7 Panduan Otomasi Pemasaran untuk UMKM FnB

Bagaimana sih bisnis F&B saya bisa naik kelas? Salah satunya dengan otomasi pemasaran yang dapat diterapkan di bisnis UMKM F&B Anda. Simak lengkapnya dalam tulisan kali ini. Beberapa rekan tumbuh menanyakan soal scale-up; seringkali saya jawab bahwa coba cek dulu, apakah memang sudah saatnya scale-up? Buat saya, bisnis juga ada umur dan kepantasannya. Sehingga jika dipaksakan untuk sebuah fase yang tidak sesuai dengan masanya. Misalnya, jika bisnis di fase awal di mana produk dan target pelanggannya belum jelas, di mana semua prosesnya adalah manual. Maka mungkin yang dibutuhkan adalah buat bagaimana agar usaha Anda memiliki “ruang sendiri” dalam persaingan, dan nilai khas yang bisa meningkatkan levelnya. Berikutnya jika fase tadi sudah terlampaui, maka barangkali sudah waktunya untuk memikirkan otomasi dalam pemasaran. Sehingga, kondisi yang selalu diidamkan oleh setiap pengusaha; bisnisnya jalan meskipun ditinggal pemilknya jalan-jalan, menjadi selangkah lebih dekat. Kali ini coba saya uraikan sedikit contoh dari kasus otomasi pemasaran untuk rekan tumbuh yang bergerak di bidang F&B. Otomasi Pemasaran untuk UMKM Bidang F&B: Mengangkat Bisnismu ke Level Berikutnya Bisnis UMKM di bidang Food and Beverage (F&B) seringkali dihadapkan pada tantangan sumber daya terbatas, namun otomasi pemasaran bisa menjadi kunci sukses untuk meningkatkan kinerja dan dampak bisnismu. Berikut adalah panduan langkah-demi-langkah untuk menerapkan otomasi pemasaran dengan spesifik untuk UMKM F&B: 1. Positioning: Menjadi Khas dalam Keunikanmu Bagi bisnis F&B, mungkin Anda memiliki hidangan atau konsep yang menjadi daya tarik utama. Posisikan bisnismu sebagai yang terbaik dalam aspek ini. Misalnya, jika Anda terkenal dengan kue-kue khas daerah, jadilah ahli dalam bidang tersebut. Biarkan pelanggan mengidentifikasi Anda sebagai destinasi utama. Adapun ukuran dari “utama” disini juga beragam ya, tergantung cakupan bisnis yang akan dikejar, bisa level nasional, menggunakan ukuran pasar online, dan lain sebagainya. 2. Traction Channels: Fokus pada Komunikasi yang Menarik Pilih beberapa saluran pemasaran yang efektif, seperti media sosial dan platform pesan instan. Bedakan diri Anda dengan konten yang menarik, seperti resep unik, proses pembuatan menu, atau behind-the-scenes dari dapur Anda. Pastikan untuk berfokus pada pelanggan potensial yang berpotensi menjadi pelanggan setia. Hal ini sejalan dengan tujuan awal bahwa Anda harus menjadi beda. Seperti kata Pandji; Sedikit lebih beda adalah lebih baik daripada sedikit lebih baik. Dan, fokus pada traksi tertentu ini juga menghemat energi, jangan jadi latah dalam ranah digital. Jika seseorang sukses di sebuah platform misalnya, bukan berarti bisnis Anda cocok di situ hanya karena Anda merasa bisa mempelajarinya. 3. Reusable Content Pieces: Maksimalkan Konten yang Mudah Dikonsumsi Buat artikel informatif tentang bahan-bahan lokal yang Anda gunakan, dan bagikan potongan dari artikel tersebut di media sosial atau grup komunitas. Sertakan panggilan tindakan yang mengarahkan pelanggan potensial untuk mengeksplorasi lebih lanjut di situs web atau datang langsung ke toko Anda. Ketika Ekonomi Bertemu Kreativitas: Menakar Kewirausahaan Digital dari Kacamata Nilai dan Pilihan Hartanto·Oktober 31, 2025·2 comments Reboan Ekonomi mengajarkan kita berpikir rasional, sementara kewirausahaan menuntun kita untuk bermimpi. Dunia digital membutuhkan keduanya agar inovasi tidak sekadar gemerlap, tapi juga berkelanjutan. Ketika Inovasi Menjadi Mimpi yang Tak Ekonomis Beberapa tahun lalu, saya berbincang dengan seorang founder startup lokal yang memiliki ide cemerlang: platform digital untuk membantu UMKM menjual produk kreatif ke pasar global.… Continue Reading Membaca Masa Depan Organisasi: Belajar dari Tren dan Praktik Nyata Hartanto·Juli 23, 2025·0 comments Reboan Di sebuah ruang kerja kecil di Jakarta Selatan, Andini — pemilik usaha katering sehat “DapurNusa” — tengah memeriksa laporan penjualan mingguannya. Tak seperti dulu, ia kini tak lagi bergantung pada buku catatan manual. Ia membuka dashboard online sederhana, membaca tren pesanan, hingga mengetahui kapan pelanggan biasanya melakukan repeat order. “Saya belajar dari pandemi. Dulu semua… Continue Reading 4. Email Automation: Meningkatkan Keterlibatan Pelanggan Buat serangkaian email yang mengajak pelanggan melalui perjalanan emosional, mulai dari mengenalkan produk unggulan hingga memberikan penawaran eksklusif. Jangan lupa untuk menyesuaikan pesan-pesan ini berdasarkan preferensi pelanggan dan pembelian sebelumnya. Contoh otomasi email: 5. Retargeting Ads (FB/IG): Pertimbangan Setelah Kunjungan Ke Situs Gunakan iklan retargeting di Facebook dan Instagram untuk menarik pengunjung yang mungkin telah mengunjungi situs web atau halaman media sosial Anda. Berikan penawaran eksklusif atau diskon untuk mendorong pembelian. Contoh otomasi retargeting: 6. Unique Mechanism: Keunikan dalam Proses Pembuatan atau Penyajian Identifikasi keunikan dalam cara Anda menyajikan makanan atau minuman. Mungkin ada teknik khusus atau bahan-bahan lokal yang membuat hidangan Anda istimewa. Komunikasikan hal ini melalui media sosial dan situs web. 7. Irresistible Offer: Tawaran yang Menggoda Selera Itu Dia 7 Panduan Otomasi Pemasaran untuk UMKM F&B, Namun… Tak berarti Anda, sebagai owner F&B harus melakukan semua marketing automation di atas ya. Bergantung pada kebutuhan dan karakteristik bisnismu, beberapa elemen otomasi dapat dihilangkan atau ditambahkan. Untuk itu, Anda perlu melakukan penilaian atas bisnis Anda saat ini dan otomasi pemasaran mana yang cocok untuk bisnis Anda saat ini. Dengan menerapkan otomasi pemasaran ini, bisnis UMKM F&B Anda dapat meningkatkan visibilitas, menarik pelanggan potensial, dan meningkatkan retensi pelanggan. Selamat mencoba!
