hartanto·Desember 14, 2011·0 comments Kamisharing Apa yang terjadi sekarang, bisa jadi hanya merupakan mimpi di masa lalu. Nampaknya kutipan tersebut sangat pas disematkan untuk fenomena social media yang makin marak sekarang ini. Dan kali ini, saya coba berbagi sudut pandang lain dari fenomena tersebut, benar-benar dari sudut.Beberapa waktu lalu pernah ditayangkan di televisi seorang penarik becak melakukan “marketing” jasanya melalui… Continue Reading 5 DETIK PERTAMA Hartanto·Februari 13, 2020·0 comments Reboan INTERPERSONAL SKILL Statistik menunjukkan, bahwa UKM yang berhasil bertahan melewati tahun pertama hanya 20%. Kemudian menjadi kurang dari 50%-nya yang melewati tahun berikutnya. Ini menjadi bukti bahwa eksekusi yang baiklah yang menjadikan ide bernilai mahal. Sejauh pengalaman saya, sedari 2016 menemani beberapa rekan tumbuh UMKM dan startup, banyak bertebaran ide yang sangat bagus yang hanya… Continue Reading 5. Kampanye Kesadaran dan Pendidikan Penting untuk menyadarkan seluruh komunitas bisnis akan manfaat keberagaman dalam kepemimpinan. Kampanye kesadaran dan pendidikan dapat membantu mengubah persepsi tentang sifat-sifat kepemimpinan dan menumbuhkan apresiasi terhadap peran unik yang dimainkan oleh perempuan dalam dunia UMKM. 6. Inisiatif Kebijakan yang Mendukung Pemerintah dan organisasi bisnis dapat berkontribusi melalui inisiatif kebijakan yang mendukung kehadiran perempuan dalam kepemimpinan. Ini termasuk program dukungan keuangan, insentif untuk pelibatan perempuan dalam pelatihan bisnis, dan langkah-langkah lain yang menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan peran perempuan di UMKM. Mari Perkaya Lanskap Bisnis dengan Berbagai Perspektif Melalui kombinasi dari solusi-solusi ini, diharapkan bahwa UMKM dapat menjadi lebih inklusif, menciptakan kesempatan yang setara bagi perempuan dalam posisi kepemimpinan. Selain itu diharapkan wanita dalam UMKM dapat memperkaya lanskap bisnis dengan berbagai perspektif yang berharga. Kunci utamanya adalah berfokus pada kemampuan, potensi, dan kontribusi yang unik yang dibawa oleh setiap pemimpin, tanpa memandang jenis kelamin.
Percaya Diri atau Berani?

Mas, apa yang harus dimiliki untuk mulai usaha; percaya diri atau berani? Sebuah pertanyaan mendarat di sesi ngopi pagi yang seharusnya lebih santai. Tapi namanya juga saya ditraktir, ya tidak pantas rasanya kalo saya kaget atas pertanyaan tadi. Ditambah lagi, ini bukan kali pertama ada teman yang nanya begitu kepada saya. Dan, seperti biasanya saya selalu menjawab dengan pertanyaan balik; kenapa nanyanya ke saya? Karena seringkali pertanyaan justru datang dari teman sepermainan, seumuran, dan bahkan tidak jarang dari seseorang yang secara usia lebih tua. “Sederhana saja Mas, kan memang saya pengen mulai berwirausaha. Kira-kira apa yang harus dipersiapkan?” 3 Persiapan Berwirausaha ala Hartanto Kalau ditanya apa saja persiapan berwirausaha, setidaknya ada 3 hal yang perlu dipersiapkan oleh semua orang, yaitu: 1. Komitmen dan Harganya Banyak yang menyampaikan bahwa modal utama bisnis adalah kepercayaan. Tapi tidak banyak yang bersedia menceritakan bagaimana kepercayaan itu diperoleh. Sebagai contoh saja, modal untuk berjualan segerobak bakso barangkali tidak lebih dari sekitar Rp 5juta lengkap satu gerobak berikut isinya. Jika melihat angka itu hari-hari ini, rasanya siapa saja dengan kemauan kuat bisa memperoleh modal itu dengan cepat. Melalui pinjaman kepada teman misalnya. Tapi harga modal itu tidak berhenti di angka 5juta, yang kemudian bisa dikembangkan menjadi aktivitas jualan berbulan dan tahun lamanya. Yang tentunya sudah sering kita dengar cerita penjual bakso yang sukses kemudian memilliki kedai sendiri, dan bahkan berhasil membentuk kelompok usaha berpuluh gerobak jumlahnya. Mari kita kilas sebentar, bagaimana tidak semua orang berhak mendapat modal 5juta itu. Dan bagaimana orang lainnya bisa dengan mudah memperolehnya? Ya, kepercayaan. Lalu bagaimana jika 5juta itu diperoleh dari pinjaman pertama kalinya? “Dalam pengalaman saya, komitmen untuk menepati janji di tahap pertama transaksi seringkali adalah kunci terbukanya kepercayaan yang sangat berharga untuk kesuksesan berikutnya.” Bahkan, seringkali lebih mahal dari sekadar hitungan untung-rugi atas besarnya modal itu sendiri. Misalnya, dalam memenuhi janji pengembalian utang 5juta modal awal tadi, seorang pemula bisa saja bahkan menelan kerugian untuk sekadar bisa mengembalikan utangnya. Tapi yang terjadi sebenarnya adalah dia sedang membeli kepercayaan sebagai modal berikutnya. 