Kangen Ayah

Siang ini terasa sangat terik di kota ini, 39oC tapi terasa “gemrojos”. Ruteku siang ini masih sama, jemput istri di salah satu pusat kesehatan masyarakat, terus pulang untuk makan siang bersama, sebuah rutinitas yang tak pernah terasa membosankan. Dalam kendaraan sembari nunggu “bell” pulang istri, panas semakin terasa, bahkan piranti pendingin pun seperti tak mampu membendung tatapan tajam mentari atas bumi siang ini. Lepuh rasanya kalau harus bertahan dalam kaleng bermesin ini, akhirnya kuputuskan untuk keluar sambil ngaso mencari udara segar. “Panas ya Nak ?” tiba-tiba suara itu terasa sangat akrab. Seorang bapak kira-kira seusia ayahku, lengkap dengan gerobak dorongannya yang ternyata juga masih menepi dari teriknya mentari siang ini. Seketika teringat ayah yang juga berprofesi sama dengan beliau, pedagang keliling. Tak jelas keringat atau tepatnya peluh menetes mengiringi parau jawabku: “Iya Pak”. Dan, tanpa pikir panjang aku pesan seporsi bakwan malang yang kulihat masih penuh di gerobaknya. Ya, mendadak kangen ayahku. Meski sejak lulus sekolah kejuruan aku terbiasa merantau jauh dari beliau, namun tak pernah henti aku selalu merasa kangen. Terlebih pada saat seperti ini, dengan melihat rekan-rekan seprofesi beliau, rasanya sangat merindu. Mungkin siang ini ayahku juga masih menepi dari sengatan mentari. Biasanya beliau membasuh setiap peluhnya dimana saja beliau temui surau atau masjid sembari menghadap-Nya. Meski beliau selalu bilang lebih menikmati dhzuhur di musholla dekat rumah, namun rekor itu jarang tercapai. Biasanya dagangan beliau masih terlalu banyak kalau harus dibawa pulang, alhasil yang sering beliau capai hanya sholat ashar di musholla dekat rumah kami. Bagi ayah dan teman-temannya, tak ada pilihan lain kecuali tetap menggendong/mengayuh/mendorong gerobak dagangannya meski dalam jilatan tajam terik matahari. Itu semua mereka nikmati sambil menjajakan dengan suara parau barang dagangannya. Berharap di setiap pintu yang mereka ketuk dengan teriakan terendam keringat mereka, ada potential buyer atas dagangan mereka. Pernah suatu hari, ayah pulang di tengah hari dengan dagangan hampir utuh, dan gerobak rusak akibat tersenggol mobil. Alhasil, beliau harus dirawat karena luka lecet dan dagangannya pun kami nikmati sekeluarga, pun setelah kami bagi dengan tetangga sekitar. “Tak mengapa, besok masih ada hari untuk berjualan lagi” begitu ucap ayah lirih sambil menahan perih obat yang kuoleskan di lukanya. Bagi ayah, berusaha setiap hari adalah jihad yang sesungguhnya. Apapun beliau pertaruhkan untuk dapat menghidupi kami sekeluarga dengan rizqi yang halal dan barokah. Selepas menikmati bakwan malang ini aku langsung telpon ayah. Beliau alhamdulillah sudah dirumah, memang sengaja bawa sedikit barang dagangan agar cepat pulang, karena sore ini beliau harus melihat sawah yang baru saja ditanami benih tadi pagi. -amru nofhart-

