Malas Pun Ada Seninya

kutipan inspiratif untuk umkm

Artikel kali ini membahas tentang salah satu masalah terbesar pelaku UMKM, yaitu malas tapi ingin sukses. Bahasnya gimana? Bahasannya melalui kutipan inspiratif untuk UMKM yang nanti dijelaskan lebih detail seperti apa untuk pelaku UMKM Indonesia. *** “Mas, kalo malas tapi pengen sukses gimana tips-nya ya? “Eh, gimana-gimana? Bisa tolong diulang pertanyaannya? Memang terkadang #Rekantumbuh itu macam-macam warnanya. Ada yang buram, ada juga yang bluwek. Kalo nanya nggak pake saringan. Tapi baiklah, karena setiap pertanyaan akan menemukan jawabannya sendiri. Menciptakan Perubahan Positif dalam UMKM Dalam dunia UMKM, seringkali para pelaku bisnis dihadapkan pada tantangan unik, termasuk kecenderungan untuk terjebak dalam kebiasaan yang kurang produktif. Bahkan tidak jarang inilah jebakan pertama bagi pelaku wirausaha. Di awal mereka memulai untuk tujuan kebebasan dan flesibilitas waktu kerja. Tapi justru jika itu dijadikan patokan awal, maka kinerja yang akan dikorbankan. Merasa tidak ada yang menyuruh membuat pelaku usaha merasa bebas dari tuntutan. Padahal sejatinya di situlah ujiannya, target apa yang ingin dicapai maka itu harus diwujudkan sendiri secara mandiri. Artikel ini akan mengaitkan kutipan inspiratif dengan konteks UMKM, menyoroti bagaimana pemahaman kutipan-kutipan tersebut dapat membantu mengatasi kebiasaan yang cenderung malas dan menciptakan perubahan positif dalam pengelolaan usaha. Kutipan Inspiratif untuk UMKM dan Kaitannya dengan UMKM “Harga dari kebesaran adalah tanggung jawab” – Winston Churchill: Ketidakmampuan untuk menghadapi tanggung jawab sering kali menjadi salah satu kebiasaan yang menghambat kemajuan di kalangan pelaku UMKM. Kutipan ini mengajarkan bahwa keberhasilan dalam bisnis memerlukan sikap bertanggung jawab. Sebagai contoh, seorang pelaku UMKM yang mengelola bisnisnya dengan penuh tanggung jawab cenderung lebih efektif dalam mengatasi tantangan sehari-hari dan menjalankan usahanya secara etis. Saya pernah berpanjang-lebar menceritakan bagaimana saya menganggap bahwa keputusan saya berwirausaha setelah sebelumnya di dunia professional saya yakini sebagai tiket satu arah. Baca juga: N untuk Nyali dalam Berwirausaha Bahwa tidak ada jalan kembali menuju jalur profesi sebelumnya. Di situ saya bermaksud menekankan kepada diri sendiri bahwa ada tanggung jawab besar dalam sebuah keputusan saya untuk menempuh jalur berwirausaha. “Comfort zone adalah tempat yang indah, tetapi tidak ada yang pernah tumbuh di sana” – Tidak Diketahui Kebiasaan untuk tetap berada dalam zona nyaman seringkali dapat menghambat inovasi dan pertumbuhan dalam bisnis. Pelaku UMKM perlu memahami bahwa untuk mencapai kesuksesan, mereka harus berani keluar dari zona nyaman dan mencoba hal-hal baru. Langkah-langkah yang diambil di luar batas kenyamanan bisa menjadi kunci untuk membuka peluang baru dan meningkatkan kinerja usaha. Sebagai contoh yang barangkali mudah dipahami adalah kenyataan bahwa seringkali, kalau tidak mau dibilang selalu, kenyamanan berbanding terbalik dengan keamanan. Semakin nyaman sebuah kondisi biasanya semakin tidak nyaman bagi subyeknya. Contohnya dalam sebuah perangkat pintar yang sekarang ini seolah menjadi benda wajib harian kita: handphone. Semakin rumit sistem keamanan dalam handphone biasanya semakin tidak memberikan kenyamanan bagi penggunanya. Begitu juga sebaliknya. Dari contoh ini kita bisa belajar juga, bahwa zona nyaman sejatinya adalah zona yang tidak aman. Bisnis Digital Tidak Pernah Sendirian: Tentang Negara, Aturan, dan Realitas Wirausaha Hartanto·Desember 19, 2025·0 comments Kamisharing  Seri #KAMISharing kali ini membahas membahas tentang tantangan bisnis digital di Indonesia yang tak bisa luput dari berbagai pihak. Yaitu… Continue Reading Alan Efendhi: Dari Petani Lidah Buaya ke Penerima SATU Indonesia Awards Hartanto·Oktober 18, 2025·0 comments Kamisharing “Saya ingin usaha saya tidak sekadar menghasilkan keuntungan, tapi berdampak nyata bagi masyarakat sekitar.” — kata Alan Efendhi, saat berbicara… Continue Reading “Setengah dari masalah dalam hidup ini dapat ditelusuri pada mengatakan ya terlalu cepat dan tidak mengatakan tidak cukup cepat” – Josh Billings Dalam konteks UMKM, kecenderungan untuk tidak efektif dalam mengelola waktu dan mengambil keputusan dapat merugikan. Kutipan ini mengajarkan pentingnya pengambilan keputusan yang bijaksana. Sebagai contoh, seorang pelaku UMKM yang mampu mengatakan tidak pada hal-hal yang tidak mendukung pertumbuhan bisnisnya dan mengatakan ya pada peluang yang bernilai dapat menghindari masalah yang tidak perlu. Saya seringkali ditanya; apa bedanya antara palugada dengan konglomerasi? Sebenarnya singkatnya sering saya jawab secara sarkas bahwa pertanyaan ini cenderung tidak tahu diri. Karena sudah pasti levelnya berbeda. Palugada atau bisa disebut serabutan biasanya adalah bentuk aktivitas dari pengusaha pemula yang bahkan belum bisa menemukan winning sector tempat dimana dia mendapatkan hasil yang memuaskan. Sedangkan konglomerasi adalah strategi pengembangan usaha oleh pengusaha yang terlebih dahulu sudah eksis di lini bisnis tertentu. “Anda adalah rata-rata dari lima orang yang paling sering Anda temui” – Jim Rohn Hubungan dalam lingkungan bisnis sangat memengaruhi kesuksesan UMKM. Jika seorang pelaku UMKM sering berinteraksi dengan individu yang kurang termotivasi atau kurang inovatif, hal ini dapat mempengaruhi motivasi dan pandangan mereka terhadap bisnis. Membangun jaringan dengan individu yang berpikiran positif dan berorientasi pada pertumbuhan dapat memberikan dampak positif pada perjalanan bisnis. Dalam nyanyian Jawa yang saya seringkali diperdengarkan sedari masa kecil, salah satu kunci sukses adalah kumpul dengan orang-orang shalih. Keshalihan sudah pasti adalah sebuah ukuran kesuksesan, baik itu keshalihan pribadi maupun secara sosial. Maka tepatlah bahwa salah satu kunci pembuka rejeki adalah jalinan silaturahmi. Sebuah makna mendalam tentang aktivitas berjejaring jika dibawa ke dalam konteks wirausaha. “Perfectionism adalah penyakit. Procrastination adalah penyakit. TINDAKAN adalah obatnya” – Richie Norton Ketidakmampuan untuk mengambil tindakan seringkali menjadi kebiasaan yang menghambat kemajuan di kalangan pelaku UMKM. Kutipan ini mengajarkan bahwa langkah-langkah kecil yang diambil dengan konsistensi dapat menghasilkan perubahan besar. Sebagai contoh, seorang pelaku UMKM yang terlalu fokus pada kesempurnaan atau terlalu menunda-nunda perlu menginternalisasi bahwa tindakan nyata adalah kunci untuk mencapai hasil yang diinginkan. Benarlah kata-kata dalam senandung CJR; tak perlu menjadi hebat untuk berani memulai, hanya perlu memulai untuk kita menjadi hebat. Kesimpulan: Melalui penerapan pelajaran yang terkandung dalam kutipan-kutipan ini, pelaku UMKM dapat menciptakan perubahan positif dalam cara mereka mengelola bisnis dan mengatasi kecenderungan yang kurang produktif. Mengadopsi sikap bertanggung jawab, keluar dari zona nyaman, membuat keputusan bijaksana, membangun jaringan yang positif, dan mengambil tindakan nyata adalah langkah-langkah menuju kesuksesan dalam dunia UMKM. Ingin Memulai Usaha? Tapi masih bingung mulainya gimana dan apa saja yang diperlukan? Ngobrol bareng MasTan aja yuk. Gratis kok…. Ngobrol Sekarang!

