SAL, Levelmu Belum Tepat – Bukan Di Sini

1

Hartanto.id – Berikut ini adalah sebuah cerita seru. Bahkan boleh dibilang, merupakan salah satu fragmen terseru dalam masa saya bekerja sebagai VP. Walaupun waktu itu saya hanya VP di di sebuah group usaha kecil dan di kota yang juga tidak besar, namun saya berharap, cerita ini bisa menjadi gambaran besar. Sudah jamak diketahui bahwa dalam sebuah transformasi organisasi akan selalu ada gejolak. Apalagi jika sebuah family company mencoba berbenah ke arah yang lebih terbuka. Tidak jarang penentangan terjadi dengan dorongan alam bawah sadar organisasi.  Seperti sebuah kultur. Saya kebetulan direkrut sebagai langkah awal transformasi tersebut. Dari kolusi ke meritokrasi. Tapi tentu sebagai langkah awal tidak pernah mudah. Manager HRD Baru Sebagai VP, saya ditugaskan membawahi banyak departemen. Di holding itu sendiri. Ataupun koordinator bagi hampir semua sister company. Di tahun-tahun awal itulah saya butuh membenahi kepersonaliaan. Terlebih setelah HRD lama pensiun dini. Maka tibalah masa untuk merekrut officer baru. Pilihan jatuh pada kandidat dari Big Boss. Hanya sebuah ilustrasi – bukanlah SAL ya.  Sudah bukan pilihan keluarga memang. Tapi masih dengan pertimbangan ikatan emosional. Sebut saja namanya “Sal”. Nanti di akhir tulisan akan ada alasan untuk penyebutan ini. SAL dan Bebannya Sal ini anak baik. Komunikasinya bagus. Mudah bergaul dengan senior. Bahkan di usianya yang muda sekalipun. Punya daya tarik personal yang bisa dibilang charming. Fresh graduate pula. Buat saya, awalnya, ini adalah modal yang sangat bagus. Bukankah salah satu fungsi HRD adalah komunikasi yang baik dengan seluruh lapisan? Apalagi di holding ini banyak senior. Saya pun mengalaminya di awal-awal periode saya bergabung. Bulan pertama dilewati dengan pengenalan. Internal maupun eksternal. Sebagaimana dugaan, anak ini mudah bergaul. Supel, dan disukai teman ngobrolnya. Laporan itu saya peroleh dari hampir semua pihak yang berkaitan dengannya agar lebih obyektif. Namun, tidak serta-merta saya iya-kan. Saya tahan karena saya paham betul masih ada nada sungkan dari setiap laporan saya. Bukankah Sal adalah pilihan big-boss? Bulan kedua target pun saya geser. Dari perkenalan dengan personel, menjadi perkenalan dengan pekerjaan. Apa-apa saja yang menjadi pekerjaan manajer lama yang harus dia teruskan, perbaiki, atau bahkan hentikan.  Bekerja dalam TIM.  Saya berharap Sal bisa memilah ketiganya dengan sempurna. Benar-benar berharap banyak. Dengan background dan karakter nothing to lose yang saya dapati di dirinya. Setidaknya di kesan awalnya. Namun ternyata, karakter tanpa beban itulah yang jadi titik krusialnya. Untuk setiap kondisi yang dia tidak menguasainya, dia bahkan terlalu tanpa beban untuk berlaku tidak tahu. Padahal, posisi dia sebagai manager HRD tidak boleh seperti itu. Sederhananya, dia menjadi tidak paham tentang jenjang dan struktur komunikasi dalam perusahaan. Padahal itu tugas utama dia sebagai kepala kepersonaliaan. Bypass Komunikasi Ketidakpuasan penanganan masalah-masalah yang diajukan kepada Sal, akhirnya berbuah banyaknya bypass dari rekan-rekan di hampir semua lini. Langsung kepada saya dan Bu Boss, memang beliau yang membidangi kepersonaliaan. Saya, menanggapi hal itu sebagai bentuk ketidakpercayaan. Atas kapasitas Sal sebagai pimpinan dan pemegang tanggung jawab terhadap hal-hal yang dikeluhkan.  Sementara Bu Boss, dengan segala kebijakannya menganggap itu sebagai proses belajar.  Saya keukeuh dan berargumen, bahwa dalam konteks ini tidak boleh dijadikan proses belajar. Urgensi permasalahannya tidak bisa ditangani sebagai studi kasus. Sal pun tetap tidak beranjak belajar di bulan ketiga. Juga bulan keempat, saat berakhirnya masa percobaan. Dia masih asyik dengan agenda kongkow-kongkownya. Dengan setiap mitra kerjanya. Memang penting untuk menjaga komunikasi informal. Hanya jika fungsi official pokoknya terpenuhi. Baca juga: Kompetensi, Kompeten untuk Gengsi atau Kompeten dan Berprestasi Tapi yang terjadi sebaliknya. Agendanya sepanjang masa percobaan cenderung hanya mengejar keterkenalan dirinya sebagai pejabat baru. Tapi setiap permasalahan yang datang padanya tidak langsung tertangani dengan alibi masih dalam proses penyesuaian. Buat saya ini fatal. Bagian personalia menghadapi masalah keseharian. Setidaknya urusan gaji dan tunjangan saja harus dikerjakan setiap bulan. Tidak bisa menunggu pemahaman setelah masa percobaan. Penilaian kerja itu nyata SAL. Sayangnya SAL, Levelmu belum tepat. Nasib SAL, Pada Akhirnya…  Masa percobaan usai. Dan rapat pimpinan pun digelar, untuk evaluasi. Saya sampaikan pandangan menyeluruh, hasil observasi sepanjang 4 bulan. Mulai dari keunggulan dan harapan pada Sal. Hingga perkembangan dan dinamika yang terjadi atas setiap sepak terjangnya. Dia enak sebagai teman ngobrol, tapi bukan sebagai pemegang control. Dia populer, tapi belum bisa jadi manager. Apalagi jika kami berharap bisa visioner, untuk menjadi inisiator pengembangan sumber daya manusia korporasi kami. Yang itu adalah kunci ditengah perkembangan usaha kami. Tibalah saat itu. Saat saya harus menjadi juru bicara penentu. Menyampaikan ketidaksesuaian antara harapan dan perolehan kami. Atas kinerja yang menjadi hak kami atas Sal. Dengan ke-muda-annya, saya sampaikan bahwa masih banyak kesempatan yang lebih baik untuknya di luar sana. Akhirnya, terucaplah tanggapan dari Sal yang akan selalu saya ingat: “Somebody has to go to the LEFT to get everything RIGHT” Saya menyebutnya SAL, dari kata SALAH. Bukan berarti dia yang salah. Tapi keputusan kami memberinya mandat yang belum pada tempatnya, itulah yang harus diperbaiki.

