Dua Cara Meningkatkan Profit di Tahun Baru

pareto kepemimpinan dan meningkatkan profit umkm

“Mas, udah masuk tahun baru nih. Ada saran untuk meningkatkan profit di tahun baru ini? Nah, saya suka nih dengan pertanyaan nggak pake ba-bi-bu dari rekan tumbuh. Ya iyalah, lihat saja kalimat diatas; nggak ada ba-bi-bu nya!!! Jadi ceritanya memang salah satu rekan tumbuh saya ini sudah lolos fase 1 (satu) dan sedang menuju fase 3 (tiga). “Mas, sebenarnya saya belum paham loh maksudnya njenengan soal 1-3-5. Mosok nggak ada duanya? “Yak arena setiap usaha itu unik, nggak ada duanya. Eaaa…. 2 Cara Meningkatkan Profit di Tahun Baru Balik lagi ke pertanyaan tadi, sebenarnya secara sederhana hanya ada 2 (dua) cara meningkatkan profit; Pertama meningkatkan pendapatan, Kedua mengurangi biaya. Terlihat sederhana, tapi praktiknya tidak semudah itu. Perkara strategi, taktik, dan teknis sudah beragam Pustaka. Tapi yang mau saya bagi di sini adalah perihal eksekusinya, yang memastikan apapun strateginya menghasilkan output sesuai harapan. 80% Faktor Penentu Saya tidak akan bisa lupa apa yang disampaikan Bp. Huda sebagai pembuka diskusi kala itu; Kalimantan, sebuah pulau yang sejatinya satu asal-usul. Namun karena sejarah membaginya menjadi tiga negara. Siapa yang paling luas di pulau itu? Siapa yang paling berhasil mengelolanya? Ya, dalam Pareto Kepemimpinan; berhasil tidaknya sebuah negara, organisasi, institusi atau korporasi, 80% ditentukan oleh siapa sosok pemimpinnya. Optimalkan Pareto Kepemimpinan untuk Keberhasilan Eksekusi Strategi dalam UMKM Dalam dunia bisnis yang dinamis, kemampuan untuk mengimplementasikan strategi dengan sukses adalah kunci utama bagi keberhasilan sebuah usaha, terutama pada skala UMKM. Salah satu pendekatan yang dapat memberikan dampak maksimal dalam upaya ini adalah menerapkan prinsip Pareto dalam kepemimpinan. Prinsip Pareto: Fokus pada yang Utama Prinsip 80/20 dari Vilfredo Pareto menyatakan bahwa sekitar 80% hasil dapat diperoleh dari 20% usaha yang paling penting. Diterapkan dalam konteks kepemimpinan, ini berarti pemimpin UMKM harus dapat mengidentifikasi dan fokus pada elemen strategis yang memiliki dampak terbesar terhadap kesuksesan perusahaan. Mengidentifikasi Prioritas Strategis Dalam konteks UMKM, sumber daya seringkali terbatas, dan waktu adalah aset yang berharga. Pemimpin yang memahami prinsip Pareto akan fokus pada identifikasi prioritas strategis yang akan memberikan hasil terbaik. Ini bisa mencakup segmentasi pasar yang paling menguntungkan, produk atau layanan dengan tingkat permintaan tinggi, atau bahkan penguatan hubungan dengan pelanggan kunci. Mengarahkan Tim ke Fokus Utama Kepemimpinan Pareto juga mengharuskan pemimpin untuk menjadi pengarah yang efektif. Tim yang dipandu oleh prinsip ini akan mendapatkan petunjuk jelas tentang elemen strategis mana yang harus diberikan fokus tinggi. Pemimpin harus mampu mengkomunikasikan prioritas ini dengan jelas, memotivasi tim, dan menyelaraskan upaya bersama menuju tujuan utama. Ketika Ekonomi Bertemu Kreativitas: Menakar Kewirausahaan Digital dari Kacamata Nilai dan Pilihan Hartanto·Oktober 31, 2025·2 comments Reboan Ekonomi mengajarkan kita berpikir rasional, sementara kewirausahaan menuntun kita untuk bermimpi. Dunia digital membutuhkan keduanya agar inovasi tidak sekadar gemerlap, tapi juga berkelanjutan. Ketika Inovasi… Continue Reading Membaca Masa Depan Organisasi: Belajar dari Tren dan Praktik Nyata Hartanto·Juli 23, 2025·0 comments Reboan Di sebuah ruang kerja kecil di Jakarta Selatan, Andini — pemilik usaha katering sehat “DapurNusa” — tengah memeriksa laporan penjualan mingguannya. Tak seperti dulu, ia… Continue Reading Sederhanakan Proses dan Struktur Organisasi Seiring UMKM tumbuh, kompleksitas operasional dapat menjadi tantangan. Kepemimpinan Pareto menekankan pada penyederhanaan proses dan struktur organisasi. Identifikasi kegiatan atau proses yang memberikan kontribusi signifikan pada hasil keseluruhan dan alokasikan sumber daya seiring dengan prinsip 80/20. Fleksibilitas dan Responsivitas Salah satu aspek kritis dari kepemimpinan Pareto adalah kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan. UMKM seringkali beroperasi dalam lingkungan yang berubah dengan cepat. Pemimpin yang menganut prinsip ini akan lebih responsif terhadap perubahan pasar, teknologi, atau kondisi eksternal lainnya. Mengukur dan Mengoreksi Penting untuk terus mengukur kinerja berdasarkan prinsip Pareto. Evaluasi berkala terhadap upaya dan hasil akan membantu identifikasi apakah fokus yang diberikan pada elemen strategis yang benar. Jika tidak, pemimpin harus siap untuk mengoreksi arah dan memastikan bahwa sumber daya dialokasikan dengan cerdas. Kesimpulan: Keberhasilan Melalui Penerapan Kepemimpinan Pareto Dalam dunia yang penuh tantangan UMKM, keberhasilan eksekusi strategi bukanlah pilihan, melainkan keharusan. Dengan menerapkan prinsip Pareto dalam kepemimpinan, pemimpin UMKM dapat memastikan bahwa sumber daya yang terbatas digunakan secara optimal, fokus pada elemen strategis yang memberikan dampak maksimal, dan mencapai keberhasilan dalam eksekusi setiap rencana bisnis. Terlebih lagi, umumnya UMKM bermula dari solopreneur, maka kemudian ketajaman eksekusi dari si pemilik menjadi sangat dominan. Tentu, factor eksternal masih memiliki porsi untuk menjadi pengubah. Tapi entrepreneurship sudah dari dulu bertumpu pada kelincahan mencari solusi atas setiap perubahan.

Alat Ukur untuk UMKM – KPI atau OKR?