Cerita Tentang Kayak

belajar bisnis dari steve hafner dan kayak

Kata orang dulu, belajarnya sampai ke negeri seberang. Kini, kita bisa belajar bisnis dari usaha yang sudah ada dan berhasil. Seperti dari bisnis yang dibuat oleh Steve Hafter – Kayak ini. Kita dapat belajar usaha dan menerapkannya di bisnis UMKM loh. Steve Hafner telah menjadi salah satu tokoh utama dalam perkembangan teknologi internet dan startup yang sukses. Lulusan Dartmouth College pada tahun 1991, Steve memilih jalur konsultasi setelah bekerja untuk Marketing Corporation of America dan Boston Consulting Group. Melihat perubahan signifikan dalam bisnis e-commerce, terutama di sektor perjalanan, ia mendapatkan gagasan untuk mengatasi kesulitan dalam memesan tiket pesawat, kamar hotel, dan mobil sewaan. Dengan latar belakangnya yang telah tinggal di berbagai tempat seperti Peru, Guatemala, Costa Rica, dan Texas, Steve menyadari betapa sulitnya membeli tiket pesawat, kamar hotel, atau mobil sewaan karena harus memeriksa setiap situs penyedia jasa secara terpisah. Untuk mengatasi masalah ini, bersama timnya, Steve meluncurkan Orbitz pada November 1999. Orbitz memungkinkan konsumen untuk dengan satu klik memilih layanan perjalanan seperti tiket pesawat, kamar hotel, dan mobil sewaan dari berbagai penyedia dengan harga terbaik. Orbitz tumbuh pesat dan go public pada tahun 2001 dengan nilai pasar $1.4 miliar. Steve aktif terlibat dalam strategi bisnis perusahaan dan bertanggung jawab atas pengembangan bisnis, penjualan iklan, dan pemasaran. Namun, meski sukses, Steve merasa kecewa dengan industri perjalanan karena pendapatan Orbitz hanya diperoleh saat pelanggan melakukan pembelian dari situs tersebut, yang hanya terjadi antara 2 hingga 6 persen dari waktu. Pada sebuah diskusi dengan kolega di industri perjalanan web, Steve berimajinasi tentang memiliki situs yang memberikan informasi kepada maskapai dan penyedia jasa perjalanan daripada menjual tiket langsung kepada konsumen. Ide tersebut menginspirasi lahirnya Kayak pada tahun 2004. Dengan modal tambahan $15 juta dan dukungan investor seperti AOL, Kayak berkembang pesat dan pada tahun 2006 diakui sebagai situs terbaik untuk penawaran perjalanan. Pada tahun 2012, Steve dan mitranya berhasil menjual Kayak kepada Priceline dengan penilaian pasar $1.8 miliar. Meskipun diakuisisi, Kayak tetap mempertahankan kepemimpinan individualnya di bawah kepemimpinan Steve sebagai CEO. Sebagai perusahaan induk, Priceline memiliki sejumlah perusahaan pemesanan dan penjualan ini menjadi kesepakatan yang saling menguntungkan. Steve terus mencari peluang baru dengan tujuan mengkonsolidasikan semua aspek perjalanan konsumen di bawah satu payung, menggunakan teknologi terkini yang tersedia. Mari kita elaborasi tiap tema dengan relevansi untuk pembelajaran UMKM, dengan menggunakan kasus serupa: Pengalaman dan Pemahaman Pasar Internasional: Steve Hafner dan Konteks Serupa: Steve Hafner tumbuh dalam berbagai lingkungan di Amerika Latin dan Amerika Serikat. Pengalaman ini memberinya wawasan unik tentang kebutuhan konsumen dari berbagai latar belakang. Sebagai pemilik UMKM yang beroperasi di serangkaian lokasi atau pasar yang berbeda, penting untuk memahami perbedaan budaya dan kebutuhan konsumen. Identifikasi Peluang Pasar dan Rencana Bisnis: Steve Hafner dan Orbitz: Hafner melihat peluang di industri perjalanan dengan menyadari kesulitan dalam mencari dan memesan tiket pesawat, kamar hotel, dan mobil sewaan secara terpisah. UMKM serupa dalam industri perjalanan dapat mengidentifikasi kebutuhan pasar yang belum terpenuhi dan merancang rencana bisnis yang memanfaatkan peluang ini. Penerapan Teknologi untuk Efisiensi: Steve Hafner dan Pengembangan Kayak: Dengan melihat kekurangan situs perjalanan eksisting, Hafner dan timnya menciptakan Kayak, sebuah platform yang menggunakan teknologi untuk mengumpulkan informasi dan memberikan leads kepada penyedia layanan. UMKM dapat memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan efisiensi operasional dan memberikan pengalaman pelanggan yang lebih baik. Apa yang Belum Kita Pelajari? Panduan Transformasi Menjadi Learning Organization Peter Senge Hartanto·April 27, 2026·0 comments Reboan AspekOrganisasi Reaktif (Hanya Berpengalaman)Learning Organization Peter SengeFokus UtamaPenyelesaian masalah jangka pendek dan teknis.Pembaruan cara berpikir dan sistem kolektif.Basis KeputusanPengalaman masa lalu dan pola yang berulang.Audit asumsi dan pemetaan masa depan.KecepatanCepat bereaksi… Continue Reading Ketika Ekonomi Bertemu Kreativitas: Menakar Kewirausahaan Digital dari Kacamata Nilai dan Pilihan Hartanto·Oktober 31, 2025·2 comments Reboan Ekonomi mengajarkan kita berpikir rasional, sementara kewirausahaan menuntun kita untuk bermimpi. Dunia digital membutuhkan keduanya agar inovasi tidak sekadar gemerlap, tapi juga berkelanjutan. Ketika Inovasi Menjadi Mimpi yang Tak Ekonomis Beberapa… Continue Reading Pertumbuhan dan Skalabilitas Bisnis: Pengalaman Orbitz dan Kayak: Orbitz dan Kayak mencapai pertumbuhan yang signifikan dalam waktu singkat, menunjukkan bahwa bisnis dapat tumbuh dengan cepat melalui inovasi dan pemanfaatan peluang pasar. UMKM harus mempertimbangkan strategi pertumbuhan yang dapat diubah sesuai kebutuhan pasar dan skalabilitas bisnis mereka. Pentingnya Kemitraan dan Penjualan Bisnis: Penjualan Kayak ke Priceline: Hafner dan mitranya menjual Kayak kepada Priceline, menunjukkan bahwa kemitraan dan penjualan bisnis dapat menjadi langkah strategis untuk pertumbuhan dan keberlanjutan. UMKM dapat mempertimbangkan opsi penjualan atau kemitraan untuk mengamankan masa depan bisnis mereka. Kontinuitas Kepemimpinan dan Inovasi: Kepemimpinan Steve Hafner: Meskipun diakuisisi oleh Priceline, Steve Hafner tetap sebagai CEO Kayak, menunjukkan pentingnya kontinuitas kepemimpinan untuk mempertahankan identitas perusahaan. UMKM harus merencanakan suksesi kepemimpinan dan terus mendorong inovasi untuk tetap bersaing di pasar yang terus berubah. Baca juga: Cara Membangun Organisasi yang Sukses untuk UKMKM Indonesia Dengan memahami perjalanan dan keputusan Steve Hafner dalam konteks UMKM, pemilik bisnis kecil dapat mengambil inspirasi dan pelajaran berharga untuk mengembangkan bisnis mereka sendiri. Studi Kasus: Pemberdayaan UMKM Fashion melalui Inovasi dan Kemitraan – Mengikuti Jejak Steve Hafner 1. Konteks dan Pengalaman Pasar: Latar Belakang Pemilik UMKM: Seorang pemilik UMKM di bidang fashion dengan pengalaman di berbagai segmen pasar lokal. Memiliki pemahaman mendalam tentang kebutuhan dan preferensi konsumen dalam industri fashion. 2. Identifikasi Peluang Pasar dan Rencana Bisnis: Inspirasi dari Pengalaman Steve Hafner: Menemukan peluang untuk menyederhanakan pengalaman belanja fashion lokal. Saat ini, konsumen harus menjelajahi berbagai toko dan platform online untuk membeli produk fashion. Rencana bisnis mencakup pengembangan platform daring yang menyatukan berbagai merek lokal dalam satu tempat, memudahkan pelanggan menemukan dan membeli produk fashion sesuai preferensi mereka. Baca juga: Rencana Usaha/Bisnis Satu Halaman – RUSH 3. Penerapan Teknologi untuk Efisiensi: Model Bisnis Berbasis Teknologi: Menerapkan teknologi untuk menciptakan platform daring yang mengintegrasikan inventaris dari UMKM fashion lokal. Menggunakan algoritma cerdas untuk merekomendasikan produk kepada pelanggan berdasarkan preferensi sebelumnya dan tren mode. 4. Pertumbuhan dan Skalabilitas Bisnis: Strategi Pertumbuhan Berkelanjutan: Memastikan bahwa platform dapat berkembang seiring waktu dengan menambahkan lebih banyak merek dan produk dari UMKM fashion. Mempertimbangkan model bisnis yang dapat diubah dan diperluas untuk menanggapi pertumbuhan yang cepat. 5. Pentingnya Kemitraan dan Penjualan Bisnis: Kolaborasi dengan Desainer Lokal: Mengembangkan kemitraan dengan