Bisnis dan Momentum

3

Nada dering di handphone pagi itu menunjukkan ada panggilan dari nomor tak dikenal. Beruntung aktivitas memang sudah masuk jadwal kerja meskipun ngantor dari rumah. Singkat cerita, itu adalah kontak dari seseorang di kampung halaman. Menawarkan sebentuk kerjasama pengembangan usaha. Dia dapat nomor saya dari social media. Saya sebenarnya kurang yakin. Untuk membuka usaha di kampung sendiri. Entah kenapa. Rasanya seperti kekhawatiran tercampurnya liburan dan pekerjaan. Atau hanya karena belum pernah dicoba. Terlebih lagi, bidang yang ditawarkan belum pernah masuk Curriculum Vitae (CV) saya. Akan tetapi, pandangan lain justru datang dari partner saya. Yang sekaligus jadi mentor harian saya. Sejak 2 (dua) tahun lalu. Beliau melihat ini peluang besar. Untuk menghidupkan jaringan bisnis saya di kampung halaman sendiri, dari sebelumnya sekadar jaringan pertemanan. Terlebih tawaran yang datang tidak terlampau susah secara teknis. Semacam membantu si penelepon tadi untuk menangkap kuota yang terlalu besar baginya sebagai putera daerah. Yang kejatuhan durian karena datang investor untuk membangun usaha di wilayahnya. Yang lebih meyakinkan lagi, mentor saya ini punya segudang pengalaman di bidang ini. Terkadang… kita memang harus membuka mata lebar-lebar. Ke sekeliling, termasuk ke atas. Agar bisnis dan momentum tidak hilang begitu saja dalam hidup kita.  Okay, confirmed. Ambil. Proses awal pun berjalan. Rapat demi rapat secara marathon dilalui. Persis, seperti awal feeling awal: saya sering mudik dan beberapa kali tanpa agenda keluarga. Hingga akhirnya, setelah semua fase persiapan di atas kertas rampung. Tibalah waktu untuk mencari permodalan. It’s ngamen time. Dan di sini ujian sebenarnya. Begini, karena memang itu bukan field base saya, maka kolam saya untuk cari investor pun tidak cocok. Itu yang salah tertanam di saya awalnya. Dan itu menentukan semuanya. Momentum dalam Bisnis Sebenarnya bukan hal yang baru saya dengar terkait hal ini. Bahwa sangat penting bagi pebisnis pemula seperti saya ini, untuk bisa menangkap peluang secara jeli. Maka dari itu latihan adalah jalan satu-satunya. Konsekuensinya; kegagalan adalah keniscayaan.  Makanya ada kredo: habiskan jatah gagalmu. Bukan berarti tidak akan ada kegagalan setelahnya. Hanya saja pebisnis jadi semakin terlatih untuk mem-bau-i sedini mungkin. Itu menurut pandangan saya. Baca juga: Bisnis VS Investasi – Apa Bedanya? Dalam kasus cerita saya di atas. Akhirnya saya dapat investor tapi sudah sangat terlambat. Setidaknya itu terlihat dari hitungan penawaran yang kemudian direvisi oleh penelepon tadi. Semula kamilah yang akan jadi majority. Dengan harapan bisa menjadi “penyelamat muka” bagi sang putera daerah. Tapi karena keterlambatan ini, kami harus mau menjadi sekadar minority dalam hal margin keuntungan yang dibagi. Peluang ada di hadapan artinya ada MOMENTUM. Bisnis dan momentum ini harus jeli. Terutama dalam memanfaatkan momentum dalam bisnis! Apa Itu Momentum… Apa Saja yang Perlu Diperhatikan Terkait Momentum (Peluang Usaha) ini? Sejujurnya saya paling susah mencerna pelajaran Fisika semasa SMK dulu. Terlalu ghaib buat saya. Tapi karena kebutuhan menuliskan momentum ini jadi saya sedikit membaca kembali apa itu momentum: n (U) 1. a force that increases the rate of development of a process(physics) 2. the quantity of motion of moving objects, measured as its mass multiplied by its speed (OXFORD : Advanced Learner’s Dictionary) Intinya sih, ada beberapa hal terkait momentum ini yang harus diperhatikan: #1. Momentum Searah dengan Kecepatan Karena momentum ini adalah besaran vektor, yaitu besaran yang dipengaruhi oleh arah. Maka hal pertama yang harus diperhatikan adalah arah. Dalam tadabbur saya terkait momentum dalam bisnis, kemana arah kita menangkap peluang adalah sangat berpengaruh terhadap momentum yang dihasilkan. Terkait cerita sebelumnya, ke mana arah saya mencari investor sangatlah berpengaruh terhadap daya tangkap saya terkait momentum. Karena kebingungan saya, maka kemudian arah saya pun memutar sehingga mengakibatkan keterlambatan. Yang mana itu sangat fatal dalam menangkap peluang bisnis. Atau setidaknya kita kehilangan kesempatan. Opportunity lost. Baca juga: Tips Investasi ala Raden Kopi #2. Bergerak untuk Mendapatkan Momentum Hal kedua adalah momentum dimiliki oleh benda yang bergerak. Mudahnya, momentum adalah kecenderungan benda yang bergerak untuk melanjutkan gerakannya pada kelajuan yang konstan. Momentum tidak dimiliki oleh benda yang diam. Adalah sangat kebangetan apabila saya bilang saya punya opportunity lost sebelum saya bergerak untuk menangkap sebuah peluang. Lost-nya dari mana wong nggak ada usaha sama sekali? Jadi intinya, tetaplah bergerak dalam upaya memperoleh momentum. Ambil momentumnya, karena di era yang berubah sangat cepat ini kesalahan yang fatal adalah saat tidak melakukan apapun Kesimpulan Seperti yang sudah sering kita dengar. Kesuksesan hanya merupakan pertemuan antara kesempatan dan kesiapan. Latih kesiapan dengan keahlian professional yang searah dengan kesuksesan yang ingin diraih. Dan temukan kesempatan dengan tetap bergerak. Ngomong-ngomong, kesempatan pengembangan usaha yang ada di awal cerita tadi akhirnya tidak kami ambil. Karena dengan margin yang mepet sementara operasional harus jarak jauh, maka itu berarti juga kerugian bagi kami di akhir perhitungannya. @hartantoID

