Belajar Bisnis dari Spion Off??? Masa Sih Bisa

Kata orang, kita harus belajar dari pengalaman hidup kita. Termasuk belajar bisnis dari kaca spion yang bermasalah – spion off. Simak aja pembelajaran bisnis ini di tulisan #KamiSharing kali ini. Sore kemarin, di saat harus buru-buru berperjalanan mendadak gerobak kecil kami rewel. Kedua spion retrack-nya nggak bisa berfungsi. Mesin aman, semua aman. Hanya saja kedua spion tidak bisa terbuka. Hal pertama yang saya lakukan adalah; menelpon bantuan. Kebetulan ada sahabat bengkel nekat yang sedia setiap saat. Solusinya; terpaksa si gerobak diajak ke bengkel meski tanpa spion. Baru di sana akan diperiksa permasalahan sehingga bisa ditemukan solusinya. Bismillah, akhirnya saya paksakan diri untuk keluar dari zona aman; nyetir tanpa spion kiri-kanan. Maka perjalanan sekian kilometer itu pun menjadi perjalanan terpanjang rasanya. Terlebih lagi di setiap tikungan dan perlintasan kereta api yang seringkali sesame pengguna jalan berkendara salip kanan-kiri. Membuat saya harus ekstra hati-hati. Sebuah pengalaman baru bagi saya, yang memberikan banyak pelajaran. Rasanya, dalam hal usaha pun bisa kita ambil catatan dari spion ini. Bukan Sekadar Melihat Ke Belakang Banyak yang bilang, bahwa berkendara itu melihat spion cukup sewajarnya saja. Dari sini kemudian banyak yang berpendapat bahwa masa lalu hanya untuk sesekali dikenang, dan tidak untuk menjadi beban. Namun rasanya, setelah kemarin berkendara tanpa pandangan belakang kiri-kanan, menjadikan gamang bahkan untuk bisa dengan yakin melangkah ke depan. Dari sini saya banyak belajar, bahwa perihal yang telah lampau rupanya sangat besar andilnya dalam membentuk kepercayaan diri kita untuk setiap langkah ke depan. Seorang pebisnis yang pernah mengalami kegagalan tentu akan berbeda tingkat kewaspadaannya jika dibandingkan dengan yang belum pernah menjalaninya. Meskipun, ada benarnya bahwa pelajaran (dalam hal ini) kegagalan tidak mutlak harus dialami setiap orang yang mau mengambil pelajaran darinya. Tapi yang baku adalah, baik yang mengalami langsung maupun yang mendapatinya dari diskusi dan tutur, keduanya memiliki kewaspadaan akan hal yang sama. Meski barangkali dengan tingkat yang berbeda. Maka rasanya bisa kita bersepakat bahwa spion off itu perihal tidak adanya pandangan ke belakang dan aspek kiri-kanan. Tentang masa lalu baik dan buruknya. Dan pelajaran yang menyertainya, baik dari pengalaman keberhasilan maupun kegagalan. Maka jangan harap ada kewaspadaan jika bahan yang membentuknya saja tidak dapat ditemukan. Maka spion tidak hanya sekadar melihat ke belakang, kiri, dan kanan. Ini adalah perihal mengambil hikmah dan pelajaran dari setiap kejadian. Ketika Ekonomi Bertemu Kreativitas: Menakar Kewirausahaan Digital dari Kacamata Nilai dan Pilihan Hartanto·Oktober 31, 2025·2 comments Ekonomi mengajarkan kita berpikir rasional, sementara kewirausahaan menuntun kita untuk bermimpi. Dunia digital membutuhkan keduanya… Baca Selengkapnya Membaca Masa Depan Organisasi: Belajar dari Tren dan Praktik Nyata Hartanto·Juli 23, 2025·0 comments Di sebuah ruang kerja kecil di Jakarta Selatan, Andini — pemilik usaha katering sehat “DapurNusa”… Baca Selengkapnya Tidak Sendiri dalam Perjalanan Barangkali perihal perjalanan berkendara dengan spion-off itu tidak akan jadi masalah jika bisa dipastikan bahwa sepanjang perjalanan itu hanya saya sendiri. Sehingga yang saya butuhkan hanya rute dan pandangan ke depan. Maka spion off atau bahkan tidak ada sama sekali pun tidak jadi soal. Gasspol saja kata anak sekarang. Permasalahannya adalah, bahwa jarang sekali (jika tidak dikatakan tidak mungkin) kita berkendara dan bisa memastikan tidak ada pengendara lainya yang menyertai. Sudah hampir pasti kita ada penyerta dari belakang, kiri, dan kanan. Yang kesemuanya menuntut untuk kita mengatur perilaku dan etika berkendara. Yang tidak hanya sekadar menjanjikan kenyamanan, namun bahkan harus menjamin keamanan. Pun dalam bisnis, hampir mustahil kita berjalan sendirian. Mau seinovatif apapun, rasanya tidak ada market yang genuinely closed. Kalaupun iya, kita masih harus mempertimbangkan stakeholders lainnya seperti; pemasok, pembeli, pemerintah, dan lingkungan lainnya. Maka pandangan atas setiap stakeholders yang ada menjadi penting. Jika kita buta atas hal-hal tadi, maka sudah bisa dipastikan langkah kita akan mengalami kegamangan. Tidak pakem dan cenderung asal jalan. Yang akibatnya bisa fatal baik kepada kendaraan bisnis kita maupun sesama pengendara lainnya. Baca juga: 8 Pembelajaran Bisnis dari Zapos Bukan Balapan Saya yakin di point sebelum ini sembari membaca, Anda menyimpan asumsi; bagaimana dengan pengendara MotoGP? Bukankah kendaraan mereka tidak ada spionnya? Tenang, yang justru jadi pelajaran adalah, bahwa setergesa apapun perjalanan saya kemarin sore, itu bukanlah balapan. Pengendara lainnya yang saya waspadai memiliki tujuan lokasi yang berbeda. Mereka tidak di belakang, kiri, dan kanan saya untuk mendahului saya sampai di tujuan yang sama. Jadi, kalaupun mereka sampai lebih dahulu di tempat tujuannya, bukan berarti saya kalah karena selisih waktu yang ada. Begitupun bisnis, adalah sebuah infinite game. Tiap usaha memiliki journey-nya masing-masing. Dan tidak ada kejayaan selamanya, atau secara kebalikannya; tidak ada keterpurukan selamanya. Dalam bisnis, pemenang hari ini dalam sebuah kompetisi pasar misalnya, tidak akan jumawa mengklaim bahwa itu adalah kemenangan selamanya. Apalagi jika kita berada di industry yang berbeda. Setiap usaha memiliki perjalanannya masing-masing. Yang terpenting adalah kewaspadaan untuk tetap mengamati dan mempelajari pandangan ke belakang, kiri, dan kanan. Yang karenanya akan menjadikan mantap untuk melaju ke depan. Merealisasikan setiap perencanaan bisnis dengan eksekusi prima yang tak tergantikan. Selebihnya, perihal keberhasilan dan atau pelajaran adalah sebuah perjalanan. Bukan balapan. Belajar Bisnis dari Kondisi Spion Off – Ternyata Bisa Ya! Bahkan, dalam perjalanan berkendara di jalan bebas hambatan sekalipun, kewaspadaan melalui spion yang memberikan pandangan ke belakang, kiri, dan kanan, menjadi kunci keselamatan. Di jalan tol, yang celaka bukan yang terlalu cepat atau terlalu lambat. Yang hampir pasti mengakibatkan kecelakaan adalah yang berkendara dengan keragu-raguan. Sehingga kegamangannya dalam melaju menjadikan pengendara lain tidak nyaman, dan tidak jarang bisa berakibat kecelakaan vatal.