Membangun Organisasi untuk UMKM

membangun organisasi yang sukses untuk umkm

Berbicara tentang membangun organisasi yang sukses untuk UMKM adalah sesuatu hal krusial, namun apa saja yang merupakan kunci dalam membangun dan mengembangkan organisasi ini? Dalam sebuah agenda rutin di salah satu unit usaha rekan tumbuh, terkadang muncul pertanyaan dari peserta forum yang terlihat sederhana tapi begitu ditelusur-jawab menjadi point yang bisa mengubah keseluruhan isi diskusi. Contohnya pada diskusi regular yang sedianya jadi hajatan HRD ini. Seorang karyawan menanyakan tentang bagaimana sebuah KPI bisa mengukur kerjasama tim dan juga budaya organisasi. Barangkali apabila tidak dicermati pertanyaannya hanya seputar teknis penilaian, tapi rupanya setelah tanya-jawab intensif justru lebih dari separuh waktu diskusi bergeser menjadi perbincangan tentang bagaimana membangun organisasi yang efektif. Membangun Organisasi yang Sukses: Kunci Kesuksesan untuk UMKM Dalam dunia bisnis yang terus berkembang, pembentukan organisasi yang solid adalah langkah krusial untuk kesuksesan jangka panjang, terutama bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Desain awal organisasi seringkali sederhana, dengan pengusaha sering kali berperan ganda dalam menjalankan semua fungsi organisasi. Meskipun ini mungkin dimaklumi pada awalnya, kegagalan untuk menyesuaikan struktur organisasi seiring pertumbuhan bisnis dapat menjadi penyebab kegagalan banyak UMKM. Desain Organisasi: Lebih dari Sebuah Struktur Formal Desain organisasi tidak hanya tentang struktur formal. Selain struktur organisasi yang melibatkan tata hubungan kerja dan tanggung jawab dalam organisasi, ada juga struktur budaya atau kebudayaan organisasi yang berkembang seiring waktu. Meskipun seringkali tidak begitu terlihat seperti struktur formal, kebudayaan organisasi memiliki dampak besar pada keberhasilan perusahaan. Pengusaha memiliki kendali atas bagaimana kebudayaan ini berkembang, dan kesadaran akan hal ini dapat membantu dalam membangun organisasi yang sukses. Desain organisasi tidak hanya soal menciptakan struktur formal dengan tata hubungan dan tanggung jawab yang jelas. Ada dimensi tambahan yang tak terlihat secara kasat mata, tetapi memiliki dampak mendalam: kebudayaan organisasi. Kebudayaan ini seperti “DNA” perusahaan, membentuk identitasnya dan memengaruhi cara orang bekerja bersama. Mari kita jelajahi lebih lanjut tentang bagaimana kebudayaan ini menjadi elemen kunci dalam desain organisasi yang sukses. 1. Norma-Norma Tak Tertulis: Selain kebijakan dan prosedur resmi, kebudayaan organisasi mencakup norma-norma tak tertulis. Misalnya, bagaimana orang berkomunikasi, sejauh mana kolaborasi dihargai, dan bagaimana keputusan diambil – semuanya ini membentuk bagian tak terpisahkan dari kebudayaan. Pemimpin berperan besar dalam membentuk norma-norma ini dengan perilaku dan keputusan mereka. 2. Nilai Inti yang Dipegang Erat: Nilai inti adalah prinsip-prinsip mendasar yang menjadi landasan bagi perilaku organisasi. Contohnya bisa mencakup integritas, keberagaman, atau inovasi. Pengusaha harus memastikan bahwa nilai-nilai ini bukan hanya slogan di dinding kantor, tetapi juga dipraktikkan dalam keputusan sehari-hari dan interaksi antaranggota tim. 3. Kebebasan untuk Mengekspresikan Diri: Kebudayaan yang sukses memberikan kebebasan bagi setiap anggota tim untuk menjadi diri mereka sendiri. Lingkungan yang mendukung penerimaan dan penghargaan terhadap keunikan setiap individu akan menciptakan iklim di mana kreativitas dan kolaborasi dapat berkembang. Bisnis Digital Tidak Pernah Sendirian: Tentang Negara, Aturan, dan Realitas Wirausaha Hartanto·Desember 19, 2025·0 comments Kamisharing  Seri #KAMISharing kali ini membahas membahas tentang tantangan bisnis digital di Indonesia yang tak bisa luput dari berbagai pihak. Yaitu negara, kebijakan dan juga terkait realitas wirausaha. Simak langsung di sini.… Continue Reading Alan Efendhi: Dari Petani Lidah Buaya ke Penerima SATU Indonesia Awards Hartanto·Oktober 18, 2025·0 comments Kamisharing “Saya ingin usaha saya tidak sekadar menghasilkan keuntungan, tapi berdampak nyata bagi masyarakat sekitar.” — kata Alan Efendhi, saat berbicara tentang visinya sejak awal. Di hadapan ribuan pendaftar dari seluruh Indonesia,… Continue Reading 4. Respons terhadap Perubahan: Bagaimana organisasi menanggapi perubahan mencerminkan kebudayaannya. Sebuah desain organisasi yang inklusif dan responsif terhadap perubahan akan memiliki kebijakan dan praktik yang mendukung inovasi serta pembelajaran berkelanjutan. 5. Komunikasi yang Terbuka dan Jujur: Kebudayaan yang kuat juga mencakup pola komunikasi yang terbuka dan jujur. Ini menciptakan suasana di mana setiap orang merasa nyaman berbagi ide, memberikan umpan balik, dan berkontribusi tanpa rasa takut. 6. Pembelajaran dan Pengembangan Berkelanjutan: Organisasi yang berhasil memiliki kebudayaan pembelajaran berkelanjutan. Ini berarti mengakui bahwa setiap tindakan, baik sukses maupun kegagalan, adalah peluang untuk belajar. Mendorong inisiatif, eksperimen, dan peningkatan terus-menerus adalah bagian integral dari desain organisasi. Dalam membentuk desain organisasi yang lebih dari sekadar struktur formal, pengusaha harus berperan sebagai agen kebudayaan. Mereka tidak hanya mendefinisikan struktur, tetapi juga membentuk nilai-nilai dan norma-norma yang membentuk inti organisasi. Pemahaman mendalam tentang kebudayaan dan bagaimana hal itu menciptakan identitas perusahaan adalah kunci untuk merancang organisasi yang mampu bertahan dan berkembang dalam lingkungan yang terus berubah. Membangun Tim yang Tepat Seiring pertumbuhan organisasi, peran pengusaha sebagai pemimpin berubah secara signifikan. Di awal, pengusaha mungkin melakukan segalanya sendiri, tetapi seiring waktu, organisasi akan membutuhkan tambahan personel. Proses perekrutan yang efektif sangat penting untuk memastikan tim baru dapat tumbuh dan berkembang bersama perusahaan. Dalam menyusun tim, pengusaha harus mempertimbangkan keterampilan yang dibutuhkan untuk menjalankan rencana bisnis, adaptasi terhadap perubahan, dan kemampuan untuk melakukan penyesuaian yang diperlukan. Membentuk Kebudayaan Organisasi yang Positif Kebudayaan organisasi adalah kombinasi sikap, perilaku, dan gaya komunikasi yang membuat suatu bisnis berbeda dari yang lain. Pengusaha memiliki peran penting dalam membentuk kebudayaan ini, yang harus sejalan dengan strategi bisnis perusahaan. Fleksibilitas dalam mencoba pendekatan yang berbeda, pembentukan lingkungan kerja yang positif, dan penghargaan terhadap kinerja yang baik dapat membantu menciptakan kebudayaan yang memotivasi karyawan. Kepemimpinan yang Efektif Peran pengusaha sebagai pemimpin organisasi melibatkan beberapa tanggung jawab utama, termasuk menjadi penyesuaian terhadap perubahan, pengalokasi sumber daya, dan menjadi negosiator. Saat organisasi berkembang, pengambilan keputusan menjadi semakin kritis. Kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan sangat diperlukan. Kepemimpinan juga berkaitan dengan menciptakan nilai inti dan menyediakan alat yang diperlukan agar karyawan dapat menyelesaikan tugas mereka dengan efektif. Mengatasi Tantangan dalam Membangun Tim dan Budaya Organisasi Membangun tim yang efektif dan menciptakan budaya organisasi yang positif bukanlah tugas yang mudah. Penting bagi pengusaha untuk memastikan bahwa kebudayaan yang diinginkan sejalan dengan strategi bisnis, dan ini memerlukan pemahaman mendalam tentang kebutuhan organisasi. Proses perekrutan harus dilakukan dengan hati-hati, dan pembentukan tim harus mempertimbangkan lebih dari sekadar keterampilan teknis. Karakter dan kepribadian juga berperan penting dalam membangun kebudayaan yang positif. Kesimpulan Membangun organisasi yang sukses bagi UMKM melibatkan lebih dari sekadar mengisi posisi dengan orang-orang yang memiliki keterampilan teknis. Penting untuk membentuk kebudayaan organisasi yang positif, yang dapat memberdayakan karyawan dan memberikan dasar untuk