BISNIS vs INVESTASI

5

Banyak yang bertanya; bisnis apa yang cocok untuk saya yang sudah terlanjur repot di zona nyaman? Seringkali saya jawab sekenanya; “Anda yakin itu zona nyaman? Kalo iya, koq malah bikin repot?”  Sebenarnya ada jawaban pendahuluan yang harusnya selalu diingat; anda yakin kepingin bisnis? Maka tinggalkan zona nyaman. Atau kalau masih ingin tetap nyaman, coba dulu berinvestasi sebelum berbisnis. Yap, ini adalah catatan tentang bisnis vs investasi a la Suluk Raden Kopi. Business Vs Investasi – Kamu pilih yang mana? Apa Itu Bisnis? Bisnis atau business dalam bahasa Inggris berarti perusahaan atau usaha. Makna yang sering dimaksudkan terkait pertanyaan di pembuka tulisan ini adalah membuka usaha mandiri. Dari sini harusnya, setidaknya menurut saya, berbisnis berarti mendirikan usaha sendiri dan/atau bermitra dengan investor atau co-founder. Dengan batasan ini, maka akan sangat berbeda antara membuka gerai waralaba dengan membuka cafe sendiri meskipun bisa jadi uang yang dikeluarkan untuk memulainya bisa jadi sama. Juga, ada perbedaan antara menjadi agen penjualan dengan membeli barang sendiri dan menjualnya setelah melalui proses pemberian nilai tambah kepada barang tersebut tadi. Baca juga: Pentingnya Rencana Bisnis Faktanya, terkadang orang rancu dalam menggunakan istilah ini.  Lihat saja jawaban beberapa teman yang ketika bertemu saling bertegur kabar dengan ungkapan; bisnis apa sekarang? Business is the activity of making, buying, selling or supplying things for money; commerce; trade. Apa Itu Investasi? Investasi adalah keterlibatan dalam sebuah bisnis atau unit usaha dalam bentuk kepemilikan saham dan/atau modal. Batasan investasi biasanya dengan nominal modal yang disetorkan tanpa ikut di dalam pengelolaan bisnis dimaksud. Atas kepemilikan atas usaha dalam bentuk permodalan itulah kemudian sang investor mendapat pembagian hasil usaha secara berkala dalam PROSENTASE BAGIAN yang telah disepakati di awal. Sementara JUMLAH HASIL yang dibagi tentu berbeda tiap periodenya. Hal ini kembali lagi merujuk kepada kondisi usaha yang berjalan. Bisa jadi bulan ini untung, bisa juga bulan depan untung lagi. Tentu, kapan-kapan juga bisa rugi. Lalu bagaimana untuk sama-sama meyakini itu untung atau rugi? Di sinilah perlunya pencatatan dan pembukuan, bahkan jika dimungkinkan oleh Akuntan yang dipercaya kedua pihak sebagai pihak ke-tiga. Invest: to use money to buy e-g shares or property, develop business enterprise, etc in order to earn interest, bring profit or improve the quality of something.  Bagaimana Perbandingan Keduanya: Bisnis vs Investasi? Lantas apa bedanya? Jelas beda dari sisi resiko dan perolehannya. Dalam ilmu Ekonomi seringkali kita dengar norma umum; high risk high return. Resiko tinggi tentu memberi peluang untung yang tinggi juga. Kalau sudah resiko tinggi tapi peluang untungnya kecil, itu konyol namanya. Kalau resiko rendah maunya untung besar, hati-hati anda terjerat investasi bodong, hehehe. Seorang pebisnis menghadapi resiko lebih tinggi secara relatif jika dibandingkan dengan investor. Pebisnis harus memastikan operasional berjalan sebagaimana mestinya untuk mencapai target usaha. Karenanya sudah selayaknya dalam sebuah kerjasama biasanya pelaksana akan memperoleh bagian lebih besar dari seorang investor murni. Sementara investor bukannya tanpa resiko untuk menanggung rugi bilamana unit usaha tempat dia berinvestasi dirundung kerugian. Hanya saja tentu bagian ruginya tidak sebesar bagian rugi dari pebisnis pelaksana. Di sini kemudian kita bisa melihat asas keadilan. Kesimpulan Dengan catatan di atas semoga bisa menjadi pengingat bersama. Bahwa apapun kapasitas kita sebaiknya Kita senantiasa mampu berhitung dengan cermat. Kalau anda ingin berbisnis, maka cermatlah mengukur resiko bisnis. Mulai dari yang bisa anda kuasai. Kemudian tekuni, pastikan anda ahli di bidang itu. Dan segeralah membesar dengan keahlian anda itu. Jika anda adalah investor, maka berinvestasilah di unit usaha yang dapat anda percaya; pelakunya, bidang usahanya, resiko dan keuntungannya. Dan, jika anda butuh akuntan untuk menjembatani platform investasi dan bisnis anda. Khususnya di ranah UMKM dan Startup. Barangkali kita bisa lanjutkan diskusi sebagai Rekan Tumbuh. Business Development Specialist@hartantoID

Pilih Mana : Resign atau Dipecat ?