Beda Prinsip

Memaknai hal perbedaan memang selalu memberikan sensasi berbeda di tiap kasusnya. Beda postur tubuh, beda warna kulit, beda bahasa, beda suku, beda sudut pandang, dan masih banyak lagi perbedaan lainnya. Sejenak saya ingat satu scene di serial Avatar, ada pesan yang coba disampaikan disana bahwa kita semua sesungguhnya satu asal, namun tersebar ke seluruh penjuru dunia sehingga membuat kita beragam. Dan, karena satu asal itu pula, sesungguhnya kita semua terhubung dan terkait satu sama lain.Kembali kepada ajaran ngaji pada Ustadz semasa kecil saya, bahwa sesungguhnya manusia diciptakan dari hanya seorang Nabi Adam, kemudian darinya dicipta Siti Hawa, untuk kemudian keduanya ber-keturunan dan menyebar ke seluruh penjuru bumi hingga saat ini. Sesungguhnya ada kesamaan pesan disini, bahwa kita bersaudara. Signifikansi perbedaan inilah yang kemudian menjadi beragam. Ada satu hal kecil menurut seseorang namun itu seolah klimaks buat orang lain. Ada perihal yang ‘terampuni’ buat si A namun seolah ‘fatal’ dalam pandangan si B. Tapi, benarkah bisa demikian berbeda? Bukankah kita berawal dari satu asal dan saling terkait? Bukankah seharusnya kita punya satu standar? Bukankah standar itu yang seharusnya menjadi ‘ikatan’ yang menunjukkan bahwa kita satu asal? Karena seharusnya perbedaan mampu membawa berkah. Ada kisah yang bisa saya bagi mengenai hal ini.Dulu, Agustus 2002 sore hari, selembar surat panggilan tes kepesertaan beasiswa datang terlambat 1 bulan ke tangan seorang anak lulusan SMK yg di pagi harinya, di hari ke-15 dia bekerja, baru saja di-PHK dari jabatannya sebagai kuli bangunan karena proyek hampir selesai dan biaya personel harus dikurangi. Keterlambatan ini karena pihak desa menelantarkan surat tersebut di baki dokumen, karena tidak ada petugas khusus pengantar surat ke rumah-rumah sebagaimana di kota, dan karena menurut petinggi dusun paling surat itu isinya hal remeh seputar sekolah si anak. Walhasil, si anak dengan mulut gemetar “memerintahkan” pihak Balai Desa untuk membuat semacam pernyataan bersalah dan permohonan agar panggilan test bagi si anak dapat diproses ulang. Dengan berang sang kepala desa teriak sembari menggebrak meja kerjanya; “Kamu mau menurunkan saya dari jabatan kepala desa?!”…. Dan, tidak sampai dua detik anak itu terdiam, lalu dengan tangan kecilnya menggebrak meja yang sama dan teriak; “Kalau ya kenapa? Tokh Bapak masih punya pekerjaan lain, sedangkan saya pengangguran sekarang?!” Singkat kata, sang kepala desa bersedia membuat surat tersebut, dan si anak alhamdulillah bisa lolos seleksi beasiswa tersebut. Namun malang bagi Bapak Kepala Desa, dia keburu dipaksa mundur oleh warganya karena insiden tersebut. Di situlah segenap faktor latar belakang mengambil peran. Urgensi suatu masalah bagi setiap kepala tentu berbeda, sehingga tak jarang tanggapan dan penanganan atas suatu hal menjadi sangat berbeda antara yang terjadi dengan yang diharapkan, sehingga tak jarang terjadi pertentangan. Ngomong-ngomong, seberapa penting urgensi surat si Udin sehingga langsung dibalas oleh Mr. President ? -amru nofhart-