RUSH! Membangun Fondasi Kesuksesan: Rencana Bisnis Satu Halaman untuk UMKM di Dunia Fashion

rencana bisnis industri fashion

Menyusun rencana bisnis atau usaha, untuk pertama kali bisa terasa menakutkan bagi beberapa pebisnis. Tidak terkecuali bagi para pemilik usaha kecil dan menengah (UMKM) di industri fashion. Meskipun panjang rencana bisnis bisa menjadi perdebatan, banyak yang setuju bahwa memulai dengan rencana usaha satu halaman (RUSH) dapat menjadi langkah yang tepat. Apalagi, kita bisa memulainya dengan sederhana dan memperkayanya seiring perkembangan bisnis. Mari kita bahas langkah-langkahnya dengan contoh kasus untuk UMKM di bidang fashion. Rencana Bisnis Satu Halaman untuk UMKM Fashion Dalam rencana usaha yang dikembangkan setidaknya Anda dapat mengikuti panduan berikut ini: 1. Memulai dengan Visi Anda Rencana usaha adalah sebuah dokumen tertulis yang disiapkan oleh seorang entrepreneur yang ditujukan untuk menyampaikan rencana pengembangan usahanya kepada calon investor. Untuk itu, harus disampaikan di awal tentang apa yang ingin dicapai dengan rencana yang disusun. Dalam industri fashion yang dinamis, visi Anda adalah fondasi kesuksesan. Misalnya, bayangkan memiliki merek fashion lokal yang tidak hanya diminati di tingkat lokal, tetapi juga mendapat perhatian di tingkat nasional. Visi ini akan menjadi pemandu utama dalam menyusun rencana bisnis Anda. 2. Tetapkan Pernyataan Misi Anda Setelah Visi sebagai cita-cita mulia disampaikan, maka setelahnya kita harus memberikan apa misi dibalik cita-cita tersebut. Pernyataan misi Anda harus mencerminkan esensi bisnis fashion Anda. Misalnya: “Memberikan gaya terkini dengan sentuhan lokal untuk meningkatkan kepercayaan diri setiap individu” Hal itu bisa menjadi pernyataan misi yang kuat. Letakkan pernyataan ini di tempat yang terlihat oleh Anda dan tim Anda setiap hari untuk menjaga fokus. Misi merupakan inti dari identitas bisnis Anda dan seharusnya mencerminkan tujuan utama serta nilai-nilai inti. Berikut adalah langkah-langkah untuk merinci misi dalam rencana bisnis: 2a. Pahami Tujuan Bisnis Anda: Apa yang ingin dicapai bisnis Anda? Bisnis Anda dibangun untuk menyelesaikan masalah atau memenuhi kebutuhan apa? 2b. Tentukan Nilai-Nilai Inti: Apa nilai-nilai inti yang ingin Anda tanamkan dalam bisnis Anda? Bagaimana nilai-nilai ini mencerminkan kualitas dan ethos bisnis Anda? 2c. Identifikasi Target Pelanggan: Siapa target pelanggan utama Anda? Bagaimana produk atau layanan Anda akan memberikan nilai tambah bagi mereka? Bisnis Digital Tidak Pernah Sendirian: Tentang Negara, Aturan, dan Realitas Wirausaha  Seri #KAMISharing kali ini membahas membahas tentang tantangan bisnis digital di Indonesia yang tak bisa luput dari berbagai pihak.… Continue Reading Alan Efendhi: Dari Petani Lidah Buaya ke Penerima SATU Indonesia Awards “Saya ingin usaha saya tidak sekadar menghasilkan keuntungan, tapi berdampak nyata bagi masyarakat sekitar.” — kata Alan Efendhi, saat… Continue Reading 2d.Pilih Bahasa yang Jelas dan Menarik: Sampaikan misi Anda dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh semua pihak terkait.Gunakan kata-kata yang menginspirasi dan memotivasi. 2e. Fokus pada Keunikan Bisnis: Apa yang membuat bisnis Anda unik? Bagaimana misi Anda mencerminkan keunikan tersebut? 2f. Pertimbangkan Dampak Sosial atau Lingkungan: Apakah bisnis Anda memiliki dampak positif pada masyarakat atau lingkungan? Bagaimana misi Anda mencerminkan tanggung jawab sosial atau lingkungan? 2g. Rangkai Misi Anda: Susun misi Anda dalam satu atau dua kalimat singkat. Pastikan kalimat tersebut mencakup esensi tujuan, nilai, dan dampak bisnis Anda. Contoh Misi untuk UMKM di Bidang Fashion: “Misi kami adalah memberikan pengalaman berbelanja yang unik dan memuaskan bagi setiap pelanggan. Melalui desain kreatif, kualitas tinggi, dan komitmen terhadap keberlanjutan, kami bertujuan untuk meningkatkan kepercayaan diri setiap individu yang memakai produk kami. Kami berkomitmen untuk mendukung industri lokal dan menciptakan produk yang tidak hanya gaya, tetapi juga bertanggung jawab sosial dan ramah lingkungan.” 3. Daftar Tujuan Anda Terkadang misi tidak cukup jelas menggambarkan apa tujuan spesifik dari sebuah usaha. Sebutkan tujuan-tujuan konkret yang ingin dicapai dalam rencana bisnis ini. Bisa jadi tujuan terkait konteks operasional, keuangan, pemasaran, kualitas produk, dan juga pengembangan maupun inovasi produksi. Contohnya, “Mendominasi pangsa pasar lokal dengan pertumbuhan penjualan 20% dalam setahun” atau “Meluncurkan dua koleksi baru setiap musim.” Tujuan-tujuan ini memberikan arah yang jelas untuk pengembangan bisnis Anda. 4. Bentuk Strategi Anda Strategi usaha untuk UMKM memainkan peran kunci dalam memastikan keberlanjutan dan pertumbuhan bisnis. Pertama-tama, UMKM perlu merinci strategi pemasaran yang tepat untuk meningkatkan visibilitas dan menjangkau target pelanggan. Ini dapat mencakup penggunaan media sosial, kerjasama dengan mitra lokal, atau bahkan partisipasi dalam acara komunitas. Selain itu, penting bagi UMKM untuk fokus pada diferensiasi produk atau layanan mereka agar dapat bersaing secara efektif dalam pasar yang mungkin sudah padat. Ini dapat melibatkan inovasi desain, peningkatan kualitas, atau penawaran unik yang membedakan mereka dari pesaing. Selanjutnya, strategi operasional juga sangat penting bagi UMKM. Peningkatan efisiensi dalam rantai pasokan, manajemen inventaris yang cerdas, dan penggunaan teknologi untuk mengotomatisasi beberapa proses dapat membantu UMKM mengurangi biaya operasional dan meningkatkan profitabilitas. Terlebih lagi, kerja sama dengan pemasok lokal dapat memberikan keuntungan tambahan, seperti dukungan dalam mendapatkan bahan baku berkualitas tinggi atau bahkan menarik perhatian konsumen yang lebih suka mendukung produk lokal. Dengan menggabungkan strategi pemasaran yang cerdas dan efisiensi operasional, UMKM dapat membentuk fondasi yang kuat untuk pertumbuhan dan kesuksesan jangka panjang dalam pasar yang dinamis. Dalam industri fashion, strategi adalah kunci. Apakah Anda akan fokus pada pemasaran digital, bekerja sama dengan influencer lokal, atau menghadiri pameran-pameran fashion regional? Tentukan rencana pemasaran dan penjualan Anda dengan jelas. Misalnya, strategi “Fashion Show Lokal” dapat meningkatkan visibilitas merek Anda di komunitas setempat. 5. Buat Rencana Aksi Rinci langkah-langkah tindakan harian dan mingguan yang akan diambil. Ini bisa melibatkan persiapan untuk pameran, peningkatan kualitas produk, atau peningkatan interaksi di media sosial. Contoh, mulai dari meningkatkan kualitas jahitan hingga berpartisipasi aktif di platform media sosial, akan memberikan arah yang jelas untuk memajukan bisnis Anda. Contoh Kasus – Bisnis Fashion Lokal Ambil contoh UMKM fashion lokal yang berhasil. “ChicThreads,” sebuah brand lokal di kota X, berhasil menghadapi persaingan di pasar fashion dengan fokus pada pemasaran melalui media sosial. Dengan visi untuk menjadi pemimpin fashion lokal yang dikenal secara nasional, ChicThreads memulai dengan rencana usaha satu halaman yang mencakup pemasaran digital, kolaborasi dengan desainer lokal, dan peluncuran koleksi baru setiap musim. Melalui pernyataan misi yang kuat untuk meningkatkan kepercayaan diri setiap pelanggan, ChicThreads berhasil menetapkan posisinya di pasar. Dengan tujuan untuk mendominasi pangsa pasar lokal, mereka menggunakan strategi fashion show lokal dan peningkatan kualitas produk sebagai langkah-langkah taktis. Dengan demikian, ChicThreads menyusun rencana aksi yang terperinci, termasuk peningkatan frekuensi posting di

