Suluk Raden Kopi (1) : Pentingnya Rencana Bisnis

1

Mulai 1 Muharram 1438 H, yang bertepatan 1 Oktober 2016 kemarin, saya putuskan untuk menjadi full-time entrepreneur setelah sebelumnya beberapa kali mencoba menjalaninya sebagai sambilan. Salah satu unit usaha yang kemudian saya geluti adalah mengelola sebuah kedai kopi, atau lebih tepatnya coffee corner karena memang baru sebatas sebuah pojok kopi di sebuah resto. Pengalaman kedai kopi, yang kami beri nama Raden Kopi, inilah yang kemudian sedari awal ingin saya bagi melalui blog ini. Minimal, menjadi catatan pribadi saya sebagai bahan perbaikan berkelanjutan yang menjadi keharusan dalam berwirausaha. Baca juga: Hubungan Harga Baju, Harga Diri dan Harga Kopi Catatan-catatan terkait Raden Kopi ini akan saya tulis dalam beberapa sub-judul dengan judul besar Suluk Raden Kopi. Suluk Raden Kopi #1 : Pentingnya Rencana Bisnis Sebagian besar dari kita tentu seringkali mendengar istilah business plan. Tapi sebenarnya, sebelum membahas terlebih jauh, apa definisi business plan?  Rencana bisnis adalah pernyataan formal atas tujuan berdirinya sebuah bisnis, serta alasan mengapa pendirinya yakin bahwa tujuan tersebut dapat dicapai, serta strategi atau rencana-rencana apa yang akan dijalankan untuk mencapai tujuan tersebut. Rencana bisnis juga dapat mengandung informasi tentang latar belakang organisasi atau tim yang bertanggung jawab memenuhi tujuan itu. Sebagaimana kutipan uraian wikipedia di atas, sebuah rencana bisnis dapat kita kenali dengan ciri-ciri singkat sebagai berikut: Pentingnya Rencana Bisnis….  #1. Berisi Tujuan Berdirinya Bisnis (WHAT) Ini hal mendasar yang nampaknya makin kurang dibahas secara serius seiring maraknya semangat berwirausaha dan/atau mendirikan start-up.Dalam tinjauan kasus industri kafe atau tempat nongkrong, sekarang ini (setidaknya di  kota saya tinggal, Cirebon) banyak bermunculan tempat nongkrong baru yang umurnya cenderung singkat. Di lokasi yang sama saja, bisa berubah menjadi 3 tempat nongkrong yang berbeda dalam waktu kurang dari 3 tahun. Dari kacamata saya, hal penting yang menjadi penyebab silih-bergantinya tempat nongkrong sekarang ini adalah kurang kuatnya konsep yang akan diusung oleh tempat usaha itu. Apa tujuan besar dari usaha, dalam hal ini kafe, yang akan didirikan? Dalam catatan saya, banyak dari tempat nongkrong di kota saya ini, dan mungkin juga di kota anda, hanya sekedar ikut trend. Tidak memiliki tujuan besar yang sedemikian kuatnya sehingga layak diperjuangkan dengan target yang realistis dan tidak musiman. #2. Alasan Kuat akan Tercapainya Tujuan (WHY) Perbedaan seorang pemimpi dengan pemimpin adalah di huruf “n”. Ada yang mengartikan faktor “n” disini adalah “nyali” untuk mewujudkan mimpi tersebut. Nyali yang hanya bisa lahir dan bertahan karena sebuah alasan yang sangat kuat untuk bisa berdarah-darah mewujudkannya.Sebagai gambaran, kalau sebuah kafe direncanakan hanya untuk meraup rupiah melihat adanya trend (dan ini juga tidak sepenuhnya salah), maka alasan tercapainya tujuan tersebut akan sangat dangkal. Misal; karena modalnya dari pinjaman maka WHY yang muncul adalah karena kalau tidak berhasil maka akan punya outstanding hutang yang membahayakan kondisi finansial. Sekali lagi, hal ini pun tidak sepenuhnya salah. Hanya saja, kurang kuat sebagai penopang keberlangsungan usaha. #3. Strategi untuk Tercapainya Tujuan (HOW) Setelah tujuan ditetapkan, motivasi didapat, tentu hal berikutnya adalah bagaimana caranya agar tujuan itu terealisasi. Melanjutkan analogi pemimpi tadi, tentu layak untuk ditentukan langkah pertama dan selanjutnya apa yang harus dilanjutkan setelah bangun tidur dan bertekad mewujudkan mimpi itu.Banyak hal bisa dibahas dalam hal ini. Yang jelas dan pasti, dalam sebuah rencana bisnis seorang pengusaha pemula harus bisa merumuskan secara rinci strategi-strategi yang akan diterapkan dalam bisnisnya. Dalam pelaksanaannya boleh saja strategi ini bersifat dinamis, akan tetapi bukan berarti tidak merencanakan apa-apa menjadi lebih baik. Karena rencana tanpa aksi adalah mimpi, tapi aksi tanpa rencana adalah mimpi buruk. #4. Informasi Tim (WHO) Rencanakan dengan matang dan libatkan tim…  Siapa yang bertanggung jawab akan tercapainya ketiga hal tersebut diatas? Bagaimana seorang pembaca bisa diyakinkan bahwa tujuan mulia dengan motivasi kuat disertai strategi yang hebat mampu dieksekusi dengan baik? Di sinilah pentingnya kita memaparkan siapa tim kita dalam sebuah rencana bisnis. Jika Anda berencana membuat sebuah kedai kopi dengan konsep unik dan nilai tambah yang besar bagi para penikmat kopi. Maka sangat penting mencantumkan siapa barrista yang akan didapuk meracik kopi untuk para pelanggan. Penting bagi para pembaca rencana bisnis untuk memperoleh keyakinan mendasar akan tercapainya target usaha.  Yang terjadi belakangan adalah, orang beramai-ramai membuat kafe atau tempat nongkrong dengan tujuan untuk meraup potensi pasar. Alasannya pun sebagaimana sudah disampaikan, dangkal.  Berikutnya, strategi yang disusun pun cenderung sekedar untuk menciptakan keramaian. Dan, point terakhir yang sangat fatal adalah: mereka lupa bahwa ini adalah tetap saja bisnis Food & Beverage yang mengutamakan kualitas produk sajian. Tidak perduli sebagus apa tempat anda, kalau makanan dan/atau minuman anda tidak dapat menarik pelanggan, maka umur usaha kafe anda dalam hitungan singkat. Meramu Rencana Bisnis Bukanlah Proses Sekali Jadi Tulisan di atas merupakan hasil renungan atas apa yang saya lakukan dengan Raden Kopi. Boleh saja digunakan dalam menerapkan rencana bisnis Anda. Tapi, harus diingat kalau rencana bisnis itu bukanlah proses sekali jadi.  Selain itu, setiap usaha akan memiliki karakteristik berbeda yang perlu dipahami setiap orang yang ingin meramu business plan. Semoga tulisan ini bermanfaat. Bagi yang ingin berdiskusi bagaimana meramu sebuah rencana bisnis; apapun bisnis yang ingin didirikan (asal halal ya), feel free to contact me. @hartantoID

Adakah Hubungan antara Bekerja dengan Rizqi?