2. Berencana dan Berani Mewujudkannya Setelah kepercayaan diperoleh sebagai modal dasar, maka menjaganya menjadi tugas berikutnya yang tidak kalah menantang. Untuk hal yang berikutnya ini, seperti juga seharusnya di tahap awal sebelumnya, seharusnya kegagalan tidak boleh muncul di benak setiap orang yang akan berwirausaha. Tentu juga untuk hal yang berikutnya, dan berikutnya lagi. “Lalu bagaimana caranya Mas?” ternyata teman saya ini masih menyimak dan melanjutkan pertanyaannya. Membuat saya jadi kembali ingat bahwa dia sedang mau memulai usahanya di kota tempat tinggal saya. Beliau ini niat sekali untuk mewawancara saya di setiap kesempatan ngopi pagi bareng. Sementara saya paling suka menggali cerita masa lalu darinya, yang kebetulan satu almamater dengan saya. “Fokus, Bergerak, dan Bersabar. Karena akan selalu ada masanya dalam setiap usaha waktunya untuk kondisi kita berhasil, atau kondisi di mana kita harus belajar.” Dalam pemahaman saya saat ini, yang sangat membedakan antara pola pikir saya saat menjadi karyawan sebuah korporasi besar, kemudian berpindah kepada korporasi kecil dengan posisi yang lebih dekat kepada pemilik, hingga sekarang menjalani usaha sendiri, adalah keterdesakan untuk senantiasa bergerak dan mencari solusi yang terasa lebih terasah. Atau lebih tepatnya; dipaksa untuk diasah. Maka benarlah kiranya yang disampaikan oleh Pak Sandiaga Uno dulu; bahwa entrepreneurship itu bukan sebentuk profesi melainkan pola pikir untuk selalu menemukan solusi dari sebuah keadaan. Jika itu yang menjadi dasar, maka siapapun kita mampu menjadi entrepreneur dalam setiap ruang lingkup aktivitas kita. Kita bisa jadi ASN yang entrepreneur, karyawan yang entrepreneur, atau juga bahkan pengusaha yang entrepreneur. 3. Berserah, Berpasrah, Berkah Barangkali sudah tidak terhitung kejadian di mana saya merasa sudah lama tidak bergerak. Lalu saya putuskan untuk sekadar berperjalanan, menjalin silaturahmi baik kepada kenalan lama atau membuat jaringan baru. Lalu kemudian hasilnya pintu rejeki berikutnya justru bukan dari tempat di mana saya bertandang, melainkan dari pihak nun jauh di sana yang bahkan tidak ada dalam list kita? Setiap kejadian itu mengingatkan saya kembali kepada kenyataan bahwa tugas kita hanya berusaha, sedangkan hasil sudah ditentukan oleh-Nya. Justru, setiap kejadian serupa d iatas semakin memantapkan langkah saya. Bahwa ini jalan yang memang sudah disiapkan oleh-Nya. Setidaknya dalam setiap perjalanan ini saya dapati pembelajaran untuk senantiasa berpasrah. Sehingga setiap keberhasilan yang dipergilirkan untuk kita bisa menikmatinya, membawa kita untuk lebih dekat kepada-Nya. Wirausaha – Kenapa Gak? Mungkin 3 persiapan berwirausaha yang saya sebutkan bukanlah persiapan yang teoritis – yang kita bisa dapatkan dalam buku-buku wirausaha lainnya. Namun, 3 persiapan membuka usaha di atas adalah dari pengalaman saya sendiri. Dari semua pengalaman yang pernah saya lalui dan lewati, semua membawa pikiran saya ke satu hal: “Portal dari setiap peningkatan selanjutnya adalah melalui bagian dari dirimu yang kamu hindari. Karena pertumbuhan sering diawali dengan ketidaknyamanan” Jika kamu tidak siap dengan ketidaknyamanan, seperti yang saya ceritakan di kisah 3B – Bergerak, Bertahan dan Bertumbuh, ada baiknya berpikir ulang untuk memulai usaha ini. Sebaliknya, jika siap, kenapa gak mulai persiapan berwirausaha sekarang?