8

Sekitar 4 atau 5 tahun yang lalu, saya kedatangan seorang tamu spesial. Saat itu memang posisi saya sudah sebagai VP di sebuah konglomerasi kecil. Di kota yang juga belum besar. Tamu spesial itu adalah seorang kakak kelas di SMK dulu. Spesialnya, tamu – kakak kelas saya ini, membawa sebuah pertanyaan. Pertanyaan itu adalah: Pilih Resign atau Dipecat? Comfort vs Adveture (IG post by @hartantoID) Sebelumnya bisa baca juga : 5 Tips Resign Untuk Dicermati Memang bukan tanpa sebab. Sebelum akhirnya bertemu kami memang intens berkomunikasi jarak jauh. Banyak hal kami bicarakan. Tentu tidak lepas dari kondisi masing-masing. Di aktivitas keseharian. Beliau adalah seorang country manager sebuah perusahaan investasi asing. Yang baru melebarkan sayap di negara kita. Sehingga banyak hal saya belajar darinya. Salah satunya ya terkait pertanyaan itu tadi: pilih Resign atau Dipecat? Hubungan Kerja adalah Hubungan Professional Menariknya dari obrolan kami adalah; kami melakukannya pada saat sama-sama jadi kuli. Sekeren apapun gelar kami saat itu : Vice President Director dan Country Manager. Tetap saja kami adalah orang gajian. Yang tidak memiliki perusahaan itu. Kami do-ers, bukan owners. Jadi, awareness kami tentu seharusnya berbeda terkait hubungan kerja. Di awal kami sama-sama bersepakat. Bahwa hubungan kerja antara karyawan dan pemilik adalah murni hubungan professional. Memang tidak jarang beberapa teman di posisi seperti kami atau yang lainnya diberi apresiasi seolah sebagai anggota keluarga pemilik. Tapi tetap saja, berbeda pada kenyataannya. Dalam kerangka hubungan professional itulah kemudian kita berdiskusi. Bahwa harus ada keseimbangan antara hak dan kewajiban. Hak dan Kewajiban Professional Sederhananya, para pekerja mendapat kompensasi finansial. Baik itu gaji, bonus, fasilitas, dan sederet allowances lainnya. Sebaliknya, pemberi kerja mendapatkan performa. Mulai dari capaian target, pemenuhan peran, dan sekumpulan tanggung jawab pekerjaan lainnya. Idealnya, kedua hal tersebut diatas berlaku seimbang. Antara kompensasi yang diberikan dengan performa yang diberikan. Pekerja tersejahterakan. Pemberi kerja bahagia. Pada kenyataannya, hubungan antara keduanya senantiasa dinamis. Terkadang pekerja merasa terdhzolimi. Tak jarang pemberi kerja kurang happy. Di sinilah konflik bermula. Dari sudut pandang pekerja. Sekali lagi, karena kami membahasnya pada saat itu sebagai pekerja. Saat hak yang kita nikmati kurang berimbang dengan kewajiban yang telah kita tunaikan. Maka secara professional sebaiknya kita resign. Mencari keseimbangan baru dengan pemberi kerja baru. Atau, jika kita menikmati lebih dari hak yang pantas atas performa kita untuk perusahaan. Alangkah bijaknya jika kita juga resign. Sebelum pemberi kerja memecat kita. Di situlah pertanyaan itu muncul: kita memilik resign atau dipecat? Hak dan Kewajiban dalam Partnership Sekarang, setelah memutuskan menjadi full-time entrepreneur, keseimbangan itu tetap menjadi concern saya dan tim. Kenyataan bahwa tidak mungkin kita mewujudkan setiap ide bisnis dengan resources sendiri, membuat partnership dan/atau hadirnya investor adalah sebuah keniscayaan. Proklamasi Kerjasa (IG post by : @hartantoID) Sebagai pandangan lain dalam partnership, bisa juga dibaca: 3 Tips Investasi a la Raden Kopi Seperti hubungan antara pekerja dan pemberi kerja, partnership juga mengalami dinamika. Yang bahkan lebih berwarna. Hal ini diperkuat lagi dengan kondisi bahwa di awal kerjasama, kedua pihak akan berdiri setara. Sehingga tawar-menawar terkait hak dan kewajiban dalam partnership agreement ini menjadi sangat cair. Selayaknya dalam hubungan pekerja-pemberi kerja, hubungan antar partner bisnis juga seharusnya berada dalam ekuilibrium. Jika tidak, tentu dinamika hubungan itu akan menemukan kembali keseimbangannya. Entah dengan memperbaharui proporsi, atau yang paling buruk adalah putusnya hubungan kerjasama antara kedua pihak. Menjadi professional dalam hal partnership adalah sesederhana menjadi proporsional sesuai dengan kapasitas diri. Karena dalam partnership, sinergi sangatlah harus diutamakan. Dan setiap pihak harus senantiasa berpandangan positif demi keberlangsungan usaha bersama. Bagaimana dengan Hidup Kita? Kalau kita harus menimbang antara hak dan kewajiban dalam hidup, tentu akan senantiasa tidak berimbang. Sudah menjadi watak dasar sepertinya, untuk setiap manusia mendahulukan untuk memperoleh hak dibandingkan memenuhi kewajiban. Bahkan, tidak akan pernah memadai jika kita menghitung nikmat yang telah diberikan oleh Sang Pemberi Hidup dibandingkan dengan apa yang sudah kita lakukan untuk memenuhi perintah-NYA. Jika kita menggunakan batang-batang pohon sebagai pena dan air laut sebagai tinta untuk menuliskannya. Pun tidak akan tercukupi tulisan kita atas nikmat-nikmat dari-NYA. Maka merujuk pada perumpamaan sebelumnya; apakah yang seharusnya kita lakukan dengan hidup kita. Tentu pilihannya bukan resign atau dipecat. Sebab kalau kita resign, di kolong langit sebelah mana akan kita hidup? Sedangkan DIA adalah pemilik sekujur alam semesta. Pun, tidak mungkin kita dipecat. Karena DIA adalah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Rahman dan Rahiim, itu fitur utama-NYA. @hartantoID

3 Tips Investasi a la Raden Kopi

9

Seiring beralihnya aktivitas dari zona karyawan menjadi full-enterpreneur, maka tawaran investasi dan kerjasama dalam bisnis menjadi semakin sering kami hadapi. Reaksi kami pun, dari yang semula haus investasi (ini biasanya dialami oleh pemula seperti kami), sampai kemudian pilah-pilih. Baca juga: Tips Bekerja dari Rumah Hingga akhirnya kami bisa petakan mana yang feasible mana yang hanya “ngamen” mencari pemula untuk merasakan manisnya rugi di dunia bisnis dan/atau investasi. Dari berbagai pengalaman itulah, kami coba rangkum dalam sharing Suluk Raden Kopi kali ini tentang 3 Tips Investasi a la Raden Kopi. Tips Investasi A La Raden Kopi Mungkin buat kalian, tips investasi berikut ini sudah biasa. Tapi setidaknya, inilah yang kami alami dan kami ingin bagikan di sini. #1. Selalu Ingat Aturan Baku: High Risk High Return Tips investasi yang pertama ini adalah semacam credo di dunia investasi : High Risk – High Return. Bahwa untuk mendapatkan hasil lebih tinggi sudah sewajarnya resiko yang akan muncul juga lebih tinggi. Artinya, semakin banyak potensi untung juga harus dibaca sebagai semakin banyak potensi ruginya. Terlihat sederhana memang, tapi seringkali faktor inilah yang luput dari perhatian kita di awal adanya tawaran investasi dan/atau kerjasama bisnis. Kebanyakan justru terjebak pada paradoks pemahamannya; kita tergiur untung yang besar dengan resiko seminimal mungkin. Baca juga: Tips Mengundurkan Diri dari Kerja Resiko yang nampak mengecil ini, biasanya berkamuflase dalam bahasa: kepastian return. Padahal, dalam investasi dan/atau bisnis; kepastian yang hakiki adalah ketidakpastian itu sendiri. Jika kita selalu berpegang pada pemahaman yang utuh tentang credo ini. Maka kemungkinan kita tergiur pada tawaran investasi abal-abal akan hilang setidaknya 50%. Itu menurut kami ya.   Sisa 50%-nya? baca terus tips berikutnya ya. #2. Pegang Selalu Nilai Bisnis Ini: Trust itu Diperoleh bukan Diminta Saya pernah sharing di sebuah blog lain bahwa modal utama berwirausaha itu bukan uang, tapi kepercayaan. Dalam praktiknya, trust atau kepercayaan ini tidak pernah diminta. Kepercayaan sesungguhnya harus diperoleh sehingga baru bisa disebut kepercayaan. Dalam hal membangun kepercayaan dalam bermitra, banyak orang memiliki standar masing-masing. Yang tentunya berbeda kadar dari satu orang dengan lainnya. Lalu bagaimana penerapannya dalam menganalisa sebuah tawaran investasi dan/atau kerjasama bisnis? Sederhana saja, gunakan ukuran paling sensitif untuk pribadi anda sebagai penilaian awal. Selebihnya akan muncul intuisi-intuisi tidak terduga seperti yang pernah saya alami berikut ini. Dalam perjalanan saya berwirausaha yang baru seumur jagung ini, ada satu hal yang selalu saya pegang dalam hal bermitra; “Tidak akan lebih tinggi seseorang dengan merendahkan orang lain, tidak akan lebih mulia seseorang dengan menghinakan orang lain.” Biasanya, dalam hal kita bertemu dengan orang baru, sudah sewajarnya kita mencoba mencari orang-orang yang dia kenal dan kita juga kenal. Meski terkadang korelasinya terlalu jauh, biasanya ini efektif menjadi “jembatan” untuk saling menakar reputasi masing-masing dalam industri yang akan kita kerjasamakan baik dalam bentuk investasi maupun kooperasi. Ketika membicarakan orang yang saling kita kenal itulah kemudian kita bisa menakar bagaimana nilai calon partner kita ini. Baca juga: Belajar dari Kekecewaan Terlepas dari benar atau tidaknya hal yang dibicarakan, tentu akan lebih elok apabila kita bisa mendapati kesimpulan bahwa calon partner kita bisa menjaga diri dari merendahkan dan/atau menghinakan pribadi orang yang kita sebut “jembatan perkenalan” itu tadi. #3. The Devil is in The Detail Setelah tawaran investasi kita takar wajar dalam hal resiko dan return yang dijanjikan. Setelah kita sekadar yakin atas kepribadian calon partner kita. Tips terakhir ini yang butuh tenaga ekstra namun butuh kecepatan karena merupakan pertimbangan terakhir kita menyatakan iya atau tidak. Yup, detail terkait kerjasama menjadi sebuah tahapan yang wajib dipertimbangkan. Karena biasanya dalam detail itulah muncul banyak ketidak-cocokan yang bisa merusak kedua pertimbangan yang sebelumnya di-iyakan. Sebagai contoh; termin pengembalian investasi, hitungan bagi hasil yang disepakati,  mekanisme pembayaran, dll. semuanya bisa menjadi batu sandungan yang mampu meruntuhkan hubungan baik jika tidak disepakati di awal secara terperinci. Dalam fase inilah, sesungguhnya kehadiran akuntan sebagai pihak ketiga sangat dibutuhkan. Professionalismenya harus mampu menjadi pemberi keyakinan (assurance) bagi kedua pihak bahwa dalam perjalanan kerja sama bisnis yang sudah pasti penuh ketidakpastian akan bisa diselesaikan dengan jalur yang saling memenangkan (win-win solution). Featured Link: IDpreneurs – Konsultan Bisnis Usaha Anda Sekian sharing dari kami, semoga bisa menjadi manfaat bagi semua. @hartantoID