Sering nggak dengar ungkapan atau pernyataan seperti ini: “Kalau nggak banting tulang, terus anak istri mau makan apa?” “Yang rajin aja susah hidupnya, apalagi yang malas?” Atau seperti ini: “Yang penting berusaha, hasil kan Allah, Tuhan Yang Maha Esa, yang punya kuasa.” Yup, banyak pola pikir dan sudut pandang terkait aktivitas bekerja, berikut segala atributnya, dengan rizqi atau jaminan hidup seseorang di dunia. #1. Jaminan atas Rizqi Di beberapa kesempatan seringkali kita dapati nasihat menyejukkan ini. Bahwa di dalam hidup ini tidak perlu resah dengan rizqi yang kita butuhkan untuk hidup. Sungguh pun demikian, kenyataannya lebih banyak orang yang kemudian disibukkan dengan aktivitas yang seolah harus dilakukan untuk menggaransi berlakunya jaminan ini. Menjadi aneh memang, pada saat kemudian kita direpotkan dengan aktivitas yang tidak perlu. Lha bagaimana dianggap perlu, wong kita sibuk kalang-kabut hanya untuk melakukan sesuatu yang dijamin tidak akan meleset oleh yang memberi jaminan??? Ibarat sederhananya begini; kita beli barang, yang mana kita mendapat jaminan akan adanya penggantian spare parts selama kurun waktu tertentu. Kemudian  dalam kurun waktu tersebut terjadi kerusakan dan kita seolah lupa jaminan dimaksud, berupaya sekuat tenaga mengganti spare parts itu sendiri. Segala daya upaya kita lakukan hanya untuk membuat barang dimaksud tidak lagi original. Betapa meruginya kita. Maka dalam konteks inilah kemudian seharusnya kita sesering mungkin mengingat akan adanya klausul jaminan berikut ini; “Tidak akan diwafatkan seorang anak Adam melainkan sudah kami cukupkan rizqi Kami untuknya.” #2. Bekerja untuk Bersyukur Kalau kemudian jaminan untuk hidup ini sudah ada, lantas untuk apa kita bekerja? Bukankah tidak sedikit orang menjadikan agenda pemenuhan “kebutuhan” dimaksud sebagai motivasi dalam bekerja? Dalam hal ini, kisah seorang Nabi Daud kiranya dapat menjadi pemantik lentera pemahaman kita. Adalah Daud ‘alaihissalam, seorang raja orang Israel, yang sudah tentu kaya. Akan tetapi tetap menekuni usahanya untuk membuat baju zirah dan mendapatkan keuntungan daripadanya, kemudian beliau gunakan untuk menghidupi keluarganya. Sebenarnya, apa perintah Allah, Tuhan Yang Maha Esa, dalam hal ini kepada beliau? Tertera jelas dalam al-Qur’an bahwasannya Allah memerintahkan Sang Nabi untuk bekerja sebagai bentuk rasa syukur. Menarik bukan? Inilah kisah nyata yang patut menjadi panutan. Rasa syukur adalah bentuk terima kasih seorang hamba kepada Sang Pencipta atas setiap kemurahan-NYA. Dalam hal ini, kiranya tidak terlalu mengada-ada pada saat kita mengaitkan rasa syukur ini dengan jaminan rizqi di atas. Disebabkan karena jaminan Allah atas rizqi di dalam hidup kita, lantas kita bersyukur dalam bentuk bekerja. Dan, insya Allah, dikarenakan wujud syukur kita itu maka kemudian Allah menambahkan nikmat-NYA. “Barangsiapa bersyukur akan Aku tambahkan nikmat dari-Ku. Tapi barang siapa mengingkarinya, sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih.” Kesimpulan Kita tentu tidak ingin masuk ke dalam golongan yang mengingkari nikmat-nikmat Allah bukan? Termasuk di dalamnya nikmat berupa jaminan atas rizqi dimaksud. Sungguh, cerita berikut mungkin mampu menggugah hati kita tentang bagaimana merumuskan bentuk kepasrahan atas pastinya janji Allah, dengan usaha yang kita lakukan sebagai bentuk rasa syukur. Alkisah, seekor bayi anak gagak dilahirkan dengan kondisi badan yang putih, tidak serupa dengan ayah ibunya yang hitam. Karena hal perbedaan ini kemudian, sang induk meninggalkan anaknya karena kurang yakin. Namun mereka tidak meninggalkannya sepenuhnya, hanya mengamati dari jarak yang aman. Allah memberikan rahmat-Nya bahkan untuk seekor bayi gagak. Dia berikan aroma wangi saat sang anak gagak kelaparan dan membuka mulutnya. Wangi itu kemudian memancing serangga datang sehingga mudah untuk dimangsa menjadi makanan bagi sang bayi. Setelah kenyang, wangi itu pun Dia cabut sehingga tak ada lagi serangga yang datang mengganggu. Begitu seterusnya hingga tubuh bayi gagak menghitam, dan orang tuanya kembali kepada keyakinannya akan anaknya dan kemudian merawatnya. Mari Teleportasikan Manfaatnya. @hartantoID