alat ukur kinerja umkm indonesia

“Mas, apa bedanya KPI dengan OKR sih?” mendadak pertanyaan itu mendarat, padahal saya lagi baca soal heboh SGIE. Mana lagi lapar banget, makanya langsung aja saya jawab; “Itu spelling-nya pake gaya capres apa gaya cawapres?!” Dan, akhirnya kita diskusi lebih lanjut perihal alat ukur usaha/bisnis yang satu ini – apa yang dia tanyakan. Karena memang saya pun tidak ahli banget di ranah HRD ini. Tapi setidaknya boleh lah kita sambil belajar. Kata salah satu mentor saya sih; semua guru semua murid. Alat Ukur, Alat untuk Mengukur Dalam dunia bisnis, pelaku usaha seringkali dihadapkan pada kebutuhan untuk memahami dan mengelola kinerja mereka. Dua alat manajemen yang sering digunakan untuk tujuan ini adalah KPI (Key Performance Indicator) dan OKR (Objectives and Key Results). Bagaimana kedua konsep ini dapat membantu pertumbuhan dan kesuksesan UMKM? Mari kita jelajahi lebih lanjut. Definisi KPI dan OKR KPI adalah sejumlah metrik yang diidentifikasi sebagai indikator kunci untuk mengukur keberhasilan suatu bisnis dalam mencapai tujuan strategisnya. KPI memberikan gambaran yang jelas tentang sejauh mana suatu usaha berhasil mengimplementasikan strategi bisnisnya. Di sisi lain, OKR adalah suatu metode manajemen yang memfokuskan energi organisasi pada tujuan bersama yang dapat diukur. “Objectives” adalah tujuan besar yang ingin dicapai, sementara “Key Results” adalah langkah-langkah konkret yang ditempuh untuk mencapai tujuan tersebut. OKR vs KPI Walaupun keduanya – baik KPI ataupun OKR adalah alat ukur kinerja yang dapat digunakan UMKM Indonesia, ada perbedaan yang perlu dikenali. Secara sederhana, perbedaan antara kedua alat ukur ini ada pada aspek waktu, cakupan, dan fleksibilitasnya. Biasanya, KPI berfokus pada indikator yang mengukur kinerja jangka panjang. Sementara OKR Lebih bersifat musiman, sering kali dengan siklus pengaturan tujuan yang lebih singkat. Kemudian, KPI mengukur kesehatan umum bisnis dan mencakup berbagai area, sementara OKR menetapkan tujuan spesifik untuk mencapai hasil tertentu dalam periode waktu tertentu. Berikutnya, KPI Biasanya lebih tetap dan diukur secara konsisten dari waktu ke waktu, sementara OKR Dapat berubah lebih cepat sesuai dengan kebutuhan dan dinamika pasar. Baca Juga yang Ini! Ketika Ekonomi Bertemu Kreativitas: Menakar Kewirausahaan Digital dari Kacamata Nilai dan Pilihan Hartanto·Oktober 31, 2025·2 comments Reboan Ekonomi mengajarkan kita berpikir rasional, sementara kewirausahaan menuntun kita untuk bermimpi. Dunia digital membutuhkan keduanya agar inovasi tidak sekadar gemerlap, tapi juga berkelanjutan. Ketika Inovasi Menjadi Mimpi yang Tak Ekonomis Beberapa tahun lalu, saya berbincang dengan seorang founder startup lokal yang memiliki ide cemerlang: platform digital untuk membantu UMKM menjual produk kreatif ke pasar global.… Continue Reading Membaca Masa Depan Organisasi: Belajar dari Tren dan Praktik Nyata Hartanto·Juli 23, 2025·0 comments Reboan Di sebuah ruang kerja kecil di Jakarta Selatan, Andini — pemilik usaha katering sehat “DapurNusa” — tengah memeriksa laporan penjualan mingguannya. Tak seperti dulu, ia kini tak lagi bergantung pada buku catatan manual. Ia membuka dashboard online sederhana, membaca tren pesanan, hingga mengetahui kapan pelanggan biasanya melakukan repeat order. “Saya belajar dari pandemi. Dulu semua… Continue Reading OKR, KPI, dan UMKM “Lalu gimana penerapannya untuk UMKM kayak kita Mas? Nah, gini nih. UMKM perlu mengidentifikasi area-area kritis yang berdampak langsung pada keberlanjutan dan pertumbuhan bisnis mereka. Karenanya penting untuk memilih KPI yang sesuai dengan tujuan bisnis dan fokus pada kualitas data yang akurat. Pastikan pengukuran KPI dilakukan secara berkala dan dengan ketelitian tinggi untuk mendapatkan pemahaman yang akurat tentang kinerja bisnis. Selain itu, UMKM harus menetapkan tujuan besar yang bersifat ambisius namun tetap dapat diukur. Sejelas mungkin dalam merinci langkah-langkah kritis yang akan diambil untuk mencapai tujuan besar tersebut. Pastikan seluruh tim terlibat dalam proses penetapan OKR agar ada rasa kepemilikan bersama terhadap tujuan perusahaan. “Jadi, sebaiknya kombinasinya gimana nih? Penerapan Alat Ukur Performa UMKM – KPI dan OKR Untuk mendapatkan pengukuran kinerja bisnis yang baik, UMKM dapat lakukan kombinasi KPI dan OKR dengan cara berikut: 1. Ukurlah Kesehatan Bisnis Secara Umum dengan KPI Identifikasi KPI yang mencerminkan kesehatan umum bisnis seperti laba bersih, retensi pelanggan, dan kepuasan pelanggan. Menentukan target dari masing-masing indikator yang diukur ini sangatlah penting bagi UMKM. Target ini haruslah sesuai dengan business plan UMKM dan juga dapat diukur dengan jelas. Hal ini biasa dilakukan akhir tahun seperti ini untuk target tahun berikutnya. 2. Tetapkan Tujuan Strategis dengan OKR Gunakan OKR untuk menetapkan tujuan strategis seperti peningkatan pangsa pasar atau peluncuran produk baru. Jadi OKR ini melengkapi KPI di atas dalam bentuk tujuan jangka pendek yang memungkinkan UMKM melibatkan semua lini yang ada di UMKM. 3. Evaluasi Evaluasi Evaluasi Dan yang terakhir, evaluasi secara berkala. Lakukan evaluasi berkala terhadap kedua metode ini untuk memastikan bahwa tujuan-tujuan tersebut tetap relevan dan tercapai. Jadi… Alat Ukur Mana yang Anda Pilih? Dalam dunia yang terus berubah, UMKM perlu memanfaatkan alat-alat manajemen seperti KPI dan OKR untuk tetap kompetitif. Penggunaan yang bijak dari kedua metode ini dapat menjadi pilar keberhasilan bisnis UMKM, membantu mereka berkembang dan beradaptasi dengan cepat di pasar yang dinamis. Pertanyaannya; jadi spelling-nya Ka-Pe-I ??? Loh itu bukannya yang ngurusin penyiaran dan lainnya? Eh, ini soal apa sih?