100 hari dan Orang-Orang dari Masa Lalu

10

Mother : by Manuel Schinner 100 Hari Dan Orang-orang dari Masa Lalu Sembilan bulan engkau mengandungku Membawaku dalam kepayahanmu Diantaranya sembari engkau mengejar ijazah persamaan SD-mu. Disambi juga dengan agenda mengaji mingguan ke majelis Kyai Dimyati. Sungguh, meski tak sadar secara pasti namun itulah pondasi yang akan membentuk diri. Dalam timangan aku dibesarkan sebagai putra pertama kebanggaan. Kenakalanku selagi kecil menjadi kelucuan pelipur payahmu. Disanding aku dibesarkan dalam buaian penuh kasih sayang. Diantaranya sembari engkau jajakan makanan di pertunjukan kesenian malam di setiap hajatan. Waktu itu, di bawah gerobak engkau hamparkan selendang sebagai alas tidurku diatas rumput lapang. Sungguh, inilah kenangan jelas akan makna perjuangan yang paling membekas. Dalam lafal do’amu aku jalani segenap jenjang pendidikan. Mulai SD, SMP, SMK, hingga kuliah yang kebanyakan tak berbayar. Mungkin memang tak pernah kau ajarkan aku bagaimana PR diselesaikan. Tapi bukankah semua telah kau ajarkan ketika aku dalam kandungan? Sejatinya do’a dan perlindunganmulah yang menjadikanku mampu. Sehingga kebanggaanmu atasku hanyalah wujud lain rasa syukurmu kepada-NYA. Di setiap untai do’amu selalu engkau sisipkan namaku. Sungguh itulah yang membuatku merindumu. Kini, setelah lebih 100 hari engkau berpulang kepada-Nya. Bahkan kuyakini disana engkau tetap membanggakanku ke sepenjuru penghuni syurga. Bahwa dengan itulah engkau ungkapkan rasa syukurmu kepada Rabb-mu. Dan, kini menjadi tugasku untuk melanjutkan tali yang pernah kau ikat. Yang tiada akan erat jika tanpamu. Meski mereka kini tampak seperti orang-orang dari masa lalu. Tetap akan kupenuhi kewajibanku. Semoga setiap kebaikan dariku meski sedikit, senantiasa mengalir kepadamu selaku pendidik. Semoga segenap do’a yang terbaik, hanya untukmu yang selalu memberiku yang terbaik. Ampuni, Kasihi di Yaa Rabb Ma’afkan kesalahannya, Muliakanlah dia Dengan Rahmat-Mu Tuhan Yang Maha Pengasih Di selepas 100 hari, untukmu Ibu.