Harga Baju, Harga Diri, dan Harga Kopi

Salah satu dari sedikit baju yang saya punya adalah hoodie sporty dengan logo menyerupai ✔. Beberapa waktu yang lalu, hoodie tersebut sering saya kenakan pada saat acara jamuan makan malam dengan kolega kerja. Yang menarik adalah, karena jamuan makan biasanya di resto atau lounge dengan harga secangkir kopi puluhan ribu, maka hoodie tersebut dianggap barang mahal. Awalnya saya tidak terlalu memperhatikan hal itu. Terlebih, karena memang pakaian tersebut saya beli murah, tidak semahal perkiraan teman-teman. Sampai pada siang tadi saya alami kejadian ini. Dari Sebuah Hoodie Pagi ini, karena di Kota Wali yang biasanya panas ini terasa mendung, saya putuskan pakai hoodie. Aktifitas yang sekarang ini mulai membiasa, antar-jemput anak sekolah saya lakoni sendiri karena istri sedang cuti setelah melahirkan sebulan yang lalu. Tiba di sekolah si bungsu, masih sekitar 30 menit lagi sebelum bel pulang. Saya putuskan untuk ngopi di warung seberang jalan. Di warung itu rupanya ada beberapa orang sedang ngopi juga menjadi teman ngobrol saya. Obrolan berkisar di seputaran event “maulidan” yang memang lagi happening di kota ini. Beberapa diantara mereka membahas agenda kapan baiknya mengajak anak-anak ke sana. Sampailah kemudian kepada sub-bahasan tentang apa yang mau dibeli di pasar malam maulidan itu. Saya masih setia menjadi pendengar saja. Sebagai perantau di kota ini sejak 2008, memang saya baru ke acara tahunan itu sekali. Seorang anak muda kemudian membuyarkan lamunan saya dengan sebuah pertanyaan; “itu kaos yang Bapak pakai beli di muludan juga kan?” Sontak saya kaget dan hanya bisa tersenyum sembari kembali menikmati kopi di cangkir saya. Rupanya, diam dan senyum saya langsung diartikan secara template sebagai “iya” oleh si penanya tadi. Jadilah hoodie saya dilabeli barang pasar malam dengan harga obral, hehehe. Tak mengapa buat saya, bahkan menyenangkan karena bisa lebih blended ngopi di warung ini. Namun tak lupa saya mengambil pelajaran dari hal tersebut. Busanamu Bukan Harga Dirimu Dulu, semasa SMP saya pernah mendapat sebuah ujaran dari guru PKK saya;  Ajining rogo ono ing busono Ajining diri ono ing kedhaling lathi Agomo agemaning diri  Saya, dan mungkin beberapa teman lainnya, memahami ini secara harfiah. Bahwa dengan baju yang bagus maka diri semakin diajeni (baca: dihargai). Memang tidak juga sepenuhnya keliru, namun rasanya menjadi kurang tepat manakala disandingkan dengan dua pitutur berikutnya. Bahwa lisan, dan agama menjadi ukuran dan pegangan yang sesungguhnya. Dalam kasus tadi, saya mengambil pelajaran betapa hoodie yang saya pakai pun menjadikan saya lebih berharga diri dalam pergaulan. Tentu, dengan nilai yang lebih lentur. Di saat saya berjumpa dengan kolega saya dengan kopi secangkir Rp 25.000,-, maupun di warung dengan bapak-bapak tadi dan kopi secangkir Rp 2.500,-. Buat saya, harga diri adalah ketika kita diterima diantara manusia lain dengan baik. Kegembiraan bagi saya adalah saat bisa ngobrol dan bertukar pikiran dengan kolega kerja saya. Kegembiraan pula bagi saya ketika bisa diterima di obrolan warung kopi tadi. Akhirnya, saya akhiri sruputan terakhir dari kopi yang saya pesan dan kemudian saya bayar sepersepuluh lebih murah dari kopi di lounge itu. Agak tergesa saya langkahkan kaki untuk menyeberang dan menjemput Kayna, putri pertama saya. Namun kembali saya harus tersentak saat si abang yang tadi bertanya; “jadi bisa ke muludan bareng nggak mas? tolong kasih lihat penjual kaosnya ya.” Dan, saya pun takut untuk tersenyum lagi kali ini. Salam Teleportasi Manfaat. @hartantoID

Dari Dapur untuk Beddo

Seorang teman designer interior pernah mengatakan, bahwa jantung kebutuhan renovasi sekarang ini ada di dapur. Ya, ruang dapur secara harfiah. Menurutnya, saat ini bahkan untuk hunian kecil melahirkan permintaan khusus untuk interior design and build service-nya. Apa Itu Interior Design and Build? Untuk teman saya ini dan beberapa koleganya, tentu sudah tidak asing lagi dengan istilah interior design and build. Tapi bagi saya dan beberapa rekan yang orang awam, mungkin tidak ada salahnya kita mengenal terlebih dahulu apa itu interior design and build? Interior design itu sendiri bermakna a planned choice of style, colour, furniture, etc. for the inside of a house (OXFORD : Advanced Learner’s Dictionary, 1995). Jadi, secara sederhana dapat diartikan bahwa interior design adalah pilihan yang direncanakan untuk sisi dalam sebuah rumah, meliputi gaya, warna, perabot, dan lain sebagainya. Interior design and build itu sendiri, adalah istilah dalam dunia interior yang menerangkan sebuah jasa yang ditawarkan oleh perusahaan konsultan interior. Lingkup pekerjaan dari interior design and build itu sendiri meliputi jasa konsultasi interior, jasa design interior, hingga akhirnya design itu sendiri dieksekusi proses produksi untuk kemudian diinstal di rumah klien. Kenapa dari dapur? Kembali kepada statemen di atas, kenapa permintaan interior design and build lahir dari dapur? Menurut teman saya ini, kebutuhan interior di dapur yang identik dengan nama kitchen set, adalah sebuah kebutuhan unik. Kitchen set memberi pilihan customized mengikuti kebutuhan setiap rumah. Dan, kitchen set juga mempunyai karakteristik yang relatif modular. Sehingga dari kedua keunikannya ini, kitchen set akan menjadi pintu masuk paling ideal baik dari sisi demand maupun supply. Apabila dapur sudah tertata, biasanya akan memberi motivasi lebih bagi pemilik rumah untuk kemudian mempercantik huniannya dengan pilihan yang terencana, sebagaimana deskripsi interior design diatas. Nah, bagi anda yang membutuhkan jasa interior design and build di Cirebon dan sekitarnya, hubungi segera 0811-243-9191. email : beddo@grageindonesia.com IG : @beddo_id website : www.beddo.grageindonesia.com Mari berbenah dari dapur. Mari Teleportasikan Manfaatnya. @hartantoID