Cerita Pitching

tentang pitching

“Mas, kita ketemu calon investor nih. Dampingin buat pitching ya.” Sebuah pesan masuk dari #rekantumbuh nun jauh di sana. Saya senang, setiap kali ada kabar semacam ini. Bagi saya, artinya ada kesempatan yang terbuka. Saya meyakini bahwa kesempatan itu tidak datang dengan sendirinya melainkan diburu oleh rekan-rekan saya. “Oke Mas, jadi apa yang bisa saya bantu?” tanya saya secara antusias. Value to Put On the Table Saya selalu menganalogikan bahwa bagaimanapun juga ini adalah jual-beli. Hanya saja obyek yang diperjual-belikan adalah berupa kepemilikan perusahaan. Maka sebagaimana jual-beli pada umumnya, nilai transaksi adalah kesepakatan yang harus dicapai di awal. “Berapa nilai yang akan ditawarkan Mas?” tanya saya yang kemudian dijawab dengan bisik-bisik oleh rekan saya ini. “Apakah ada ruang negosiasi yang cukup?” tanya saya lagi, yang kali ini juga dijawab dengan bisik-bisik. “Sebentar, valuasi perusahaan sudah disampaikan?” nah, kalo yang ini dia jawab dengan suara lantang; “ya karena itulah saya kontak Mas Tan” Nah, gini nih. Ini ibarat mau ngelamar tapi tidak ada yang ngomong duluan. Saling nggak enak, atau entah karena apa, yang ada pembicaraan berapa kali pun jadinya stagnan dan tidak ada progress. Karenanya saya selalu mengatakan bahwa nilai perusahaan yang akan dijual harus disampaikan di awal, karena itulah dasar transaksi dan kesepakatan-kesepakatan berikutnya. Sebagai contoh sebuah usaha rintisan yang sudah beroperasi 5 (lima) tahun, dan berencana untuk menjual 25% kepemilikannya kepada investor untuk tujuan ekspansi cakupan usaha. Maka semua akan mandeg kalo tidak bisa dijawab berapa nilai perusahaan yang akan dijual? Sehingga 25%-nya itu berapa nilainya? Sehingga investor bisa memutuskan fase-fase negosiasi berikutnya. Tentang Pitching: Ruang Negosiasi Non-Teknis “Oke Mas, kalo itu udah deh saya pasrah aja sama njenengan. Nah, setelahnya ngapain?” tanya rekan tumbuh saya ini. “Ya tinggal tawar-menawar lah, situ kan yang punya perusahaan?”jawab saya sekenanya. Sebenarnya ya tidak terlalu sekenanya juga, karena tokh esensinya memang begitu. Sekali nilai sudah ditetapkan dan disampaikan kepada calon investor, berikutnya ya harus dibuka ruang untuk negosiasi. Karena tentu investor punya sudut pandang sendiri tentang nilai perusahaan yang akan dia akuisisi. Background dan juga karakter bisnis si investor juga sangat berpengaruh. Sebagai contoh seperti halnya yang pernah saya alami, seorang investor yang biasa main property barangkali akan susah untuk relevan dengan bisnis digital. Coba saja bayangkan, dengan uang puluhan milyar di dunia digital bisa jadi hanya untuk pembelian cloud dan berbagai infrastrukturnya. Sedangkan dengan angka yang sama dia sudah bisa membebaskan lahan sekian luas yang jika didiamkan beberapa masa sudah terlihat capital gain-nya. Be Positive, Always Learning “Kalo ditolak gimana Mas?” tanya rekan tumbuh saya kali ini. “Ya gapapa, sebaliknya kalo diterima gimana?” tanya saya sebaliknya. Satu hal yang saya selalu pegang adalah bahwa dalam bisnis tidak ada kata gagal sebagai lawan berhasil. Yang ada hanya kata belajar untuk sebuah keberhasilan yang belum didapatkan. Begitu juga dalam fase negosiasi investasi, mindset pembelajar ini sangat membantu untuk mendapatkan energi positif bagi para penjaja ide dan/atau usaha. Dalam perjalanan puluhan kali pitching yang saya alami, mindset itu sangat membantu. Karena kita tidak bisa mengatur respon orang atas setiap paparan kita. Yang bisa kita kendalikan justru respon kita atas setiap tanggapan dari calon investor. Maka di sinilah pentingnya mindset pembelajar itu tadi, bahwa apapun tanggapan investor akan menjadi pembelajaran bagi kita untuk memperbaiki materi pitching kita sebelumnya. Dari mindset itulah, kemudian berbagai macam pengayaan justru akan didapat dari waktu ke waktu. Hal ini menjadikan materi pitching kita semakin baik dan pada akhirnya pada momentum yang tepat akan menemukan partner sinerginya yang setara. “Jadi, maju aja dulu nih Mas? Saya bingung nih mau kemana selanjutnya kalo yang ini gagal?” kata rekan tumbuh saya ini setengah mendengus. Kali ini benar-benar saya jawab sekenanya; “Wong kejadian aja belum koq bingung? Bingung itu kalo udah ada pilihan Masbro?!”

N untuk Nyali

menjadi pemimpin

Post kali ini bukan tentang nyali mengajak berkelahi ataupun bertengkar. Namun, ini cerita tentang pemimpin. Apa yang membuat seseorang menjadi pemimpin dan bagaimana kita belajar dalam setiap pekerjaan kita, apapun kerjanya. Gemetar rasanya waktu saya harus menghadap pimpinan saat itu. Setelah berulang kali saya cek dan cek ulang sebuah laporan tentang proyek pertama yang saya handle untuk perusahaan tempat saya baru berpindah kerja saat itu. Sebagai orang dengan background keuangan, saya merasa sudah sangat hati-hati mengelola pelaporan keuangan untuk proyek ini. Tapi tetap saja hasil akhirnya minus. Ratusan juta pula. Untuk proyek pertama, dan orang baru di sebuah korporasi menengah ini, saya tidak bisa menyembunyikan kegelisahan saya. Akhirnya, sudah tiba saatnya untuk mulai memaparkan pelaporan akhir proyek ini. Dan, pada baris terakhir saya laporkan saat itu; Maaf Pak, proyek kali ini menghasilkan kerugian untuk perusahaan. Hening, rasanya dunia berhenti. Ruangannya terasa sepi sekali, ditambah lagi hanya ada saya dan Beliau saja di ruangan itu. “Ya sudah, Namanya juga dagang ya adakalanya untung dan kadang rugi.” Singkat, memecah kesunyian dan ketakutan saya. Sudah? Sesederhana itu kah? Beginikah rasanya berwirausaha secara praktis? Ya, benar ini adalah cerita tentang proyek pertama saya di lapangan. Bukan lagi di belakang meja. Kawah Praktik Lapangan Setelah belajar di bangku kuliah yang sudah terpola untuk menghasilkan banker, sepanjang beberapa tahun berikutnya saya hanya mengamati bisnis dari atas kertas. Memang betul saya bisa membaca dan menganalisa bisnis lintas sectoral, tapi ya sekadar diatas kertas. Dari laporan keuangan yang ada, dari berbagai indikasi yang terbaca dari analisa atas berbagai komponen di dalamnya. Setelah memutuskan untuk berpindah tempat kerja. Mindset tentang bisnis benar-benar harus didobrak sedemikian rupa. Hal itulah yang rupanya menjadi agenda tersembunyi atasan langsung saya, yang kebetulan pemilik langsung usaha berupa korporasi lokal kelas menengah ini. Memang sama, bisnisnya lintas sektor mulai dari hotel sampai rumah sakit, mulai dari restoran hingga konstruksi. Bedanya saat ini adalah bahwa saya tidak hanya mengamatinya dari atas kertas kerja audit dan/atau analisa laporan keuangannya. Saya dipaksa belajar lembar demi lembar kejadian nyatanya. Tidak pakai agenda perkenalan berlama-lama, saya langsung diminta terlibat dalam sebuah proyek milyaran. Ya, milyaran pertama saya. Sebuah pekerjaan perbaikan jalur gas di area jawa barat yang mengalami lengkungan di tengah area sungainya. Jadilah itu kawah pertama bagi saya yang tidak akan terlupa. Teknis dan Non-Teknis Banyak sekali shock yang saya alami. Mulai dari perkara teknis dan non-teknis. Mulai dari perihal bicara dengan manager pelaksana hingga meredam protes warga. Semuanya pengalaman baru, di dunia baru, di area yang sama sekali tidak pernah saya sentuh sebelumnya. Maka jadilah saya harus menyingsingkan lengan baju dalam arti seutuhnya; secara fisik maupun psikis. Pagi hingga petang saya letakkan pena yang biasanya menjadi alat kerja saya, berganti dengan berbagai piranti keras pekerjaan lapangan lainnya. Sore hingga malamnya waktunya saya kembali berkutat dengan kertas kerja pelaporan dan segala hal terkait administrasinya. Memberikan saya pengalaman utuh tentang pekerjaan fisik sesungguhnya. Membawa saya kepada pengalaman masa beberapa bulan setelah lulus SMK. Kuli Bangunan dan PHK Pertama Waktu itu sekitar akhir tahun 2002. Saya yang lulusan SMK beradu kondisi dengan susah mencari kerja. Ibu saya, pahlawan saya selama-lamanya, mencoba mencarikan kegiatan untuk anaknya agar tidak malu katanya. Diikutkannya saya dalam rombongan proyek dari kenalannya. Laden, itu posisi saya. Tugasnya membawakan adukan semen dan pasir kepada tukang sepanjang posisi dia dalam bangunan. Jika sudah mulai naik pasangan batu bata, maka adukan (mortar) itu juga harus dibawa ke lokasi beliau diatas. Saya, yang waktu itu memegang ijazah SMK Tekstil jurusan Finishing, masih berharap bisa terlibat hingga akhir proyek. Sehingga bisa masuk kerja di lokasi tersebut karena kebetulan yang dibangun saat itu adalah pabrik tekstil. Tapi apa daya, hanya bertahan sekitar 20 hari dan saya pun mengalami PHK pertama kali. Belakangan saya paham, bahwa memang semakin mendekati finishing maka kebutuhan laden pun menurun. Jadi hanya perkara pengelolaan proyek saja yang mengakibatkan saya mengalami PHK pertama. “Bapak tuh pasti pernah ngalamin jadi kuli bangunan ya? Kelihatan banget kalo sayang sama tukang dan laden.” Sebuah kalimat dari Mang Enggol, tukang di proyek saya sendiri, sekitar dua puluh tahun setelahnya. Apa yang Membuat Seseorang Menjadi Pemimpin? “Pak Tan, ini namanya Laporan Perhitungan Laba Rugi kan?” Tanya Boss saya, yang membuyarkan lamunan saya. Di ruangan meeting itu, jauh setelah jam kantor berakhir, hanya kami berdua. Dan itu adalah awal kebiasaan kami untuk deep talk. Yang sejatinya, menjadi wadah saya belajar dari Beliau secara intensif. “Iya Pak, memang itu penamaan standarnya secara profesi” jawab saya secara lugu. Secara saya karyawan baru, mau setinggi apapun posisi saya di kantor itu, pun yang bertanya di depan saya adalah atasan saya, pemilik perusahaan pula. “Kalo emang namanya gitu, ya berarti sah-sah saja kalo hasil hitungannya rugi kan?” tukas Beliau, santai. Membuat saya tidak bisa menahan untuk bertanya; Kenapa bisa sesantai itu Pak? Lanjut lah pembicaraan itu menjadi catatan penting bagi saya. Tentang wirausaha secara umum, hingga ajaran strategis dan taktis lainnya. Di mana yang terpenting dari momen itu adalah tentang nyali. Yang selalu beliau ulang-ulang; Ya, Beliau dan akhirnya satu kantor, memang lebih suka memanggil saya dengan suku kata tengah nama saya. Semua nasihat Beliau menjadi bekal berharga bagi perjalanan panjang saya berikutnya. Yang khusus dari kejadian kali ini adalah, bahwa ini merupakan proyek pertama saya, lebih tepatnya proyek milyaran pertama saya. Yang anehnya, impact ke saya justru menebalkan makna wejangan a la Jawa yang sudah lama jadi pegangan saya; “Ojo gumunan, ojo getunan, ojo kagetan, ojo aleman” Memang sudah lama itu jadi salah satu “sangu” saya sebagai orang keuangan. Sehingga berapapun angka yang tertera dalam data saya tidak menjadikan saya silau. Tapi bedanya memang, ini laporan dari sebuah pekerjaan yang saya terlibat langsung, sementara laporan yang biasanya saya audit dan analisa adalah hasil kerja orang lain. Membaca Diri, Membaca Orang Lain Dari kejadian di atas, jadilah bekal bagi saya untuk mengenali berbagai fenomena sesama pengusaha pemula. Tidak sedikit dari rekan saya yang terasa sekali “kagetan”-nya. Dan, itu pun menjadi alasan terjadinya kejadian-kejadian miss-management berikutnya. Berapa banyak dari kita yang menyaksikan pedagang kecil jadi kalap saat menerima order membludak? Sehingga seolah untungnya tidak terasa? Benarlah kemudian kata salah satu