Cerita Pitching

“Mas, kita ketemu calon investor nih. Dampingin buat pitching ya.” Sebuah pesan masuk dari #rekantumbuh nun jauh di sana. Saya senang, setiap kali ada kabar semacam ini. Bagi saya, artinya ada kesempatan yang terbuka. Saya meyakini bahwa kesempatan itu tidak datang dengan sendirinya melainkan diburu oleh rekan-rekan saya. “Oke Mas, jadi apa yang bisa saya bantu?” tanya saya secara antusias. Value to Put On the Table Saya selalu menganalogikan bahwa bagaimanapun juga ini adalah jual-beli. Hanya saja obyek yang diperjual-belikan adalah berupa kepemilikan perusahaan. Maka sebagaimana jual-beli pada umumnya, nilai transaksi adalah kesepakatan yang harus dicapai di awal. “Berapa nilai yang akan ditawarkan Mas?” tanya saya yang kemudian dijawab dengan bisik-bisik oleh rekan saya ini. “Apakah ada ruang negosiasi yang cukup?” tanya saya lagi, yang kali ini juga dijawab dengan bisik-bisik. “Sebentar, valuasi perusahaan sudah disampaikan?” nah, kalo yang ini dia jawab dengan suara lantang; “ya karena itulah saya kontak Mas Tan” Nah, gini nih. Ini ibarat mau ngelamar tapi tidak ada yang ngomong duluan. Saling nggak enak, atau entah karena apa, yang ada pembicaraan berapa kali pun jadinya stagnan dan tidak ada progress. Karenanya saya selalu mengatakan bahwa nilai perusahaan yang akan dijual harus disampaikan di awal, karena itulah dasar transaksi dan kesepakatan-kesepakatan berikutnya. Sebagai contoh sebuah usaha rintisan yang sudah beroperasi 5 (lima) tahun, dan berencana untuk menjual 25% kepemilikannya kepada investor untuk tujuan ekspansi cakupan usaha. Maka semua akan mandeg kalo tidak bisa dijawab berapa nilai perusahaan yang akan dijual? Sehingga 25%-nya itu berapa nilainya? Sehingga investor bisa memutuskan fase-fase negosiasi berikutnya. Tentang Pitching: Ruang Negosiasi Non-Teknis “Oke Mas, kalo itu udah deh saya pasrah aja sama njenengan. Nah, setelahnya ngapain?” tanya rekan tumbuh saya ini. “Ya tinggal tawar-menawar lah, situ kan yang punya perusahaan?”jawab saya sekenanya. Sebenarnya ya tidak terlalu sekenanya juga, karena tokh esensinya memang begitu. Sekali nilai sudah ditetapkan dan disampaikan kepada calon investor, berikutnya ya harus dibuka ruang untuk negosiasi. Karena tentu investor punya sudut pandang sendiri tentang nilai perusahaan yang akan dia akuisisi. Background dan juga karakter bisnis si investor juga sangat berpengaruh. Sebagai contoh seperti halnya yang pernah saya alami, seorang investor yang biasa main property barangkali akan susah untuk relevan dengan bisnis digital. Coba saja bayangkan, dengan uang puluhan milyar di dunia digital bisa jadi hanya untuk pembelian cloud dan berbagai infrastrukturnya. Sedangkan dengan angka yang sama dia sudah bisa membebaskan lahan sekian luas yang jika didiamkan beberapa masa sudah terlihat capital gain-nya. Be Positive, Always Learning “Kalo ditolak gimana Mas?” tanya rekan tumbuh saya kali ini. “Ya gapapa, sebaliknya kalo diterima gimana?” tanya saya sebaliknya. Satu hal yang saya selalu pegang adalah bahwa dalam bisnis tidak ada kata gagal sebagai lawan berhasil. Yang ada hanya kata belajar untuk sebuah keberhasilan yang belum didapatkan. Begitu juga dalam fase negosiasi investasi, mindset pembelajar ini sangat membantu untuk mendapatkan energi positif bagi para penjaja ide dan/atau usaha. Dalam perjalanan puluhan kali pitching yang saya alami, mindset itu sangat membantu. Karena kita tidak bisa mengatur respon orang atas setiap paparan kita. Yang bisa kita kendalikan justru respon kita atas setiap tanggapan dari calon investor. Maka di sinilah pentingnya mindset pembelajar itu tadi, bahwa apapun tanggapan investor akan menjadi pembelajaran bagi kita untuk memperbaiki materi pitching kita sebelumnya. Dari mindset itulah, kemudian berbagai macam pengayaan justru akan didapat dari waktu ke waktu. Hal ini menjadikan materi pitching kita semakin baik dan pada akhirnya pada momentum yang tepat akan menemukan partner sinerginya yang setara. “Jadi, maju aja dulu nih Mas? Saya bingung nih mau kemana selanjutnya kalo yang ini gagal?” kata rekan tumbuh saya ini setengah mendengus. Kali ini benar-benar saya jawab sekenanya; “Wong kejadian aja belum koq bingung? Bingung itu kalo udah ada pilihan Masbro?!”
Berapa Nilai Perusahaanmu?

“Mas, jadi berapa nilai perusahaan saya sekarang?” Ini pertanyaan yang seringkali mendarat kepada saya. Beberapa kemudian saya jawab singkat; “Tergantung berapa Anda menghargai ide dan perjalanan panjang anda mewujudkannya sampai dengan detik ini?”. Dua Aliran dalam Menghitung Nilai Perusahaan Sependek yang saya pelajari, ada dua aliran yang pernah mengemuka menjadi basis pengukuran nilai sebuah usaha. Setidaknya dalam konteks usaha pemula dan UMKM yang sehari-hari saya geluti. 1. Nilai Usaha dari Laporan Pertama, dan sebenarnya ini bukan urutan hanya karena sesuai background saya; adalah aliran yang menghitung nilai perusahaan dari sisi kesehatan laporan keuangan. Sederhananya, membaca laporan keuangan seperti membaca rekaman aktivitas bisnis dari perusahaan. Dari sana bisa terbaca sejuah apa langkah yang sudah ditempuh oleh sebuah bisnis. Dan, dari rekam jejak tersebut dapat dilakukan prediksi dari seberapa jauh perusahaan bisa melangkah ke depannya. 2. Nilai Usaha dari Kapitalisasi Pasar Kedua, dan sekali lagi bukan karena sebuah urutan hanya karena ini bukan bidang yang saya geluti; adalah aliran yang menghitung nilai perusahaan dari sisi kapitalisasi pasar yang ada. Sederhananya, aliran ini lebih memperhitungkan masa depan perusahaan dari potensi yang ada. Aliran ini optimis melihat bahwa jika ada pasar tervalidasi maka perusahaan bisa lebih berfokus pada bagaimana melayaninya sehingga nilai perusahaan bertambah seiring kemampuannya menjadi solusi bagi permasalahan pelanggan. Titik Temu “Jadi bagaimana cara menghitungnya Mas?” Tanya salah satu rekan tumbuh saya. Tentu tidak semudah itu pergussoh… Jadi gambaran yang seringkali saya berikan kepada beberapa rekan tumbuh adalah; Bahwa menilai perusahaan untuk diperjual-belikan tidak sesederhana membeli rumah dengan analisa berbagai aspek sebagaimana dilakukan oleh appraisal. Ya, dengan segala hormat, memang pekerjaannya sama-samai menilai (to appraise) tapi karena objeknya berbeda jadi tentu tingkat kerumitannya berbeda. That’s all. Jari ringkasnya, menilai perusahaan adalah gabungan dari menilai kondisi sekarang dan histori pencapaiannya dengan menggunakan laporan keuangan. Kemudian menggunakannya sebagai predictor masa depan perusahaan dengan mempertimbangkan data pasar dan kapitalisasinya. Itulah yang saya sebut sebagai titik temu. Sehingga kita tidak dibutakan dengan kejayaan masa lalu dari sebuah perusahan, tapi juga tidak disilaukan dengan kapitalisasi pasar yang dijanjikan. Teknis Bagaimana Mengukur Nilai Perusahaan Sejengkal saja ilmu saya soal ini, tapi setidaknya gambarannya seperti ini. Menghitung nilai sebuah perusahaan untuk akuisisi melibatkan berbagai faktor finansial dan non-finansial. Salah satu metode yang umum digunakan adalah analisis Discounted Cash Flow (DCF), yang mengestimasi nilai sekarang dari arus kas masa depan yang diharapkan dari perusahaan. Berikut adalah panduan langkah-demi-langkah: 1. Analisis Laporan Keuangan Dapatkan laporan keuangan perusahaan target, termasuk laporan laba rugi, neraca, dan laporan arus kas. Analisis kinerja historis, tingkat pertumbuhan, dan kesehatan finansial. Unduh Cheatsheet Ingin menilai perusahaan Anda sekarang – lakukan analisan laporan keuangan Anda dengan cheatsheet ini. Unduh Sekarang 2. Proyeksi Arus Kas Masa Depan Buat proyeksi rinci untuk arus kas masa depan perusahaan. Ini umumnya melibatkan proyeksi pendapatan, biaya operasional, pajak, dan belanja modal. Pertimbangkan periode proyeksi selama 5 hingga 10 tahun. 3. Tentukan Tingkat Diskonto Tentukan tingkat diskonto yang sesuai, sering disebut sebagai Biaya Modal Rata-Rata Tertimbang (WACC). WACC mencerminkan biaya pembiayaan operasi perusahaan dan digunakan untuk mendiskonto arus kas masa depan kembali ke nilai sekarang. 4. Diskonto Arus Kas Masa Depan Gunakan formula DCF untuk mendiskonto arus kas masa depan kembali ke nilai sekarang. Formula tersebut adalah: DCF = CF1(1+r)1+ CF2(1+r)2+… CFn(1+r)n Di mana CF mewakili Arus Kas untuk setiap tahun yang sesuai, r adalah tingkat diskonto, n adalah jumlah tahun ke depan. Sederhananya, rumus ini membawa nilai arus kas dari setiap tahun menjadi nilai saat ini, saat diperlukannya pengembilan keputusan. 5. Hitung Nilai Terminal Estimasi nilai terminal, yang mewakili nilai perusahaan di luar periode proyeksi. Ini sering dihitung menggunakan Model Pertumbuhan Gordon atau metode lain yang sesuai. 6. Jumlah Nilai Sebagai Nilai Sekarang Tambahkan nilai sekarang dari arus kas masa depan dan nilai terminal untuk mendapatkan nilai perusahaan secara keseluruhan. 7. Perhitungan Hutang dan Kas Sesuaikan nilai perusahaan untuk hutang dan kas perusahaan target. Kurangkan hutang perusahaan dan tambahkan kasnya untuk mendapatkan nilai ekuitas. 8. Pertimbangkan Metode Penilaian Lain Sementara DCF banyak digunakan, pertimbangkan metode penilaian lain seperti analisis perusahaan sebanding (CCA) dan transaksi terdahulu. Metode-metode ini melibatkan perbandingan perusahaan target dengan perusahaan serupa atau transaksi akuisisi sebelumnya. 9. Negosiasi dan Pemeriksaan Akhir Nilai yang dihitung merupakan titik awal. Negosiasi dengan pihak penjual dan pemeriksaan akhir yang cermat dapat menghasilkan penyesuaian pada harga akuisisi final. 10. Libatkan Profesional Libatkan penasihat keuangan, bankir investasi, atau ahli penilaian untuk memastikan akurasi dan ketidakberpihakan dalam proses penilaian. Penting untuk diingat bahwa penilaian adalah seni dan ilmu. Kondisi pasar, tren industri, dan keadaan khusus perusahaan target semua dapat memengaruhi penilaian final. Selalu cari nasihat profesional ketika melakukan analisis keuangan kompleks untuk akuisisi.