Dua Cara Meningkatkan Profit di Tahun Baru

pareto kepemimpinan dan meningkatkan profit umkm

“Mas, udah masuk tahun baru nih. Ada saran untuk meningkatkan profit di tahun baru ini? Nah, saya suka nih dengan pertanyaan nggak pake ba-bi-bu dari rekan tumbuh. Ya iyalah, lihat saja kalimat diatas; nggak ada ba-bi-bu nya!!! Jadi ceritanya memang salah satu rekan tumbuh saya ini sudah lolos fase 1 (satu) dan sedang menuju fase 3 (tiga). “Mas, sebenarnya saya belum paham loh maksudnya njenengan soal 1-3-5. Mosok nggak ada duanya? “Yak arena setiap usaha itu unik, nggak ada duanya. Eaaa…. 2 Cara Meningkatkan Profit di Tahun Baru Balik lagi ke pertanyaan tadi, sebenarnya secara sederhana hanya ada 2 (dua) cara meningkatkan profit; Pertama meningkatkan pendapatan, Kedua mengurangi biaya. Terlihat sederhana, tapi praktiknya tidak semudah itu. Perkara strategi, taktik, dan teknis sudah beragam Pustaka. Tapi yang mau saya bagi di sini adalah perihal eksekusinya, yang memastikan apapun strateginya menghasilkan output sesuai harapan. 80% Faktor Penentu Saya tidak akan bisa lupa apa yang disampaikan Bp. Huda sebagai pembuka diskusi kala itu; Kalimantan, sebuah pulau yang sejatinya satu asal-usul. Namun karena sejarah membaginya menjadi tiga negara. Siapa yang paling luas di pulau itu? Siapa yang paling berhasil mengelolanya? Ya, dalam Pareto Kepemimpinan; berhasil tidaknya sebuah negara, organisasi, institusi atau korporasi, 80% ditentukan oleh siapa sosok pemimpinnya. Optimalkan Pareto Kepemimpinan untuk Keberhasilan Eksekusi Strategi dalam UMKM Dalam dunia bisnis yang dinamis, kemampuan untuk mengimplementasikan strategi dengan sukses adalah kunci utama bagi keberhasilan sebuah usaha, terutama pada skala UMKM. Salah satu pendekatan yang dapat memberikan dampak maksimal dalam upaya ini adalah menerapkan prinsip Pareto dalam kepemimpinan. Prinsip Pareto: Fokus pada yang Utama Prinsip 80/20 dari Vilfredo Pareto menyatakan bahwa sekitar 80% hasil dapat diperoleh dari 20% usaha yang paling penting. Diterapkan dalam konteks kepemimpinan, ini berarti pemimpin UMKM harus dapat mengidentifikasi dan fokus pada elemen strategis yang memiliki dampak terbesar terhadap kesuksesan perusahaan. Mengidentifikasi Prioritas Strategis Dalam konteks UMKM, sumber daya seringkali terbatas, dan waktu adalah aset yang berharga. Pemimpin yang memahami prinsip Pareto akan fokus pada identifikasi prioritas strategis yang akan memberikan hasil terbaik. Ini bisa mencakup segmentasi pasar yang paling menguntungkan, produk atau layanan dengan tingkat permintaan tinggi, atau bahkan penguatan hubungan dengan pelanggan kunci. Mengarahkan Tim ke Fokus Utama Kepemimpinan Pareto juga mengharuskan pemimpin untuk menjadi pengarah yang efektif. Tim yang dipandu oleh prinsip ini akan mendapatkan petunjuk jelas tentang elemen strategis mana yang harus diberikan fokus tinggi. Pemimpin harus mampu mengkomunikasikan prioritas ini dengan jelas, memotivasi tim, dan menyelaraskan upaya bersama menuju tujuan utama. Apa yang Belum Kita Pelajari? Panduan Transformasi Menjadi Learning Organization Peter Senge Hartanto·April 27, 2026·0 comments Reboan AspekOrganisasi Reaktif (Hanya Berpengalaman)Learning Organization Peter SengeFokus UtamaPenyelesaian masalah jangka pendek dan teknis.Pembaruan cara berpikir dan sistem kolektif.Basis KeputusanPengalaman masa lalu dan pola yang berulang.Audit… Continue Reading Ketika Ekonomi Bertemu Kreativitas: Menakar Kewirausahaan Digital dari Kacamata Nilai dan Pilihan Hartanto·Oktober 31, 2025·2 comments Reboan Ekonomi mengajarkan kita berpikir rasional, sementara kewirausahaan menuntun kita untuk bermimpi. Dunia digital membutuhkan keduanya agar inovasi tidak sekadar gemerlap, tapi juga berkelanjutan. Ketika Inovasi… Continue Reading Sederhanakan Proses dan Struktur Organisasi Seiring UMKM tumbuh, kompleksitas operasional dapat menjadi tantangan. Kepemimpinan Pareto menekankan pada penyederhanaan proses dan struktur organisasi. Identifikasi kegiatan atau proses yang memberikan kontribusi signifikan pada hasil keseluruhan dan alokasikan sumber daya seiring dengan prinsip 80/20. Fleksibilitas dan Responsivitas Salah satu aspek kritis dari kepemimpinan Pareto adalah kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan. UMKM seringkali beroperasi dalam lingkungan yang berubah dengan cepat. Pemimpin yang menganut prinsip ini akan lebih responsif terhadap perubahan pasar, teknologi, atau kondisi eksternal lainnya. Mengukur dan Mengoreksi Penting untuk terus mengukur kinerja berdasarkan prinsip Pareto. Evaluasi berkala terhadap upaya dan hasil akan membantu identifikasi apakah fokus yang diberikan pada elemen strategis yang benar. Jika tidak, pemimpin harus siap untuk mengoreksi arah dan memastikan bahwa sumber daya dialokasikan dengan cerdas. Kesimpulan: Keberhasilan Melalui Penerapan Kepemimpinan Pareto Dalam dunia yang penuh tantangan UMKM, keberhasilan eksekusi strategi bukanlah pilihan, melainkan keharusan. Dengan menerapkan prinsip Pareto dalam kepemimpinan, pemimpin UMKM dapat memastikan bahwa sumber daya yang terbatas digunakan secara optimal, fokus pada elemen strategis yang memberikan dampak maksimal, dan mencapai keberhasilan dalam eksekusi setiap rencana bisnis. Terlebih lagi, umumnya UMKM bermula dari solopreneur, maka kemudian ketajaman eksekusi dari si pemilik menjadi sangat dominan. Tentu, factor eksternal masih memiliki porsi untuk menjadi pengubah. Tapi entrepreneurship sudah dari dulu bertumpu pada kelincahan mencari solusi atas setiap perubahan.

Daya Tahan, Bekal Menatap Tahun Baru

daya tahan menghadapi perubahan dalam bisnis

Tahun baru menjelang, periode kerja baru semakin dekat untuk dimulai. Lantas, bagaimana kita menghadapi periode mendatang yang seperti lazimnya hari esok, selalu menjanjikan ketidakpastian. Yang bisa kita lakukan adalah belajar. Belajar dari masa sebelumnya dan menjadikannya sebagai bahan bakar menghadapi ketidakpastian yang akan dilalui di masa depan. Termasuk juga menghadapi perubahan yang akan selalu ada dalam setiap siklus. Beradaptasi dengan Perubahan: Bagaimana UMKM Belajar dari  Pandemi “The lesson from the pandemic is that to grow in the post-Covid world and be better prepared for disruptions, small businesses will have to become more aggressive about investing in their future resiliency.” (Anita Campbell – Small Business Trends) Dalam sebuah survei, 71% profesional dari perusahaan kecil dan menengah (UKM) mengungkapkan bahwa mereka telah melakukan perubahan signifikan sebagai respons terhadap pandemi yang dilewati. Perubahan ini, dilakukan dengan tujuan meningkatkan fleksibilitas dan responsivitas. Menandakan pergeseran mendasar dalam pendekatan bisnis terhadap gangguan dan ketidakpastian. “If you want to grow your business, you need to make time to work on the business and not in the business,” (Richard Bliss, Professor of Finance – Babson College) Menilai Ulang Proses Kerja Di garis depan dari adaptasi ini adalah penilaian ulang terhadap proses dan metodologi kerja, dengan 63% profesional yang disurvei secara aktif mengevaluasi cara mereka melakukan bisnis. Pandemi telah bertindak sebagai pemicu. Pemicu yang mendorong UKM untuk mempertimbangkan kembali alur kerja tradisional dan mengadopsi pendekatan yang lebih fleksibel dan tangguh. Penilaian ulang strategis ini mencerminkan respons proaktif terhadap lanskap yang dinamis di mana bisnis beroperasi saat ini. Memberikan Prioritas Operasi Harian Temuan menarik lainnya dari survei ini adalah bahwa 60% profesional mengakui adanya pergeseran dalam prioritas, dengan operasi sehari-hari menjadi lebih penting daripada inisiatif besar yang lebih luas. Penyesuaian ini menegaskan pendekatan pragmatis terhadap manajemen bisnis, menekankan kebutuhan dan tantangan yang muncul dalam rutinitas harian. Kemampuan untuk fokus pada detail-detail mikro sambil tetap dapat beradaptasi dengan lingkungan makro telah menjadi landasan ketahanan UKM. Secara sederhana barangkali bisa disampaikan, bahwa kondisi pandemi yang telah dilewati menjadikan pelaku UMKM berpikir dan bertindak secara lebih condong kepada pragmatism. Hal ini rasanya lebih efektif manakala kita sudah bekali dengan fleksibilitas dalam bertindak. Pola Pikir yang Fleksibel Tema umum yang muncul adalah kultivasi pola pikir yang fleksibel dalam UKM. Kemampuan untuk bergerak dengan cepat sebagai respons terhadap gangguan, baik eksternal maupun internal, telah menjadi faktor penentu dalam kelangsungan hidup dan kesuksesan perusahaan-perusahaan ini. Fleksibilitas bukan lagi sekadar kata yang populer tetapi menjadi suatu keharusan strategis, dan UKM dengan aktif menyematkannya ke dalam DNA organisasional mereka. Dalam hal fleksibilitas menjadi sebuah keharusan, maka kecepatan kemudian harus juga seiring sejalan. Secara natural, UMKM yang cenderung memiliki ukuran usaha yang relative kecil memang memiliki kecepatan sebagai bakat bawaan. Tapi tentu masih dibutuhkan optimasi alat-alat bantu yang menjamin terjadinya keselarasan antara kecepatan dan fleksibilitas tadi. Teknologi sebagai Fasilitator Aspek penting dari adaptabilitas ini adalah peran teknologi. Banyak UKM telah memanfaatkan kemajuan teknologi untuk menyederhanakan proses, meningkatkan komunikasi, dan memfasilitasi kerja jarak jauh. Pandemi bertindak sebagai pemicu untuk adopsi teknologi digital yang dipercepat – termasuk perkembangan digital marketing dalam bisnis. Menjadikan bisnis-bisnis ini tidak hanya lebih tangguh di hadapan gangguan tetapi juga lebih efisien dan kolaboratif. Sebagai sebuah contoh konkrit, saat ini sudah menjadi sebuah kelaziman untuk meeting pertama dengan calon klien dilakukan secara online tanpa tatap muka secara fisik. Hal ini selain memberikan fleksibilitas waktu juga memberikan ruang yang lebih longgar untuk persiapan dan inovasi dalam menciptakan impresi kepada calon klien dimaksud. Membangun Ketangguhan untuk Masa Depan Saat UKM terus menavigasi ketidakpastian yang ditimbulkan oleh pandemi, tindakan adaptif ini mewakili pergeseran dasar menuju ketangguhan. Penilaian ulang terhadap proses kerja, pemberian prioritas terhadap operasi sehari-hari, dan integrasi teknologi secara bersama-sama berkontribusi untuk membangun ketangguhan organisasional yang akan sangat berharga menghadapi tantangan masa depan. Dalam konteks Indonesia, tahun 2024 memberikan gambaran ketidakpastian yang juga lebih besar. Dengan diselenggarakannya pemilihan umum sebagai agenda politik di awal tahun dan di akhir tahun, maka praktis banyak sekali faktor di luar kendali UMKM yang akan mempengaruhi operasional usaha. “Great entrepreneurs set up systems that allow other people to do things that the entrepreneur doesn’t need to do. You need to delegate things so that you have time to think big thoughts, find big clients, or get bigger deals” (Steve Strauss, small-business columnist for USA Today) Perubahan Bukan Untuk Ditakuti! Namun Dirangkul Dengan merangkul perubahan, mengevaluasi prioritas, dan memanfaatkan teknologi, perusahaan-perusahaan ini tidak hanya bertahan dalam badai; mereka secara aktif membentuk masa depan yang lebih tangguh dan fleksibel. Kemampuan untuk menavigasi perubahan telah menjadi ciri khas kesuksesan bagi perusahaan kecil dan menengah, mendorong mereka menuju pertumbuhan yang berkelanjutan dalam lanskap bisnis yang selalu berkembang.