5 Tips Resign Untuk Dicermati

Tahun 2002 silam, saya merasakan pedihnya PHK pertama yang harus dihadapi. Saat itu tim kuli bangunan yang saya ikuti harus mengurangi personel karena proyek sudah mendekati proses akhir. Saat itu posisi saya masih sama dengan posisi waktu masuk, pastinya karena baru 3 minggu, yaitu seorang “laden” atau helper. Tugas saya sederhana, membawa mortar dan bahan bangunan lainnya dari tempat adukannya untuk digunakan sang tukang. Sebuah posisi sederhana untuk saya yang saat itu lulusan sekolah kejuruan spesialisasi kimia tekstil dengan nilai yang tidak jelek-jelek amat. Di akhir September kemarin, saya justru mengakhiri karir saya di sebuah group usaha yang cukup besar dengan posisi yang jauh lebih baik. Yah, saya resign – alias mengundurkan diri, bukan karena tidak kompeten ya. Setidaknya, nama saya tercantum sebagai Assistant Director. Perbedaan capaiannya tentu sudah sangat jauh. Tapi justru karena itu menimbulkan sebuah pertanyaan bahkan bagi diri saya sendiri. Ada hikmah apa yang bisa dipetik dari resign ini? Ada 5 point yang saya bisa catat dari resign ini, setidaknya bisa jadi bahan saya pribadi untuk instrospeksi. #1 Jangan Pernah Rencanakan Resign Dari karier saya pertama sebagai kuli bangunan hingga terakhir asisten pemilik group usaha, saya tidak pernah (berhasil) merencanakan untuk resign. Kalau untuk kasus pertama, saat jadi kuli bangunan, jelas lah ya saya nggak bakal berani merencanakan resign. Itu murni PHK karena pengurangan karyawan, eh kuli, clear. Beranjak pada kasus terakhir, saya pun tidak resign dengan rencana. Setidaknya, beberapa kali saya merencanakan resign dan selalu gagal dengan segudang pertimbangan pribadi dan/atau keluarga. Sahabat dan senior saya Febriyan Lukito adalah orang yang paling sering bilang; yakin lo? Dan, akhirnya beberapa kali terbukti keraguannya berbuah batalnya saya resign. Dari beberapa kejadian itu saya berkesimpulan, resign bukanlah sesuatu yang bisa direncanakan. Setidaknya dalam kasus saya. Hal ini mungkin karena setiap kali memulai dan/atau menerima sebuah pekerjaan saya selalu menjalaninya sepenuh hati. Satu kalimat yang selalu saya ingat adalah;  “Jika kita mulai kehilangan semangat dalam menjalani sebuah pekerjaan maka ingatlah di luar sana banyak orang yang memimpikan bisa menjalani pekerjaan kita” #2 Materi bukan Alasan Pindah atau Resign yang Tepat Meski bukan berasal dari keluarga yang berkecukupan, bahkan cenderung kekurangan, saya tidak pernah punya niatan menumpuk materi. Bahkan pada saat saya menjadi kuli bangunan yang naksir calon dokter gigi pun, saya bukan pemimpi yang baik soal materi. Mungkin latar belakang didikan keluarga membentuk saya sedemikian rupa. Dalam dunia kerja pun, jika materi yang dikejar maka akan sangat berdampak buruk bagi perjalanan karier kita pribadi. Bagaimana tidak, karena sebesar apapun materi yang dikejar akan selalu ada pembanding yang membuat seseorang mencari pekerjaan dengan kompensasi materi yang lebih dan lebih lagi. Dalam kasus saya, beberapa kali merencanakan resign untuk sebuah posisi di perusahaan lain dengan renumerasi lebih banyak, saya selalu gagal. Berbagai macam hal menjadi penyebabnya. Tapi yang paling menjadi catatan bagi saya adalah, beberapa kali saya justru menolak posisi yang ditawarkan dengan take home pay tinggi. Hal ini dikarenakan pertimbangan keluarga yang menjadi jauh lebih berharga jika harus dibandingkan dengan tingginya materi yang ditawarkan. Untuk point yang satu ini saya selalu ingat wejangan dari teman saya : “Lakukan apa yang membuat kamu dan keluargamu bahagia, jangan ukur kebahagiaanmu dengan standar temanmu dan keluarganya.” Baca juga: Tips untuk Para Orang Tua untuk Punya Anak Sholeh #3 Kantor adalah Kampus, Selalu ada Waktu Kelulusan Kalau materi kemudian sudah bukan menjadi alasan, maka biasanya ilmu dan pengetahuan yang bisa diperoleh di sebuah perusahaan menjadi poin lebih penting untuk dipertimbangkan. Dari sudut pandang inilah kemudian, salah seorang teman saya menyebut kantornya sebagai kampus, tempat menimba ilmu Saya yakin, banyak dari kita yang berada pada posisi “ngampus” di kantor. Kalau sudah demikian, saya yakin anda semua sadar bahwa akan tiba masanya kelulusan. Semoga kelulusan dimaksud adalah waktu untuk menerapkan ilmu yang sudah dipelajari. Atau minimal lulus untuk menimba ilmu lebih banyak lagi di tempat lain. Dalam analogi “ngampus”, ada yang bisa selesai dengan durasi normal; ada yang bisa ikut program percepatan; ada juga yang butuh mengulang beberapa mata kuliah sehingga waktu yang dibutuhkan lebih panjang. Masuk golongan manapun, yang penting kita tetap fokus pada tujuan awal untuk belajar. Asal jangan sampai kita terlalu menikmati menjadi mahasiswa abadi. #4 Momen vs Masalah Inilah yang seringkali terjadi, kerancuan mengenai pemicu kenapa seseorang kemudian memutuskan resign. Hal ini tentu tidak lepas dari pertanyaan setiap orang ketika kemudian kita memberitahukan bahwa kita akan resign; “emang ada masalah apa?” Loh, emangnya harus ada masalah untuk resign?Bagi saya, penting untuk selalu menanamkan pada diri pribadi dan teman-teman semua yang kemudian saya tinggalkan; bahwa saya tidak resign karena ada masalah. Kalaupun ada masalah, katakanlah perbedaan pendapat, itu tentu bisa saja terjadi kapan pun. Maka selalu saya katakan bahwa itu hanyalah momen yang diberikan oleh Sang Pemilik skenario hidup anda sebagai penentu kapan anda harus melakukan sesuatu.Masalah, kalau tidak untuk disebut sebagai dinamika, akan selalu ada dalam hubungan kerja. Baik kepada atasan, rekan kerja, maupun bawahan, akan selalu ada pola komunikasi yang dinamis. Maka jika kemudian anda memutuskan resign karena ada “masalah” dan pindah ke tempat kerja lain, maka anda harus bersiap untuk selalu resign. #5 Apa Itu Step-Up? Setelah perihal momen, berikutnya adalah tujuan. Sedikit kembali ke point ke #3 maka kita harus menetapkan target perbaikan sebagai penanda waktunya kelulusan (baca: resign). Maka seharusnya kita menetapkan secara definitif apa itu lompatan atau step-up?Dalam kasus saya, yang kemudian berhasil mengalahkan segala rencana resign sebelumnya adalah kemantapan untuk berwirausaha. Dan, benar saja, hal ini yang kemudian membuat pembicaraan “pamit” yang saya sampaikan dengan Si Boss menjadi mulus. Bahkan, berikutnya beliau menyampaikan rasa bangganya bahwa ada anak buahnya yang kemudian step-up.Baca juga: Nilai seorang manusia Kesimpulan Bagi saya, kesuksesan adalah sebuah proses. Sedangkan pencapaian baik dalam hal materi dan/atau lainnya hanyalah sebuah parameter ikutan. Dalam hal parameter ini, tujuan seseorang dengan orang lainnya bisa saja serupa atau bahkan sama. Tapi pilihan jalan menuju kepada tujuan itu boleh saja berbeda.Karena kemerdekaan sejatinya adalah kebebasan untuk bisa saja salah, tapi bukan kebebasan untuk menjadi salah. Hidup terlalu singkat untuk dijalani sebagai orang lain, maka tentukanlah jalan hidupmu !!! @hartantoID