Desember dan Kehebohannya

“Sudah Desember (akhir tahun) saja nih Mas, nggak kerasa setahun 2023 hampir berakhir. Banyak target rasanya belum tercapai atau terlaksana secara maksimal. Wajar nggak sih Mas? Perasaan begini terus tiap tahun?!” Seorang teman kemudian melanjutkan ceritanya perihal betapa menumpuknya pekerjaan di akhir tahun; penyesuaian anggaran, laporan biaya, laporan performa, gaji dan bonus, siklus penjualan, retensi pelangga, persediaan dan rantai pasokan, serta segala keruwetan lainnya yang dilengkapi dengan kesulitan dalam mempertahankan fokus. Menjelang akhir tahun memang bisa menjadi waktu yang menegangkan, terutama ketika harus menghadapi permintaan mendadak menjelang Tahun Baru. Agar Anda tidak terjebak dalam situasi yang menuntut, berikut adalah lima strategi yang dapat membantu mengatasi situasi darurat tersebut dengan lebih terorganisir: 5 Strategi Akhir Tahun agar Lebih Terorganisir 1. Antisipasi dan Konfirmasi Jika Anda memiliki firasat bahwa permintaan mendadak dapat datang, bijaklah untuk mengajukan pertanyaan lebih awal. Antisipasi dapat memberikan gambaran lebih baik dan mempersiapkan diri untuk tanggapan yang lebih efektif. 2. Manfaatkan Cuti Dengan Bijak Hak cuti adalah hak Anda. Jangan ragu untuk memanfaatkannya dengan bijak, terutama ketika ada kebutuhan mendadak. Jangan ragu untuk berkomitmen sepenuhnya pada waktu istirahat Anda. Pikirkan juga agar Anda dapat menghadapi permintaan mendadak yang mendobrak area cuti anda, seperti permintaan rapat mendadak di sela cuti? Kunci dari menghadapi hal ini adalah seni untuk mengatakan tidak secara tepat. 3. Klarifikasi Tugas dengan Jelas Sebelum mengambil langkah-langkah konkret, pastikan Anda memahami dengan jelas apa yang diminta dari Anda. Klarifikasi yang baik dapat mencegah kesalahpahaman yang tidak diinginkan. Hal ini untuk menghindari adanya permintaan lebih lanjut yang sebetulnya tidak perlu karena ketidakjelasan atas permintaan sebelumnya. Kondisi ini setidaknya menuntut dua keahlian. Pertama, adalah seni dalam membuat permintaan. Kedua, kejelasan dalam membuat perintah. Apalagi jika itu adalah sebuah permintaan mendadak di waktu yang mendesak, maka kejelasan (clarity) adalah kunci. 4. Prioritaskan Kewajiban Dalam situasi genting, bijaklah dalam menetapkan prioritas. Pilih kewajiban yang paling krusial dan perlakukan dengan urgensi. Fokus pada hal-hal yang paling esensial. Sebagai sebuah tips, anda bisa membuat list pertanyaan yang mungkin bisa ditanyakan kepada diri sendiri; Di sepanjang Desember yang padat jadwal ini, jika ada waktu yang sedikit longgar, apa yang akan dilakukan? Apakah ada rapat atau rencana pertemuan yang bisa dijadwalkan ulang ke Januari tahun depan?Adakah pekerjaan dalam list Desember kita yang memiliki dampak yang kurang signifikan? Pencegahan untuk Tahun Berikutnya Sambil mengatasi situasi saat ini, berpikirlah tentang langkah-langkah pencegahan agar tidak mengalami kesulitan yang serupa di tahun mendatang. Upaya pencegahan selalu lebih baik daripada pemulihan. Ada Tips Menghadapi Akhir Tahun Lain? Dengan menerapkan strategi-strategi ini, diharapkan akhir tahun Anda menjadi lebih terkelola dan tidak membebani. Apakah ada tips lain yang biasa Anda lakukan jelang akhir tahun seperti ini? Ataukah hanya jalani apa adanya seperti biasa saja?