Sabar Hingga Ikhlas

Adakah pernah terpikir oleh kita bahwa sabar adalah kata kerja paling menyebalkan? Bahkan tak jarang mendengarnya pun langsung mengundang reaksi berlebih untuk segera menyudahi dengan pertanyaan balik; “mau sampai kapan?”; bahkan oleh orang yang dahulu telah terbukti kesabarannya sekalipun. Sabar menjadi trending topic bagi siapa saja yang dalam episode hidupnya saat ini sedang dalam babak cobaan dan/atau ujian. Bagi setiap mata yang hanya bisa memandang tanpa bisa terpejam meski hanya sejenak untuk bisa membayangkan untuk bisa memiliki sesuatu dalam pandangan itu. Bagi setiap tangan yang hanya bisa tergenggam mengeras tanpa bisa melaju semau nafsu untuk meluluhlantakkan segenap apa yang menjadi penghalang di depannya. Bagi kaki-kaki yang terbelenggu untuk melangkah tanpa berani untuk meneruskan keteguhan hati dalam mewujudkan setiap rencana menjadi nyata. Sabar, bisa jadi merupakan “penyebab” bagi setiap keterkekangan tadi. Pertanyaannya terkadang – kalau tidak mau disebut selalu- adalah sudah tepatkah sabar kita? Tepat guna, tepat waktu, tepat takarannya? Ataukah sesungguhnya pertanyaan-pertanyaan itu tidak perlu ada dalam konteks sabar?Bisa dibilang, sesungguhnya kalau sabar itu dalam track yang benar maka tidak akan pernah ada pertanyaan-pertanyaan itu. Sebagaimana tawakkal adalah jawaban setelah ikhtiar yang nyata. Selaku khusyu’ menjadi pamungkas atas sholat yang benar. Maka sabar yang sesuai garis tuntunan-Nya akan berakhir pada ikhlas. Seorang sahabat mendadak saya rindukan pagi ini. Terdorong atas perasaan tak biasa itu saya coba hubungi lewat telpon. Setelah basa-basi biasa, tanpa dinyana beliau bercerita panjang lebar mengenai “bencana demi bencana” yang sedang beliau alami. Kebangkrutan usahanya, keterseokan rumah tangganya yang diakibatkan karenanya, hingga kedua anaknya yang terpaksa harus resign dari sekolahnya karena tunggakan bayaran yang tak kunjung bisa dipenuhi oleh sang ayah, sahabat saya ini. Pungkasan dari ceritanya ini sungguh mengejutkan saya, beliau bertanya; “sesungguhnya apa maunya Gusti Allah atas saya?” Kontan saja yang terlontar dari saya adalah resep sabar. Namun yang terdengar berikutnya justru dia makin menjadi dalam maki hidupnya, na’udzubillah. Setelah semua mereda, kami berdua bersama-sama mengingat, bahwa sesungguhnya Allah tidak pernah menguji hamba-Nya melebihi kemampuannya, sesungguhnya Dia adalah sesuai sangkaan kita pada-Nya, dan sesungguhnya setiap ujian adalah demi kita agar menjadi lebih baik.Dalam tiga kalimat itulah, kami temui optimisme karena pasti kita diberi ujian sepaket dengan kemampuan untuk melampauinya, kami dapati bahwa pasti setiap garis hidup darinya adalah yang terbaik untuk kita, dan sungguh, kami sadari bahwa hanya dengan melalui setiap ujian dengan ikhtiar berujung tawakkal, sholat dalam capaian khusyu’, dan sabar hingga ujung keikhlasan, semuanya tentu akan menjadikan kita lebih baik. Coba periksa garis-garis tangan kita, bayangkan sebagai garis-garis kehidupan kita, lalu kepalkan tangan kita. Bukankah tak seorang pun mampu menggenggam utuh kehidupannya? -amru nofhart-