Pertaruhan Sumber Daya Manusia

tantangan umkm - sumber daya manusia yang terbatas

“Menurut kamu, apa challenge berikutnya?” tanya beliau kali ini. Seperti biasanya, perbincangan berdua dengan para mentor selalu saya manfaatkan untuk belajar. Sebisa mungkin mendengar, bertanya hanya jika terdesak, bicara hanya jika diminta. Kali ini rupanya benar-benar saya ditanya oleh beliau, perihal usaha yang kita kelola bersama. Lebih tepatnya, saya sekadar bantu beliau kelola. “Fase berikutnya setelah scale-up ya standarnya di human resource management sih Pak” jawab saya standar. Sekilat mungkin, sembari tidak sabar menunggu elaborasi dari beliau. Memang, kondisinya seharusnya sudah memasuki tantangan sumber daya manusia kali ini. “Ya, lebih tajam lagi; penempatan personel tim secara tepat.” Tantangan UMKM: Ketepatan Di Tengah Keterbatasan Sumber Daya Manusia Memang betul, UMKM atau rintisan mempunyai keterbatasan dalam hal sumber daya. Tidak terkecuali sumber daya manusia. Saat PR mengenai scale-up telah terakomodir, maka tantangan berikutnya adalah HRD. 1. Memahami Dinamika UMKM Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) membentuk tulang punggung ekonomi nasional, memainkan peran penting dalam mendorong inovasi dan memberikan peluang pekerjaan. Namun, perjalanan skala usaha bagi UMKM datang dengan sejumlah tantangan unik. Tidak seperti perusahaan besar, UMKM sering beroperasi dengan sumber daya terbatas, anggaran yang ketat, dan struktur organisasi yang lebih kecil. Saat UMKM memulai langkah ekspansi, HR menjadi penentu keberhasilan. Tantangannya terletak pada pemahaman dinamika khusus yang membedakan UMKM. Berbeda dengan perusahaan besar, UMKM sering beroperasi dengan tim yang lebih kecil, menuntut pendekatan yang lebih serbaguna dari para profesional HR. Dari merekrut dan mempertahankan bakat hingga membentuk budaya perusahaan, HR di UMKM perlu menavigasi tantangan ini dengan kefasihan strategis. “Kalo gw taruh orang yang lapangan banget ke ranah manajerial dan/atau perencanaan strategis, kita bakalan kehilangan dua pos. Eksekusi dan Strategi nggak optimal jadinya.” Begitu pelajaran dari mentor saya kali ini. 2. Strategi Rekrutmen dan Akuisisi Personel Salah satu tantangan terdepan yang dihadapi UMKM selama scale-up adalah menarik dan mempertahankan bakat terbaik. Persaingan untuk profesional berkompeten sangat ketat, dan UMKM sering bersaing dengan perusahaan lebih besar dengan sumber daya yang lebih besar. Untuk mengatasi hambatan ini, strategi akuisisi bakat dan rekrutmen strategis menjadi penting. UMKM dapat memanfaatkan kelincahan mereka sebagai keunggulan. Kecepatan memungkinkan mereka mengimplementasikan pendekatan rekrutmen inovatif, seperti membangun merek pengusaha yang kuat yang menekankan peluang dan tantangan unik bekerja di UMKM yang berkembang. Jaringan dalam lingkaran industri, bermitra dengan institusi pendidikan, dan memanfaatkan platform online juga dapat memperkuat upaya rekrutmen. Kerja sama dengan komunitas lokal dan memupuk budaya kerja yang positif adalah elemen tambahan yang dapat membuat UMKM lebih menarik bagi calon karyawan. Dengan menyoroti peluang pertumbuhan karir, lingkungan kerja yang mendukung, dan rasa tujuan, UMKM dapat bersaing dengan sukses untuk menarik bakat terbaik dibandingkan perusahaan besar. “Yakinkan bahwa bergabung dengan kita artinya juga menjadi besar bersama kita. Sense of ownership itu yang harus dipastikan sedari awal” 3. Menanamkan Budaya Perusahaan yang Kuat Seiring dengan pertumbuhan UMKM, menjaga dan membina budaya perusahaan yang kuat menjadi semakin penting. Berbeda dengan organisasi yang lebih besar, UMKM sering memiliki lingkungan kerja yang lebih akrab di mana kontribusi setiap anggota tim terasa nyata. Kedekatan ini menciptakan peluang unik untuk membangun budaya yang bersatu dan positif yang terasa di seluruh organisasi. Para profesional HR di UMKM harus secara proaktif terlibat dalam membentuk dan menjaga budaya yang sejalan dengan nilai dan tujuan perusahaan. Komunikasi memainkan peran sentral—memastikan bahwa tim memahami misi, visi, dan nilai bersama perusahaan menciptakan rasa memiliki dan tujuan. 4. Mengelola SDM dengan Sumber Daya Terbatas Keunikan UMKM, terutama dalam hal sumber daya yang terbatas, mendorong perlunya pengelolaan SDM yang lebih efektif dan efisien dibandingkan dengan korporasi besar. Dengan tim yang mungkin lebih kecil dan dana yang terbatas, UMKM perlu fokus pada strategi yang memberikan dampak maksimal dengan sumber daya yang tersedia. Pentingnya Peran HR dalam Sumber Daya Manusia (yang Terbatas) Penting bagi HR di UMKM untuk memahami prioritas bisnis utama dan menyelaraskan strategi sumber daya manusia dengan tujuan pertumbuhan jangka panjang. Ini melibatkan identifikasi bakat internal, pengembangan keterampilan internal, dan penciptaan jalur karir yang jelas untuk memanfaatkan potensi penuh tim yang ada. Keterlibatan dan pengembangan karyawan menjadi kunci. Dengan memahami aspirasi karyawan dan memberikan pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan bisnis, UMKM dapat memaksimalkan potensi setiap individu dalam tim. Kreativitas dalam merancang kebijakan insentif dan pengembangan karyawan juga dapat meningkatkan motivasi dan retensi karyawan. Tentu, tantangan sumber daya memerlukan solusi yang cerdas dan inovatif. HR di UMKM perlu menjadi pemimpin strategis yang mengarahkan sumber daya manusia menuju tujuan bisnis, sambil tetap sensitif terhadap keterbatasan yang mungkin ada.