Alat Ukur untuk UMKM – KPI atau OKR?

alat ukur kinerja umkm indonesia

“Mas, apa bedanya KPI dengan OKR sih?” mendadak pertanyaan itu mendarat, padahal saya lagi baca soal heboh SGIE. Mana lagi lapar banget, makanya langsung aja saya jawab; “Itu spelling-nya pake gaya capres apa gaya cawapres?!” Dan, akhirnya kita diskusi lebih lanjut perihal alat ukur usaha/bisnis yang satu ini – apa yang dia tanyakan. Karena memang saya pun tidak ahli banget di ranah HRD ini. Tapi setidaknya boleh lah kita sambil belajar. Kata salah satu mentor saya sih; semua guru semua murid. Alat Ukur, Alat untuk Mengukur Dalam dunia bisnis, pelaku usaha seringkali dihadapkan pada kebutuhan untuk memahami dan mengelola kinerja mereka. Dua alat manajemen yang sering digunakan untuk tujuan ini adalah KPI (Key Performance Indicator) dan OKR (Objectives and Key Results). Bagaimana kedua konsep ini dapat membantu pertumbuhan dan kesuksesan UMKM? Mari kita jelajahi lebih lanjut. Definisi KPI dan OKR KPI adalah sejumlah metrik yang diidentifikasi sebagai indikator kunci untuk mengukur keberhasilan suatu bisnis dalam mencapai tujuan strategisnya. KPI memberikan gambaran yang jelas tentang sejauh mana suatu usaha berhasil mengimplementasikan strategi bisnisnya. Di sisi lain, OKR adalah suatu metode manajemen yang memfokuskan energi organisasi pada tujuan bersama yang dapat diukur. “Objectives” adalah tujuan besar yang ingin dicapai, sementara “Key Results” adalah langkah-langkah konkret yang ditempuh untuk mencapai tujuan tersebut. OKR vs KPI Walaupun keduanya – baik KPI ataupun OKR adalah alat ukur kinerja yang dapat digunakan UMKM Indonesia, ada perbedaan yang perlu dikenali. Secara sederhana, perbedaan antara kedua alat ukur ini ada pada aspek waktu, cakupan, dan fleksibilitasnya. Biasanya, KPI berfokus pada indikator yang mengukur kinerja jangka panjang. Sementara OKR Lebih bersifat musiman, sering kali dengan siklus pengaturan tujuan yang lebih singkat. Kemudian, KPI mengukur kesehatan umum bisnis dan mencakup berbagai area, sementara OKR menetapkan tujuan spesifik untuk mencapai hasil tertentu dalam periode waktu tertentu. Berikutnya, KPI Biasanya lebih tetap dan diukur secara konsisten dari waktu ke waktu, sementara OKR Dapat berubah lebih cepat sesuai dengan kebutuhan dan dinamika pasar. Baca Juga yang Ini! Apa yang Belum Kita Pelajari? Panduan Transformasi Menjadi Learning Organization Peter Senge Hartanto·April 27, 2026·0 comments Reboan AspekOrganisasi Reaktif (Hanya Berpengalaman)Learning Organization Peter SengeFokus UtamaPenyelesaian masalah jangka pendek dan teknis.Pembaruan cara berpikir dan sistem kolektif.Basis KeputusanPengalaman masa lalu dan pola yang berulang.Audit asumsi dan pemetaan masa depan.KecepatanCepat bereaksi namun sering terjebak pola lama.Terukur, reflektif, dan berkelanjutan.Hasil AkhirEfisiensi dalam rutinitas yang mungkin usang.Adaptabilitas tinggi terhadap disrupsi global. Executive Summary: Artikel ini membedah mengapa… Continue Reading Ketika Ekonomi Bertemu Kreativitas: Menakar Kewirausahaan Digital dari Kacamata Nilai dan Pilihan Hartanto·Oktober 31, 2025·2 comments Reboan Ekonomi mengajarkan kita berpikir rasional, sementara kewirausahaan menuntun kita untuk bermimpi. Dunia digital membutuhkan keduanya agar inovasi tidak sekadar gemerlap, tapi juga berkelanjutan. Ketika Inovasi Menjadi Mimpi yang Tak Ekonomis Beberapa tahun lalu, saya berbincang dengan seorang founder startup lokal yang memiliki ide cemerlang: platform digital untuk membantu UMKM menjual produk kreatif ke pasar global.… Continue Reading OKR, KPI, dan UMKM “Lalu gimana penerapannya untuk UMKM kayak kita Mas? Nah, gini nih. UMKM perlu mengidentifikasi area-area kritis yang berdampak langsung pada keberlanjutan dan pertumbuhan bisnis mereka. Karenanya penting untuk memilih KPI yang sesuai dengan tujuan bisnis dan fokus pada kualitas data yang akurat. Pastikan pengukuran KPI dilakukan secara berkala dan dengan ketelitian tinggi untuk mendapatkan pemahaman yang akurat tentang kinerja bisnis. Selain itu, UMKM harus menetapkan tujuan besar yang bersifat ambisius namun tetap dapat diukur. Sejelas mungkin dalam merinci langkah-langkah kritis yang akan diambil untuk mencapai tujuan besar tersebut. Pastikan seluruh tim terlibat dalam proses penetapan OKR agar ada rasa kepemilikan bersama terhadap tujuan perusahaan. “Jadi, sebaiknya kombinasinya gimana nih? Penerapan Alat Ukur Performa UMKM – KPI dan OKR Untuk mendapatkan pengukuran kinerja bisnis yang baik, UMKM dapat lakukan kombinasi KPI dan OKR dengan cara berikut: 1. Ukurlah Kesehatan Bisnis Secara Umum dengan KPI Identifikasi KPI yang mencerminkan kesehatan umum bisnis seperti laba bersih, retensi pelanggan, dan kepuasan pelanggan. Menentukan target dari masing-masing indikator yang diukur ini sangatlah penting bagi UMKM. Target ini haruslah sesuai dengan business plan UMKM dan juga dapat diukur dengan jelas. Hal ini biasa dilakukan akhir tahun seperti ini untuk target tahun berikutnya. 2. Tetapkan Tujuan Strategis dengan OKR Gunakan OKR untuk menetapkan tujuan strategis seperti peningkatan pangsa pasar atau peluncuran produk baru. Jadi OKR ini melengkapi KPI di atas dalam bentuk tujuan jangka pendek yang memungkinkan UMKM melibatkan semua lini yang ada di UMKM. 3. Evaluasi Evaluasi Evaluasi Dan yang terakhir, evaluasi secara berkala. Lakukan evaluasi berkala terhadap kedua metode ini untuk memastikan bahwa tujuan-tujuan tersebut tetap relevan dan tercapai. Jadi… Alat Ukur Mana yang Anda Pilih? Dalam dunia yang terus berubah, UMKM perlu memanfaatkan alat-alat manajemen seperti KPI dan OKR untuk tetap kompetitif. Penggunaan yang bijak dari kedua metode ini dapat menjadi pilar keberhasilan bisnis UMKM, membantu mereka berkembang dan beradaptasi dengan cepat di pasar yang dinamis. Pertanyaannya; jadi spelling-nya Ka-Pe-I ??? Loh itu bukannya yang ngurusin penyiaran dan lainnya? Eh, ini soal apa sih?