Di Persimpangan Antara

Pagi iringi setiap langkah menjejak bumi guna meraih sebentuk mimpi bagi setiap makhluk insani. Tak sadar kaki-kaki kita membentuk nada selayaknya intro dari sebuah koor besar setiap hari. Hanya ada sejenak jeda sebelum akhirnya kembali lagu dari setiap kita dimainkan. Tidak ada yang berubah, hanya saja sebagai kesatuan lagu kita terkadang bertukar nada dengan instrumen lainnya agar harmoni tercipta. Begitulah setiap pagi mengawali sebagai intro. Kehidupan tak pernah berhenti menyanyikan lagunya, tinggal siapa yang “dapat giliran” untuk memainkan nada tinggi di suatu hari dan merubah intonasi merendah di hari berikutnya. Setiap kita adalah bagian dari harmoni. Lantas, adakah jeda/antara dalam memainkannya? Tentu, setiap kita juga pernah mengalami seolah setiap nada yang kita mainkan menjadi sumbang, parau, dan bahkan sulit terdengar. Itulah jeda dimana seharusnya kita menekan tombol “mute” dengan deskripsi “instrospeksi”. Sesederhana itulah kita berjama’ah; ketika setiap yang kita lakukan selalu salah dimata orang lain disekitar kita sementara kita merasa telah mengambil tindakan yang tepat, maka berhentilah memajukan “aku” dan mulailah “introspeksi”. Dan, jangan berhenti melakukannya sampai kita selaras selaku jama’ah. Karena kita terlahir tak sendirian. Sudah terlebih dahulu ada Ibu yang mengandung kita selama 9 bulan, beliau tak pernah berhenti mengerti kita bahkan jika harus mengorbankan nyawanya untuk melahirkan kita sebagai “nyawa” baru baginya. Telah terlebih dahulu ada ayah kita yang tak henti menjaga kita dengan segenap keras sebagai penyeimbang kelembutan yang kita tuai dari seorang Ibu. Telah terlebih dahulu ada orang-orang yang lebih tua dari kita, yang kita tidak bisa jumawa atas pengalamannya dalam menghirup udara dan menapaki bumi ini. Sudah terlebih dahulu ada anggota jama’ah lainnya yang menerima kita dengan lapang sebagai bagian baru sebuah harmoni. Maka maknailah semuanya dengan syukur tiada henti, menjaga tempo dan harmonisasi, agar lagu yang kita mainkan tidak pernah terhenti mewarnai hari. Lalu bagaimana mengembalikan segenap harmoni itu? Mudah saja, gunakan garpu tala, jangan suara anda. Ambil nada standar A minor, jangan tertipu dengan C major yang terlalu sering terdengar sama. Ketika kita merasa salah jalan, maka gunakan Al-Qur’an dan Sunnah Rosul sebagai media penunjuk arah kita. Jika jama’ah lainnya merasa terganggu dengan ulah kita, maka kembalikan kepada hakikat berjama’ah sesuai kedua tala tersebut. Sehingga kita tidak berlama-lama berkubang dalam keterasingan. Percaya dan yakin bahwa kita dalam kuasa-Nya, itulah kunci ketepatan dan kecepatan introspeksi. Soal hati, percayakan pada Yang Maha Membolak-balikkan Hati, Allah Ya Muqollibul Qulub. Jika kita merasa terasing, dan merasa bisa kembali bergabung dengan jama’ah dengan membawa congkak atas segenap capaian, tentu itu adalah layaknya C Major yang tertukar dengan A Minor. Bukan materi yang dikedepankan dalam harmoni ini. Karena dengan materi kita tak jarang bisa merasa hidup tanpa yang lainnya. Dengan capaian benda kita terlalu sering merasa mampu mengungguli satu sama lain, dan merasa bahwa si fulan tak berhak berada dalam hidup kita dan si anu lebih ideal. Dengan materi, sesungguhnya kita diuji apakah kita menjadikannya alat, atau justru kita diperalat. Dan, apabila itu yang terjadi maka proses selanjutnya yang akan mendera adalah rakus yang tiada henti menggoda. Akan selalu terasa ada yang bisa mengungguli kita secara materi, dan itu membuat kita “tergila-gila” untuk mengunggulinya kembali. Pada saat itulah, kita sudah terkena hubbud dunia, dan takut mati. Na’udzubillah. Kesombongan, sungguh suatu wujud yang sulit diruntuhkan bahkan dengan api yang menghitam. Hanya shaum yang bisa melalapnya habis, mengikisnya tanpa bekas. Untuk itulah Ramadhan itu hadir, sebagai bulan dimana bahkan setiap hembus nafas kita mawujud sebagai ibadah. Dalam Ramadhan kita bersihkan tidak hanya badan, bukan sebatas hati, namun juga meliputi ruh kita tersucikan. Marhaban Ya Ramadhan. Inilah waktu yang paling baik untuk kita ber-introspeksi, selaku pribadi, sebagai anggota keluarga, sebagai bagian dari suatu harmoni. Waktu terbaik untuk kita menunaikan segenap kalibrasi dalam segenap dimensi hidup kita. Sehingga mampu didapati lagi harmoni, dalam setiap jejak langkah kita, dalam setiap nada yang kita titi bersama. Selamat datang Bulan Seribu Bulan, semoga kita semua terpanggil dalam tempaannya, semoga kita semua tertera dalam golongan taqwa. -amru nofhart-