Elon Musk – Sang Entrepreneur Iron Man

Bagi para pengamat dekat karakter Marvel Comics, Tony Stark, akan mengenal sejumlah sifat yang umumnya dimiliki oleh para entrepreneur sukses. Yaitu tekad untuk mengatasi kegagalan pribadi, keyakinan yang kuat, dan keinginan untuk menyelesaikan masalah besar. Stark adalah sosok alter ego Iron Man, karakter yang dikembangkan oleh Marvel Comics pada tahun 1963. Pada tahun 2008, produser Jon Favreau mengembangkan karakter ini menjadi franchise film yang sukses dengan Robert Downey, Jr., yang telah mendapatkan lebih dari $1 miliar dalam penjualan tiket box office untuk mengadaptasi karakter ini ke layar lebar. Favreau membutuhkan inspirasi nyata, dan Downey merekomendasikan kisah hidup Elon Musk untuk membantu menghidupkan karakter tersebut. Musk bahkan membuat penampilan cameo dalam film Iron Man kedua, namun banyak yang terkejut mengetahui bahwa ia lahir delapan tahun setelah karakter tersebut pertama kali diciptakan. Kisah Perjalanan Hidup Elon Musk yang Penuh Tekad Elon Musk lahir di Pretoria, Afrika Selatan, pada tahun 1971, dan pada usia 10 tahun, ia sudah membaca selama 8-10 jam sehari. Pada usia 17 tahun, tekadnya untuk mengatasi kegagalan dan keyakinan yang kuat pertama kali terlihat ketika ia pindah ke Kanada tanpa mengetahui tempat tinggal dan hanya beberapa dolar di kantongnya. Musk menghabiskan tahun pertamanya “muncul tiba-tiba di depan pintu rumah kerabat jauh di Kanada dan bekerja di peternakan, merawat kebun sayur, dan menggali gandum.” Perjalanan Bisnis Elon Musk Sejak Muda Pada tahun 1995, ia lulus dengan gelar fisika dan ekonomi dan pindah ke California untuk memulai program doktor di bidang fisika terapan. Namun ia keluar hanya setelah dua hari untuk memulai perusahaannya yang pertama, Zip2, sebuah perusahaan perangkat lunak Internet. Dalam membangun Zip2, Musk memahami pentingnya pelanggan berprofil tinggi sebagai sumber pendapatan dan kredibilitas. Pelanggan Zip2 termasuk The New York Times dan Chicago Tribune yang menginginkan konten panduan kota untuk versi online surat kabar mereka yang masih dalam tahap awal. Pada tahun 1999, ia menjual perusahaan tersebut seharga $307 juta. Musk menggunakan $22 juta yang ia dapatkan dari penjualan Zip2 untuk berinvestasi dalam apa yang kemudian menjadi PayPal. Pada tahun 2002, ia menjual PayPal kepada eBay seharga $1,5 miliar dan mendapatkan $180 juta secara pribadi. Sudah menjadi multi-jutawan pada usia 31 tahun, Musk bisa dengan mudah pensiun. “Bagi kebanyakan orang, ketika mereka mendapatkan banyak uang, mereka tidak ingin mengambil risiko. Bagi saya, ini bukan tentang uang, tapi tentang menyelesaikan masalah untuk masa depan umat manusia,” kata Musk dalam wawancara dengan majalah Smithsonian setelah menerima Penghargaan Kejeniusan Smithsonian untuk teknologi. Bagi Musk, menyelesaikan masalah berarti fokus pada apa yang ia anggap sebagai tantangan paling signifikan dalam hidupnya: tenaga surya, perjalanan antariksa, dan mobil listrik. Musk menggunakan sebagian besar ($100 juta) hasil penjualan PayPal untuk fokus pada eksplorasi ruang angkasa dengan membantu mendirikan Space Exploration Technologies, atau SpaceX, pada tahun 2002. Setahun kemudian, ia berinvestasi dan menjadi ketua Tesla Motors, sebuah perusahaan yang fokus pada membangun mobil listrik. Pada tahun 2006, ia berinvestasi di SolarCity dengan tujuan menjadi penyedia tenaga surya terbesar. Bisnis Digital Tidak Pernah Sendirian: Tentang Negara, Aturan, dan Realitas Wirausaha Hartanto·Desember 19, 2025·0 comments Kamisharing Seri #KAMISharing kali ini membahas membahas tentang tantangan bisnis digital di Indonesia yang tak bisa luput dari berbagai pihak. Yaitu negara, kebijakan dan juga terkait realitas wirausaha. Simak langsung di sini.… Continue Reading Alan Efendhi: Dari Petani Lidah Buaya ke Penerima SATU Indonesia Awards Hartanto·Oktober 18, 2025·0 comments Kamisharing “Saya ingin usaha saya tidak sekadar menghasilkan keuntungan, tapi berdampak nyata bagi masyarakat sekitar.” — kata Alan Efendhi, saat berbicara tentang visinya sejak awal. Di hadapan ribuan pendaftar dari seluruh Indonesia,… Continue Reading Tetap Belajar dari Kegagalan Belajar untuk mengatasi kegagalan sangat penting sebagai seorang entrepreneur, dan kehidupan Musk telah menunjukkan hal tersebut. Awalnya, SpaceX tidak berhasil; tiga penerbangan uji roket Falcon 1 gagal. Selama periode ini, Musk menghadapi masalah pribadi termasuk perceraian dan kematian anak pertamanya. Pada tahun 2008, Tesla hampir gagal akibat keterlambatan dan biaya yang melonjak, hingga membuat Musk hampir bangkrut dan harus menjual mobil McLaren F1 yang menjadi mobil termahal di dunia saat itu. Keberuntungan mulai berbalik bagi Musk pada tahun 2009 setelah Dell mengakuisisi Everdream, sebuah perusahaan Internet lain yang ia investasikan, seharga $120 juta. “Uang itu datang pada awal 2009 dan mengisi kembali kas,” ujar Musk kepada Bloomberg pada tahun 2010. Perusahaan SpaceX-nya menjadi perusahaan swasta pertama yang berhasil meluncurkan, mengorbitkan, dan memulihkan pesawat luar angkasa mengelilingi Bumi pada tahun 2010. Tesla terdaftar di bursa saham NASDAQ dan naik 41 persen dalam satu hari, dan pada tahun 2012, SolarCity terdaftar di bursa saham NASDAQ dan naik 47 persen dalam satu hari. Baca juga: Manfaat Akuisisi & Merger UMKM Ketika ditanya untuk memberikan nasihat kepada calon entrepreneur, Musk mengatakan pada tahun 2010, “Fokuslah pada sesuatu yang Anda yakin memiliki nilai tinggi bagi orang lain. Berusahalah sungguh-sungguh dalam membuat penilaian tersebut, karena kecenderungan alami manusia adalah pikiran yang berharap-harap. Jadi tantangan bagi entrepreneur adalah mengetahui perbedaan antara benar-benar percaya pada ide-ide Anda dan mempertahankannya dibandingkan dengan mengejar impian yang tidak realistis dan tidak memiliki nilai. Berusahalah sangat sungguh-sungguh dalam analisis diri Anda. Tentu saja, menjadi sangat gigih, dan kerjalah keras. Kerjakan 80-100 jam setiap minggunya. Semua hal ini meningkatkan peluang kesuksesan.” Elon Musk Individu yang dapat mengelola