Kompetensi,Kompeten untuk Gengsi, atau Kompeten dan Berprestasi

Pernah ngobrol dengan orang yang serba tau? Setidaknya semua yang kita tanyakan seolah-olah dia bisa menjabarkan semuanya sebagai seorang “ahli”? Sekali lagi tolong dicatat: seolah-olah. Nah, masalahnya sekarang, adakah benar-benar orang yang memiliki kemampuan tersebut? Sekarang catat lagi: sekarang. Ini bukan perihal kebebalan saya tidak mau belajar dari siapapun. Ini juga bukan perihal merasa kurang nyaman dipersepsikan sebagai seorang bodoh, wong memang aslinya saya bodoh koq. Perihalnya ya dua itu; apa benar sekarang ini ada seorang ahli segalanya? sekali lagi, sekarang, serba ahli? Dengan segala keterbatasan saya, saya yakin TIDAK ADA. Expert Learning – Fllickr.com Ahli sebagai Akibat dari Kompetensi Dulu, semasa kecil saya sempat protes kepada ayah saya dengan nama saya yang terlalu singkat menurut saya. Kenapa? ya karena kebanyakan teman saya memiliki nama minimal dua kata, sementara saya cuman satu kata: hartanto. Dari situ saya berpikir untuk memanjangkan nama saya dengan gelar yang saya citakan untuk saya peroleh dari jenjang akademis. Kali ini juga catat, masih dalam tahap cita-cita, masih berproses. Kembali kepada hal yang saya coba sharing di atas, bahwa sejatinya tidak ada saat ini orang yang ahli dalam segala hal. Kalaupun ada definisi ahli pada saat ini, seyogyanya itu hanyalah gelar yang disematkan oleh orang lain kepada seseorang yang mereka (atau secara akademis) anggap memiliki kompetensi yang disematkan padanya. Jadi makin jelas bisa dipahami, bahwa sematan gelar ahli hanyalah akibat dari kompetensi yang dia miliki, itu pun dalam bidang (akademis) membatasi dan mengkotakkannya. Alhasil, menjadi sangat lucu kalau ada seseorang yang mendadak pintar sekali dalam segala hal. Dan, menjadi sangat-sangat lucu apabila ada orang yang mengejar kompetensi dengan keahlian. Belajar dari Manapun, Tentang Apapun Ibnu Sina – Wikipedia Sedikit flash-back ke tepian sejarah masa lalu, setidaknya yang saya tahu ya, para ahli jaman dahulu yang kita ketahui belakangan justru lebih terkesan haus ilmu. Sebut saja Leonardo Da Vinci yang semula hanya kita dengar sebagai seniman penghasil lukisan Monalisa yang kesohor itu, ternyata juga seorang penemu rancangan helicopter. Satu lagi contoh; Ibnu Sina, atau kalau di barat dikenal sebagai Avicenna, Bapak Kedokteran dunia yang bukunya masih jadi rujukan para pembelajar bidang kedokteran. Beliau ternyata adalah juga seorang ulama besar yang juga dikenal sebagai seorang filsuf. Bahkan George Sarton menyebutnya sebagai “ilmuwan paling terkenal dari Islam dan salah satu yang paling terkebal pada semua bidang, tempat, dan waktu”. Pertanyaanya, kenapa para ahli terdahulu bisa sedemikian hebat? Tentu karena mereka mau dan mampu belajar dari siapa pun, tentang apa pun, kapan pun. Kesimpulan Mungkin ungkapan yang baru-baru ini saya dengar dari seorang Indro Warkop bisa menjadi tali penghubung kondisi diatas; Seseorang yang mengejar prestige tidak akan mendapatkan prestasi. Tapi seseorang yang sudah memiliki prestasi, akan dengan sendiri nya memiliki prestige. Jadi, terkait kompetensi apakah itu kompeten dan berisi atau kompeten untuk gengsi, tergantung apa yang ingin kita kejar dengan kompetensi itu; prestasi  kah?  Atau prestige? @hartantoID