N untuk Nyali

Post kali ini bukan tentang nyali mengajak berkelahi ataupun bertengkar. Namun, ini cerita tentang pemimpin. Apa yang membuat seseorang menjadi pemimpin dan bagaimana kita belajar dalam setiap pekerjaan kita, apapun kerjanya. Gemetar rasanya waktu saya harus menghadap pimpinan saat itu. Setelah berulang kali saya cek dan cek ulang sebuah laporan tentang proyek pertama yang saya handle untuk perusahaan tempat saya baru berpindah kerja saat itu. Sebagai orang dengan background keuangan, saya merasa sudah sangat hati-hati mengelola pelaporan keuangan untuk proyek ini. Tapi tetap saja hasil akhirnya minus. Ratusan juta pula. Untuk proyek pertama, dan orang baru di sebuah korporasi menengah ini, saya tidak bisa menyembunyikan kegelisahan saya. Akhirnya, sudah tiba saatnya untuk mulai memaparkan pelaporan akhir proyek ini. Dan, pada baris terakhir saya laporkan saat itu; Maaf Pak, proyek kali ini menghasilkan kerugian untuk perusahaan. Hening, rasanya dunia berhenti. Ruangannya terasa sepi sekali, ditambah lagi hanya ada saya dan Beliau saja di ruangan itu. “Ya sudah, Namanya juga dagang ya adakalanya untung dan kadang rugi.” Singkat, memecah kesunyian dan ketakutan saya. Sudah? Sesederhana itu kah? Beginikah rasanya berwirausaha secara praktis? Ya, benar ini adalah cerita tentang proyek pertama saya di lapangan. Bukan lagi di belakang meja. Kawah Praktik Lapangan Setelah belajar di bangku kuliah yang sudah terpola untuk menghasilkan banker, sepanjang beberapa tahun berikutnya saya hanya mengamati bisnis dari atas kertas. Memang betul saya bisa membaca dan menganalisa bisnis lintas sectoral, tapi ya sekadar diatas kertas. Dari laporan keuangan yang ada, dari berbagai indikasi yang terbaca dari analisa atas berbagai komponen di dalamnya. Setelah memutuskan untuk berpindah tempat kerja. Mindset tentang bisnis benar-benar harus didobrak sedemikian rupa. Hal itulah yang rupanya menjadi agenda tersembunyi atasan langsung saya, yang kebetulan pemilik langsung usaha berupa korporasi lokal kelas menengah ini. Memang sama, bisnisnya lintas sektor mulai dari hotel sampai rumah sakit, mulai dari restoran hingga konstruksi. Bedanya saat ini adalah bahwa saya tidak hanya mengamatinya dari atas kertas kerja audit dan/atau analisa laporan keuangannya. Saya dipaksa belajar lembar demi lembar kejadian nyatanya. Tidak pakai agenda perkenalan berlama-lama, saya langsung diminta terlibat dalam sebuah proyek milyaran. Ya, milyaran pertama saya. Sebuah pekerjaan perbaikan jalur gas di area jawa barat yang mengalami lengkungan di tengah area sungainya. Jadilah itu kawah pertama bagi saya yang tidak akan terlupa. Teknis dan Non-Teknis Banyak sekali shock yang saya alami. Mulai dari perkara teknis dan non-teknis. Mulai dari perihal bicara dengan manager pelaksana hingga meredam protes warga. Semuanya pengalaman baru, di dunia baru, di area yang sama sekali tidak pernah saya sentuh sebelumnya. Maka jadilah saya harus menyingsingkan lengan baju dalam arti seutuhnya; secara fisik maupun psikis. Pagi hingga petang saya letakkan pena yang biasanya menjadi alat kerja saya, berganti dengan berbagai piranti keras pekerjaan lapangan lainnya. Sore hingga malamnya waktunya saya kembali berkutat dengan kertas kerja pelaporan dan segala hal terkait administrasinya. Memberikan saya pengalaman utuh tentang pekerjaan fisik sesungguhnya. Membawa saya kepada pengalaman masa beberapa bulan setelah lulus SMK. Kuli Bangunan dan PHK Pertama Waktu itu sekitar akhir tahun 2002. Saya yang lulusan SMK beradu kondisi dengan susah mencari kerja. Ibu saya, pahlawan saya selama-lamanya, mencoba mencarikan kegiatan untuk anaknya agar tidak malu katanya. Diikutkannya saya dalam rombongan proyek dari kenalannya. Laden, itu posisi saya. Tugasnya membawakan adukan semen dan pasir kepada tukang sepanjang posisi dia dalam bangunan. Jika sudah mulai naik pasangan batu bata, maka adukan (mortar) itu juga harus dibawa ke lokasi beliau diatas. Saya, yang waktu itu memegang ijazah SMK Tekstil jurusan Finishing, masih berharap bisa terlibat hingga akhir proyek. Sehingga bisa masuk kerja di lokasi tersebut karena kebetulan yang dibangun saat itu adalah pabrik tekstil. Tapi apa daya, hanya bertahan sekitar 20 hari dan saya pun mengalami PHK pertama kali. Belakangan saya paham, bahwa memang semakin mendekati finishing maka kebutuhan laden pun menurun. Jadi hanya perkara pengelolaan proyek saja yang mengakibatkan saya mengalami PHK pertama. “Bapak tuh pasti pernah ngalamin jadi kuli bangunan ya? Kelihatan banget kalo sayang sama tukang dan laden.” Sebuah kalimat dari Mang Enggol, tukang di proyek saya sendiri, sekitar dua puluh tahun setelahnya. Apa yang Membuat Seseorang Menjadi Pemimpin? “Pak Tan, ini namanya Laporan Perhitungan Laba Rugi kan?” Tanya Boss saya, yang membuyarkan lamunan saya. Di ruangan meeting itu, jauh setelah jam kantor berakhir, hanya kami berdua. Dan itu adalah awal kebiasaan kami untuk deep talk. Yang sejatinya, menjadi wadah saya belajar dari Beliau secara intensif. “Iya Pak, memang itu penamaan standarnya secara profesi” jawab saya secara lugu. Secara saya karyawan baru, mau setinggi apapun posisi saya di kantor itu, pun yang bertanya di depan saya adalah atasan saya, pemilik perusahaan pula. “Kalo emang namanya gitu, ya berarti sah-sah saja kalo hasil hitungannya rugi kan?” tukas Beliau, santai. Membuat saya tidak bisa menahan untuk bertanya; Kenapa bisa sesantai itu Pak? Lanjut lah pembicaraan itu menjadi catatan penting bagi saya. Tentang wirausaha secara umum, hingga ajaran strategis dan taktis lainnya. Di mana yang terpenting dari momen itu adalah tentang nyali. Yang selalu beliau ulang-ulang; Ya, Beliau dan akhirnya satu kantor, memang lebih suka memanggil saya dengan suku kata tengah nama saya. Semua nasihat Beliau menjadi bekal berharga bagi perjalanan panjang saya berikutnya. Yang khusus dari kejadian kali ini adalah, bahwa ini merupakan proyek pertama saya, lebih tepatnya proyek milyaran pertama saya. Yang anehnya, impact ke saya justru menebalkan makna wejangan a la Jawa yang sudah lama jadi pegangan saya; “Ojo gumunan, ojo getunan, ojo kagetan, ojo aleman” Memang sudah lama itu jadi salah satu “sangu” saya sebagai orang keuangan. Sehingga berapapun angka yang tertera dalam data saya tidak menjadikan saya silau. Tapi bedanya memang, ini laporan dari sebuah pekerjaan yang saya terlibat langsung, sementara laporan yang biasanya saya audit dan analisa adalah hasil kerja orang lain. Membaca Diri, Membaca Orang Lain Dari kejadian di atas, jadilah bekal bagi saya untuk mengenali berbagai fenomena sesama pengusaha pemula. Tidak sedikit dari rekan saya yang terasa sekali “kagetan”-nya. Dan, itu pun menjadi alasan terjadinya kejadian-kejadian miss-management berikutnya. Berapa banyak dari kita yang menyaksikan pedagang kecil jadi kalap saat menerima order membludak? Sehingga seolah untungnya tidak terasa? Benarlah kemudian kata salah satu