beberapa usaha dengan sukses seperti Musk sangat langka. Beberapa orang bahkan membandingkannya dengan Steve Jobs, pendiri Apple. Dalam sebuah profil di majalah Fortune, Anne Vandermey membandingkan Musk dengan Steve Jobs, keduanya memiliki, “kombinasi keterampilan mental yang langka: pemahaman yang mendalam tentang kemungkinan teknologi, insting desain yang kuat, pemahaman yang jelas tentang ekosistem ekonomi seputar produk potensial. Bagaimana Kita Belajar dari Mas Elon? 7 Pembelajaran dari Elon Musk untuk UMKM Indonesia Banyak sebenarnya yang dapat kita pelajari dari sosok dan perjalanan hidup serta bisnis Elon Musk, termasuk naik turunnya bisnis yang digelutinya. Namun, setidak 7 pembelajaran dari Elon Musk ini dapat dilakukan oleh UMKM Indonesia secara langsung. Keteguhan Hati dan Keyakinan yang Kuat: Elon Musk menunjukkan keteguhan hati dan keyakinan yang kuat dalam menghadapi rintangan dan kegagalan. Ini mengajarkan UMKM untuk tetap percaya pada visi mereka dan tidak menyerah di hadapan tantangan. Bagi saya cukup jelas, kalau hanya ada satu orang yang percaya dengan
Matt Flannery dan Jessica Jackley

Pada musim gugur 2003, Muhammad Yunus, yang sudah dihormati sebagai pionir dalam bidang keuangan mikro, menjadi pembicara tamu di Universitas Stanford di mana Matt Flannery dan tunangannya Jessica Jackley berada di antara penontonnya. Flannery, seorang insinyur perangkat lunak di TiVo, selalu memiliki aspirasi berwirausaha dan “menghabiskan banyak waktu [nya] untuk memikirkan ide-ide bisnis baru.” Setelah mendengar ceramah Yunus, Jackley, yang sudah antusias dengan kewirausahaan sosial, memutuskan bahwa dia ingin pergi ke Afrika untuk bekerja dalam keuangan mikro. Ketika mengunjungi Jackley di Afrika Timur selama sebulan, Flannery memutuskan untuk mendokumentasikan cerita keuangan mikro bisnis kecil dengan kamera video miliknya ketika dia terkesan dengan dampak keuangan mikro. Seperti yang disampaikan Flannery, Orang seperti saya bisa memiliki dampak besar dan benar-benar mengubah kehidupan seseorang dengan seratus dolar, dan ketika Anda benar-benar menyadari bahwa itu benar, itu cukup sulit untuk berhenti melakukannya. Di Afrika itulah gagasan terbaru Flannery, “Sponsor a Business … sebuah pasar pinjaman yang mengatur dirinya sendiri di mana lembaga keuangan mikro bisa mengumpulkan/meminjam modal secara online untuk mendanai proyek,” mulai mengambil bentuk. Pada musim gugur 2004, Jackley sibuk menulis rencana bisnis untuk apa yang akan menjadi Kiva (dari bahasa Swahili yang berarti “kesatuan” atau “persetujuan”), yang pertama kali membawa pinjaman keuangan mikro ke internet. Berdirinya Kiva – Pinjaman Keuangan Mikro untuk Bisnis Kiva mirip dengan konsep amal “mensponsori seorang anak” tetapi alih-alih sumbangan untuk individu, Kiva memudahkan individu untuk memberikan pinjaman kepada bisnis. Kiva melakukannya dengan bekerja sama dengan jaringan lebih dari 700 donor dan mitra lapangan keuangan mikro untuk memberikan pinjaman kepada orang-orang yang tidak memiliki akses ke sistem perbankan tradisional. Para donor yang tertarik dapat mengunjungi kiva.org untuk meninjau ratusan profil bisnis online dan memilih mana yang akan mereka dukung. Setiap dolar yang dipinjam melalui Kiva langsung digunakan untuk mendanai pinjaman; Kiva tidak mengambil potongan. Selain itu, Kiva tidak mengenakan bunga kepada Mitra Lapangan, yang mengelola pinjaman Kiva mengandalkan biaya lender opsional dan pengambang untuk mendukung operasi bisnis. Pada April 2005, prototipe situs web Kiva sudah siap dengan tujuh profil bisnis yang diposting, Flannery dan Jackley meminta 300 teman terdekat mereka untuk mempertimbangkan untuk memberikan sumbangan untuk salah satu profil bisnis yang disebutkan dalam beberapa hari, Kiva mengumpulkan $3.500 dan semua bisnis didanai. Flannery membatasi jumlah pinjaman maksimum hingga $25 per orang per bisnis karena dia “merasa bahwa jumlah itu terdengar seperti komitmen nyata tetapi tidak menghalangi.” Tetapi beberapa orang, termasuk mereka di komunitas investor, merasa bahwa ini membatasi daya tarik komersial Kiva dan kemampuannya untuk berkembang. Perusahaan memang mencari pendanaan modal ventura tetapi, “tujuan mereka untuk mendapatkan keuntungan 10X dari investasi tidak sesuai dengan tujuan kami,” kata Flannery. Ketika mereka masih membuktikan model bisnis mereka, perusahaan bertahan dengan bootstrapping. Jackley adalah mahasiswa MBA dan Flannery masih bekerja penuh waktu di TiVo. Flannery mengingat bahwa dia menjual gitarnya kepada rekan kerjanya sebagai pertukaran untuk mendesain logo dan bahwa salah satu kantor pertama Kiva adalah toko donat karena buka 24 jam sehari. Kiva juga bertahan dan mendapat manfaat dari pendapatan yang dihasilkan melalui media yang diperoleh. Pada musim gugur 2005, DailyKos, sebuah blog populer, menyebutkan Kiva dan dalam beberapa jam lebih dari satu juta orang membicarakan Kiva dan perusahaan berhasil mengumpulkan $10.000 dan mendanai semua pinjaman yang ada. Akhir pekan berikutnya, Flannery berhenti dari pekerjaannya untuk fokus sepenuh waktu pada Kiva sebagai CEO-nya. Hampir Krisis Namun… Setahun kemudian, saat Kiva mendekati ulang tahun pertamanya, perusahaan menghadapi krisis pendanaan. Perusahaan hanya memiliki kurang dari sebulan uang kas operasional tersisa. Tetapi semuanya berubah dalam semalam pada bulan Oktober ketika perusahaan menjadi subjek sebuah dokumenter di Frontline World PBS, yang menghasilkan peningkatan sepuluh kali lipat dalam volume pinjaman harian rata-rata. Tahun berikutnya, Presiden Bill Clinton menyebut Kiva dalam bukunya Giving dan Kiva ditampilkan dalam acara Oprah Winfrey Show. Kiva terus mendapat manfaat dari media yang menguntungkan dan pada tahun 2009 mencapai tonggak sejarah $100 juta dalam pinjaman yang didistribusikan. Dengan memposting profil profil wirausahawan dan memungkinkan orang mendanai aspirasi mereka sebesar $25 sekaligus, Kiva “menghubungkan donor langsung ke penerima manfaat, tanpa melalui lapisan birokrasi dan mahal dari kelompok bantuan,” seperti yang diakui oleh kolumnis New York Times, Nicholas