With All My Respects

Look at the men covered their blood withThe Vulcanic Dust as the women and child got the sameLook at the mountain faces the world withThe dark side of Mr.Mann state Look at around before you decide to makeSome reasons to ask where is the Monarchie?Look at the mirror that show you up the shadowWho gives you a reason to be deserve at your point With all my respects, with all those sandsWe are not what you said with your intensionWe are now litle bit down, drawn on yourSistematic reduction through the genocidal democracy “Sampaikan salamku padanya di ujung cahaya, hanya saja cahaya belum bisa menembus bebal kearifan tirai jendelanya yang belum terbuka oleh latensi, di ujung do’a…..kami meminta “ -amru nofhart-

Sang Pengendali Hati

Mungkin tahun kemarin kita dirundung duka, bisa jadi akhir tahun ini kita serasa tertawa sepanjang tahun.Tak jarang kemarin kita merasa paling sengsara, namun seakan semua sirna hanya karena tawa lepas yang kita jumpai pagi ini.Bisa saja beberapa detik barusan kita merasa berhasil, namun tak ayal sontak bisa saja semua buyar dengan hanya beberapa kalimat berita kegagalan. Itulah kuasa-Nya, itulah prerogatif-Nya, Sang Pengendali Hati. (bersambung)-amru nofhart-

Kutipan Kritikan Kepemimpinan

Satu hari memang tak pernah beranjak dari angka 24 jam (more or less), tapi makna yang dibawa selalu berbeda dari satu hari ke hari lainnya. Sebagaimana pernah saya kutip pula, hal ini memang bukti bahwa setiap hari adalah ciptaan yang berbeda dimana kita harus mampu mengambil sebanyak mungkin modal darinya (lihat entri : Waktu). Seperti juga hari ini, selayak sengatan yang seolah “dinanti”, ada makna yang hadir di pagi ini melalui sebuah kutipan. Tak asing lagi bahwa tokoh tersebut adalah idola saya, namun yang membuat saya banyak malu adalah bahwa kutipan tersebut diteruskan oleh seorang teman yang – mohon maaf – jauh dari kriteria pemberi nasihat selama ini. Dan, “sengatan” ini semakin terasa manakala di-konteks-kan dengan kondisi sekarang, saat ini !!! Subhanallah !!! Allah selalu punya cara unik untuk menyayangi setiap makhluk-Nya.Adalah Khalifah Umar r.a ; “Orang yang paling aku sukai adalah dia yang menunjukkan kesalahanku”. Subhanallah, betapa indah kepemimpinan beliau. Ada banyak “pesan pribadi” untuk saya sebenarnya, dan akan coba saya general-kan sehingga mampu memberi manfaat sebesar-besarnya untuk semua. Pertama, bahwa kutipan tersebut membawa arti tersendiri karena penyaji-nya adalah teman yang menurut penilaian saya selama ini – sekali lagi mohon maaf – bukan tempat bagi saya minta nasihat. Hal ini sangat memukul bahwasannya kebenaran dapat datang dari manapun sekehendak-Nya. Bahwa yang menurut kita baik belum tentu demikian menurut Allah, begitu pula sebalikna. Mungkin sederhana, tapi memang kita tidak boleh sekalipun menilai buku hanya dari sampulnya. Dialah Sang Pengendali Hati, sesuka Dia dari mana akan menurunkan nasihat. Kedua, bahwa redaksi resmi kutipan tersebut tidak lain dan tidak bukan dari tokoh pemimpin yang selama ini saya klaim saya “gandrungi”. Kembali hal ini mengoyak saya, bahwasannya terlalu jumawa untuk saya menggandrungi seorang tokoh tanpa tau setiap kalimat pendiriannya, setiap perilaku tauladannya. Hal ini menjadi cambuk untuk setiap waktunya kita kembali belajar dan ber-introspeksi. Ketiga, dengan kondisi saat ini (lihat entri: dimana persimpanganku), kembali kutipan ini memberi makna lebih mendalam. Bahwasannya tidak ada permasalahan yang luput dari pantauan-Nya. Tidak segelintir hati pun yang tiada Dia ketahui isi dan gejolaknya. Apapun yang kita fikir dan rasakan, akan selalu mendapat atensi dari-Nya. Sebagai pungkasan, bagaimana kita mensikapi segala kondisi ini. Bagaimana kita melaksanakan perintah-Nya.Berat memang, tapi inilah jalan-Nya. Bukankah setiap keberatan dari kita selalu ada nilai disisi-Nya manakala kita mampu melampauinya??? -amru nofhart-