Tips Conference Meeting Untuk Startup

12

Sebagaimana janji saya pada postingan Suluk Raden Kopi sebelumnya, kali ini saya akan berbagi catatan saya terkait online atau conference meeting via livestreaming. Baca dulu: Suluk Raden Kopi (2) : Tips Bekerja dari Rumah Sebagian pengusaha pemula atau startups, belum memiliki ruang yang representative untuk menerima tamu dan/atau kliennya. Karenanya kemudian mengadakan pertemuan di luar kantor menjadi pilihan masuk akal. Berbagai alasan pun bisa dan harus diungkapkan kepada klien untuk menutupi keterbatasan ini. Anda bisa sampaikan bahwa pemilihan tempat dilandasi keinginan anda untuk memudahkan klien. Agar tidak terlalu jauh dari kantor, misalnya. Bahkan seorang Sandiaga Uno pun mengalami hal serupa, sebagaimana beliau ungkap dalam bukunya; Kerja Tuntas Kerja Ikhlas. Nah, di era digital sekarang ini ada lagi pilihan selain meeting di area publik. Yaitu online meeting atau conference meeting. Meskipun di jaman sekarang menjadi jamak orang lebih melek digital, tapi tentu dalam pelaksanaannya harus juga disiasati agar optimal. Sebagai bagian dari IDcaster (Indonesia Digital Broadcaster) alhamdulillah saya dimudahkan dengan teman-teman yang sangat berpengalaman menangani corporate meeting yang sudah pasti menuntut kualitas layanan prima. Berdasar pengalaman itulah kemudian saya ingin berbagi tips terkait online conference meeting ini. Tips Conference Meeting Untuk Startup – Suluk Raden Kopi (3) #1. Jaringan Internet yang Stabil Ini adalah hal paling mendasar, jaringan internet. Dan, sebagai catatan, kalau selama ini kita lebih cenderung concern kepada kapasitas download, maka untuk konteks online meeting kita juga harus memperhatikan kapasitas upload kita. Memang benar, di negara kita tercinta ini kecepatan internet masih boleh dibilang lemot. Saya dan teman-teman sendiri mengalaminya saat mengawali jasa livestreaming di tahun 2014 lalu. Betapa musuh kami yang utama bukan pesaing usaha melainkan jaringan yang lemot. Banyak klien kami merasa belum bisa menikmati produk kami saat itu bukan karena belum membutuhkan, tapi karena kualitas livestreaming kami sangat bergantung pada kecepatan internet yang ada. Namun seiring perkembangan industri IT di Indonesia, kini kecepatan jaringan internet sudah semakin mendukung. Bahkan, platform livestreaming itu sendiri pun berkembang. Dari sekedar aplikasi yang “nempel” pada aplikasi lainnya seperti Facebook, IG, dll. Hingga aplikasi khusus livestreaming lainnya. #2. Setting Ruangan Conference Ini terkait citra usaha di mata klien. Mengingat online meeting bersifat live atau siaran langsung, maka persiapan harus sematang mungkin. Sebagaimana saya tuliskan dalam serial Suluk Raden Kopi sebelumnya, tempat khusus untuk bekerja di rumah juga sangat penting. Tempat ini juga bisa disiasati sebagai spot anda untuk mengadakan teleconference meeting dengan klien. Saya punya pengalaman menarik dalam hal ini. Suatu ketika dalam rangka presentasi jasa layanan livestreaming kami untuk corporate meeting kita harus melakukan demo atas jasa layanan tersebut. Kebetulan kalau ini di Tempat Nongkrong Seru alias Coffeeshop, kalau di rumah, ruangan harus disulap loh! Karena memang kami tidak dapat melakukan presentasi tersebut secara full-team, maka jadilah salah satu dari kami di rumah mengadakan trial teleconference meeting dengan rekan-rekan yang berada di ruang rapat klien. Karena hal itu dilakukan secara on-spot, jadi persiapan menjadi sangat minim. Alhasil beberapa komen iseng pun muncul dari klien kami; bisa nggak sih gordyn di belakang warnanya jangan itu? dll. #3. Persiapan Materi Jarak Jauh Sekali lagi yang perlu diingat, bahwa meskipun terasa dekat tetap saja ini adalah meeting jarak jauh. Maka kemudian tools untuk berkomunikasi dan pendukung materi rapat pun membutuhkan persiapan yang khusus. Misalnya bagaimana menggunakan whiteboard virtual secara leluasa sehingga bisa menjadi alat bantu penjelasan sebagaimana dalam rapat tatap muka pada umumnya. Demikian juga dengan materi, sebisa mungkin dipersiapkan sehingga bisa dipahami dengan potensi pertanyaan yang minim. Hal ini mengingat semakin banyak pertanyaan yang muncul, maka potensi miss-persepsi dikarenakan jarak pun semakin banyak. #4. Trial Before Meetup Apabila persiapan sudah matang, jangan lupa untuk melakukan trial meeting. Ini penting, mengingat bagaimana pun juga ini layaknya pertunjukan dimana kita saling menonton. Butuh gladi-resik yang memastikan penampilan kita di mata klien akan tampak prima. Beberapa hal yang menjadikan trial ini begitu penting diantaranya adalah:– Kestabilan jaringan yang harus teruji– Penggunaan aplikasi yang bisa jadi belum familiar bagi kita dan/atau klien– Tampilan di layar yang terkadang tidak sesuai atau harus disesuaikan dengan kebutuhan. Latihan dulu bersama tim #5. Minutes of Meeting Tetap Penting Dalam setiap meeting, tetap saja yang terpenting adalah notulen. Hal ini mengingat pentingnya follow up dari setiap point yang dibahas dalam rapat. Salah satu keunggulan online meeting adalah, kita memiliki opsi untuk merekam kejadian rapat tersebut sehingga juga bisa berfungsi sebagai notulen. Selain tentu juga dokumen tertulis yang bisa dijadikan dasar tindakan kita dan klien atas hasil rapat tersebut. Kalau Kamu Gimana? Nah, itu dia tips untuk meeting online secara mandiri. Untuk hasil yang lebih professional, saya sarankan gunakan jasa digital broadcaster atau jasa livestreaming berpengalaman. Mereka tentu lebih menguasai tentang kebutuhan terkait online meeting ini secara lebih professional.

Suluk Raden Kopi (2) : 5 Tips Bekerja dari Rumah

16

Seiring alih profesi saya dari sebelumnya 11 tahun sebagai karyawan dan sekarang jadi full-time entrepreneur, saat ini saya jadi lebih sering bekerja dari rumah. Meskipun sebenarnya sewaktu bekerja di perusahaan terakhir saya juga sudah sering memulai remote working. Hal ini karena si big boss juga dalam sebulan ngantor paling banter seminggu. Jadi ya koordinasi lebih sering menggunakan komunikasi jarak jauh. Sekarang, semenjak tidak punya boss lagi, praktis tempat kerja saya ya di rumah. Mengurus kedai kopi dan/atau unit usaha yang sedang kami rintis pun banyak dari rumah. Pengalaman bekerja dari rumah selama sekitar 11 bulan itulah yang kemudian ingin saya bagi, atau minimal catatan pribadi saya, sebagai bagian dari seri Suluk Raden Kopi. Suluk Raden Kopi #2: 5 Tips Bekerja dari Rumah SOHO : beddo Sebagian besar pengusaha pemula (startup) memulai bisnisnya dengan markaz operasi di rumahnya. Bahkan beberapa dari garasi di samping rumahnya. Sederhananya, dari rumah juga. Para pekerja freelancer juga melakukan hal serupa, mereka melakukan usaha dan/atau pekerjaannya dari rumah. Tapi seberapa efektif kah bekerja dari rumah jika dibandingkan dengan, misalnya, sewa kantor? Hal ini tentu tergantung dari sifat dan jenis pekerjaannya. Tapi yang pasti, bekerja dari rumah memiliki tantangan tersendiri untuk tetap menjadi produktif. Berikut tips bekerja dari rumah untuk tetap produktif. #1. Alokasikan Ruang Tertentu sebagai Kantor Kenapa ini adalah tips yang pertama? Karena bekerja dari rumah bukan berarti bekerja di “sekujur” rumah anda. Bisa berabe kan kalau dokumen berserakan di mana-mana? Alat kerja berserakan? ATK berhamburan? Ini serius loh. Apalagi untuk seorang Bapak muda dengan tiga anak kecil seperti saya. Bisa senewen kalau harus berbagi space dengan mereka untuk bermain. Makanya, sesederhana apapun sangat penting untuk memiliki ruang tertentu tempat kita bekerja.  Saya pribadi menggunakan sudut kecil antara rak buku dan area sholat yang relatif steril dari jangkauan anak-anak. Tentu mereka tetap bisa ikut berpartisipasi di meja kerja saya seperti foto berikut ini nih: #2. Tentukan Jam Operasional Senyaman Mungkin Bekerja dari rumah tentu tidak ada mesin absensi. Tapi bukan berarti kemudian kita boleh bekerja 24 jam selama 7 hari dalam seminggu. Bukan hanya tidak sehat untuk diri sendiri. Keluarga pun butuh anda untuk tetap hadir secara utuh sebagai bagian keluarga. Bukan “orang lain” yang numpang ngantor di rumah. Karena di rumah sendiri, maka pergunakanlah keunggulan anda berupa kebebasan mengatur jam operasional senyaman mungkin. Meskipun tidak bisa dipungkiri, dalam banyak kasus pengusaha pemula waktu kerja menjadi sangat tidak menentu. Maka sangat penting untuk bisa memiliki penafsiran anda sendiri terhadap frasa berikut; Berkantor di rumah, bisa kerja kapan saja dan libur kapan saja. Sekedar sharing, saya sendiri menetapkan waktu operasional kantor di rumah saya minggu – kamis. Mulai bekerja setelah shubuh, dengan jeda waktu dhuha, waktu dhzuhur, makan siang, dan berakhir selepas ashar. Di luar itu, waktu ketemu dengan beberapa kolega saya anggap waktu saya bersosialisasi di luar jam kantor. #3. Jaga Mood dengan Tetap “Berangkat Ngantor” Tips yang berikut ini saya dapat dari owner perusahaan terakhir tempat saya bekerja dulu. Beliau pernah bilang; untuk jaga mood, tetaplah bedakan penampilan antara santai di rumah dan waktu ngantor di rumah. Ini saya jalankan dan terbukti berhasil untuk jaga mood. Tetap mandi pagi dan berpenampilan dengan pakaian kerja, meskipun tentu bukan seragam. Hal ini juga menunjukkan bagaimana kita menghargai diri dan pekerjaan kita. #4. Tetap Bekerja dengan Target Kalau sudah bekerja dengan waktu yang kita atur sendiri sesuai kebutuhan produktifitas kita. Dengan tempat dan suasana yang kita atur sendiri. Tentu sangat logis jika kemudian kita bisa meraih target yang kita tetapkan sendiri. Dalam kenyataannya, banyak kemudian para pengusaha pemula menjadi lupa menentukan target. Mereka terlena dengan kondisi kebebasan yang tidak jarang menjadi tujuan yang terbayang di awal. Saya sendiri selalu mengingatkan diri saya bahwa dengan keputusan saya menjalani usaha sendiri, sebisa mungkin target yang saya raih harus lebih dari apa yang sudah saya capai di tempat kerja sebelumnya. Tokh dengan bekerja sendiri (berwirausaha) saya mempunyai kendali penuh atas faktor-faktor pendukung produktifitas saya. #5. Atur Meeting di Luar Rumah Ini hal yang paling menyenangkan menurut saya. Meskipun sebagian menganggap ini sebagai kelemahan, karena kita tidak punya ruang meeting khusus. Bagi saya, dengan kantor di rumah, berarti ruang rapat saya dengan klien adalah di manapun tempat di luar rumah. Dalam perkembangannya sekarang, ruang meeting menjadi lebih flexible. Bisa di kedai kopi milik teman, restoran kegemaran klien yang akan ditemui, lobby hotel, tempat jogging, bahkan warung kopi di pinggir pantai. Buat saya, hal ini juga menjadi ajang pembuktian bagi saya bahwa nilai diri tidak dapat diukur dari tempat. Tetapi lebih kepada bagaimana kita diterima sebanyak mungkin relasi dengan rentang yang sangat bervariasi. Di era digital ini, ada juga pilihan ruang rapat di dunia maya. Sebagaimana yang sering saya lakukan dengan teman-teman saya di IDcaster, juga dengan beberapa klien dengan domisili di luar kota yang berjarak sementara meeting terkadang mendadak. Dalam kasus demikian, asal ada jaringan internet, maka SOHO (Small Office Home Office) atau tempat mana pun bisa menjadi ruang rapat bagi saya. Tentu harus juga disesuaikan tampilan dengan kebutuhan meeting yang akan dilakukan. Insya Allah, saya akan tulis catatan saya terkait meeting online ini di seri berikutnya. Semoga catatan ini bermanfaat. Salam Teleportasi Manfaat @hartantoID