Kristof. Popularitas Kiva didorong sebagian oleh kemampuannya untuk mempersonalisasi pengalaman pinjaman bisnis. Tetapi seiring dengan peningkatan popularitas mereka, perusahaan dikritik karena kurangnya transparansi yang tampak seputar proses pinjaman bisnis yang dipersonalisasi. Baca juga: 10 Pelajaran dari Elite Entrepreneurs untuk UMKM Indonesia Secara khusus, Kiva harus mengakui bahwa untuk alasan efisiensi dan dampak sosial, beberapa pinjaman sudah didistribusikan sebelum sepenuhnya didanai di situs web. Hal ini membuat beberapa orang menyimpulkan bahwa. Perginya Jackley & Flannery dari Kiva Pada tahun 2010, Jackley meninggalkan posisinya sebagai Chief Marketing Officer di Kiva untuk meluncurkan startup baru bernama Profounder untuk membantu individu menginvestasikan uang mereka pada perusahaan swasta. Pada Februari 2012, Profounder menghentikan operasinya dengan alasan lingkungan regulasi sekuritas yang membatasi kemampuannya untuk berinovasi. Saat ini, Jackley bertugas sebagai investor dan penasihat dengan Collaborative Fund dengan fokus pada investasi pada perusahaan untuk lebih mengembangkan ekonomi berbagi. Sebagai CEO Kiva, Flannery beberapa kali mencoba mengubah kebijakan Kiva yang menentang pinjaman tanpa bunga. Pada Juni 2014, dengan alasan keinginan untuk berubah setelah 10 tahun, Flannery mengumumkan keputusannya untuk mundur dari jabatan CEO Kiva. Pada saat dia mundur, Kiva memiliki jaringan lebih dari 12 juta penyumbang yang secara kolektif telah memberikan pinjaman lebih dari $600 juta. Sejak meninggalkan Kiva, Flannery tetap aktif di industri keuangan pribadi dengan startup terbarunya, Puddle (www.puddle.com). Puddle dibuat berdasarkan konsep Accumulating Savings and Credit Associations di mana sekelompok kecil orang bergabung untuk mengumpulkan tabungan mereka dan membuat keputusan peminjaman termasuk menentukan tingkat bunga. Pengumpulan Modal bagi UMKM Fokus dari bab ini adalah tentang pengumpulan modal. Hari ini, sangat umum bagi startup untuk mengabaikan sumber modal tradisional dan sebaliknya mencari crowdfunding. Situs seperti Kickstarter dan Indiegogo telah mengumpulkan miliaran meskipun hukum masih agak samar. Kesuksesan platform crowdfunding dapat diatribusikan kepada kerja keras Kiva sejak tahun 2004. Sebagai perusahaan pertama yang membawa pinjaman keuangan mikro ke Internet, Kiva berhasil menghadapi ancaman ketidakpastian pasar dengan kekuatan penceritaan pelanggan yang luar biasa dan bootstrapping untuk membangun bisnis yang hari ini telah
KamiSharing: Dari 22 Ribu Menjadi…

Waktunya KamiSharing kembali. Kali ini akan sharing tentang membangun hubungan yang kuat – networking yang tidak hanya sekadar memiliki jaringan namun juga koneksi yang dalam. Hubungan dalam bisnis yang memang tidak sebatas bisnis saja. “Jangan pernah remehin siapapun Mas, kita tidak pernah tau apapun yang akan terjadi sedetik ke depan, apalagi masa depan dan karir orang.” Kalimat itu nggak akan pernah saya lupa. Dari salah seorang mentor saya, yang tidak hanya memberikan kalimat tapi juga memperkenalkan saya kepada orang-orang dengan konteks yang relate dengan petuah tadi. Ini adalah tentang membangun hubungan yang kuat. Karena berjejaring tidak hanya butuh memperluas, tapi juga butuh memperkuat hubungan di dalamnya. Dari 22 Ribu “Bro, gw mau mulai usaha di kampung halaman dulu dah. Sekalian nemenin nyokap yang udah sepuh” seorang mentor saya waktu itu berpamitan untuk memulai ‘babat alas’ kepada seorang teman sesama perantau di ibu kota. Teman sajawat saja sebenarnya, berbeda ranah usaha, hanya karena berangkat dari daerah yang sama sehingga sering bercengkerama bersama. Dari mulai sekadar ngopi, haha-hihi, atau hanya berkabar perkembangan yang meskipun sangat berbeda hamparan usaha. “Aman Mas, tapi ini kalo mau nyoba cari sangu balik, ini ada kerjaan yang bisa dicoba kalo berani” sang sahabat menawarkan sebuah peluang sembari bercanda. Long story short, project besar itu jadi shake hand project keduanya. Bagi mentor saya, ini besar sekali. Mengerjakan sebuah kantor dari orang penting di republik ini. Tapi rupanya tidak bagi sahabat beliau. “Mas ingat nggak, saya datang pake honda 70, nawarin cetak kartu nama ke sampeyan, senilai 22rbu”. Jleb. Guru saya ini kembali teringat peristiwa sekian tahun sebelumnya. Saat seseorang datang ke tempat beliau bekerja, menawarkan jasa cetak kartu nama dengan cara yang tidak biasa. Tapi akhirnya pun, order itu terjadi dengan nilai transaksi 22 ribu itu secara biasa. Business as usual. Sekali lagi, itu bagi beliau. Tapi tidak bagi si penerima order. Dua puluh dua ribu yang membekas. Dua puluh dua ribu yang bahkan mungkin serasa hidup dan mati bagi si penerima. Dari sini kita bisa makin meyakini, bahwa sesuatu yang dari hati dan penuh ketulusan nilainya akan melebihi dari label yang bisa ditakar. Ketika Ekonomi Bertemu Kreativitas: Menakar Kewirausahaan Digital dari Kacamata Nilai dan Pilihan Hartanto·Oktober 31, 2025·2 comments Reboan Ekonomi mengajarkan kita berpikir rasional, sementara kewirausahaan menuntun kita untuk bermimpi. Dunia digital membutuhkan keduanya agar inovasi tidak sekadar gemerlap, tapi juga berkelanjutan. Ketika Inovasi Menjadi Mimpi yang Tak Ekonomis Beberapa… Continue Reading Membaca Masa Depan Organisasi: Belajar dari Tren dan Praktik Nyata Hartanto·Juli 23, 2025·0 comments Reboan Di sebuah ruang kerja kecil di Jakarta Selatan, Andini — pemilik usaha katering sehat “DapurNusa” — tengah memeriksa laporan penjualan mingguannya. Tak seperti dulu, ia kini tak lagi bergantung pada buku… Continue Reading Memaknai Hubungan dalam Bisnis Sependek perjalanan saya dalam berwirausaha, seringkali kita dengar bahwa berjejaring adalah salah satu kunci keberhasilan. Bahkan dalam pelajaran agama, bersilaturahmi adalah kunci datangnya rejeki. Pun sering kita dengar, kita adalah rata-rata dari sepuluh orang terdekat kita. Bukankah begitu juga terkait rejeki. Yang sering luput dari pembelajaran adalah, bagaimana agar jejaring yang ada tidak hanya luas tapi juga mendalam. Karena ikatan yang rentan tentu akan lekas selesai sehingga luasnya jaringan