Peluang Baru Kewirausahaan

Kewirausahaan tidak hanya mengacu pada ide-ide baru tetapi juga pada tindakan nyata yang membuka pintu gerbang bagi peluang baru kewirausahaan. Hal ini dapat berupa produk inovatif, ekspansi ke pasar yang belum dieksplorasi, atau bahkan pembentukan organisasi baru. Bagaimana seorang pengusaha memahami dan menjalankan strategi kewirausahaannya dapat menentukan kesuksesan dari peluang usaha atau peluang bisnis baru ini. Bundel Sumber Daya dan Pembentukan Peluang Baru Kewirausahaan Pada intinya, strategi kewirausahaan melibatkan penciptaan dan eksploitasi peluang baru. Peluang-peluang ini mungkin muncul dari pengenalan produk baru, penetrasi pasar baru, atau bahkan pembentukan organisasi yang benar-benar baru. Bagaimana seorang pengusaha memanfaatkan strategi kewirausahaannya mencerminkan serangkaian keputusan, tindakan, dan reaksi yang bertujuan untuk menghasilkan dan kemudian mengeksploitasi peluang baru tersebut. Bundel sumber daya menjadi dasar bagi peluang-peluang baru ini. Dengan menggabungkan pengetahuan pasar, teknologi, dan sumber daya lainnya, seorang pengusaha menciptakan fondasi yang kuat untuk memasuki arena bisnis yang belum dieksplorasi. Namun, keberhasilan jangka panjang dari peluang baru ini tergantung pada seberapa berharga (valueable), langka (rare), dan sulit untuk ditiru (inimitable) dari bundel sumber daya yang mendasarinya. Penilaian dan Eksploitasi Peluang Baru Penciptaan bundel sumber daya yang baru merupakan langkah awal. Pengusaha kemudian perlu menentukan apakah bundel tersebut benar-benar bernilai, langka, dan sulit untuk ditiru. Ini melibatkan penilaian tentang apakah produk baru atau pasar baru tersebut cukup menarik untuk dieksploitasi. Keputusan untuk memanfaatkan atau tidak memanfaatkan peluang baru kewirausahaan ini bergantung pada sejauh mana seorang pengusaha memiliki informasi yang cukup untuk membuat keputusan dan apakah jendela kesempatan masih terbuka. “Lebih baik memulai dengan tidak sempurna, daripada menunggu sempurna tapi kehilangan momentum.” Kemampuan pengusaha untuk menilai informasi yang cukup bergantung pada stok informasi yang tersedia dan tingkat kenyamanan pengusaha untuk membuat keputusan tanpa informasi yang sempurna. Dalam dunia yang cepat berubah, kadang-kadang pengusaha harus mengambil risiko dengan informasi yang terbatas untuk tidak kehilangan peluang berharga yang mungkin tidak lagi tersedia di masa depan. Ini adalah tantangan kritis dalam eksploitasi peluang baru usaha. Keunggulan Bersaing dan Manfaat Menjadi Pemain Pertama Kesuksesan dalam memanfaatkan peluang baru memerlukan bahwa perusahaan pengusaha memiliki keunggulan bersaing. Pengusaha sering kali mengklaim bahwa keunggulan bersaing mereka berasal dari menjadi yang pertama di pasar. Memimpin sebagai pemain pertama bisa memberikan sejumlah keuntungan yang dapat meningkatkan kinerja, seperti keuntungan biaya, persaingan yang berkurang, pengamanan sumber pasokan dan distribusi penting, memperoleh posisi utama di pasar, dan mendapatkan keahlian melalui partisipasi awal. Namun, menjadi pemain pertama tidak selalu berarti sukses. Bahkan ada kondisi tertentu yang dapat mendorong pemain pertama menuju kerugian kinerja. Ketidakstabilan tinggi dalam lingkungan sekitar peluang baru, kurangnya kemampuan di antara tim manajemen untuk mendidik pelanggan, dan kurangnya kemampuan tim manajemen untuk mendirikan hambatan masuk dan imitasi untuk memperpanjang waktu kepemimpinan/keunggulan perusahaan adalah beberapa faktor yang dapat mengubah keuntungan pemain pertama menjadi kerugian. Risiko dan Strategi Mengurangi Ketidakpastian Peluang baru kewirausahaan selalu membawa risiko, terutama karena pengusaha seringkali tidak pasti tentang permintaan pasar, perkembangan teknologi, dan tindakan pesaing. Untuk mengurangi sebagian atau semua ketidakpastian ini dan dengan demikian mengurangi risiko kerugian, pengusaha dapat menggunakan strategi tertentu. Dua strategi tersebut adalah cakupan pasar dan imitasi. Cakupan Pasar Cakupan pasar adalah pilihan pengusaha tentang kelompok pelanggan mana yang akan dilayani dan bagaimana cara melayani mereka. Sebagai contoh, pilihan antara cakupan yang sempit dan luas dapat memengaruhi seberapa banyak perusahaan akan terlibat dalam inovasi dan seberapa banyak mereka akan mengambil risiko. Kedua-duanya memiliki implikasi besar untuk kesuksesan dalam eksploitasi peluang baru. Imitasi Imitasi, di sisi lain, melibatkan meniru praktik perusahaan lain, apakah perusahaan-perusahaan itu berada dalam industri yang akan dimasuki atau dalam industri terkait. Pendekatan “me too” dan penerapan model bisnis waralaba adalah contoh strategi imitasi. Ini dapat membantu mengurangi ketidakpastian karena perusahaan dapat belajar dari keberhasilan dan kegagalan orang lain, serta mengadopsi praktik terbaik. Organisasi Baru: Beban dan Kelebihan dari Kedalaman Baru Selain menciptakan produk atau menjelajahi pasar baru, kewirausahaan juga dapat berarti pembentukan organisasi baru. Namun, ini membawa tantangan tersendiri bagi pengusaha yang tidak dihadapi oleh mereka yang mengelola perusahaan yang sudah mapan. Tantangan ini, dikenal sebagai beban kebaruan, mencerminkan biaya yang lebih tinggi dari belajar tugas-tugas baru, konflik yang meningkat atas peran dan tanggung jawab yang baru dibuat, dan kurangnya jaringan komunikasi informal yang baik. Meskipun begitu, organisasi baru juga dapat memiliki beberapa kelebihan dari kebaruan, yang paling penting adalah peningkatan kemampuan untuk mempelajari pengetahuan baru. Ini dapat memberikan keunggulan strategis yang penting dibandingkan dengan pesaing mapan, terutama dalam lingkungan yang dinamis dan berubah. Kesanggupan organisasi baru untuk belajar dengan cepat dan beradaptasi dapat menjadi pembeda kritis dalam mencapai keberhasilan jangka panjang. Kesimpulan Sebagai rangkuman, kewirausahaan bukan hanya tentang menciptakan hal-hal baru tetapi juga tentang mengelola risiko, memanfaatkan keunggulan bersaing, dan mengadaptasi strategi untuk mengurangi ketidakpastian. Pengusaha yang sukses harus pandai membuka pintu peluang baru kewirausahaan, menilai risiko secara bijak, dan menggunakan keahlian kewirausahaan mereka untuk mencapai kinerja dan inovasi yang berkelanjutan.