7 Panduan Otomasi Pemasaran untuk UMKM FnB

otomasi pemasaran umkm f n b

Bagaimana sih bisnis F&B saya bisa naik kelas? Salah satunya dengan otomasi pemasaran yang dapat diterapkan di bisnis UMKM F&B Anda. Simak lengkapnya dalam tulisan kali ini. Beberapa rekan tumbuh menanyakan soal scale-up; seringkali saya jawab bahwa coba cek dulu, apakah memang sudah saatnya scale-up? Buat saya, bisnis juga ada umur dan kepantasannya. Sehingga jika dipaksakan untuk sebuah fase yang tidak sesuai dengan masanya. Misalnya, jika bisnis di fase awal di mana produk dan target pelanggannya belum jelas, di mana semua prosesnya adalah manual. Maka mungkin yang dibutuhkan adalah buat bagaimana agar usaha Anda memiliki “ruang sendiri” dalam persaingan, dan nilai khas yang bisa meningkatkan levelnya. Berikutnya jika fase tadi sudah terlampaui, maka barangkali sudah waktunya untuk memikirkan otomasi dalam pemasaran. Sehingga, kondisi yang selalu diidamkan oleh setiap pengusaha; bisnisnya jalan meskipun ditinggal pemilknya jalan-jalan, menjadi selangkah lebih dekat. Kali ini coba saya uraikan sedikit contoh dari kasus otomasi pemasaran untuk rekan tumbuh yang bergerak di bidang F&B. Otomasi Pemasaran untuk UMKM Bidang F&B: Mengangkat Bisnismu ke Level Berikutnya Bisnis UMKM di bidang Food and Beverage (F&B) seringkali dihadapkan pada tantangan sumber daya terbatas, namun otomasi pemasaran bisa menjadi kunci sukses untuk meningkatkan kinerja dan dampak bisnismu. Berikut adalah panduan langkah-demi-langkah untuk menerapkan otomasi pemasaran dengan spesifik untuk UMKM F&B: 1. Positioning: Menjadi Khas dalam Keunikanmu Bagi bisnis F&B, mungkin Anda memiliki hidangan atau konsep yang menjadi daya tarik utama. Posisikan bisnismu sebagai yang terbaik dalam aspek ini. Misalnya, jika Anda terkenal dengan kue-kue khas daerah, jadilah ahli dalam bidang tersebut. Biarkan pelanggan mengidentifikasi Anda sebagai destinasi utama. Adapun ukuran dari “utama” disini juga beragam ya, tergantung cakupan bisnis yang akan dikejar, bisa level nasional, menggunakan ukuran pasar online, dan lain sebagainya. 2. Traction Channels: Fokus pada Komunikasi yang Menarik Pilih beberapa saluran pemasaran yang efektif, seperti media sosial dan platform pesan instan. Bedakan diri Anda dengan konten yang menarik, seperti resep unik, proses pembuatan menu, atau behind-the-scenes dari dapur Anda. Pastikan untuk berfokus pada pelanggan potensial yang berpotensi menjadi pelanggan setia. Hal ini sejalan dengan tujuan awal bahwa Anda harus menjadi beda. Seperti kata Pandji; Sedikit lebih beda adalah lebih baik daripada sedikit lebih baik. Dan, fokus pada traksi tertentu ini juga menghemat energi, jangan jadi latah dalam ranah digital. Jika seseorang sukses di sebuah platform misalnya, bukan berarti bisnis Anda cocok di situ hanya karena Anda merasa bisa mempelajarinya. 3. Reusable Content Pieces: Maksimalkan Konten yang Mudah Dikonsumsi Buat artikel informatif tentang bahan-bahan lokal yang Anda gunakan, dan bagikan potongan dari artikel tersebut di media sosial atau grup komunitas. Sertakan panggilan tindakan yang mengarahkan pelanggan potensial untuk mengeksplorasi lebih lanjut di situs web atau datang langsung ke toko Anda. Apa yang Belum Kita Pelajari? Panduan Transformasi Menjadi Learning Organization Peter Senge Hartanto·April 27, 2026·0 comments Reboan AspekOrganisasi Reaktif (Hanya Berpengalaman)Learning Organization Peter SengeFokus UtamaPenyelesaian masalah jangka pendek dan teknis.Pembaruan cara berpikir dan sistem kolektif.Basis KeputusanPengalaman masa lalu dan pola yang berulang.Audit asumsi dan pemetaan masa depan.KecepatanCepat bereaksi namun sering terjebak pola lama.Terukur, reflektif, dan berkelanjutan.Hasil AkhirEfisiensi dalam rutinitas yang mungkin usang.Adaptabilitas tinggi terhadap disrupsi global. Executive Summary: Artikel ini membedah mengapa… Continue Reading Ketika Ekonomi Bertemu Kreativitas: Menakar Kewirausahaan Digital dari Kacamata Nilai dan Pilihan Hartanto·Oktober 31, 2025·2 comments Reboan Ekonomi mengajarkan kita berpikir rasional, sementara kewirausahaan menuntun kita untuk bermimpi. Dunia digital membutuhkan keduanya agar inovasi tidak sekadar gemerlap, tapi juga berkelanjutan. Ketika Inovasi Menjadi Mimpi yang Tak Ekonomis Beberapa tahun lalu, saya berbincang dengan seorang founder startup lokal yang memiliki ide cemerlang: platform digital untuk membantu UMKM menjual produk kreatif ke pasar global.… Continue Reading 4. Email Automation: Meningkatkan Keterlibatan Pelanggan Buat serangkaian email yang mengajak pelanggan melalui perjalanan emosional, mulai dari mengenalkan produk unggulan hingga memberikan penawaran eksklusif. Jangan lupa untuk menyesuaikan pesan-pesan ini berdasarkan preferensi pelanggan dan pembelian sebelumnya. Contoh otomasi email: 5. Retargeting Ads (FB/IG): Pertimbangan Setelah Kunjungan Ke Situs Gunakan iklan retargeting di Facebook dan Instagram untuk menarik pengunjung yang mungkin telah mengunjungi situs web atau halaman media sosial Anda. Berikan penawaran eksklusif atau diskon untuk mendorong pembelian. Contoh otomasi retargeting: 6. Unique Mechanism: Keunikan dalam Proses Pembuatan atau Penyajian Identifikasi keunikan dalam cara Anda menyajikan makanan atau minuman. Mungkin ada teknik khusus atau bahan-bahan lokal yang membuat hidangan Anda istimewa. Komunikasikan hal ini melalui media sosial dan situs web. 7. Irresistible Offer: Tawaran yang Menggoda Selera Itu Dia 7 Panduan Otomasi Pemasaran untuk UMKM F&B, Namun… Tak berarti Anda, sebagai owner F&B harus melakukan semua marketing automation di atas ya. Bergantung pada kebutuhan dan karakteristik bisnismu, beberapa elemen otomasi dapat dihilangkan atau ditambahkan. Untuk itu, Anda perlu melakukan penilaian atas bisnis Anda saat ini dan otomasi pemasaran mana yang cocok untuk bisnis Anda saat ini. Dengan menerapkan otomasi pemasaran ini, bisnis UMKM F&B Anda dapat meningkatkan visibilitas, menarik pelanggan potensial, dan meningkatkan retensi pelanggan. Selamat mencoba!

Cerita Pitching

tentang pitching

“Mas, kita ketemu calon investor nih. Dampingin buat pitching ya.” Sebuah pesan masuk dari #rekantumbuh nun jauh di sana. Saya senang, setiap kali ada kabar semacam ini. Bagi saya, artinya ada kesempatan yang terbuka. Saya meyakini bahwa kesempatan itu tidak datang dengan sendirinya melainkan diburu oleh rekan-rekan saya. “Oke Mas, jadi apa yang bisa saya bantu?” tanya saya secara antusias. Value to Put On the Table Saya selalu menganalogikan bahwa bagaimanapun juga ini adalah jual-beli. Hanya saja obyek yang diperjual-belikan adalah berupa kepemilikan perusahaan. Maka sebagaimana jual-beli pada umumnya, nilai transaksi adalah kesepakatan yang harus dicapai di awal. “Berapa nilai yang akan ditawarkan Mas?” tanya saya yang kemudian dijawab dengan bisik-bisik oleh rekan saya ini. “Apakah ada ruang negosiasi yang cukup?” tanya saya lagi, yang kali ini juga dijawab dengan bisik-bisik. “Sebentar, valuasi perusahaan sudah disampaikan?” nah, kalo yang ini dia jawab dengan suara lantang; “ya karena itulah saya kontak Mas Tan” Nah, gini nih. Ini ibarat mau ngelamar tapi tidak ada yang ngomong duluan. Saling nggak enak, atau entah karena apa, yang ada pembicaraan berapa kali pun jadinya stagnan dan tidak ada progress. Karenanya saya selalu mengatakan bahwa nilai perusahaan yang akan dijual harus disampaikan di awal, karena itulah dasar transaksi dan kesepakatan-kesepakatan berikutnya. Sebagai contoh sebuah usaha rintisan yang sudah beroperasi 5 (lima) tahun, dan berencana untuk menjual 25% kepemilikannya kepada investor untuk tujuan ekspansi cakupan usaha. Maka semua akan mandeg kalo tidak bisa dijawab berapa nilai perusahaan yang akan dijual? Sehingga 25%-nya itu berapa nilainya? Sehingga investor bisa memutuskan fase-fase negosiasi berikutnya. Tentang Pitching: Ruang Negosiasi Non-Teknis “Oke Mas, kalo itu udah deh saya pasrah aja sama njenengan. Nah, setelahnya ngapain?” tanya rekan tumbuh saya ini. “Ya tinggal tawar-menawar lah, situ kan yang punya perusahaan?”jawab saya sekenanya. Sebenarnya ya tidak terlalu sekenanya juga, karena tokh esensinya memang begitu. Sekali nilai sudah ditetapkan dan disampaikan kepada calon investor, berikutnya ya harus dibuka ruang untuk negosiasi. Karena tentu investor punya sudut pandang sendiri tentang nilai perusahaan yang akan dia akuisisi. Background dan juga karakter bisnis si investor juga sangat berpengaruh. Sebagai contoh seperti halnya yang pernah saya alami, seorang investor yang biasa main property barangkali akan susah untuk relevan dengan bisnis digital. Coba saja bayangkan, dengan uang puluhan milyar di dunia digital bisa jadi hanya untuk pembelian cloud dan berbagai infrastrukturnya. Sedangkan dengan angka yang sama dia sudah bisa membebaskan lahan sekian luas yang jika didiamkan beberapa masa sudah terlihat capital gain-nya. Be Positive, Always Learning “Kalo ditolak gimana Mas?” tanya rekan tumbuh saya kali ini. “Ya gapapa, sebaliknya kalo diterima gimana?” tanya saya sebaliknya. Satu hal yang saya selalu pegang adalah bahwa dalam bisnis tidak ada kata gagal sebagai lawan berhasil. Yang ada hanya kata belajar untuk sebuah keberhasilan yang belum didapatkan. Begitu juga dalam fase negosiasi investasi, mindset pembelajar ini sangat membantu untuk mendapatkan energi positif bagi para penjaja ide dan/atau usaha. Dalam perjalanan puluhan kali pitching yang saya alami, mindset itu sangat membantu. Karena kita tidak bisa mengatur respon orang atas setiap paparan kita. Yang bisa kita kendalikan justru respon kita atas setiap tanggapan dari calon investor. Maka di sinilah pentingnya mindset pembelajar itu tadi, bahwa apapun tanggapan investor akan menjadi pembelajaran bagi kita untuk memperbaiki materi pitching kita sebelumnya. Dari mindset itulah, kemudian berbagai macam pengayaan justru akan didapat dari waktu ke waktu. Hal ini menjadikan materi pitching kita semakin baik dan pada akhirnya pada momentum yang tepat akan menemukan partner sinerginya yang setara. “Jadi, maju aja dulu nih Mas? Saya bingung nih mau kemana selanjutnya kalo yang ini gagal?” kata rekan tumbuh saya ini setengah mendengus. Kali ini benar-benar saya jawab sekenanya; “Wong kejadian aja belum koq bingung? Bingung itu kalo udah ada pilihan Masbro?!”