Aku dan Emakku

20

lotus : pitara.com Hari ini, tepat seminggu sudah Emak (Ibu) saya berpulang. Sakit yang menahun yang justru membaik di beberapa minggu terakhir sebelum mangkatnya, menjadikan saya semakin yakin bahwa ini semua sudah pepesten dari Sang Khaliq. Kesedihan sudah merupakan sebuah keniscayaan bagi saya dan segenap keluarga. Tapi tentu kita semua harus senantiasa eling bahwa cara terbaik menyayangi beliau saat ini adalah dengan mengikhlaskannya.  Mengingat hanya kebaikannya, dan mendo’a untuk segenap kebaikannya di alam kubur sana. Bukankah kematian adalah juga nasihat? Lemper dan Perjuangan Ini adalah kisah tentang perjuangan. Yang akan saya selalu ingat, termasuk dengan cara menuliskannya di sini, dan akan saya sampaikan kepada anak-anak saya kelak. Saat itu saya masih duduk di kelas tiga sekolah dasar. Adik saya belum juga masuk sekolah, masih harus saya gendong kemana-mana. Bapak saya yang seorang kuli di pabrik gula seringkali harus dinas malam. Memastikan perjalanan sepur tebu dari lahan tanam ke pabrik dengan aman. Penghasilan yang jauh dari mapan memaksa Ibu saya harus memutar otak mencari tambahan. Setiap sore Ibu saya membuat jajan dari bahan ubi. Lemper namanya di kampung saya. Adonan ubi dibungkus daun pisang, disajikan hangat dengan parutan kelapa di atasnya. Setiap hujan datang, jajan ini jadi primadona. Mengantisipasi permintaan pasar, tak pelak saya pun dikaryakan. Daerah operasi pun dibagi. Ibu saya menjajakan lemper dari ujung timur ke area Selatan desa. Sedangkan saya berjalan kaki dari arah utara menyusur area barat kampung. Tentu dengan tetap menggendong adik saya. Kami pun kemudian bertemu di tengah. Di sebuah rumah mewah di depan musholla Darussalam. Di dalamnya ada majelis ta’lim adz-dzikra tempat saya mengaji di malam harinya.  Keluarga pemilik rumah itu biasanya membeli barang dagangan kami dalam jumlah banyak. Mungkin memang karena penghuninya adalah keluarga besar. Mungkin juga karena kasihan dengan saya yang seringnya sudah kuyup kedinginan. grittier: mind42.com Daya Juang sebagai Warisan Ibu dan Bapak saya bukan dari kalangan berada. Bahkan sampai akhir hayatnya tidak ada sebentuk harta sebagai warisan dari Ibu untuk kami yang ditinggalkan. Untuk mampu mengenyam pendidikan sampai perguruan tinggi seperti yang saya sandang saat ini pun, lebih banyak karena gratisan alias beasiswa. Selebihnya karena suntikan dana dari kerja serabutan sembari sekolah yang saya jalani semenjak SMP. Tapi bukan berarti peran Ibu hilang. Justru saya meyakini bahwa sekecil apapun kebaikan yang bisa saya capai hanya karena kebaikannya dan Bapak saya.  Daya juang, itulah yang beliau tanam dan wariskan kepada saya. Tanpa itu, saya rasa tidak akan menjadi seperti saat ini. Dari berjualan lemper itulah, daya juang saya ditempa. Bukan sekedar rupiah tambahan yang kemudian bisa kami kais. Lebih dari itu, kemandirian menjadi pondasi kokoh yang kami raih. Bi’idznillah. Bukankah setiap orang tua harus mampu mempersiapkan anaknya untuk bisa melanjutkan hidup tanpa kehadiran mereka? Semoga kemuliaan senantiasa tercurah untukmu Emakku di alam kubur sana. Allahummaghfirlaha warhamha wa’afiha wa’fu’anha.