Tentang Penipuan

#KamiSharing tentang penipuan

KamiSharing kali ini bicara tentang penipuan oleh orang yang sudah dipercaya. Kita tak bisa menduga apa yang bisa dilakukan oleh seseorang, sekalipun telah mengenalnya sekian lama. Pagi ini saya dapat kesempatan emas, untuk ngopi bareng seorang mentor. Kesederhanaan, itu yang selalu saya pelajari dari beliau. Tapi kali ini, untuk lebih ke sekian kalinya saya bertandang ke rumah beliau, saya kembali berharap belajar hal baru dari beliau. Sempat salah lokasi ke rumah yang baru, rupanya Beliau sedang di rumah bertuahnya. Di situ ada meja pingpong yang digunakan warga sekitar untuk ngariung, menghabiskan pagi, mencari keringat, sembari menjalin kedekatan di perumahan yang lekat dengan hidup sendiri-sendiri. “Saya habis kena tipu orang kepercayaan saya Mas.” Beliau mengawali ceritanya, membuat sruputan kopi saya agak terjeda. Beliau? Kena tipu? Tapi sebisa mungkin saya tidak bertanya. Jaga diri, kan ini sepertinya ini hal sensitif untuk diceritakan. Dan, saya juga sedang khusyu’ dengan lontong dan tahu Sumedang yang menemani obrolan tentang penipuan kali ini. Cerita Tentang Penipuan – Background Story “Mas pernah dengar PT. XXX? Itu usaha saya sejak 2014, tapi sudah auto pilot. Saya hampir nggak pernah aktif disitu. Disamping itu lebih bersifat social entrepreneur, membantu para petani mendistribusikan hasil panennya ke beberapa teman nongkrong saya yang buka usaha F&B” Rupanya Beliau melanjutkan ceritanya. Tentang bagaimana seorang kepercayaannya di bisnis yang dimaksud melakukan telikung yang cukup tajam dan kentara. Bagaimana mungkin seseorang yang dipasrahi bisnis sedemikian all-out-nya justru membuka pintu pengkhianatan? Bayangkan; jaringan petani dari yang bersangkutan, jaringan pembeli dari yang bersangkutan, modal dari yang bersangkutan, sistem dari yang bersangkutan. Koq bisa-bisanya seseorang yang dikaruniai kemudahan semacam itu masih kepikiran untuk nelikung? Tentang Sifat Rakus Manusia “Orang itu Mas, kalo udah ketemu rakus ya nggak akan ada cukupnya. Mau dikasih segimana juga pasti otaknya mikir kurang dan kurang terus.” Kembali Beliau menjelaskan dan saya pun kembali mencatat. Sembari menyeruput kopi, pikiran saya pun berkembara ke dalam adegan di sebuah film lama. Saya ingat judulnya Hacker, yang menceritakan sekelompok anak muda yang melakukan kejahatan perbankan berupa carding. Dalam sebuah adegan, ada quote yang entah kenapa terngiang membersamai seruputan kopi saya kali ini; “Money doesn’t change people, it reveals them” Bahwa uang tidak membuat orang berubah, dia hanya menunjukkan siapa orang itu sebenarnya. Entah kenapa saya lebih suka sudut pandang ini ketimbang beberapa nasihat yang bernada sebaliknya; menyalahkan uangnya sebagai faktor pengubah. Terdengar lebih introspektif. Ya, saya sepakat bahwa uang tidak pernah membuat orang berubah, dia hanya menunjukkan watak asli dari orang tersebut. Yang barangkali belum terlihat jelas sebelumnya. Label Harga Seseorang “Saya niatkan usaha itu untuk sama-sama bekerja sosial Mas, karena hitungannya pasti mepet kalo secara keuangan. Tokh dia juga masih aktif bekerja sebagai professional, sebagaimana saya. Hanya saja manakala dia berubah haluan ingin menjadikannya ladang cuan dengan cara-cara kotor; tekan petani untuk dapat harga beli murah dan menipu pelanggan untuk dapat harga jual mahal, kedua arah dengan membawa nama saya. Di situ dia melabeli harganya sendiri.” Sesungguhnya inilah yang jadi pikiran saya sedari awal; apakah tokoh kita ini nggak tau siapa yang dia telikung? Betapa sempit pola pikirnya jika dia merasa bisa menipu seperti itu selamanya? Lebih jleb lagi manakala mentor saya kali ini bilang, bahwa ini hanya efek jera buat dia. Saya tau sampai titik mana saya harus kembali menolongnya. Di sinilah label itu berfungsi; menunjukkan harganya. Sementara yang dipertunjukkan oleh mentor saya ini; kesederhanaan dalam segala aspek. Setiap kali saya berkesempatan bertemu selalu saja “seragamnya” kaos putih a la Pak Tani dan celana olahraga seadanya. Sembari melayani tetangga kompleks untuk sekadar ngopi dan main pingpong. Meski saya seringkali dengar cerita kehebatannya dari seantero jaringannya. Dari para petinggi daerah hingga tokoh nasional. Semua seolah tidak membuat beliau silau. Justru disitulah letak kemuliaan, tidak pada yang tampak tapi yang tersembunyi. Rumus Socio-Preneur a la Beliau “Sedari tadi rasanya yang ada adalah list of don’t semua ya Pak?” Tanya saya. Rupanya Beliau paham maksud saya, as always. “Manfaatkan jaringan atasmu untuk membantu jaringan bawahmu. Itu rumus kebermanfaatannya Mas.” Beliau memungkasi penuturannya. Siapapun pasti punya jaringan, circle kalo kata anak sekarang. Dan, di antara circle kalian pasti ada lapis-lapis berbeda mengacu pada kebutuhan ekonomis dan pemenuhannya. Coba telusuri, berapa dari jaringan kita yang di bawah bisa tertolong dengan kita menjadi jembatan untuk terkoneksinya dengan jaringan kita yang di atas? Ya, sesederhana itu untuk menjadi seorang sociapreneur a la beliau. “Karena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfa’at bagi manusia lainnya” Tapi ingat, bermanfaat ya. Bukan dimanfaatkan, apalagi ditipu. “Eh, jadi gimana nasibnya sekarang Pak?” saya jadi kepo ingin tahu kelanjutan cerita tentang penipuan yang tertangkap basah itu. Setelah merugikan berbagai pihak selama sekitar dua tahun itu. “Sudah diselesaikan secara kekeluargaan Mas, bagi saya selama dia kooperatif dan mau mengakui kesalahannya itu jalan yang terbaik.” Tukas beliau. “Wah, kalo masih mencak-mencak dan coba ingkar sih bisa jadi selesai se-keluarga-nya ya Pak? Eh…