Berapa Nilai Perusahaanmu?

bagaimana cara menentukan nilai perusahaan

“Mas, jadi berapa nilai perusahaan saya sekarang?” Ini pertanyaan yang seringkali mendarat kepada saya. Beberapa kemudian saya jawab singkat; “Tergantung berapa Anda menghargai ide dan perjalanan panjang anda mewujudkannya sampai dengan detik ini?”. Dua Aliran dalam Menghitung Nilai Perusahaan Sependek yang saya pelajari, ada dua aliran yang pernah mengemuka menjadi basis pengukuran nilai sebuah usaha. Setidaknya dalam konteks usaha pemula dan UMKM yang sehari-hari saya geluti. 1. Nilai Usaha dari Laporan Pertama, dan sebenarnya ini bukan urutan hanya karena sesuai background saya; adalah aliran yang menghitung nilai perusahaan dari sisi kesehatan laporan keuangan. Sederhananya, membaca laporan keuangan seperti membaca rekaman aktivitas bisnis dari perusahaan. Dari sana bisa terbaca sejuah apa langkah yang sudah ditempuh oleh sebuah bisnis. Dan, dari rekam jejak tersebut dapat dilakukan prediksi dari seberapa jauh perusahaan bisa melangkah ke depannya. 2. Nilai Usaha dari Kapitalisasi Pasar Kedua, dan sekali lagi bukan karena sebuah urutan hanya karena ini bukan bidang yang saya geluti; adalah aliran yang menghitung nilai perusahaan dari sisi kapitalisasi pasar yang ada. Sederhananya, aliran ini lebih memperhitungkan masa depan perusahaan dari potensi yang ada. Aliran ini optimis melihat bahwa jika ada pasar tervalidasi maka perusahaan bisa lebih berfokus pada bagaimana melayaninya sehingga nilai perusahaan bertambah seiring kemampuannya menjadi solusi bagi permasalahan pelanggan. Titik Temu “Jadi bagaimana cara menghitungnya Mas?” Tanya salah satu rekan tumbuh saya. Tentu tidak semudah itu pergussoh… Jadi gambaran yang seringkali saya berikan kepada beberapa rekan tumbuh adalah; Bahwa menilai perusahaan untuk diperjual-belikan tidak sesederhana membeli rumah dengan analisa berbagai aspek sebagaimana dilakukan oleh appraisal. Ya, dengan segala hormat, memang pekerjaannya sama-samai menilai (to appraise) tapi karena objeknya berbeda jadi tentu tingkat kerumitannya berbeda. That’s all. Jari ringkasnya, menilai perusahaan adalah gabungan dari menilai kondisi sekarang dan histori pencapaiannya dengan menggunakan laporan keuangan. Kemudian menggunakannya sebagai predictor masa depan perusahaan dengan mempertimbangkan data pasar dan kapitalisasinya. Itulah yang saya sebut sebagai titik temu. Sehingga kita tidak dibutakan dengan kejayaan masa lalu dari sebuah perusahan, tapi juga tidak disilaukan dengan kapitalisasi pasar yang dijanjikan. Teknis Bagaimana Mengukur Nilai Perusahaan Sejengkal saja ilmu saya soal ini, tapi setidaknya gambarannya seperti ini. Menghitung nilai sebuah perusahaan untuk akuisisi melibatkan berbagai faktor finansial dan non-finansial. Salah satu metode yang umum digunakan adalah analisis Discounted Cash Flow (DCF), yang mengestimasi nilai sekarang dari arus kas masa depan yang diharapkan dari perusahaan. Berikut adalah panduan langkah-demi-langkah: 1. Analisis Laporan Keuangan Dapatkan laporan keuangan perusahaan target, termasuk laporan laba rugi, neraca, dan laporan arus kas. Analisis kinerja historis, tingkat pertumbuhan, dan kesehatan finansial. Unduh Cheatsheet Ingin menilai perusahaan Anda sekarang – lakukan analisan laporan keuangan Anda dengan cheatsheet ini. Unduh Sekarang 2. Proyeksi Arus Kas Masa Depan Buat proyeksi rinci untuk arus kas masa depan perusahaan. Ini umumnya melibatkan proyeksi pendapatan, biaya operasional, pajak, dan belanja modal. Pertimbangkan periode proyeksi selama 5 hingga 10 tahun. 3. Tentukan Tingkat Diskonto Tentukan tingkat diskonto yang sesuai, sering disebut sebagai Biaya Modal Rata-Rata Tertimbang (WACC). WACC mencerminkan biaya pembiayaan operasi perusahaan dan digunakan untuk mendiskonto arus kas masa depan kembali ke nilai sekarang. 4. Diskonto Arus Kas Masa Depan Gunakan formula DCF untuk mendiskonto arus kas masa depan kembali ke nilai sekarang. Formula tersebut adalah: DCF = CF1(1+r)1+ CF2(1+r)2+… CFn(1+r)n Di mana CF mewakili Arus Kas untuk setiap tahun yang sesuai, r adalah tingkat diskonto, n adalah jumlah tahun ke depan. Sederhananya, rumus ini membawa nilai arus kas dari setiap tahun menjadi nilai saat ini, saat diperlukannya pengembilan keputusan. 5. Hitung Nilai Terminal Estimasi nilai terminal, yang mewakili nilai perusahaan di luar periode proyeksi. Ini sering dihitung menggunakan Model Pertumbuhan Gordon atau metode lain yang sesuai. 6. Jumlah Nilai Sebagai Nilai Sekarang Tambahkan nilai sekarang dari arus kas masa depan dan nilai terminal untuk mendapatkan nilai perusahaan secara keseluruhan. 7. Perhitungan Hutang dan Kas Sesuaikan nilai perusahaan untuk hutang dan kas perusahaan target. Kurangkan hutang perusahaan dan tambahkan kasnya untuk mendapatkan nilai ekuitas. 8. Pertimbangkan Metode Penilaian Lain Sementara DCF banyak digunakan, pertimbangkan metode penilaian lain seperti analisis perusahaan sebanding (CCA) dan transaksi terdahulu. Metode-metode ini melibatkan perbandingan perusahaan target dengan perusahaan serupa atau transaksi akuisisi sebelumnya. 9. Negosiasi dan Pemeriksaan Akhir Nilai yang dihitung merupakan titik awal. Negosiasi dengan pihak penjual dan pemeriksaan akhir yang cermat dapat menghasilkan penyesuaian pada harga akuisisi final. 10. Libatkan Profesional Libatkan penasihat keuangan, bankir investasi, atau ahli penilaian untuk memastikan akurasi dan ketidakberpihakan dalam proses penilaian. Penting untuk diingat bahwa penilaian adalah seni dan ilmu. Kondisi pasar, tren industri, dan keadaan khusus perusahaan target semua dapat memengaruhi penilaian final. Selalu cari nasihat profesional ketika melakukan analisis keuangan kompleks untuk akuisisi.

pustaka naik kelas daftar rekomendasi buku hartanto

Pustaka Naik Kelas

Ada fase dalam perjalanan bekerja dan berusaha ketika pertanyaan tidak...

hartanto

Copyright @Hartanto.id 2026