Pertaruhan Sumber Daya Manusia

“Menurut kamu, apa challenge berikutnya?” tanya beliau kali ini. Seperti biasanya, perbincangan berdua dengan para mentor selalu saya manfaatkan untuk belajar. Sebisa mungkin mendengar, bertanya hanya jika terdesak, bicara hanya jika diminta. Kali ini rupanya benar-benar saya ditanya oleh beliau, perihal usaha yang kita kelola bersama. Lebih tepatnya, saya sekadar bantu beliau kelola. “Fase berikutnya setelah scale-up ya standarnya di human resource management sih Pak” jawab saya standar. Sekilat mungkin, sembari tidak sabar menunggu elaborasi dari beliau. Memang, kondisinya seharusnya sudah memasuki tantangan sumber daya manusia kali ini. “Ya, lebih tajam lagi; penempatan personel tim secara tepat.” Tantangan UMKM: Ketepatan Di Tengah Keterbatasan Sumber Daya Manusia Memang betul, UMKM atau rintisan mempunyai keterbatasan dalam hal sumber daya. Tidak terkecuali sumber daya manusia. Saat PR mengenai scale-up telah terakomodir, maka tantangan berikutnya adalah HRD. 1. Memahami Dinamika UMKM Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) membentuk tulang punggung ekonomi nasional, memainkan peran penting dalam mendorong inovasi dan memberikan peluang pekerjaan. Namun, perjalanan skala usaha bagi UMKM datang dengan sejumlah tantangan unik. Tidak seperti perusahaan besar, UMKM sering beroperasi dengan sumber daya terbatas, anggaran yang ketat, dan struktur organisasi yang lebih kecil. Saat UMKM memulai langkah ekspansi, HR menjadi penentu keberhasilan. Tantangannya terletak pada pemahaman dinamika khusus yang membedakan UMKM. Berbeda dengan perusahaan besar, UMKM sering beroperasi dengan tim yang lebih kecil, menuntut pendekatan yang lebih serbaguna dari para profesional HR. Dari merekrut dan mempertahankan bakat hingga membentuk budaya perusahaan, HR di UMKM perlu menavigasi tantangan ini dengan kefasihan strategis. “Kalo gw taruh orang yang lapangan banget ke ranah manajerial dan/atau perencanaan strategis, kita bakalan kehilangan dua pos. Eksekusi dan Strategi nggak optimal jadinya.” Begitu pelajaran dari mentor saya kali ini. 2. Strategi Rekrutmen dan Akuisisi Personel Salah satu tantangan terdepan yang dihadapi UMKM selama scale-up adalah menarik dan mempertahankan bakat terbaik. Persaingan untuk profesional berkompeten sangat ketat, dan UMKM sering bersaing dengan perusahaan lebih besar dengan sumber daya yang lebih besar. Untuk mengatasi hambatan ini, strategi akuisisi bakat dan rekrutmen strategis menjadi penting. UMKM dapat memanfaatkan kelincahan mereka sebagai keunggulan. Kecepatan memungkinkan mereka mengimplementasikan pendekatan rekrutmen inovatif, seperti membangun merek pengusaha yang kuat yang menekankan peluang dan tantangan unik bekerja di UMKM yang berkembang. Jaringan dalam lingkaran industri, bermitra dengan institusi pendidikan, dan memanfaatkan platform online juga dapat memperkuat upaya rekrutmen. Kerja sama dengan komunitas lokal dan memupuk budaya kerja yang positif adalah elemen tambahan yang dapat membuat UMKM lebih menarik bagi calon karyawan. Dengan menyoroti peluang pertumbuhan karir, lingkungan kerja yang mendukung, dan rasa tujuan, UMKM dapat bersaing dengan sukses untuk menarik bakat terbaik dibandingkan perusahaan besar. “Yakinkan bahwa bergabung dengan kita artinya juga menjadi besar bersama kita. Sense of ownership itu yang harus dipastikan sedari awal” 3. Menanamkan Budaya Perusahaan yang Kuat Seiring dengan pertumbuhan UMKM, menjaga dan membina budaya perusahaan yang kuat menjadi semakin penting. Berbeda dengan organisasi yang lebih besar, UMKM sering memiliki lingkungan kerja yang lebih akrab di mana kontribusi setiap anggota tim terasa nyata. Kedekatan ini menciptakan peluang unik untuk membangun budaya yang bersatu dan positif yang terasa di seluruh organisasi. Para profesional HR di UMKM harus secara proaktif terlibat dalam membentuk dan menjaga budaya yang sejalan dengan nilai dan tujuan perusahaan. Komunikasi memainkan peran sentral—memastikan bahwa tim memahami misi, visi, dan nilai bersama perusahaan menciptakan rasa memiliki dan tujuan. 4. Mengelola SDM dengan Sumber Daya Terbatas Keunikan UMKM, terutama dalam hal sumber daya yang terbatas, mendorong perlunya pengelolaan SDM yang lebih efektif dan efisien dibandingkan dengan korporasi besar. Dengan tim yang mungkin lebih kecil dan dana yang terbatas, UMKM perlu fokus pada strategi yang memberikan dampak maksimal dengan sumber daya yang tersedia. Pentingnya Peran HR dalam Sumber Daya Manusia (yang Terbatas) Penting bagi HR di UMKM untuk memahami prioritas bisnis utama dan menyelaraskan strategi sumber daya manusia dengan tujuan pertumbuhan jangka panjang. Ini melibatkan identifikasi bakat internal, pengembangan keterampilan internal, dan penciptaan jalur karir yang jelas untuk memanfaatkan potensi penuh tim yang ada. Keterlibatan dan pengembangan karyawan menjadi kunci. Dengan memahami aspirasi karyawan dan memberikan pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan bisnis, UMKM dapat memaksimalkan potensi setiap individu dalam tim. Kreativitas dalam merancang kebijakan insentif dan pengembangan karyawan juga dapat meningkatkan motivasi dan retensi karyawan. Tentu, tantangan sumber daya memerlukan solusi yang cerdas dan inovatif. HR di UMKM perlu menjadi pemimpin strategis yang mengarahkan sumber daya manusia menuju tujuan bisnis, sambil tetap sensitif terhadap keterbatasan yang mungkin ada.