Tentang Manusia dan Ukuran – Dua Ukuran Manusia yang Harus Kamu Tahu

Tiba-tiba pagi ini teringat sebuah pernyataan dari Einstein, bahwa sesungguhnya kesederhanaan (simplicity) adalah bentuk paling canggih dari setiap kompleksitas. Itulah mungkin kenapa dia mencipta rumus yang “hanya” E=MxC2 dengan rentetan penelitian yang sedemikian kompleks dan panjang. Atau, barangkali bisa dibaca demikian; semakin canggih sesuatu semestinya semakin sederhana, bukan semakin kompleks sebagaimana yang kita hadapi setiap hari. Berbagai perumpamaan yang pernah kita dengar tentang manusia dan ukuran kehidupannya di dunia ini pun tidak lepas dari kesederhanaan. Nabi Muhammad S.A.W pun terkenal dengan ucapan yang singkat namun sarat makna. Sunan Kalijaga bahkan pernah berujar;  “Urip mung mampir ngombe” Kalau dalam ukuran waktu yang hanya sekedar numpang minum itu, kita sudah berpolah seolah akan hidup selamanya? Maka betapa “tidak-canggih” nya kita??? Manusia dan Ukuran – Dua Ukuran Manusia yang Perlu Kamu Tahu Dulu, saat saya sama sekali belum mengerti bahwa hidup se-njelimet ini, Guru mengaji saya pernah berwasiat bahwasanya manusia dan ukuran mereka dalam hidup itu untuk dua ukuran.  Pertama, adalah ketaqwaan kepada Sang Pencipta. Kedua, adalah kebermanfaatan untuk sesama.  Kedua ukuran sederhana ini kemudian dibawa menjadi sangat kompleks oleh manusia pada penerapannya. Manusia dan ukuran dalam hidup ini memang agak njelimet karena manusia sendiri. Memang, keduanya tidak sepenuhnya bisa dikatakan sederhana dalam pola pikir kita sebagai manusia. Tapi kalau kita senantiasa sadar sebagai seorang hamba, maka kesederhanaan tujuan itu menjadi sangat niscaya.  Manusia dan Ukuran dalam Hidup #1. Ketaqwaan Di Mata Allah, Tuhan Semesta Alam, makhluk yang lebih utama dalam pandangan-NYA adalah yang lebih bertaqwa. Sekali lagi, secara sederhana disampaikan, bahwa taqwa adalah menjalankan segala yang diperintahkan oleh-NYA dan menjauhi segala larangan-NYA.Sederhana dalam deskripsi, tapi ya seperti tadi sudah dibilang, sangat kompleks dalam implementasinya oleh manusia. Membahas untuk konsisten (istiqomah) menjalankan satu perintah Allah saja sepanjang hidup sudah cukup “kompleks” bagi manusia. Apalagi perihal meninggalkan larangan-larangan dari-NYA yang cenderung terlihat sebagai kenikmatan dunia. Sungguh, ketaqwaan ternyata bukan perihal sederhana. Manusia dan Ukuran dalam Hidup #2. Kebermanfaatan Di mata sesama, dan segenap makhluk lainnya, manusia yang lebih utama adalah manusia yang lebih banyak kebermanfaatannya kepada sesama makhluk. Sederhana saja, di mata anda secara pribadi, lebih utama mana antara teman A yang tidak pernah membantu dengan teman B yang senantiasa ada untuk anda?Dari ukuran ke-dua ini, seorang manusia menjadi punya semacam guideline yang jelas dalam menjalani hidup dan kehidupannya. Dari sini pula, lebih mudah dipahami bahwa rizqi kita sesungguhnya adalah yang kita manfaatkan untuk sesama, bukan yang kita telan sendiri. Sinkronisasi Dua Ukuran dalam Hidup Manusia Dari kedua ukuran di atas, kemudian timbul pertanyaan; bisakah keduanya sinkron? Praktiknya, sering muncul pertanyaan atau pertentangan bahwa seseorang yang (merasa) mendekat kepada Tuhannya menjadi jauh dari sesamanya. Atau sebaliknya, seseorang yang sibuk dengan sesamanya condong pada menjauh dari Tuhannya. Benarkah demikian???Rasanya tidak mungkin aturan ilahi bertentangan satu dan lainnya. Demikian juga kedua ukuran yang sedang kita bicarakan. Ketaqwaan kepada Tuhan sudah barang tentu menjadikan seorang makhluk untuk lebih bisa memberi manfaat kepada sesamanya. Contoh yang paling “continuum” adalah, bahwa sholat saja dimulai dengan takbir mengagungkan nama-NYA dan diakhiri dengan menebar salam ke kiri kanannya?Jadi, tetaplah kita saling mengingatkan untuk senantiasa memegang teguh kedua ukuran itu. Hidup memang hanya sebentar, namun dalam waktu yang singkat itu kita dituntut mencari bekal sebanyak-banyaknya untuk kehidupan nanti yang kekal.Menutup coretan pagi ini, menarik untuk kita ingat lagi sebuah catatan lama; “Jika ada dua orang; yang satu taat beribadah namun berakhlak buruk kepada sesama, yang kedua sangat baik kepada sesama namun tidak mengenal Tuhannya. Maka kita wajib berdo’a; semoga ibadah-ibadahnya orang pertama membawanya kepada kesadaran bahwa selama hidup di dunia pintu ibadah kepada sesama adalah lebih banyak dan layak diperjuangkan, dan semoga kebaikan-kebaikan orang kedua membawanya kepada hidayah untuk bisa mengenal Allah” @hartantoID