Bergerak – Bertahan – Berkembang

“Gimana sih cara lo bertahan Bro?” Sebuah pertanyaan mengawali perbincangan sore itu. Dengan seorang teman lama, sahabat, dan bahkan sudah saya anggap sebagai kakak karena perannya. Kami pernah belajar di tempat yang sama, bekerja di kota yang sama. Dalam sebuah periode pernah saya panggil dia Boss, dan di periode berikutnya dia panggil saya Boss. Memulai: Sebuah Tiket Satu Arah “Lo resign gw tau kayak apa beratnya, dan sepengetahuan gw jadinya nggak punya gajian lagi. Bulanan pasti berat, banyak cicilan, tapi Lo bertahan. Bahkan tidak hanya bertahan, gw lihat Lo berkembang. Apa sih rahasianya?” Kembali pertanyaannya terelaborasi dengan jelas. Dan, saya butuh waktu lama untuk mencoba menjawab secara gamblang. Sebab dalam pandangan saya, tidak bisa dipungkiri bahwa lebih banyak keberuntungan dibandingkan keberhasilan dalam kisah kewirausahaan saya. “Gini loh Bro, kita sama-sama banker sebelumnya. Dan sekarang, kita sama-sama tau; gw udah jauh dari kapasitas itu. Bahkan tepat saat ini kondisi gw boleh dibilang menggelikan untuk dikaitkan dengan background sebagai banker…” Dia melanjutkan ceritanya, kondisinya, keluhannya. Dan, saya mencoba menjadi pendengar yang baik. Tapi rupanya bukan itu yang ingin dia dapati. Dia butuh ngobrol, butuh jawaban. Maka jawaban saya; “Mungkin karena gw udah kepepet, jadinya sebisa mungkin bergerak maju. Karena resign yang Lo inget waktu itu gw ambil adalah tiket satu arah. Tidak ada jalan kembali selain berubah dari pria berpenghasilan tetap menjadi pria yang tetap berpenghasilan.” Susu Habis – Sebuah Penanda Maka kemudian mengalirlah cerita kami berdua sembari mencari irisan tiap peristiwanya. Tak lupa kami mencatat setiap kegagalan sebagai bentuk pembelajaran, dan keberhasilan sebagai wujud kesyukuran. “Terus di momen apa Lo merasa ini jalan yang tepat?” Waduh, sejujurnya pertanyaan ini juga selalu terngiang di kepala saya. Karena bagi saya, keputusan untuk memulai dengan tiket satu arah tadi sudah bulat. Tapi permasalahannya adalah saya memulai Ketika sudah memiliki istri dan 3 orang anak, bahkan anak ketiga kami lahir berselang bulan setelah saya resign. Saya masih sangat ingat komentar seorang teman kala itu; “kalo Boss tau Lo bakalan punya anak bayi lagi gw yakin nggak akan diijinin tuh Lo resign” Maka kemudian saya coba uraikan bahwa perasaan mantap bahwa ini jalur yang tepat adalah saat istri tidak lagi uring-uringan saat susu sang bayi hampir habis. Dia tidak lagi diam seribu bahasa dengan muka masam. Atau yang lebih perih apabila dia kemudian meminta ijin untuk mengganti merk susu yang mahal itu dengan yang lebih sesuai dengan saldo rekening. Hingga di sebuah sore, susu anak ketiga kami habis. Tapi istri saya tersenyum dan bilang; “Bapak insya Allah mau dapat rejeki lagi deh, soalnya susu si kecil sudah hampir habis.” Dengan senyum termanis yang selalu menjadi modal terbesar saya. Saat itulah saya merasa; inilah jalan yang tepat, inilah hal yang layak untuk diperjuangkan. “Sebentar, ini soal apa sih? Koq jadinya gw yang diwawancara?” Momentum dan Angka 40 “Gini…. Akhirnya mengalir lah cerita dari sahabat, saudara, dan kakak kelas saya ini. Bagaimana kondisinya, yang menurut dia berada di titik yang paling menyedihkan sepanjang perjalanannya hingga saat ini. Dari sisi keuangan, perjalanan karir, hubungan keluarga, hingga kandasnya impian untuk bisa menjalin hubungan ke jenjang yang lebih serius. Hingga akhirnya meluncur lah kalimat tanya di awal tadi; gimana caranya bertahan hidup? Tapi kali ini ditambah dengan harapan darinya, bahwa barangkali ini turning