Pembelajar Yang Tangkas

Membuka Kesuksesan dengan menjadi Pembelajar yang Tangkas – sebuah kehebatan kemampuan belajar dalam hidup Di tengah lanskap kerja yang dinamis dan terus berkembang, kemampuan beradaptasi dengan cepat bukan hanya sifat berharga—ini adalah kebutuhan. Masuklah learning agility, sebuah keterampilan yang sangat dicari yang memberdayakan individu untuk meraih wawasan dari pengalaman, memastikan keberhasilan dalam situasi yang tidak dikenal. Artikel ini menggali esensi menjadi pembelajar yang tangkas dan menyajikan strategi praktis untuk meningkatkan learning agility Anda. Memiliki sosok profesional dengan kemampuan ini dapat membantu bisnis Anda tumbuh dan berkembang. Memahami Learning Agility: Kunci untuk Kehandalan Profesional yang Luwes Learning agility bukan sekadar kata yang sedang tren; ini adalah keterampilan kunci yang berkontribusi pada penciptaan tenaga kerja yang fleksibel, mobile, dan tahan banting. Bayangkan seorang pemimpin yang dengan lancar mentransfer keahliannya di berbagai bagian organisasi, menunjukkan adaptabilitas dan kecakapan. Individu dengan learning agility tinggi muncul sebagai ahli yang diandalkan untuk proyek-proyek bergengsi dan posisi-posisi berdampak tinggi, menjadi tulang punggung inovasi dan kemajuan organisasi. 3 Ciri Pembelajar yang Tangkas Untuk mencari tahu siapa saja dalam organisasi Anda yang memiliki kemampuan ini – si pembelajar yang tangkas, ada 3 ciri yang dapat Anda perhatikan dari sosok mereka. 1. Rasa Ingin Tahu sebagai Dorongan Pembelajar yang tangkas memiliki rasa ingin tahu yang tak terpuaskan. Mereka didorong untuk mengeksplorasi dan memahami kompleksitas berbagai subjek, membentuk pola pikir yang merangkul pembelajaran berkelanjutan. Sosok ini biasanya selalu memiliki: “WHY” dalam benaknya. Pertanya kenapa ini yang mendorong dia mencari tahu lebih lanjut mengenai sesuatu hal dan hal inilah yang membuatnya selalu belajar dan belajar. 2. Adaptabilitas dalam Aksi Terbuka terhadap perubahan adalah pijakan learning agility. Pembelajar yang tangkas menyambut situasi baru dengan pandangan positif, melihat tantangan sebagai peluang pertumbuhan daripada rintangan. Mudah beradaptasi terhadap rintangan yang ada bukanlah dalam arti melarikan diri dari rintangan, namun secara kreatif (ditunjang dengan ciri nomor 1 di atas), sosok ini akan mencari cara dan solusi dari rintangan yang dihadapkan kepadanya. 3. Penyelesaian Masalah yang Efektif Kemampuan untuk menavigasi tantangan kompleks adalah ciri khas learning agility. Pembelajar yang sigap dan unggul dalam menganalisis masalah, merancang solusi inovatif, dan mengimplementasikannya dengan cemerlang. Strategi untuk Meningkatkan Learning Agility Sosok pembelajar ini sebenarnya dapat “diciptakan”. Berikut cara agar menjadi sosok pembelajar tangkas seperti yang disebutkan di atas. 1. Variasi Pengalaman Cari aktif peluang untuk terlibat dalam berbagai pengalaman, baik dalam atau di luar peran Anda saat ini. Paparan terhadap berbagai tantangan memperluas keterampilan Anda dan meningkatkan adaptabilitas. Kembangkan diri dengan berbagai keterampilan – jangan batasi diri di dalam kotak Anda saat ini. 2. Terima Umpan Balik dengan Positif Umpan balik konstruktif adalah alat yang kuat untuk pertumbuhan. Kembangkan pola pikir yang menyambut umpan balik sebagai jalan untuk perbaikan, dan gunakan untuk menyempurnakan pendekatan dan strategi Anda. 3. Bentuk Jaringan Pembelajaran Lingkupi diri Anda dengan individu yang menginspirasi pembelajaran. Jaringan dengan beragam sudut pandang memberikan wawasan berharga dan mendorong perkembangan berkelanjutan. 4. Tetapkan Tujuan yang Menantang Dorong batasan Anda dengan menetapkan tujuan yang ambisius namun dapat dicapai. Menghadapi tantangan langsung mengembangkan ketahanan dan mengasah kemampuan Anda untuk belajar efektif di bawah tekanan. 5. Refleksi atas Pengalaman Luangkan waktu untuk merenung atas pengalaman Anda. Mengambil pelajaran dari keberhasilan dan kegagalan memperkaya pemahaman Anda. Selain itu hal ini dapat meningkatkan kapasitas Anda untuk menerapkan pengetahuan baru. Menjadi Pembelajar yang Tangguh dari Sekarang Di dunia di mana perubahan adalah satu-satunya konstan, learning agility muncul sebagai penentu permainan. Dengan menggambarkan ciri-ciri pembelajar yang tangkas dan menerapkan strategi untuk perbaikan terus-menerus, individu dapat menempatkan diri mereka sebagai aset tak tergantikan dalam setiap lanskap profesional. Saat kita merangkul sifat berkembangnya pekerjaan, membudayakan learning agility bukan hanya keterampilan tetapi mindset—yang mendorong kita menuju kesuksesan berkelanjutan dan pemenuhan dalam karier kita.
Tentang Penipuan

KamiSharing kali ini bicara tentang penipuan oleh orang yang sudah dipercaya. Kita tak bisa menduga apa yang bisa dilakukan oleh seseorang, sekalipun telah mengenalnya sekian lama. Pagi ini saya dapat kesempatan emas, untuk ngopi bareng seorang mentor. Kesederhanaan, itu yang selalu saya pelajari dari beliau. Tapi kali ini, untuk lebih ke sekian kalinya saya bertandang ke rumah beliau, saya kembali berharap belajar hal baru dari beliau. Sempat salah lokasi ke rumah yang baru, rupanya Beliau sedang di rumah bertuahnya. Di situ ada meja pingpong yang digunakan warga sekitar untuk ngariung, menghabiskan pagi, mencari keringat, sembari menjalin kedekatan di perumahan yang lekat dengan hidup sendiri-sendiri. “Saya habis kena tipu orang kepercayaan saya Mas.” Beliau mengawali ceritanya, membuat sruputan kopi saya agak terjeda. Beliau? Kena tipu? Tapi sebisa mungkin saya tidak bertanya. Jaga diri, kan ini sepertinya ini hal sensitif untuk diceritakan. Dan, saya juga sedang khusyu’ dengan lontong dan tahu Sumedang yang menemani obrolan tentang penipuan kali ini. Cerita Tentang Penipuan – Background Story “Mas pernah dengar PT. XXX? Itu usaha saya sejak 2014, tapi sudah auto pilot. Saya hampir nggak pernah aktif disitu. Disamping itu lebih bersifat social entrepreneur, membantu para petani mendistribusikan hasil panennya ke beberapa teman nongkrong saya yang buka usaha F&B” Rupanya Beliau melanjutkan ceritanya. Tentang bagaimana seorang kepercayaannya di bisnis yang dimaksud melakukan telikung yang cukup tajam dan kentara. Bagaimana mungkin seseorang yang dipasrahi bisnis sedemikian all-out-nya justru membuka pintu pengkhianatan? Bayangkan; jaringan petani dari yang bersangkutan, jaringan pembeli dari yang bersangkutan, modal dari yang bersangkutan, sistem dari yang bersangkutan. Koq bisa-bisanya seseorang yang dikaruniai kemudahan semacam itu masih kepikiran untuk nelikung? Tentang Sifat Rakus Manusia “Orang itu Mas, kalo udah ketemu rakus ya nggak akan ada cukupnya. Mau dikasih segimana juga pasti otaknya mikir kurang dan kurang terus.” Kembali Beliau menjelaskan dan saya pun kembali mencatat. Sembari menyeruput kopi, pikiran saya pun berkembara ke dalam adegan di sebuah film lama. Saya ingat judulnya Hacker, yang menceritakan sekelompok anak muda yang melakukan kejahatan perbankan berupa carding. Dalam sebuah adegan, ada quote yang entah kenapa terngiang membersamai seruputan kopi saya kali ini; “Money doesn’t change people, it reveals them” Bahwa uang tidak membuat orang berubah, dia hanya menunjukkan siapa orang itu sebenarnya. Entah kenapa saya lebih suka sudut pandang ini ketimbang beberapa nasihat yang bernada sebaliknya; menyalahkan uangnya sebagai faktor pengubah. Terdengar lebih introspektif. Ya, saya sepakat bahwa uang tidak pernah membuat orang berubah, dia hanya menunjukkan watak asli dari orang tersebut. Yang barangkali belum terlihat jelas sebelumnya. Label Harga Seseorang “Saya niatkan usaha itu untuk sama-sama bekerja sosial Mas, karena hitungannya pasti mepet kalo secara keuangan. Tokh dia juga masih aktif bekerja sebagai professional, sebagaimana saya. Hanya saja manakala dia berubah haluan ingin menjadikannya ladang cuan dengan cara-cara kotor; tekan petani untuk dapat harga beli murah dan menipu pelanggan untuk dapat harga jual mahal, kedua arah dengan membawa nama saya. Di situ dia melabeli harganya sendiri.” Sesungguhnya inilah yang jadi pikiran saya sedari awal; apakah tokoh kita ini nggak tau siapa yang dia telikung? Betapa sempit pola pikirnya jika dia merasa bisa menipu seperti itu selamanya? Lebih jleb lagi manakala mentor saya kali ini bilang, bahwa ini hanya efek jera buat dia. Saya tau