4 Tips Punya Anak Sholeh Yang Bisa Kamu Lakukan, Wahai Para Orang Tua

Bismillah, ini adalah seri #SKJ (Sari Khutbah Jum’at) pertama yang akhirnya saya published. Sudah lama saya berkeinginan untuk menulis setiap materi khutbah sholat jum’at yang saya ikuti tiap minggu di beberapa masjid berbeda. Kali ini, saya alhamdulillah bisa kembali mengikuti sholat jum’at di Masjid Abdurrohim, Panjunan – Cirebon. Sekilas Tentang Masjid Abdurrohim  Penampakan masjid ini agak diluar lazimnya untuk daerah Cirebon karena masjid ini menggunakan dua blok ruko sebagai areanya. Dengan interior yang “tidak terlalu” seperti masjid pada umumnya, anda akan terkejut dengan aktifnya kegiatan keagamaan disini. Terlebih, di saat bulan Ramadhan, setiap malam masjid ini ramai dikunjungi tidak hanya saat tarawih tapi juga banyak anak muda ber-i’tikaf. 4 Tips Punya Anak Sholeh Materi khutbah jum’at kali ini adalah empat tips untuk menjadikan anak kita sholeh atau sholihah. Hal ini tentu penting sekali sebagai bagian tak terpisahkan dari materi parenting yang saat ini sedang marak didengungkan. Tentu saja, karena setiap manusia menyadari bahwa mereka tidak akan hidup selamanya, dan pada saatnya nanti mereka akan bergantung pada anak-anak mereka. Bahkan di salah satu ayat-Nya, Allah menyatakan bahwa di alam barzakh beberapa orang mendapatkan kedudukan dan kemuliaan hingga mereka bingung dan bertanya; “Ya Rabb, dari mana datangnya kemuliaan yang Engkau karuniakan ini?” Dan Allah pun menjawab; “itu semua karena do’a dan permohonan ampun anak-anak kalian”. Sungguh, anak yang sholeh atau sholihah adalah aset yang sangat berharga. Lantas, bagaimana agar anak-anak kita menjadi anak yang sholeh atau sholihah? #1. Do’a Orang Tua Sebagus apapun upaya kita sebagai orang tua, tentu hasil akhir akan ditentukan oleh-Nya. Karena itu, ada baiknya memang tips yang satu ini diletakkan di awal. Juga, karena do’a yang dianjurkan juga biasanya adalah do’a bagi para pasangan yang belum dikaruniakan keturunan.  Banyak contoh tuntunan do’a terkait keturunan yang baik, salah satunya yang senantiasa didengungkan oleh Nabi Ibrahim yang diabadikan oleh Allah di dalam al-Qur’an Surat As-Shaffat ayat 100 sebagai berikut: “Robbi Habliy Mina As-Sholihiina” Artinya: “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang sholeh” (Q.S.As-Shaffat : 100) #2. Teladan Orang Tua Mengingat bahwa anak adalah peniru yang terbaik, maka teladan orang tua menjadi sangat penting. Makin bagus amal ibadah kedua orang tua, akan mampu memberikan tidak hanya motivasi dan anjuran, akan tetapi juga teladan dan tuntunan untuk anak menjadi lebih baik.  Dari sini maka tidaklah salah apabila dikaitkan dengan do’a diatas, dimana orang tua tidak hanya meminta untuk dikaruniakan keturunan yang sholeh, namun juga untuk mampu menjadi imam yang muttaqien. Sebagaimana termaktub dalam Q.S.Al-Furqan ayat 74: Yang artinya:“…Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa.” (Al-Furqan 25:74) #3. Pendidikan Terbaik Di era informasi dewasa ini, bekal anak untuk bisa tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang mumpuni tidak cukup hanya dengan kemampuan atau skill kerja saja. Kepribadian yang kokoh hanya akan terwujud dengan pilar-pilar akhlaq yang kuat. Di sini pendidikan agama mengambil peran vital. Bahkan, sedari dini kita harus tanamkan pada anak-anak bahwasannya agama adalah “ageman” atau bekal hidup. Tidak hanya berisi ritual peribadatan vertikal kepada Sang Pencipta, Islam juga berisi panduan lengkap hidup mulai dari masuk WC hingga tata hidup bernegara. Sudah terlalu banyak contoh dimana anak-anak dengan kemampuan kerja mumpuni namun tidak didasari oleh akhlaq yang memadai, mengakibatkan mereka lupa dan kehilangan jati diri. Bahkan di beberapa kasus mereka berbalik durhaka kepada orang tua, na’udzubillah. #4. Makanan Halal dan Thoyyib Tumbuh kembang anak membutuhkan “bahan baku” yang harus dipastikan baik. Baik dari sisi perolehannya, juga baik dalam hal kualitasnya. Dalam Islam, makanan yang dianjurkan tidak hanya makanan yang halal, tapi juga halal dan thoyyib, baik dan bergizi. Dari makanan yang halal itulah anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang sholeh atau sholehah. Penutup Menyimak khutbah tadi membuat saya berpikir, di era sekarang ini, di jaman dimana halal dan haram menjadi terlalu samar, betapa tantangan mendidik anak menjadi semakin nyata. Kalau kita gagal, kita hanya akan mewariskan generasi-generasi yang lebih buruk perangainya di muka bumi ini. Na’udzhubillah.

#AADC2; Angka 2 dan Tanda Tanya itu?