point dia setelah menapaki usia 40. Dan seperti biasa, diskusi kami selalu bisa lintas sudut pandang. Karena meski berbeda keyakinan beragama, tapi sahabat saya ini satu dari beberapa teman berbeda keyakinan yang bisa sangat terbuka untuk diskusi perihal sensitive sekalipun tentang perihal agama. Pertama, kelilingi diri dengan networking yang mendukung untuk bertumbuh. Saya merasa sangat beruntung bahwa bahkan di tempat kerja terakhir mendapatkan akses untuk networking tersebut dan juga kesempatan belajar. Demikian juga setelah resign, saya bersyukur bisa berkenalan dan dikelilingi orang-orang yang memberikan banyak sekali kesempatan dan pembelajaran. Baik yang lebih senior maupun yang relative lebih muda dari saya, semuanya memberikan hikmah pembelajaran. Saya sering bilang kepada beberapa teman; dari yang muda saya belajar untuk tetap menjaga semangat dan kemauan belajar, dan dari yang muda saya belajar tentang kewaspadaan dan kebijaksanaan. Kedua, mulai saja dari apa yang sengaja atau tidak sengaja kita berada di ranah itu sekarang. Kami sama-sama orang keuangan secara background pendidikan, kemudian sahabat saya ini mendapat kesempatan untuk mendalami audit di bidang IT. Jadilah itu bridging untuk membuat dia seperti sekarang ini; digital enthusiast. Maka saya minta yang bersangkutan untuk menyusun semacam portfolio yang bisa ditawarkan secara massif terkait digital agency dan layanan turunannya. Ketiga, syukuri momentum untuk menjadi amunisi agar senantiasa bergerak dan berkembang. Banyak sudah cerita seseorang memulai usaha seolah karena keterpaksaan. Bagi saya itu hanya momentum, yang harus dijaga dan disyukuri. Karena terkadang seseorang harus berada di tempat yang tidak dikehendaki, untuk dapat membangun kekuatan yang bahkan tidak dia bayangkan untuk dimiliki. 40 dan 3 Arah Jadi, kembali kepada perihal angka 40 tahun. Sedari diucapkan oleh sahabat saya ini cukup mengundang ketertarikan saya untuk berbincang perihal keistimewaannya. Dikabarkan bahwa angka 40 memang sebuah titik penentu. Jika baik dia di saat berumur 40, maka akan seterusnya baik. Sebaliknya jika saat berumur 40 masih suka akan keburukan, maka hal itu akan menjadi candu yang sulit dihilangkan. Boleh dibilang, umur 40 adalah waktunya manusia kembali kepada fitrahnya. Sebagaimana ditegaskan Khairil Anwar; “Sekali berarti, sudah itu mati”. Barangkali itulah alasan kenapa usia 40 juga dianggap sebagai usia kematangan, kedewasaan, kemampuan untuk memimpin. Konon, ketika Imam Syafi’i berumur 40 tahun, ia berjalan memakai tongkat. Ketika ditanya hal itu ia berkata, “Supaya saya selalu ingat bahwa saya adalah seorang musafir.” Setidaknya ada tiga tanggung jawab yang diemban oleh mereka yang berumur 40+. Pertama, tanggung jawab ke atas yaitu taat kepada Allah dan Rasulullah, menghormati kedua orang tua dengan ketaatan, kesabaran, finansial dan perhatian. Kedua, tanggung jawab ke bawah yakni menyayangi dan menguatkan anak-anaknya dengan ilmu, pengarahan, kasih sayang, finansial dan teladan. Ketiga, tanggung jawab ke samping, yaitu bersinergi dengan mitra hidup, istri/suami, saudara/i, dan tetangga dalam rangka membangun rumah tangga dan kehidupan sosial masyarakat yang rukun, aman dan damai. Bertahan Lalu Berkembang Bagi saya, sudah sejak lama saya mengangankan; mau dikenal sebagai apa nanti saya setelah
Pengembangan Bisnis (Business Development)