sampai titik mana saya harus kembali menolongnya. Di sinilah label itu berfungsi; menunjukkan harganya. Sementara yang dipertunjukkan oleh mentor saya ini; kesederhanaan dalam segala aspek. Setiap kali saya berkesempatan bertemu selalu saja “seragamnya” kaos putih a la Pak Tani dan celana olahraga seadanya. Sembari melayani tetangga kompleks untuk sekadar ngopi dan main pingpong. Meski saya seringkali dengar cerita kehebatannya dari seantero jaringannya. Dari para petinggi daerah hingga tokoh nasional. Semua seolah tidak membuat beliau silau. Justru disitulah letak kemuliaan, tidak pada yang tampak tapi yang tersembunyi. Rumus Socio-Preneur a la Beliau “Sedari tadi rasanya yang ada adalah list of don’t semua ya Pak?” Tanya saya. Rupanya Beliau paham maksud saya, as always. “Manfaatkan jaringan atasmu untuk membantu jaringan bawahmu. Itu rumus kebermanfaatannya Mas.” Beliau memungkasi penuturannya. Siapapun pasti punya jaringan, circle kalo kata anak sekarang. Dan, di antara circle kalian pasti ada lapis-lapis berbeda mengacu pada kebutuhan ekonomis dan pemenuhannya. Coba telusuri, berapa dari jaringan kita yang di bawah bisa tertolong dengan kita menjadi jembatan untuk terkoneksinya dengan jaringan kita yang di atas? Ya, sesederhana itu untuk menjadi seorang sociapreneur a la beliau. “Karena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfa’at bagi manusia lainnya” Tapi ingat, bermanfaat ya. Bukan dimanfaatkan, apalagi ditipu. “Eh, jadi gimana nasibnya sekarang Pak?” saya jadi kepo ingin tahu kelanjutan cerita tentang penipuan yang tertangkap basah itu. Setelah merugikan berbagai pihak selama sekitar dua tahun itu. “Sudah diselesaikan secara kekeluargaan Mas, bagi saya selama dia kooperatif dan mau mengakui kesalahannya itu jalan yang terbaik.” Tukas beliau. “Wah, kalo masih mencak-mencak dan coba ingkar sih bisa jadi selesai se-keluarga-nya ya Pak? Eh…
Wanita dalam UMKM

Tentang Wanita dalam UMKM: Mengapa Sedikit UMKM Dipimpin Wanita? Tren rendahnya perempuan dalam memimpin Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) seringkali membuat kita bertanya-tanya: apa yang sebenarnya terjadi di belakang layar? Banyak teori populer yang beredar, mulai dari pandangan bahwa perempuan tidak cocok menjadi pemimpin hingga anggapan bahwa mereka lebih suka menjalankan peran di belakang layar. Namun, apakah benar bahwa kurangnya perempuan di kursi kepemimpinan UMKM sepenuhnya merupakan pilihan mereka sendiri? Menyingkap Rintangan: Wanita dan Kepemimpinan Mari kita gali lebih dalam. penulis berpendapat bahwa masalah ini kurang berkaitan dengan kapabilitas perempuan dan lebih kepada bagaimana kita mengartikan kualitas kepemimpinan. Apakah mungkin bahwa sifat-sifat tertentu yang sering dihubungkan dengan kepemimpinan malah menjadi rintangan bagi para wanita? Menurut penulis, satu hal yang signifikan adalah kesalahpahaman terhadap sifat-sifat kepemimpinan. Percaya diri, yang sering dianggap sebagai karakteristik yang melekat pada pemimpin pria, terkadang disalahartikan sebagai kompetensi. Dengan kata lain, seseorang yang penuh percaya diri tetapi mungkin kurang kompeten bisa jadi lebih mudah mencapai puncak tangga karir daripada rekan wanitanya yang sebenarnya lebih berkualifikasi. Namun, Bagaimana Hal Ini Berkaitan dengan UMKM? Bagi para pelaku UMKM, terutama para wanita yang menjalankan bisnis mereka sendiri, penerimaan keliru terhadap sifat-sifat kepemimpinan dapat menjadi penghalang yang signifikan. Dalam dunia yang semakin kompetitif ini, penting untuk menyadari bahwa kepemimpinan tidak selalu identik dengan arogansi atau kepercayaan diri yang berlebihan. Jika kita menghubungkan ini dengan konteks UMKM, penting untuk memahami bahwa kepemimpinan tidak selalu harus bersifat dominan atau ekstrovert. Sebagai pemilik UMKM, keberhasilan seringkali ditentukan oleh kemampuan untuk bersikap inklusif, mendengarkan, dan berkolaborasi. Mungkin saatnya kita mengubah pandangan kita tentang sifat-sifat kepemimpinan yang efektif dalam ranah UMKM. Jadi, apa langkah-langkah yang bisa diambil, terutama oleh para wanita dalam UMKM Indonesia, untuk mengatasi rintangan ini? Langkah-Langkah Mengatasi Rintangan Terkait Wanita dalam UMKM Pertama-tama, adalah penting untuk mengakui dan merayakan keunikan dan kelebihan yang dimiliki oleh para pemimpin perempuan. Kreativitas, empati, dan kemampuan berkolaborasi adalah aset berharga yang sering dimiliki oleh para wanita dalam dunia bisnis. 1. Penciptaan Budaya Kepemimpinan Inklusif Untuk para pemilik UMKM, langkah pertama adalah menciptakan budaya kepemimpinan yang inklusif. Ini melibatkan penghargaan terhadap perbedaan dan penerimaan terhadap berbagai gaya kepemimpinan. Dalam lingkungan yang mendukung, perempuan akan merasa lebih nyaman untuk mengembangkan potensi kepemimpinan mereka. 2. Pemberdayaan Melalui Pelatihan dan Pengembangan Penting untuk memberdayakan para pelaku UMKM, terutama perempuan, melalui pelatihan dan pengembangan kepemimpinan. Program pelatihan yang fokus pada pengembangan keterampilan manajerial, komunikasi efektif, dan pengelolaan tim dapat membantu meratakan lapangan bermain. 3. Mendorong Gaya Kepemimpinan yang Berbeda Menyadari bahwa kepemimpinan tidak memiliki satu ukuran yang pas untuk semua, pelaku UMKM dapat mendorong pengakuan dan penerimaan terhadap gaya kepemimpinan yang berbeda. Perempuan sering membawa pendekatan yang lebih kolaboratif dan mendengarkan, yang bisa menjadi keunggulan dalam mengelola tim dan menghadapi tantangan bisnis. 3. Penetapan Kriteria Kepemimpinan yang Holistik Dalam proses rekrutmen atau promosi manajerial, kriteria kepemimpinan harus diperluas. Selain aspek-aspek seperti adaptabilitas dan kreativitas, penilaian juga seharusnya mencakup kemampuan untuk membangun hubungan yang kuat dan memotivasi tim. Ini membantu menciptakan landasan yang lebih menyeluruh untuk mengevaluasi potensi kepemimpinan. 4. Jaringan dan Dukungan Komunitas Membangun jaringan dan mendapatkan dukungan dari komunitas bisnis dapat menjadi langkah penting. Melalui mentorship dan kolaborasi, perempuan dalam UMKM dapat mendapatkan pandangan berharga dan dukungan yang diperlukan untuk mengatasi tantangan dan meraih sukses. Membangun Organisasi untuk UMKM Hartanto·Januari 17, 2024·0 comments Reboan Berbicara tentang membangun organisasi yang sukses untuk UMKM adalah sesuatu hal krusial, namun apa saja yang merupakan kunci dalam membangun dan mengembangkan organisasi ini? Dalam sebuah agenda rutin di salah satu unit usaha rekan tumbuh, terkadang muncul pertanyaan dari peserta forum yang terlihat sederhana tapi begitu ditelusur-jawab menjadi point yang bisa mengubah keseluruhan isi diskusi.… Continue Reading Satu Shift, Dua Dunia: Menjaga Waras di Tengah Target dan Tanggung Jawab Hartanto·Juni 11, 2025·1 comment Reboan Apakah work life balance untuk pelaku bisnis – dalam hal ini pelaku UMKM – masih penting dan perlu diupayakan? Apa juga keseimbangan antara hidup dan kerja bagi pebisnis sebenarnya serta cara mengatur keseimbangan ini? Sebelum masuk ke pembahasan detail, simak cerita singkat ini: Pukul 8 pagi, Pak Ujang sudah membuka bengkel motornya. Jam 10 malam,… Continue Reading 5. Kampanye Kesadaran dan Pendidikan Penting untuk menyadarkan seluruh komunitas bisnis akan manfaat keberagaman dalam kepemimpinan. Kampanye kesadaran dan pendidikan dapat membantu mengubah persepsi tentang sifat-sifat kepemimpinan dan menumbuhkan apresiasi terhadap peran unik yang dimainkan oleh perempuan dalam dunia UMKM. 6. Inisiatif Kebijakan yang Mendukung Pemerintah dan organisasi bisnis dapat berkontribusi melalui inisiatif kebijakan yang mendukung kehadiran perempuan dalam kepemimpinan. Ini termasuk program dukungan keuangan, insentif untuk pelibatan perempuan dalam pelatihan bisnis, dan langkah-langkah lain yang menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan peran perempuan di UMKM. Mari Perkaya Lanskap Bisnis dengan Berbagai Perspektif Melalui kombinasi dari solusi-solusi ini, diharapkan bahwa UMKM dapat menjadi lebih inklusif, menciptakan kesempatan yang setara bagi perempuan dalam posisi kepemimpinan. Selain itu diharapkan wanita dalam UMKM dapat memperkaya lanskap bisnis dengan berbagai perspektif yang berharga. Kunci utamanya adalah berfokus pada kemampuan, potensi, dan kontribusi yang unik yang dibawa oleh setiap pemimpin, tanpa memandang jenis kelamin.