tidak akan bertahan lama. Lalu, bagaimana seharusnya hubungan dalam bisnis? Transaksi dan Trust Adalah sebuah ujaran umum, bahwa kepercayaan salah satunya terjadi saat ada transaksi antar dua orang. Dalam banyak kasus, seperti yang sudah pernah beberapa kali saya sampaikan; uang tidak akan merubah siapa anda, dia hanya menunjukkan siapa anda sebenarnya. Dalam hal contoh kasus mentor saya ini, transaksi 22 ribu yang melibatkan beliau dan sahabatnya ini menjadi milestone penting bagi keduanya. Saat itu keduanya masih sama-sama merintis, dan sama-sama memahami betapa pentingnya closing untuk sebuah transaksi. Dan yang menarik adalah, dari 22 ribu kemudian berbalas ratusan ribu kali lipat, keduanya tetap sahabat yang sama. Yang sama-sama mengingatkan saya; bahwa tidak ada orang penting dan tidak penting dalam dunia bisnis, semua harus dihormati secara adil dan setulus hati. Stay Clean, Stay Who You Are “Apa sebenarnya rahasia karakter kinerja sahabat Bapak ini sehingga sedemikian kuat dia berjejaring?” tanya saya tidak tahan untuk senantiasa belajar. Beliau tidak pernah berubah. Ya, sesingkat itu. Tapi tentu, tidak sesederhana itu. Yang tampak jelas adalah, beliau masih dengan antusiasme yang sama waktu menerima order 22 ribu dan memberikan order dengan nilai ratusan ribu kali lipat sekian tahun setelahnya. Seolah keduanya hanya angka, tapi timbangan kedekatan persahabatannya itu yang senantiasa harus dijaga. Kita tentu mahfum, dalam rangka pengembangan usaha kita harus kenal sebanyak mungkin orang. Tapi untuk tidak terkontaminasi atas lingkungan dan tetap menjadi diri sendiri, terutama jika sudah terkait angka, tentu juga kita sering mendengar betapa sulitnya untuk tetap dijaga. Rupanya, sekadar menjaga diri untuk tidak berubah karena rupiah itu sudah sangat menyangkut tirakat multi dimensi. Sering kita dengar betapa kita bisa belajar dari ikan di laut, yang meski hidupnya di dalam kubangan garam raksasa tapi tetap saja dia tidak ikut asin. Jika ikan sudah asin, itu pertanda dia sudah mati. Saya termasuk orang yang relative “usil” dalam hal belajar sejarah. Dalam hal ini, pernah saya mendengar ungkapan bahwa dunia itu serasa air laut yang bisa kita tampung dalam tangkupan kedua telapak tangan kita. Tidak akan pernah memberikan puas jika mata kita terpaku pada banyaknya air laut di lautan yang “kita pikir” bisa kita tadah. Tapi bagi saya, pertanyaan usilnya bukan perihal daya tampung dan potensinya. Pertanyaan saya kepada guru ngaji saya justru; Kenapa perumpamannya menggunakan air laut? Rupanya, di situlah rahasianya. Air laut itu tidak pernah mampu menghapuskan dahaga. Sedikit maupun banyaknya. Semakin diteguk, semakin membuat kerongkongan terasa kering dan seolah akan butuh lebih banyak.
Tarif dan Etos Kerja

KamiSharing kali ini masih seputaran bisnis bengkel mobil juga… pengalaman yang baru aja terjadi minggu lalu. Pengalaman ini membuat terpikir tentang tarif dan etos kerja – mana yang harus diutamakan pelaku bisnis? Ceritanya beberapa pekan yang lalu gerobak saya kena mogok di area ibu kota negara. Nah, karena sudah terbiasa dengan montir kampung, saya tetap coba kontak beliau untuk mendapatkan solusi. Karena jarak, kemudian sang montir ini memberikan rekomendasi untuk kontak mekanik yang ada di seputaran lokasi. Jadilah saya berkomunikasi langsung dengan sang mekanik. “Ongkosnya segini Pak, kalo Bapak oke kita menuju lokasi. Itu di luar parts dan bahan yang nanti misalnya harus dibeli” kata sang mekanik melalui saluran telpon. “Sebentar Mas, itu apapun kerusakan mobil saya jasanya segitu? Mas kan belum lihat kondisinya? Sementara untuk bahan dan parts, ini udah menjelang maghrib, apakah kira2 masih ada toko yang buka? Atau Mas-nya sudah prepare semua untuk dibawa? Kan Mas belum tau kondisi mobil saya?” saya coba menanyakan ulang komitmen yang ditawarkan. “Ya emang gitu Pak, pokoknya ongkos jasanya segitu. Nanti soal bahan dan alat yang dibutuhkan kita lihat di lokasi” tukasnya singkat. “Ouw…baik Mas, kalo gitu mohon maaf belum bisa ya, saya lanjut dengan montir saya dari kampung saja untuk berperjalanan ke sini besok” tutup saya untuk tidak berlama-lama dalam negosiasi yang bagi saya absurd ini. Fairness Dalam pengalaman saya, model penawaran seperti contoh kasus di atas akan berakhir dengan tidak fair. Entah bagi konsumen nantinya, atau bisa juga bagi dia sebagai penyedia jasa. Yang payahnya, potensi untuk kecurangan pun mengikuti apabila kecenderungan yang terjadi adalah merugikan sang penjual jasa. Dalam kasus tadi, yang saya bayangkan akan terjadi adalah; Jika kerusakan yang menimpa mobil saya adalah ringan, maka kesepakatan di depan memberikan peluang untuk saya membayar lebih mahal dari tarif montir yang seharusnya. Akan tetapi jika kerusakan yang terjadi adalah major maka dia terdorong untuk memberikan solusi seadanya. Ini asumsinya pelanggan seperti saya yang benar-benar buta soal otomotif ya. Lalu, bagaimana seharusnya? Transparency Saya paham, jika storing itu memberatkan bagi sang mekanik karena harus keluar dari tempat kerja dan melakukan pelayanan jasa di luar. Tapi untuk kasus seperti saya, yang sebenarnya tidak terlalu jarang terjadi di dalam kejadian berkendara, maka seharusnya ada prosedur yang lebih menjaga kenyamanan kedua belah pihak. Dalam bayangan saya, akan sangat mudah melanjutkan negosiasi jika yang disampaikan begini; “Pak, in ikan kami harus storing, nanti ada charge untuk itu ya. Sementara jasa dan parts yang dibutuhkan akan kita bicarakan setelah kami lihat kondisi mobil Bapak” Nah, kalo gitu kan saya juga pasti paham dan langsung oke. Apalagi kondisi ibu kota saat itu sedang hujan. Pasti merepotkan untuk berperjalanan ke luar. Berangkat = Dapat Uang Akhirnya saya kontak teman saya yang montir kampung. Saya sampaikan keluhan saya atas rekomendasinya dan minta tolong agar dia saja yang ke lokasi keesokan harinya. Responnya sungguh sangat membagongkan; “Ya emang gitu Mas, kalo di ibu kota itu jalan kerja ya harus dapat uang, nggak perduli kerjaannya beres atau tidak. Beda sama kita yang orang kampung, kalo ada yang kesusahan ya niatnya nolong dulu, tokh