Malam minggu kemarin, saya dan istri berkesempatan menonton sekuel dari sebuah film legendaris Ada Apa Dengan Cinta? yang dulu pertama tayang di 2002. Tak bisa dipungkiri, kami memang menunggu film ini. Dan, melalui tulisan ini saya ingin berbagi perasaan dan kesan dari acara nonton kami ini. Sebagai pengingat, ini bukan tulisan review film sebagaimana teman saya biasa lakukan. Saya jauh dari kapasitas itu. Keterikatan Setting AADC dan AADC2 Bagi Kami Dari sejak pertama diumumkan untuk dibuat sekuelnya, saya pribadi merasa sangat excited. Pertama, dan ini mungkin alasan dari hampir semua fans AADC dahulu, adalah adanya keterikatan emosi antara kehidupan kita sebagai fans dan setting dalam film tersebut. Bagi kami, AADC bukan sekedar film, lebih dari itu AADC adalah kisah bersama. Buat saya pribadi, Rangga yang dalam adegan terakhir pergi untuk menggapai cita-cita demi Cinta adalah representasi diri. Saya menonton film AADC dulu dengan kondisi LDR (Long Distance Relationship) karena harus mencari kuliah gratisan di Jakarta. Sementara “si Cinta” yang ingin saya ajak menonton sedang pula kuliah di Jogja, yang ini tidak gratisan. Rangga yang menjanjikan akan kembali dalam satu purnama untuk Cinta. Sedangkan saya adalah seorang anak culun, yang menganggap semua anak SMK hanya akan lulus dan mencari kerja. Tiba-tiba harus “setengah gila” mendapati pujaan hatinya kuliah di Jogja, kedokteran gigi pula !!! Maka mengutip janji si Rangga, saya pun berjanji akan pulang dengan bangga demi mendapatkan cintanya. Bukan untuknya, tapi untukku. Hash… Saya yakin, banyak sekali setting yang secara magis mengikat para fans seperti saya dan istri. Tidak heran tiket bioskop untuk film ini laris manis, bahkan kalau bisa pesan di depan. Beruntung saya sempat beli tiket di pagi hari dan menonton di malam harinya, bersama si Cinta yang telah kudapatkan cintanya. Hingga sekarang beranak 2(dua). Iya, dua, seperti AADC yang sudah menyertakan angka dua di belakang judulnya. Tapi kami menonton film ini hanya berdua, tanpa anak-anak karena memang film ini ratingnya untuk remaja/dewasa. Angka 2 dan Tanda Tanya Itu Dengan membawa memori versi masing-masing, semua penonton pasti kemudian punya ekspektasi. Perlu dicatat sebelumnya bahwa fans AADC tentu sekarang kondisinya sudah berbeda. Saya yang dulu nonton dari kepingan bajakan dan itu pun numpang di kamar kost teman, sekarang sudah bisa beli tiket nonton di eks-eks-wan, hehehe. Dari kondisi itu sudah cukup jelas bahwa ekspektasi sangat mungkin menjadi terlalu tinggi. Soal drama, saya rasa film ini tidak terlalu drama dalam hal alur cerita. Sebagai contoh, kenapa kemudian si Rangga memutuskan Cinta hanya melalui secarik kertas surat di era modern ini. Ternyata hanya karena Rangga merasa tidak mampu memenuhi bisikan Ayah Cinta saat kunjungan ke New York sebelumnya. Dia merasa belum mapan dan bisa membahagiakan sang pujaan hati. Rasa malu yang seolah sederhana sekali, namun sudah kian langka untuk saat ini. Kemudian, yang senantiasa di tunggu dari Rangga tentu puisi-puisinya. Belum lekang dari ingatan betapa film AADC sangat bisa memasyarakatkan sastra dan mensastrakan masyarakat. Bahkan, buku AKU karya Sumandjaya mendadak laris dan dicetak ulang. Begitu juga dalam sekuelnya di AADC2, Rangga tetap mempesona dengan puisi-puisinya. Si Cinta tetap sangat mendamba puisi dari Sang Rangga. Bacalah puisi dengan judul “Batas”. Yang kemudian akhirnya mampu mengubah segala asumsi ending dari AADC2: Batas – M. Aan Mansyur Semua perihal diciptakan sebagai batas. Membelah sesuatu dari sesuatu yang lain. Hari ini membatasi besok dan kemarin. Besok batas hari ini dan lusa. Jalan-jalan memisahkan deretan toko dan perpustakaan kota, bilik penjara dan kantor walikota, juga rumahmu dan seluruh tempat di mana pernah ada kita. Bandara dan udara memisahkan New York dan Jakarta. Resah di dadamu dan rahasia yang menanti di jantung puisi ini dipisah kata-kata. Begitu pula rindu, hamparan laut dalam antara pulang dan seorang petualang yang hilang. Seperti penjahat dan kebaikan dihalang uang dan undang-undang. Seorang ayah membelah anak dari ibunya—dan sebaliknya. Atau senyummu, dinding di antara aku dan ketidakwarasan. Persis segelas kopi tanpa gula menjauhkan mimpi dari tidur. Apa kabar hari ini? Lihat, tanda tanya itu, jurang antara kebodohan dan keinginanku memilikimu sekali lagi. Tanda Tanya Itu… Kenapa saya katakan puisi diatas menjadi klimaks pengubah akhir AADC2 ? Bagi saya pribadi, terasa sangat epic pada saat dulu AADC diakhiri dengan janji seorang Rangga untuk kembali dalam satu purnama. Benar-benar menyisakan tanda tanya di benak semua fans hingga ratusan purnama. Tapi di AADC2 tanda tanya itu berubah jadi angka 2. Puisi “Batas” benar-benar membawa saya pada awang seperti halnya dulu AADC akan berakhir. Tapi saat kemudian Cinta memutuskan pergi ke New York dan mengakhiri semua tanda tanya yang ada. Tidak Ada lagi fans yang akan mengasumsikan bagaimana akhirnya hubungan Cinta dan Rangga. Tidak ada tanda tanya hari ini, tidak di New York atapun Jakarta. Jadi jangan tanyakan lagi; Ada Apa Dengan Cinta? @hartantoID

Membaca atau Menulis dulu?

Pernah isi sebuah form yang menanyakan hobi kamu? Seberapa sering kita dapati orang dengan hobi membaca atau menulis? Seberapa yakin kamu dengan pernyataan hobi membaca dan menulis tersebut? Banyak dari kita menyatakan membaca dan menulis sebagai hobi, baik dalam kolom isian, ataupun percakapan sederhana sehari-hari. Tapi faktanya, kebanyakan menjadikan membaca dan menulis hanya sebagai “pelarian” agar tidak terkesan tidak punya hobi. Ya iyalah, kan memang kehidupan sehari-hari kita tidak bisa lepas dari baca dan tulis. Membaca untuk Menulis Nah, balik ke dunia tulis digital kekinian, a.k.a blogging. Saya pribadi sih merasa sangat butuh membaca dibanding menulis. Dan, saya rasa virus butuh membaca itu yang saat ini kurang. Banyak orang ingin bisa menulis tanpa mau banyak membaca (kalimat ini juga terutama untuk diri saya sendiri). Itu sudah seperti orang pengen lancar buang air besar tanpa mau makan. Mendekati hil yang mustahal bukan? Sederhananya begini; membaca memberi banyak input, sedang kan menulis mengeluarkan sebentuk output. Nah, jadi semakin jelas kan mana yang harus didahulukan? Seorang blogger pun demikian, tidak mungkin ada output berupa tulisan darinya tanpa adanya aktivitas menyerap bahan dari sekitar, yang kemudian bisa kita generalisasi sebagai membaca. Membaca dalam hal ini meliputi pengamatan sekeliling, melatih kepekaan terhadap lingkungan, menangkap apapun yang terjadi di lingkungan kita sebagai bahan perenungan.  Dalam dunia digital seperti sekarang ini, lingkungan menjadi sangat luas, bahkan world-wide. Mendengar dan Berbicara Perumpamaan di atas juga bisa diterapkan dalam keseharian. Banyak membaca bisa diartikan banyak mendengar.  Menulis adalah bentuk grafis dari berbicara. Seorang yang pandai berbicara, dalam artian positif, tentu harus banyak mendengar. Kalau tidak, tidak akan bertambah kemampuannya dalam berbicara. Bukankah, berbicara hanya mengulang apa yang kita sudah ketahui. Sedang kan mendengar memberi kita banyak pengetahuan baru.Nah nambah lagi kan? Kesimpulan Jadi, mana yang lebih dulu kalian lakukan? Membaca, menulis atau mendengar? Apapun yang kalian pilih, semua itu bagus kok dan kegiatan positif. Jalani yang kalian inginkan.  Selamat membaca. @hartantoID

pustaka naik kelas daftar rekomendasi buku hartanto

Pustaka Naik Kelas

Ada fase dalam perjalanan bekerja dan berusaha ketika pertanyaan tidak...

hartanto

Copyright @Hartanto.id 2026