Percaya Diri atau Berani?

persiapan berwirausaha

Mas, apa yang harus dimiliki untuk mulai usaha; percaya diri atau berani? Sebuah pertanyaan mendarat di sesi ngopi pagi yang seharusnya lebih santai. Tapi namanya juga saya ditraktir, ya tidak pantas rasanya kalo saya kaget atas pertanyaan tadi. Ditambah lagi, ini bukan kali pertama ada teman yang nanya begitu kepada saya. Dan, seperti biasanya saya selalu menjawab dengan pertanyaan balik; kenapa nanyanya ke saya? Karena seringkali pertanyaan justru datang dari teman sepermainan, seumuran, dan bahkan tidak jarang dari seseorang yang secara usia lebih tua. “Sederhana saja Mas, kan memang saya pengen mulai berwirausaha. Kira-kira apa yang harus dipersiapkan?” 3 Persiapan Berwirausaha ala Hartanto Kalau ditanya apa saja persiapan berwirausaha, setidaknya ada 3 hal yang perlu dipersiapkan oleh semua orang, yaitu: 1. Komitmen dan Harganya Banyak yang menyampaikan bahwa modal utama bisnis adalah kepercayaan. Tapi tidak banyak yang bersedia menceritakan bagaimana kepercayaan itu diperoleh. Sebagai contoh saja, modal untuk berjualan segerobak bakso barangkali tidak lebih dari sekitar Rp 5juta lengkap satu gerobak berikut isinya. Jika melihat angka itu hari-hari ini, rasanya siapa saja dengan kemauan kuat bisa memperoleh modal itu dengan cepat. Melalui pinjaman kepada teman misalnya. Tapi harga modal itu tidak berhenti di angka 5juta, yang kemudian bisa dikembangkan menjadi aktivitas jualan berbulan dan tahun lamanya. Yang tentunya sudah sering kita dengar cerita penjual bakso yang sukses kemudian memilliki kedai sendiri, dan bahkan berhasil membentuk kelompok usaha berpuluh gerobak jumlahnya. Mari kita kilas sebentar, bagaimana tidak semua orang berhak mendapat modal 5juta itu. Dan bagaimana orang lainnya bisa dengan mudah memperolehnya? Ya, kepercayaan. Lalu bagaimana jika 5juta itu diperoleh dari pinjaman pertama kalinya? “Dalam pengalaman saya, komitmen untuk menepati janji di tahap pertama transaksi seringkali adalah kunci terbukanya kepercayaan yang sangat berharga untuk kesuksesan berikutnya.” Bahkan, seringkali lebih mahal dari sekadar hitungan untung-rugi atas besarnya modal itu sendiri. Misalnya, dalam memenuhi janji pengembalian utang 5juta modal awal tadi, seorang pemula bisa saja bahkan menelan kerugian untuk sekadar bisa mengembalikan utangnya. Tapi  yang terjadi sebenarnya adalah dia sedang membeli kepercayaan sebagai modal berikutnya. 2. Berencana dan Berani Mewujudkannya Setelah kepercayaan diperoleh sebagai modal dasar, maka menjaganya menjadi tugas berikutnya yang tidak kalah menantang. Untuk hal yang berikutnya ini, seperti juga seharusnya di tahap awal sebelumnya, seharusnya kegagalan tidak boleh muncul di benak setiap orang yang akan berwirausaha. Tentu juga untuk hal yang berikutnya, dan berikutnya lagi. “Lalu bagaimana caranya Mas?” ternyata teman saya ini masih menyimak dan melanjutkan pertanyaannya. Membuat saya jadi kembali ingat bahwa dia sedang mau memulai usahanya di kota tempat tinggal saya. Beliau ini niat sekali untuk mewawancara saya di setiap kesempatan ngopi pagi bareng. Sementara saya paling suka menggali cerita masa lalu darinya, yang kebetulan satu almamater dengan saya. “Fokus, Bergerak, dan Bersabar. Karena akan selalu ada masanya dalam setiap usaha waktunya untuk kondisi kita berhasil, atau kondisi di mana kita harus belajar.” Dalam pemahaman saya saat ini, yang sangat membedakan antara pola pikir saya saat menjadi karyawan sebuah korporasi besar, kemudian berpindah kepada korporasi kecil dengan posisi yang lebih dekat kepada pemilik, hingga sekarang menjalani usaha sendiri, adalah keterdesakan untuk senantiasa bergerak dan mencari solusi yang terasa lebih terasah. Atau lebih tepatnya; dipaksa untuk diasah. Maka benarlah kiranya yang disampaikan oleh Pak Sandiaga Uno dulu; bahwa entrepreneurship itu bukan sebentuk profesi melainkan pola pikir untuk selalu menemukan solusi dari sebuah keadaan. Jika itu yang menjadi dasar, maka siapapun kita mampu menjadi entrepreneur dalam setiap ruang lingkup aktivitas kita. Kita bisa jadi ASN yang entrepreneur, karyawan yang entrepreneur, atau juga bahkan pengusaha yang entrepreneur. 3. Berserah, Berpasrah, Berkah Barangkali sudah tidak terhitung kejadian di mana saya merasa sudah lama tidak bergerak. Lalu saya putuskan untuk sekadar berperjalanan, menjalin silaturahmi baik kepada kenalan lama atau membuat jaringan baru. Lalu kemudian hasilnya pintu rejeki berikutnya justru bukan dari tempat di mana saya bertandang, melainkan dari pihak nun jauh di sana yang bahkan tidak ada dalam list kita? Setiap kejadian itu mengingatkan saya kembali kepada kenyataan bahwa tugas kita hanya berusaha, sedangkan hasil sudah ditentukan oleh-Nya. Justru, setiap kejadian serupa d iatas semakin memantapkan langkah saya. Bahwa ini jalan yang memang sudah disiapkan oleh-Nya. Setidaknya dalam setiap perjalanan ini saya dapati pembelajaran untuk senantiasa berpasrah. Sehingga setiap keberhasilan yang dipergilirkan untuk kita bisa menikmatinya, membawa kita untuk lebih dekat kepada-Nya. Wirausaha – Kenapa Gak? Mungkin 3 persiapan berwirausaha yang saya sebutkan bukanlah persiapan yang teoritis – yang kita bisa dapatkan dalam buku-buku wirausaha lainnya. Namun, 3 persiapan membuka usaha di atas adalah dari pengalaman saya sendiri. Dari semua pengalaman yang pernah saya lalui dan lewati, semua membawa pikiran saya ke satu hal: “Portal dari setiap peningkatan selanjutnya adalah melalui bagian dari dirimu yang kamu hindari. Karena pertumbuhan sering diawali dengan ketidaknyamanan” Jika kamu tidak siap dengan ketidaknyamanan, seperti yang saya ceritakan di kisah 3B – Bergerak, Bertahan dan Bertumbuh, ada baiknya berpikir ulang untuk memulai usaha ini. Sebaliknya, jika siap, kenapa gak mulai persiapan berwirausaha sekarang?