njenengan minta tolong untuk sesuatu yang saya ada keahlian di bidang itu” Ujar Montir Kampung yang jempolan Jlebbb. Saya pun langsung kena mental. Rupanya di sini perbedaannya. Niat awalnya sudah berbeda, maka jangan harap standar komunikasinya beda. Benarlah kata seorang guru yang berujar; teko hanya bisa mengeluarkan apa yang ada di dalamnya. Isinya teh tawar, maka jangan harap akan keluar susu hangat yang putih dan segar. Bahkan untuk memaniskannya pun kita harus campur dan adukkan gula di dalamnya. Tarif dan Etos Kerja – Mana yang Duluan? Jadi pertanyaan berikutnya; untuk kasus di mana kita belum saling kenal dalam bertransaksi, sebaiknya disampaikan tarif dulu secara “professional” atau kita tunjukkan etos dan kemampuan kerja dulu? Nah, kalo yang ini jawabannya bisa jadi sangat panjang. Melibatkan banyak aspek dan kompleksitas kedua pihak. Misalnya, kalo saja mekanik itu udah punya brand positioning yang jelas, di era sekarang orang dengan sangat mudah mengerti dengan penjelasan bahwa tarif sudah ditentukan sebagaimana tertera di website dan/atau sosial media, misalnya. Pun demikian, tidaklah berdosa juga jika sang calon pelanggan memiliki preferensi pelayanan yang lebih personal sehingga baku tarif sebagaimana disampaikan menjadi kurang relevan. Pada akhirnya, etos kerja dan tarif menjadi tidak penting diperdebatkan mana yang lebih didahulukan pada saat kita berada pada satu kasus spesifik. Karena makin kekinian pola marketing semakin unique dalam konteks treatment ke masing-masing pelanggan. Produk dan/atau layanan menjadi sangat customized mengikuti kebutuhan pelanggan, dan penjual atau penyedia jasa dituntut untuk senantiasa agile menghadapi perubahan.
Irit Pangkal Sukses – Sebuah Kunci Berkomunikasi

Dalam perjalanan yang belum seberapa lama sebagai full time entrepreneur, sangat banyak pelajaran dari berbagai aspek dalam menjalaninya. Salah satunya yang ingin saya abadikan dalam tulisan ini adalah tentang bagaimana berkomunikasi dalam bisnis. Lebih tepatnya, tentang bagaimana sebaiknya membawa diri dalam pergaulan bisnis. Seorang mentor pernah mengingatkan saya; “Jadilah sebisa mungkin orang yang tidak bisa ditebak langkahnya. Seperti main catur, makin tidak tertebak makin banyak kans memenangkan pertandingan”. Sementara mentor lainnya sangat saya ingat dengan pelajaran “poker face” nya dalam setiap negosiasi, sehingga hal itu menjadi kunci kemenangan di banyak kesempatan transaksinya. Jadi, dalam bisnis pun begitu; sebaiknya kita irit bicara akan apa rencana kita. Atau lebih tepatnya, tidak sembarang mengumbar rencana kepada sembarang orang. Apalagi kepada pesaing dan/atau potential competitor. 1/48 Hukum Kekuasaan Rupanya, nasihat mentor saya itu juga merupakan 1 (satu) dari 48 hukum kekuasaan. Bahwa untuk lebih berkuasa atas setiap keadaan, menjadi irit bicara adalah salah satu kuncinya. Lebih gamblang dicontohkan dalam kisah ini. Kisah Gnaeus Marcius (Coriolanus) si Pembual Besar Gnaeus Marcius, juga dikenal sebagai Coriolanus, adalah seorang pahlawan militer besar di Roma kuno. Dia menenangkan banyak peperangan terkenal dan menyelamatkan kota itu dari bencana berkali-kali. Karena ia menghabiskan sebagian besar waktunya di medan perang, hanya sedikit penduduk Roma yang mengenalnya secara pribadi, jadi ia menjadi semacam tokoh legendaris. Pada tahun 454 Sebelum Masehi, Coriolanus memutuskan bahwa sudah tiba saatnya untuk memanfaatkan reputasinya dan memasuki dunia politik, mendaftarkan diri pada pemilihan konsulat tingkat tertinggi. Pidato Kampanye Kandidat-kandidat lain yang memperebutkan posisi ini biasanya menyampaikan pidato di hadapan publik pada awal masa kampanye, dan ketika Coriolanus berpidato di hadapan rakyat, ia memulai pidatonya dengan menunjukkan lusinan parut yang ia kumpulkan selama tujuh belas tahun berperang bagi Roma. Hanya ada sedikit sekali penonton yang benar-benar menyimak pidato panjang yang ia sampaikan kemudian; parut-parut itu, bukti keberanian dan patriotismenya, menggugah hati rakyat hingga mereka menangis. Terpilihnya Coriolanus sebagai konsulat tampaknya sudah pasti terjadi. Namun demikian, ketika hari pemilihan tiba, Coriolanus masuk ke forum diantar oleh seluruh anggota senat dan oleh golongan ningrat atau bangsawan di kota itu. Rakyat jelata yang melihat kejadian itu terusik oleh pameran kepercayaan diri yang amat blak-blakan seperti itu pada hari pemilihan. Kemudian Coriolanus berpidato lagi, terutama kepada para warga kaya-raya yang telah menemani- nya. Kata-katanya arogan dan kurang ajar. Dengan menyatakan kemenangan tertentu atas suara yang ia terima. Pembual yang Besar Ia membual tentang prestasinya perolehan suara yang ia terima, ia membual tentang prestasinya di medan perang, melontarkan lelucon tidak lucu yang hanya menarik bagi kaum bangsawan, dan mengungkapkan tudingan-tudingan bernada marah kepada lawan-lawannya. Serta berspekulasi tentang kekayaan yang akan ia berikan kepada rakyat Roma. Kali ini rakyat menyimak pidatonya: Mereka tidak sadar bahwa tentara legendaris ini juga seorang pembual besar. Berita tentang pidato kedua Coriolanus tersebar dengan cepat ke seluruh pelosok Roma, dan berbondong-bondong rakyat hadir untuk memastikan agar ia tidak terpilih. Setelah kalah, Coriolanus kembali ke medan perang dalam kondisi sakit hati dan bersumpah akan membalas dendam kepada rakyat jelata yang tidak memilihnya. Beberapa minggu kemudian, kiriman biji-bijian yang berjumlah besar tiba di Roma. Senat siap membagikan makanan ini kepada rakyat, tetapi tepat saat mereka bersiap-siap memberikan suara tentang persoalan tersebut, Coriolanus muncul di sana dan berpidato di hadapan mereka. Ia mengatakan bahwa pembagian makanan itu akan memberi dampak yang merugikan terhadap kota itu secara keseluruhan. Beberapa senator tampaknya percaya padanya, jadi pemberian suara terhadap pembagian makanan itu ditangguhkan. Coriolanus tidak berhenti di situ: Ia melanjutkan pidatonya dan mengutuk konsep demokrasi. Ia menasihati mereka agar menyingkirkan wakil rakyat – para pejabat – dan memberikan tampuk kepemimpinan kota kepada kaum bangsawan. Ketika