Oleh-Oleh dari Jogja

23

Lebaran 1438 H (bertepatan 2017M) ini jadwal trip kami bergeser secara signifikan. Sedianya kami fokuskan acara di Comal – Pemalang, berganti ke Bantul – Jogja karena ada kabar duka. Kakek kami berpulang tepat di hari ke-25 Ramadhan 1438 H kemarin. Menjadikan kami berkumpul seluruhnya di Bantul sebagaimana permintaan beliau. Tapi tentu dalam suasana yang berbeda. Berlibur ke Bantul – Jogja, selalu memberi saya rasa dan nilai berbeda. Jika harus menggunakan ungkapan sederhana, maka kalimat seorang Joko Suud – pengamat budaya, adalah yang paling saya suka; Wisata lambat a la Jogja. Di sini waktu berjalan sangat lama, karenanya penuh penghayatan dan sarat makna. Pasar Angkruksari, Bantul – Jogja Pasar dan Kerinduan Akhir dari Ramadhan, dan budaya mudik di negara kita, menjadikan skala transaksi di pasar-pasar kampung mendadak ber-amoeba berkali-kali lipat. Aliran dana yang “mudik” dari kota-kota besar membanjiri pasar udik dengan daya beli yang meningkat tajam. Alhasil, pasar jadi semakin riuh. Begitupun dengan pasar tradisional terdekat dari kampung kami ini, Pasar Angkruksari Kabupaten Bantul. Belum lama pasar ini direlokasi, menjadikannya lebih rapi dan bersih dengan daya tampung parkir yang mempu menyaingi pusat perbelanjaan modern. Dalam riuh pasar ini, saya mendapati sepasang suami istri yang menjajakan urung-kupat (bungkus kupat dari daun kelapa) yang sedang asyik melayani pesanan pelanggan. Saya dan istri ikut meramaikan dagangannya. Sudah jadi tradisi kami merayakan Iedul Fitri ditemani makanan khas ini. Karena ramainya pesanan, sediaan urung-kupat yang sudah jadi milik si Bapak mulai menipis. Membangkitkan niat saya untuk menjalani lagi hobi saya selagi kecil; menganyam urung-kupat. Jadilah saya berlomba dengan si Bapak melayani pesanan pelanggan. Saya lakukan ini sukarela, bahkan dengan sukacita, karena aktifitas ini memberikan saya sedikit penawar rindu untuk segera bertemu Ayah di Comal sana. Ya, beliau yang mengajari saya di waktu kecil menganyam urung-kupat untuk kemudian menjualnya kepada para tetangga yang memesan. Membuat urung kupat di Pasar Angkruksari, Bantul Ada Kaizen di Lapangan Mojo Sholat Ied kali ini memang bukan yang pertama saya jalani di lapangan Mojo, Kretek – Bantul, Jogjakarta. Tapi sebagaimana saya sampaikan sebelumnya, selalu ada nilai yang bisa saya ambil pelajaran dari setiap kunjungan saya ke Jogja. Begitupun kali ini, isi khutbah Ied yang disampaikan dalam bahasa Jawa kromo inggil seperti biasa memberi saya ilmu baru yang sayang kalau untuk tidak saya bagikan. Minimal saya abadikan dalam catatan ini. Bahwa bulan Ramadhan adalah bulan tarbiyah (bulan pembelajaran) sudah sering kita dengar. Dan bahwa setelah Ramadhan adalah bulan seharusnya kita mengaplikasikan hasil pembelajaran sebelumnya, juga setiap tahun didengungkan. Tapi, kondisi bahwa setelah Ramadhan ibadah kita semakin menurun adalah juga hal yang sangat banyak kita jumpai. Lalu bagaimana caranya agar kita bisa meningkatkan taraf ibadah kita di bulan Syawal sebagaimana namanya (syawal = peningkatan)? Maka inilah tips Kaizen (continues improvement) dalam beribadah dari sang khatib di lapangan Mojo: Senantiasalah perbaharui niat, dan ingatlah bahwa kita bisa mati kapan saja. Inilah yang disebut manajemen kematian. Suasana selepas sholat Ied 1438H di Lapangan Mojo Kupat dan Lebaran Yang berikut ini adalah duet maut tak terpisahkan. Bagi kami, dan saya rasa juga bagi kita semua muslim di Indonesia, ketupat (orang Jawa bilang kupat) dan Iedul Fitri (lagi, orang Jawa bilang lebaran) adalah dua hal yang saling khas. Tapi apakah anda tau makna dibalik penyebutan berbeda oleh orang Jawa untuk keduanya? Kali ini saya dapat pelajaran lagi dari penceramah di acara halal-bihalal dukuh kami. Sudah tradisi tahunan juga, bahwa setiap lebaran pemuda masjid kami menjadi panitia penyelenggaraan halal-bihalal. Sebuah ajang silatil arham antar warga dukuh dan sanak-saudara yang kemungkinan baru datang dari luar kota. Kupat, menurut Kyai Sujadi – penceramah di acara tadi, adalah sebutan yang diberikan oleh para wali untuk makanan berbahan beras dan berbungkus daun kelapa yang masih muda (janur). Kupat bermakna “ngaku lepat” atau mengaku bersalah sebagai bentuk lanjutan dari rangkainan peribadatan selama bulan Ramadhan. Bagaimana caranya ngaku lepat? ya dengan menjalankan “laku papat” atau empat hal: Lebar – Luber – Lebur – Labur. Kupat ; Ngaku lepat kanti laku ingkang papat. Lebar artinya selesai dalam bahasa Jawa. Mengandung makna bahwa kita telah selesai dari agenda pembelajaran selama Ramadhan sebagai bulan pembakar, penempa keimanan kita menuju derajat taqwa. Luber artinya berlebih dalam bahasa Jawa. Mengandung makna bahwa sebagai bentuk syukur kita senantiasa harus berbagi atas nikmat berlebih yang telah kita peroleh selama ini. Bertautan dengan ini adalah agenda zakat fitrah yang menjadi amalan di penghujung Ramadhan. Lebur artinya leleh dalam bahasa Jawa. Mengandung makna terleburnya segenap dosa dan kesalahan kita melalui Ramadhan yang dalam bahasa Arab juga berarti bulan pembakar. Labur artinya mengecat dinding dengan warna putih dari kapur. Ini aktifitas yang hampir “punah” dalam menyambut Iedul Fitri di kampung-kampung belakangan ini. Mengandung makna pengaplikasian kesucian yang telah kita peroleh setelah lulus dari pembelajaran Ramadhan. Semoga oleh-oleh dari Jogja kali ini bisa saya bagikan manfaatnya. Salam Teleportasi Manfaat @hartantoID

pustaka naik kelas daftar rekomendasi buku hartanto

Pustaka Naik Kelas

Ada fase dalam perjalanan bekerja dan berusaha ketika pertanyaan tidak...

hartanto

Copyright @Hartanto.id 2026