dimanakah persimpanganku?

Seolah setiap episode berselang pariwara, serasa itulah waktu ini terlewati… Yah, sejengkal demi sejengkal impian terwujud untuk kemudian melahirkan masa dimana kekosongan berisi senandung kesunyian.Terkadang bisa sebagus pelangi setelah deras hujan sehingga mampu melahirkan kembali impian yang benar-benar baru. Namun tak sedikit pula yang harus menikmati jeda iklan dengan terpaku dan penuh hasrat tak tentu karena seolah tiada lagi channel dengan tayangan bagus untuk dinikmati. Alhasil…. “K.O.S.O.N.G” Kini, saat ini,tepat saat jari-jari ini mencoba untuk menari,hanya berselang dari beberapa masa dengan hampa.Hanya bertaut beberapa iklan produk yang kurang mampu menggugah semangat, KENAPA? Apakah benar semua harus berjeda? katanya memang hidup tak harus selalu kencang berlari, sesaat kita perlu untuk rehat dan menghela nafas untuk kemudian berjalan kembali. Tapi bagaimana cara kita mengisi jeda itu?bagaimana kita menikmati rangkaian pariwaranya sehingga kita tidak perlu ganti channel?ataukah hidup memang sebuah pilihan sehingga berpindah adalah sebuah keniscayaan?lalu dimana harga sebuah kesetiaan, loyalitas, dan pengabdian?atau itu semua memang tidak kita perlukan? Gamang, mungkin itu kalimat yang paling mendekati apa yang kadang – kalau tidak terlalu sering-kita rasakan sembari menikmati peralihan waktu tanpa tempat berganti. Well, setidaknya saat ini harus dipaksakan untuk menikmati waktu meski dengan pergerakan minim.Tokh sekarang sudah mulai bermunculan iklan yang dapat dinikmati.Make it positive! -amru nofhart-

sound of empty

Raga ini tetap menapaki hari, menyiangi malam. Udara tetap dapat mengalir di dalamnya, dengan segenap kompleksitas pernafasan yang sekarang tak hanya sekedar bermuatan denyut, namun juga debar entah… Jiwa ini seolah tak lagi mampu memetakan arah fikir, bahkan dalamnya pandang tak mampu lagi memberikan gambaran meski hanya setitik tentang makna sebuah senyuman… Sekarang, detik ini pun, jika ada segenap rasa, tak mampu lagi ada aksara untuk menamainya.Entah karena langkah yang kian harus memberat karena memang telah masanya, entah juga karena memang perlu untuk sejenak tak melangkah lagi, lalu kemudian berlari.Syair pun tak lagi indah, karena hanya keluh dan peluh ‘nan tercipta. This is the real sound of me, the sound of empty..now!!!!!!-amru nofhart-