Bergerak – Bertahan – Berkembang

tentang bergerak bertahan dan berkembang dalam hidup

“Gimana sih cara lo bertahan Bro?” Sebuah pertanyaan mengawali perbincangan sore itu. Dengan seorang teman lama, sahabat, dan bahkan sudah saya anggap sebagai kakak karena perannya. Kami pernah belajar di tempat yang sama, bekerja di kota yang sama. Dalam sebuah periode pernah saya panggil dia Boss, dan di periode berikutnya dia panggil saya Boss. Memulai: Sebuah Tiket Satu Arah “Lo resign gw tau kayak apa beratnya, dan sepengetahuan gw jadinya nggak punya gajian lagi. Bulanan pasti berat, banyak cicilan, tapi Lo bertahan. Bahkan tidak hanya bertahan, gw lihat Lo berkembang. Apa sih rahasianya?” Kembali pertanyaannya terelaborasi dengan jelas. Dan, saya butuh waktu lama untuk mencoba menjawab secara gamblang. Sebab dalam pandangan saya, tidak bisa dipungkiri bahwa lebih banyak keberuntungan dibandingkan keberhasilan dalam kisah kewirausahaan saya. “Gini loh Bro, kita sama-sama banker sebelumnya. Dan sekarang, kita sama-sama tau; gw udah jauh dari kapasitas itu. Bahkan tepat saat ini kondisi gw boleh dibilang menggelikan untuk dikaitkan dengan background sebagai banker…” Dia melanjutkan ceritanya, kondisinya, keluhannya. Dan, saya mencoba menjadi pendengar yang baik. Tapi rupanya bukan itu yang ingin dia dapati. Dia butuh ngobrol, butuh jawaban. Maka jawaban saya; “Mungkin karena gw udah kepepet, jadinya sebisa mungkin bergerak maju. Karena resign yang Lo inget waktu itu gw ambil adalah tiket satu arah. Tidak ada jalan kembali selain berubah dari pria berpenghasilan tetap menjadi pria yang tetap berpenghasilan.” Susu Habis – Sebuah Penanda Maka kemudian mengalirlah cerita kami berdua sembari mencari irisan tiap peristiwanya. Tak lupa kami mencatat setiap kegagalan sebagai bentuk pembelajaran, dan keberhasilan sebagai wujud kesyukuran. “Terus di momen apa Lo merasa ini jalan yang tepat?” Waduh, sejujurnya pertanyaan ini juga selalu terngiang di kepala saya. Karena bagi saya, keputusan untuk memulai dengan tiket satu arah tadi sudah bulat. Tapi permasalahannya adalah saya memulai Ketika sudah memiliki istri dan 3 orang anak, bahkan anak ketiga kami lahir berselang bulan setelah saya resign. Saya masih sangat ingat komentar seorang teman kala itu; “kalo Boss tau Lo bakalan punya anak bayi lagi gw yakin nggak akan diijinin tuh Lo resign” Maka kemudian saya coba uraikan bahwa perasaan mantap bahwa ini jalur yang tepat adalah saat istri tidak lagi uring-uringan saat susu sang bayi hampir habis. Dia tidak lagi diam seribu bahasa dengan muka masam. Atau yang lebih perih apabila dia kemudian meminta ijin untuk mengganti merk susu yang mahal itu dengan yang lebih sesuai dengan saldo rekening. Hingga di sebuah sore, susu anak ketiga kami habis. Tapi istri saya tersenyum dan bilang; “Bapak insya Allah mau dapat rejeki lagi deh, soalnya susu si kecil sudah hampir habis.” Dengan senyum termanis yang selalu menjadi modal terbesar saya. Saat itulah saya merasa; inilah jalan yang tepat, inilah hal yang layak untuk diperjuangkan. “Sebentar, ini soal apa sih? Koq jadinya gw yang diwawancara?” Momentum dan Angka 40 “Gini…. Akhirnya mengalir lah cerita dari sahabat, saudara, dan kakak kelas saya ini. Bagaimana kondisinya, yang menurut dia berada di titik yang paling menyedihkan sepanjang perjalanannya hingga saat ini. Dari sisi keuangan, perjalanan karir, hubungan keluarga, hingga kandasnya impian untuk bisa menjalin hubungan ke jenjang yang lebih serius. Hingga akhirnya meluncur lah kalimat tanya di awal tadi; gimana caranya bertahan hidup? Tapi kali ini ditambah dengan harapan darinya, bahwa barangkali ini turning point dia setelah menapaki usia 40. Dan seperti biasa, diskusi kami selalu bisa lintas sudut pandang. Karena meski berbeda keyakinan beragama, tapi sahabat saya ini satu dari beberapa teman berbeda keyakinan yang bisa sangat terbuka untuk diskusi perihal sensitive sekalipun tentang perihal agama. Pertama, kelilingi diri dengan networking yang mendukung untuk bertumbuh. Saya merasa sangat beruntung bahwa bahkan di tempat kerja terakhir mendapatkan akses untuk networking tersebut dan juga kesempatan belajar. Demikian juga setelah resign, saya bersyukur bisa berkenalan dan dikelilingi orang-orang yang memberikan banyak sekali kesempatan dan pembelajaran. Baik yang lebih senior maupun yang relative lebih muda dari saya, semuanya memberikan hikmah pembelajaran. Saya sering bilang kepada beberapa teman; dari yang muda saya belajar untuk tetap menjaga semangat dan kemauan belajar, dan dari yang muda saya belajar tentang kewaspadaan dan kebijaksanaan. Kedua, mulai saja dari apa yang sengaja atau tidak sengaja kita berada di ranah itu sekarang. Kami sama-sama orang keuangan secara background pendidikan, kemudian sahabat saya ini mendapat kesempatan untuk mendalami audit di bidang IT. Jadilah itu bridging untuk membuat dia seperti sekarang ini; digital enthusiast. Maka saya minta yang bersangkutan untuk menyusun semacam portfolio yang bisa ditawarkan secara massif terkait digital agency dan layanan turunannya. Ketiga, syukuri momentum untuk menjadi amunisi agar senantiasa bergerak dan berkembang. Banyak sudah cerita seseorang memulai usaha seolah karena keterpaksaan. Bagi saya itu hanya momentum, yang harus dijaga dan disyukuri.  Karena terkadang seseorang harus berada di tempat yang tidak dikehendaki, untuk dapat membangun kekuatan yang bahkan tidak dia bayangkan untuk dimiliki. 40 dan 3 Arah Jadi, kembali kepada perihal angka 40 tahun. Sedari diucapkan oleh sahabat saya ini cukup mengundang ketertarikan saya untuk berbincang perihal keistimewaannya. Dikabarkan bahwa angka 40 memang sebuah titik penentu. Jika baik dia di saat berumur 40, maka akan seterusnya baik. Sebaliknya jika saat berumur 40 masih suka akan keburukan, maka hal itu akan menjadi candu yang sulit dihilangkan. Boleh dibilang, umur 40 adalah waktunya manusia kembali kepada fitrahnya. Sebagaimana ditegaskan Khairil Anwar; “Sekali berarti, sudah itu mati”. Barangkali itulah alasan kenapa usia 40 juga dianggap sebagai usia kematangan, kedewasaan, kemampuan untuk memimpin. Konon, ketika Imam Syafi’i berumur 40 tahun, ia berjalan memakai tongkat. Ketika ditanya hal itu ia berkata, “Supaya saya selalu ingat bahwa saya adalah seorang musafir.” Setidaknya ada tiga tanggung jawab yang diemban oleh mereka yang berumur 40+.  Pertama, tanggung jawab ke atas yaitu taat kepada Allah dan Rasulullah, menghormati kedua orang tua dengan ketaatan, kesabaran, finansial dan perhatian. Kedua, tanggung jawab ke bawah yakni menyayangi dan menguatkan anak-anaknya dengan ilmu, pengarahan, kasih sayang, finansial dan teladan.  Ketiga, tanggung jawab ke samping, yaitu bersinergi dengan mitra hidup, istri/suami, saudara/i, dan tetangga dalam rangka membangun rumah tangga dan kehidupan sosial masyarakat yang rukun, aman dan damai. Bertahan Lalu Berkembang Bagi saya, sudah sejak lama saya mengangankan; mau dikenal sebagai apa nanti saya setelah