Ekonomi Bertemu Kreativitas: Menakar Kewirausahaan Digital dari Kacamata Nilai dan Pilihan Hartanto·Oktober 31, 2025·2 comments Reboan Ekonomi mengajarkan kita berpikir rasional, sementara kewirausahaan menuntun kita untuk bermimpi. Dunia digital membutuhkan keduanya agar inovasi tidak sekadar gemerlap, tapi juga berkelanjutan. Ketika Inovasi Menjadi Mimpi yang Tak Ekonomis Beberapa… Continue Reading Membaca Masa Depan Organisasi: Belajar dari Tren dan Praktik Nyata Hartanto·Juli 23, 2025·0 comments Reboan Di sebuah ruang kerja kecil di Jakarta Selatan, Andini — pemilik usaha katering sehat “DapurNusa” — tengah memeriksa laporan penjualan mingguannya. Tak seperti dulu, ia kini tak lagi bergantung pada buku… Continue Reading Pengusiran Ketika kabar tentang pidato terbaru Coriolanus terdengar oleh rakyat, amarah mereka tidak terbendung lagi. Para pejabat dikirimkan ke senat untuk menuntut agar Coriolanus menghadap mereka. Coriolanus menolak. Kericuhan terjadi di seluruh pelosok kota. Senat yang merasa takut akan amarah rakyat akhirnya memilih menyetujui pembagian biji-bijian itu. Para pejabat kota itu pun tenang namun rakyat tetap menuntut agar Coriolanus menghadap mereka dan meminta maaf. Jika Coriolanus bertobat dan setuju menyimpan pendapatnya di dalam hatinya sendiri, ia dizinkan kembali ke medan perang. Coriolanus memang muncul untuk terakhir kalinya di hadapan rakyat yang menyimaknya dengan penuh perhatian. Coriolanus mulai berpidato dengan lambat dan halus, tetapi semakin lama ia semakin terang-terangan. Ia melontarkan hinaan lagi! Nada suaranya arogan dan mimiknya menunjukkan perasaan jijiknya. Semakin lama ia bicara, semakin marah rakyat. Akhirnya mereka meneriakinya agar turun dan membungkamnya. Para pejabat kota berunding, menjatuhi hukuman mati kepada Coriolanus, dan memerintahkan para hakim untuk segera membawanya ke puncak batu karang Tarpeian dan melemparkannya ke bawah. Gerombolan massa yang girang mendukung keputusan itu. Namun demikian, kaum bangsawan berhasil turun tangan dan keputusan itu diubah menjadi pengasingan seumur hidup. Ketika rakyat tahu bahwa pahlawan militer besar Roma tidak akan pernah kembali ke kota itu, mereka merayakannya di jalanan. Sesungguhnya, tidak ada seorang pun yang pernah melihat perayaan semeriah itu, bahkan setelah tentara mereka mengalahkan musuh asing. Kesimpulan – Tentang Berkomunikasi dalam Bisnis Pada akhirnya dalam konteks ini benarlah jika kita berpegangan pada pepatah; irit bukan tanda tak mampu. Justru irit bicara adalah tanda kemampuan menahan diri. Irit dalam konteks ini justru adalah tanda akan mampu menguasai permainan. Maka barangkali penting untuk menutup sharing kali ini dengan sebuah cerita hikmah dari seorang Leonardo. “Kerang terbuka saat bulan purnama; dan ketika kepiting melihat seekor kerang yang terbuka, ia melemparkan sebutir batu atau ganggang laut ke dalamnya supaya si kerang tak bisa menutup lagi, jadi si kepiting bisa menyantap dagingnya. Begitulah nasib orang yang
Ayam dan Ular – Anda Tipe yang Mana Nih?

KamiSharing kali ini bicara tentang Ular dan Ayam – bukan… bukan tentang dua hewan itu tapi itu adalah analogi. Analogi yang didapat dari pembelajaran tentang bisnis dari mentor. Yep… sebenarnya ini tentang dua tipe rezeki pengusaha. Beberapa tahun ke belakang, semenjak jadi full-time entrepreneur, saya sangat beruntung dibersamai oleh orang sekeliling yang sangat suportif. Beberapa di antaranya menjadi mentor saya. Ada setidaknya 2 (dua) tipe mentor saya; satu yang saya ikut menjalankan bisnis dengannya, satu lagi yang kita ada agenda mentorship tanpa berbisnis bersama-sama. Salah dua dari mentor yang kebetulan saya juga diajak berbisnis dengan beliau-beliau. Boleh dibilang sehari-hari saya beraktivitas bisnis di luar aktivitas professional ya dengan beliau-beliau ini. Banyak sekali pelajaran dari beliau-beliau ini, mulai dari perihal teknis sampai dengan strategis. Tak ketinggalan juga perkara psikologis dalam bisnis. Ayam dan Ular – 2 Tipe Rezeki Pengusaha Dua mentor saya ini sebenarnya seumuran, seangkatan, bahkan banyak terjadi irisan pergaulan dari masa remaja. Keduanya bahkan tumbuh menjadi pengusaha sedari muda, dengan latar belakang yang berdeda. Keduanya mengajarkan kepada saya setidaknya ada 2 (dua) tipe rezeki pengusaha. “Bayangin ayam Mas, setiap hari keluar kandang buat cari makan. Setiap hari harus matuk untuk mengisi temboloknya. Yang keesokan harinya harus diisi lagi dengan cara yang sama.” “Sebaliknya coba perhatikan ular. Keluar sarang sesekali, sekalinya dapat harus kembali ke sarang memproses apa yang sudah didapat.” Setidaknya itu adalah dua kallimat yang kemudian menjadi pengingat bagi saya atas elaborasi pelajaran dari wejangan tadi. Yang akan saya coba bagikan dalam tulisan ini. Tentang Mengenali Diri Yang senantiasa saya jadikan tulang punggung pemahaman atas wejangan ini adalah perihal kemampuan mengenali diri. Dalam forum ngaji saya selalu ingat pesan guru untuk senantiasa “eling lan waspada”. Yang dalam pemahaman saya, jabarannya juga termasuk aktivitas mengenali diri. Dalam konteks belajar bisnis, bagi saya mengenali diri ini juga termasuk di dalamnya mengenali bagaimana pola rejeki kita. Dalam sebuah wejangan di salah satu agenda Maiyah yang saya ikuti, Mbah Nun pernah berpesan untuk kita sebisa mungkin mengenali bagaimana Allah berinteraksi dengan diri kita yang masing-masing sangatlah unik. Termasuk di dalamnya, bagaimana jika Allah akan memberi kita rejeki. Kembali kepada kedua analogi yang saya terakan di atas, maka mengenali diri dalam kaitannya dengan pola rejeki bisa diandaikan dengan mengidentifikasi tipe rejeki kita; rejeki ayam atau rejeki ular. Contoh Ayam dan Ular – Tipe Rezeki Pengusaha Seorang pengusaha yang model bisnisnya project based bisa diidentifikasikan sebagai rejeki ular. Mulai dari proyek percaloan dalam jual-beli, maupun proyek konstruksi besar lainnya, pada dasarnya adalah rejeki ular. Bukan sesuatu yang secara identik akan berulang. Setiap proyek adalah layaknya mangsa bagi ular, yang setelah didapat harus dicerna dengan sempurna dalam waktu yang