Percaya Diri atau Berani?

Mas, apa yang harus dimiliki untuk mulai usaha; percaya diri atau berani? Sebuah pertanyaan mendarat di sesi ngopi pagi yang seharusnya lebih santai. Tapi namanya juga saya ditraktir, ya tidak pantas rasanya kalo saya kaget atas pertanyaan tadi. Ditambah lagi, ini bukan kali pertama ada teman yang nanya begitu kepada saya. Dan, seperti biasanya saya selalu menjawab dengan pertanyaan balik; kenapa nanyanya ke saya? Karena seringkali pertanyaan justru datang dari teman sepermainan, seumuran, dan bahkan tidak jarang dari seseorang yang secara usia lebih tua. “Sederhana saja Mas, kan memang saya pengen mulai berwirausaha. Kira-kira apa yang harus dipersiapkan?” 3 Persiapan Berwirausaha ala Hartanto Kalau ditanya apa saja persiapan berwirausaha, setidaknya ada 3 hal yang perlu dipersiapkan oleh semua orang, yaitu: 1. Komitmen dan Harganya Banyak yang menyampaikan bahwa modal utama bisnis adalah kepercayaan. Tapi tidak banyak yang bersedia menceritakan bagaimana kepercayaan itu diperoleh. Sebagai contoh saja, modal untuk berjualan segerobak bakso barangkali tidak lebih dari sekitar Rp 5juta lengkap satu gerobak berikut isinya. Jika melihat angka itu hari-hari ini, rasanya siapa saja dengan kemauan kuat bisa memperoleh modal itu dengan cepat. Melalui pinjaman kepada teman misalnya. Tapi harga modal itu tidak berhenti di angka 5juta, yang kemudian bisa dikembangkan menjadi aktivitas jualan berbulan dan tahun lamanya. Yang tentunya sudah sering kita dengar cerita penjual bakso yang sukses kemudian memilliki kedai sendiri, dan bahkan berhasil membentuk kelompok usaha berpuluh gerobak jumlahnya. Mari kita kilas sebentar, bagaimana tidak semua orang berhak mendapat modal 5juta itu. Dan bagaimana orang lainnya bisa dengan mudah memperolehnya? Ya, kepercayaan. Lalu bagaimana jika 5juta itu diperoleh dari pinjaman pertama kalinya? “Dalam pengalaman saya, komitmen untuk menepati janji di tahap pertama transaksi seringkali adalah kunci terbukanya kepercayaan yang sangat berharga untuk kesuksesan berikutnya.” Bahkan, seringkali lebih mahal dari sekadar hitungan untung-rugi atas besarnya modal itu sendiri. Misalnya, dalam memenuhi janji pengembalian utang 5juta modal awal tadi, seorang pemula bisa saja bahkan menelan kerugian untuk sekadar bisa mengembalikan utangnya. Tapi yang terjadi sebenarnya adalah dia sedang membeli kepercayaan sebagai modal berikutnya. 2. Berencana dan Berani Mewujudkannya Setelah kepercayaan diperoleh sebagai modal dasar, maka menjaganya menjadi tugas berikutnya yang tidak kalah menantang. Untuk hal yang berikutnya ini, seperti juga seharusnya di tahap awal sebelumnya, seharusnya kegagalan tidak boleh muncul di benak setiap orang yang akan berwirausaha. Tentu juga untuk hal yang berikutnya, dan berikutnya lagi. “Lalu bagaimana caranya Mas?” ternyata teman saya ini masih menyimak dan melanjutkan pertanyaannya. Membuat saya jadi kembali ingat bahwa dia sedang mau memulai usahanya di kota tempat tinggal saya. Beliau ini niat sekali untuk mewawancara saya di setiap kesempatan ngopi pagi bareng. Sementara saya paling suka menggali cerita masa lalu darinya, yang kebetulan satu almamater dengan saya. “Fokus, Bergerak, dan Bersabar. Karena akan selalu ada masanya dalam setiap usaha waktunya untuk kondisi kita berhasil, atau kondisi di mana kita harus belajar.” Dalam pemahaman saya saat ini, yang sangat membedakan antara pola pikir saya saat menjadi karyawan sebuah korporasi besar, kemudian berpindah kepada korporasi kecil dengan posisi yang lebih dekat kepada pemilik, hingga sekarang menjalani usaha sendiri, adalah keterdesakan untuk senantiasa bergerak dan mencari solusi yang terasa lebih terasah. Atau lebih tepatnya; dipaksa untuk diasah. Maka benarlah kiranya yang disampaikan oleh Pak Sandiaga Uno dulu; bahwa entrepreneurship itu bukan sebentuk profesi melainkan pola pikir untuk selalu menemukan solusi dari sebuah keadaan. Jika itu yang menjadi dasar, maka siapapun kita mampu menjadi entrepreneur dalam setiap ruang lingkup aktivitas kita. Kita bisa jadi ASN yang entrepreneur, karyawan yang entrepreneur, atau juga bahkan pengusaha yang entrepreneur. 3. Berserah, Berpasrah, Berkah Barangkali sudah tidak terhitung kejadian di mana saya merasa sudah lama tidak bergerak. Lalu saya putuskan untuk sekadar berperjalanan, menjalin silaturahmi baik kepada kenalan lama atau membuat jaringan baru. Lalu kemudian hasilnya pintu rejeki berikutnya justru bukan dari tempat di mana saya bertandang, melainkan dari pihak nun jauh di sana yang bahkan tidak ada dalam list kita? Setiap kejadian itu mengingatkan saya kembali kepada kenyataan bahwa tugas kita hanya berusaha, sedangkan hasil sudah ditentukan oleh-Nya. Justru, setiap kejadian serupa d iatas semakin memantapkan langkah saya. Bahwa ini jalan yang memang sudah disiapkan oleh-Nya. Setidaknya dalam setiap perjalanan ini saya dapati pembelajaran untuk senantiasa berpasrah. Sehingga setiap keberhasilan yang dipergilirkan untuk kita bisa menikmatinya, membawa kita untuk lebih dekat kepada-Nya. Wirausaha – Kenapa Gak? Mungkin 3 persiapan berwirausaha yang saya sebutkan bukanlah persiapan yang teoritis – yang kita bisa dapatkan dalam buku-buku wirausaha lainnya. Namun, 3 persiapan membuka usaha di atas adalah dari pengalaman saya sendiri. Dari semua pengalaman yang pernah saya lalui dan lewati, semua membawa pikiran saya ke satu hal: “Portal dari setiap peningkatan selanjutnya adalah melalui bagian dari dirimu yang kamu hindari. Karena pertumbuhan sering diawali dengan ketidaknyamanan” Jika kamu tidak siap dengan ketidaknyamanan, seperti yang saya ceritakan di kisah 3B – Bergerak, Bertahan dan Bertumbuh, ada baiknya berpikir ulang untuk memulai usaha ini. Sebaliknya, jika siap, kenapa gak mulai persiapan berwirausaha sekarang?