Yang Terbaik, Untukmu Mbahku Yang Terbaik

Dulu, semasa saya masih belajar berjalan, beliau adalah sosok single-parent yang kesetiaannya jauh melampaui eranya. Beliau mengumpulkan ke-enam putra-putrinya yang lima diantaranya sudah berkeluarga dan sudah beranak satu dalam satu bangunan besar tanpa paku yang kami sebut rumah joglo. Ya, “mangan ora mangan sing penting kumpul” nampaknya sangat dipegang teguh. Hingga saya dan beberapa sepupu yang terlahir dalam rumah besar itu, mampu menikmati indahnya kebersamaan, guyub meski dalam keterbatasan. Ketika beberapa cucunya, termasuk saya, sudah mulai harus mengenal bangku SD beliau pun tak pernah kehilangan peran. Dengan kondisi yang ada dia mendidik kami semua menjadi pekerja keras.  Pagi sebelum subuh kami berlima bangun untuk membantunya menyiapkan nasi megono beserta seluruh lauknya sebagai dagangan di pagi hari. Tangan-tangan kecil kami mengerjakan apapun yang bisa kami kontribusikan; mengupas nangka, memarut kelapa, mengiris bawang merah dan bumbu lainnya. Hingga semua dari kami memiliki “kenal lahir” berupa goresan luka akibat pisau yang menyayat ujung jari kami yang luput dari pengamatan mata kami yang masih terhinggapi kantuk. Sebelum adzan subuh berkumandang, maka semua dagangan harus sudah siap di sebuah lincak di depan rumah joglo kami. Dan, Sego Megono Mak Rasumi pun siap menyapa para pelanggan. Tiba waktunya berangkat sekolah, kami pun berbaris di belakangnya yang sedang sibuk melayani pembeli. Di selanya kami mendapat kepingan uang logam sebagai hasil jerih payah kami dini hari tadi, untuk uang saku kami. Setelah mendapat uang saku kami pun menyalami beliau dan berangkat ke sekolah. Diusapnya ubun-ubun kami seraya mengucap doa semoga kami diberi kejernihan fikir dalam belajar sehingga memperoleh ilmu yang bermanfa’at untuk masa depan kami yang lebih bermartabat. Sebuah ritual yang kami selalu banggakan kepada teman-teman kami yang tak punya nenek sehebat beliau. Berangsur masa, anak-anaknya pun mulai memisahkan diri dengan membangun rumah sendiri untuk setiap keluarga. Meski masih dalam satu blok, namun rumah joglo itu pun mulai terasa sepi. Dagangannya pun mulai beliau kurangi karena faktor usia yang tak lagi memungkinkan. Hingga akhirnya aktivitas kesukaannya itu pun harus beliau hentikan karena penyakit yang dideritanya. Kemarin, setelah sekian lama hanya kudengar kabar dari tempat perantauan, akhirnya kulihat kondisinya yang benar-benar telah berbeda. Meringkuk dengan tubuh yang hampir kehilangan daging. Hanya tulang yang terbungkus keriput kulit yang kian mempertegas udzur usianya yang telah melampaui 80 tahun. Gerak tubuhnya hanya sebatas berguling ke kiri dan ke kanan dengan sangat lamban, tak segesit dulu waktu beliau mengomandani kami semua mencipta orkestra Sego Megono di malam buta. Kedua mata beliau pun lebam dikelilingi memar akibat peredaran darah yang tak lagi lancar. Sesekali beliau menangis meneteskan air mata dan peluh, entah karena apa, karena tak lagi jelas beliau berbicara. “Sopo…?” mungkin itu yang dapat kupahami dari ucapnya ketika kuucap salam dengan sedu yang tertahan. Dan, hanya bisa kukecup keningnya sambil sesenggukan….. Ya, Mbahku benar-benar sudah renta dan tak berdaya. Tapi segenap peran dan jasanya tetap tak tergantikan. Dialah yang terbaik, dialah pondasi segenap watak kami. Dia simbol Djawa bagi kami. Dalam isak yang sesekali tak tertahan, kulantunkan sebuah surat dari kitab suci Al-Qur’an. Dengan segenap harap semoga hanya yang terbaik yang dilimpahkan atasnya, Mbahku, Mak Rasumi, yang terbaik. -amru nofhart-

Republik Jejaring Sosial

Apa yang terjadi sekarang, bisa jadi hanya merupakan mimpi di masa lalu. Nampaknya kutipan tersebut sangat pas disematkan untuk fenomena social media yang makin marak sekarang ini. Dan kali ini, saya coba berbagi sudut pandang lain dari fenomena tersebut, benar-benar dari sudut. Beberapa waktu lalu pernah ditayangkan di televisi seorang penarik becak melakukan “marketing” jasanya melalui jejaring facebook. Sekitar sebulan yang lalu salah satu akun twitter yang saya follow bercerita bahwa sopirnya menanyakan PIN Blackberry sang majikan biar bisa di-add di Contact BBM sang supir. Tiga pekan yang lewat seorang teman bercerita bahwa saat mencari pembantu dia mencoba meminta tolong pembantu tetangganya yang kemudian menyebarkan informasi lowongan tersebut via akun twitter. Dan, hampir tiap malam pedagang nasi goreng keliling yang lewat di depan rumah selalu membuka diskusi politik dengan bekal informasi dari acara debat di televisi dan situs berita online dari telepon genggam pintar miliknya. Bukannya bermaksud negatif dengan contoh saudara-saudara kita diatas sebagai subject. Hanya sebagai gambaran ekstrim bahwa akses informasi sekarang ini sudah menyentuh setiap lapisan masyarakat sampai ke akar rumput. Memang masih ada orang seperti guru saya yang hanya tidak bisa dan tidak mau punya HP, bingung katanya. Tapi bagi tukang traktor sebelah rumah di kampung, HP sangat penting untuk bisa memberitahu pemilik lahan yang sudah dia bajak sawahnya bahkan pada saat yang empunya belum bangun tidur. Yang membuat miris, terkadang masih sangat sering dijumpai ketidak-sesuaian antara supply informasi dengan needs sang pemilik akses. Sehingga tidak jarang terjadi distorsi atas maksud yang ingin disampaikan oleh sang penyebar berita. Meski tidak dipungkiri juga ada beberapa pihak yang kemudian memanfaatkan gap ini sebagai ladang pembodohan dan pembalikan opini publik. Contoh paling gampang adalah sang pedagang nasi goreng diatas. Mustinya, menurut saya, lebih penting baginya kebutuhan informasi atas berapa harga bahan-bahan yang harus dia beli besok di pasar dini hari. Atau mungkin juga dia bisa collect data nomer ponsel langganan sehingga dia bisa punya hotline untuk setiap pesanan yang menunggu di sepanjang gang dan blok perumahan. Bukannya malah, maaf, menghakimi setiap yang “dinyatakan” bersalah oleh acara debat televisi untuk ikhwal yang dia tidak paham betul. Parahnya lagi, dibumbui dengan fanatisme terkadang sang pedagang nasgor merasa lebih cocok jadi menteri daripada pejabat yang sekarang. Dan tak jarang dia menghujat setiap tokoh yang dirasa kurang kompeten, tentu dalam takaran sesuai informasi yang dia peroleh. Tak kurang setiap berselang satu pelanggan sang pedagang eksis di akun jejaring sosialnya dengan luapan emosi atas perihal yang dia rasakan berdasarkan informasi tersebut. Sekali lagi saya tambah mengerti sebuah kutipan, bahwa demokrasi menuntut adanya kesiapan infrastruktur pendukungnya, yang salah satu diantaranya adalah kecerdasan rakyat sebagai penguasa demokrasi. -amru nofhart-

pustaka naik kelas daftar rekomendasi buku hartanto

Pustaka Naik Kelas

Ada fase dalam perjalanan bekerja dan berusaha ketika pertanyaan tidak...

hartanto

Copyright @Hartanto.id 2026