Runang

Banyak sekali masalah yang besar namun kemudian disikapi dan dimaknai dengan sangat kerdil. Ada banyak perkara yang seharusnya luas namun kemudian dikomentari secara sempit. Semua itu dilakukan oleh banyak orang, banyak kepentingan, banyak lisan berkata meski sampai tak jelas yang mana yang merupakan cerminan fikir dan yang mana yang merupakan cerminan fakir. Dalam istilah ayah saya, ini “runang” namanya (sing seru ingkang menang-yang lantang yang menang). Hari-hari ini para makmum sedang berfikir untuk menerima atau tidak imam-nya, untuk dapat mengarungi perjalanan 5 tahun mendatang yang sudah barang tentu tidak ada salahnya kalau kita bayangkan penuh dengan kesulitan yang harus dihadapi. Dalam pada itu akhirnya banyak dari kita yang terjebak dalam cara berpikir yang picik, yang sempit, yang bahkan pada akhirnya lepas dari arti (apalagi makna) dari kata yang sedang dipergunjingkan.Menengok para pembesar kita terlebih dahulu; yang meng-atas nama-kan rakyat bersama-sama membentuk satu poros, koalisi, gabungan, atau apapun namanya, untuk berusaha merumuskan segenap strategi yang sejatinya sebagai arah bangsa ini melaju 5 tahun ke depan.Namun apa yang bisa kita lihat dengan mata telanjang kami, dengan mata kami yang hanya menamatkan sekolah dasar untuk kemudian menjadi kuli & PKL, dengan mata telanjang kami yang tentu lebih sejuk untuk melihat acara komedi di TV?Yang kami lihat hanya para pembesar dengan kepentingan kecil, yang bisa kami saksikan hanya sosok yang dibungkus pakaian rapi baik untuk raganya maupun keinginannya, yang bisa kami indera-kan hanya para terpelajar yang mungkin belum sempat belajar untuk bisa melihat kami, mewakili kami, menolong kami, membimbing kami, menuntun kami, menjadi Imam kami. Salahkah kami yang hanya bisa melihat dengan kekaguman pada pemimpin yang sekarang?salahkah kami yang masih mempunyai harapan untuk bisa dipimpin lagi oleh beliau 5 tahun mendatang?Keterbatasan dasar kami untuk melihat bukan berarti bisa diobati dengan adu mulut yang sejatinya hanya runang?Dengan mata telanjang ini kami ingin coba sampaikan penglihatan kami, impian kami, bayangan indah kami.Betapa indahnya apabila kita bisa berjama’ah sholat dalam hal ini?Dengan sebelumnya bersama-sama merasa terpanggil dengan panggilan yang sama, dengan sebelumnya bersuci untuk memasuki arenanya yang telah kita sucikan pula, kemudian kita memuja keagungan-Nya dalam mengharap ridho-Nya untuk meluruskan niat kita dan melancarkan usaha kita, lalu kita terima siapapun imam kita dengan kriteria-Nya dan bukan kriteria kita yang kecil ini, lalu kita merapatkan barisan dengan tidak memberikan sejengkal-pun ruang syetan untuk mengoyak kebersamaan ini, kemudian setiap kita punya porsi baik imam maupun makmum untuk bersuara, apabila imam benar kita aminkan dan apabila salah kita ingatkan dengan tata cara yang santun sesuai tuntunan-Nya, sehinga pada akhirnya kita menyudahi usaha kita dengan penuh keselamatan yang kita tebar ke kiri dan kanan kita.Dan apabila dalam pelaksanaanya terdapat kesalahan kolektif, yang tidak kita sadari hingga tidak ada satupun dari kita yang mampu mengingatkan pada saat pelaksanaan, maka kita bersama-sama memohon ampunan-Nya dan bukan saling menyalahkan. Dan apabila dalam pelaksanaannya terdapat keberhasilan jama’ah, maka kita panjatkan syukur pada-Nya sehingga kita ditambahkan nikmat-Nya, dan bukan saling menjual keberhasilan tersebut hanya untuk kepentingan salah satu dari kita, beberapa gelintir dari kita, beberapa baris dari jama’ah kita.Subhanallah, betapa indah pelajaran Allah tentang jama’ah sholat. -amru nofhart-

pustaka naik kelas daftar rekomendasi buku hartanto

Pustaka Naik Kelas

Ada fase dalam perjalanan bekerja dan berusaha ketika pertanyaan tidak...

hartanto

Copyright @Hartanto.id 2026