“Mendorong Pertumbuhan: Peran Pakar Pengembangan Bisnis bagi UKM” Dalam lanskap bisnis yang cepat dan kompetitif saat ini, Usaha Kecil dan Menengah (UKM) memainkan peran penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan inovasi. Namun, UKM menghadapi tantangan unik, dan untuk menghadapi medan yang kompleks ini, peran Pakar Pengembangan Bisnis menjadi sangat penting. Artikel ini akan membahas pentingnya Pengembangan Bisnis bagi UKM dan mengapa keahlian sosok satu ini menjadi sangat berharga. Menggali Potensi: Signifikansi UKM UKM adalah tulang punggung banyak ekonomi, berkontribusi secara signifikan terhadap lapangan kerja, PDB, dan inovasi. Mereka sering memiliki kegesitan dan kreativitas yang mungkin kurang dimiliki oleh perusahaan besar. Namun, UKM sering menghadapi keterbatasan dalam hal sumber daya, akses pasar, dan arah strategis. Peran Penting Pengembangan Bisnis bagi UKM Pengembangan Bisnis bagi UKM bukan hanya tentang pertumbuhan; ini tentang pertumbuhan yang berkelanjutan dan strategis. Berikut adalah mengapa ini sangat penting: Perluasan Pasar Pakar Pengembangan Bisnis membantu UKM mengidentifikasi pasar baru dan peluang perluasan. Mereka memberikan wawasan tentang tren pasar, analisis pesaing, dan identifikasi audiens target. Perencanaan Strategis Mengembangkan strategi pertumbuhan yang komprehensif sangat penting bagi UKM. Business Development Specialist akan bekerja erat dengan UKM untuk menciptakan rencana yang disesuaikan dengan tujuan jangka panjang mereka. Membangun Hubungan Membangun dan merawat hubungan dengan klien potensial, mitra, dan investor penting bagi UKM. Pakar ini biasanya unggul dalam jaringan dan membangun koneksi ini. Pembiayaan dan Akuisisi Modal Akses modal bisa menjadi tantangan besar bagi UKM. Dalam hal inilah, dibutuhkan seorang Business Developmet Specialist yang akan membantu UKM mempersiapkan presentasi investor dan mengatasi kompleksitas dalam mendapatkan dana. Pengembangan Produk dan Layanan Beradaptasi dan berinovasi dalam produk dan layanan sangat penting untuk tetap kompetitif. Pakar Pengembangan Bisnis memberikan panduan tentang pengembangan produk, layanan dan posisi UKM di pasar saat ini dibandingkan para pesaingnya. Efisiensi Biaya dan Optimisasi Sumber Daya UKM sering beroperasi dengan sumber daya terbatas. Pakar Pengembangan Bisnis membantu mengidentifikasi peluang penghematan biaya, menyempurnakan proses, dan mengoptimalkan alokasi sumber daya. Mitigasi Risiko Setiap bisnis memiliki risiko. Pakar Pengembangan Bisnis membantu UKM mengidentifikasi risiko potensial dan mengembangkan strategi untuk menguranginya. Perluasan Skala Seiring dengan pertumbuhan, UKM menghadapi tantangan unik. Pakar Pengembangan Bisnis memberikan panduan dan keahlian yang diperlukan untuk mengembangkan operasi dengan efisien. Mengapa Pakar Pengembangan Bisnis Penting: Para pakar ini membawa keterampilan khusus yang mungkin tidak dimiliki UKM secara internal. Mereka menawarkan perspektif segar dan membawa pengetahuan, kontak industri, dan pengalaman yang berlimpah. Keahlian mereka dapat membuat perbedaan besar dalam kesuksesan dan pertumbuhan UKM. Itulah Peran Pakar Pengembangan Bisnis untuk UKM! Dalam lanskap bisnis yang terus berubah, UKM harus tetap kompetitif dan tangkas. Pakar Pengembangan Bisnis memainkan peran kunci dalam merancang jalur untuk mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan dan sukses bagi UKM. Keahlian mereka dalam ekspansi pasar, perencanaan strategis, membangun hubungan, dan lainnya adalah instrumen penting dalam membantu UKM mengatasi tantangan dan memanfaatkan peluang. Saat UKM terus berkembang, peran Pakar Pengembangan Bisnis semakin penting, memberikan keahlian dan panduan yang diperlukan untuk membuka potensi penuh dari kontributor penting ini terhadap perekonomian global.