lama. Butuh konsentrasi tinggi bagi ular untuk berburu hingga kemudian harus menepi dan “bersemedi” setelah mendapatkan rejeki berupa mangsa yang sudah masuk ke dalam system pencernaannya. Dia tidak bisa berkeliaran saat harus mencerna mangsa yang sudah didapatnya, kalau tidak mau celaka karena ada saja ancaman semasa dia bergerak lamban karena perut yang bahkan membesar. Sebaliknya, seekor ayam harus setiap hari mencari makan dengan paruhnya. Hanya tersimpan sedikit di tembolok kecilnya sehingga tiap hari dia harus berburu makanan sambil tiap saat juga harus waspada karena dia juga bisa jadi mangsa dari hewan buas lainnya. Perbedaan Dua Tipe Ini Pembeda utama dari keduanya setidaknya di dua hal. Pertama, operasional keduanya jelas berbeda; ayam cenderung daily routine operation sedangkan ular lebih kepada project operation. Kedua, adalah sistem cadangan meraka yang jelas berbeda berpijak pada sistem pencernaan yang berbeda; ular cenderung sekali makan untuk jangka waktu yang lama, sedangkan ayam berburu setiap hari untuk memenuhi tembolok kecilnya. Bagi saya, sebagaimana senantiasa diingatkan oleh kedua mentor saya yang berbeda tadi, dengan mengenali tipe rezeki yang kita peroleh harusnya kita bisa lebih bijak dalam mencerna rezeki yang kita dapat. Rezeki ayam bisa dicerna secepatnya, karena besok akan ada lagi. Sementara rezeki ular harus bisa dicerna secara lebih bijaksana, mengingat siklus perolehannya lebih lama dibandingkan tipe rezeki pengusaha sebelumnya. Sebagai contoh nyata yang seringkali kita dapati; Seseorang yang bekerja sebagai karyawan dan/atau aktivitas harian lainnya, akan cenderung mudah menghabiskan perolehan pendapatan project yang sesekali mampir kepadanya. Misalnya, sahabat saya yang bekerja sehari-hari sebagai pedagang akan “kaget” dan cenderung boros manakala dia dapati pendapatan tambahan dari aktivitas makelar tanah misalnya. Ular Tidak Bisa Jadi Ayam, Sebagaimana Sebaliknya Bagian terakhir dari proses pengenalan diri adalah untuk menjadi versi terbaik dari diri kita. Jika sudah mengetahui tipe rejeki apa yang melekat pada bagian kita. Maka selanjutnya kitab isa dengan bijak menyikapinya dengan cara terbaik. Sebagai gambaran, ular tidak bisa setiap hari berkeliaran mencari mangsa sebagaimana ayam jika tidak mau celaka. Sebaliknya, ayam juga akan tersiksa jika harus menelan pakan sebesar yang bisa masuk ke perut ular. Salah satu rekan tumbuh saya yang saya identifikasi memiliki pola ular misalnya, beberapa kali kami coba bekerjasama warungan malah cenderung tersiksa. Dia tidak tahan dengan aktivitas harian yang harus buka warung dan totalan di penghujung harinya. Seolah pencernaannya tidak dirancang untuk melakukan hal resiprokal sesering ayam yang mengisi temboloknya hari ini untuk besok bisa terisi lagi. Demikian juga sebaliknya, seorang rekan tumbuh yang lahir dan besar dari berdagang akan merasa cepat lelah jika harus bekerja dari proyek satu ke proyek berikutnya. Semoga sharing ini bermanfaat, setidaknya sebagai pengingat diri yang bisa kami buka lagi di kemudian hari.
Belajar dari Sara Blakely – Founder Spanx

Sara Blakely adalah salah satu wirausahawan yang sukses besar dengan mengubah perusahaannya, Spanx Shapewear, menjadi perusahaan dengan nilai lebih dari $1 miliar. Prestasi ini dicapainya dengan pengetahuan bisnis dan desain pakaian wanita yang minim atau bahkan tidak ada sama sekali. Bagaimana sebenarnya perjalanan Sara Blakely hingga berhasil membuat perusahaan sebesar itu? Apa saja pelajaran yang dapat diambil untuk UMKM Indonesia? Yuk, belajar dari Sara Blakely – founder Spanx dalam artikel KamiSharing kali ini. Perjalanan Hidup Seorang Sara Blakely Hingga Sukses Blakely lahir pada Februari 1971 di Clearwater, Florida. Ayahnya, seorang pengacara percobaan, sangat berpengaruh dalam motivasinya. Ayahnya sering bertanya padanya, “Apa yang gagal kamu lakukan hari ini?” Keluarga Sara tumbuh dengan keyakinan bahwa kegagalan adalah hal yang baik. Dia diajarkan untuk selalu bersedia mencoba hal-hal baru tanpa takut akan hasilnya. Sikap ini sangat penting baginya dalam membangun organisasi yang membuatnya menjadi salah satu dari 100 wanita paling berpengaruh di dunia. Impian yang Tak Terwujud Sejak usia muda, Sara bermimpi menjadi pengacara seperti ayahnya, tetapi opsi itu terhenti ketika dia gagal ujian masuk sekolah hukum. Setelah lulus dari Universitas Florida State, dia bekerja di Walt Disney World di Florida selama 3 (tiga) bulan berpakaian seperti karakter chipmunk. Setelah itu, dia bekerja menjual mesin faks selama 3 (tiga) bulan dan pada usia 25 tahun, dia terbukti menjadi penjual yang sangat baik sehingga perusahaan mempromosikannya menjadi pelatih penjualan. Saat menjadi penjual, dia mendapatkan ide untuk produk pertamanya. Pakaian kerjanya sebagai penjual mengharuskannya memakai stoking, yang tidak disukainya karena iklim Florida yang panas dan penampilan ujung kaki yang tidak sesuai saat memakai sepatu terbuka. Untuk mengatasi masalah ini, dia memutuskan untuk memotong kaki stoking dan mengenakannya di bawah celana panjang. Meskipun stoking tersebut sering bergulung ke atas kakinya, dia merasa lebih nyaman dan mendapatkan tampilan yang diinginkannya. Saat itulah dia mulai berpikir bahwa ide ini mungkin memiliki nilai. Perjalanan Mewujudkan Ide yang Memiliki Nilai Pada usia 27 tahun, Sara pindah ke Atlanta sambil masih bekerja untuk perusahaan penjualan mesin faks. Selama ini, dia terus mengembangkan ide membuat pakaian dalam yang nyaman dan pas menggunakan bahan stoking. Menyadari bahwa dia membutuhkan paten, dia menanyakan biaya pengacara paten tetapi memutuskan untuk tidak menghabiskan uang dan malah menulis patennya sendiri dengan bantuan buku teks yang dia beli. Satu-satunya biaya yang dia keluarkan adalah untuk pencarian paten dan biaya pendaftaran. Dengan paten di tangan, dia mulai mengunjungi pabrik stoking dan produsen, tetapi selalu ditolak. Akhirnya, dia menemukan produsen yang setuju membantunya karena kedua putrinya berpikir itu ide yang hebat. Sara menghabiskan banyak waktu di pabrik tersebut bertanya-tanya dan mengamati proses manufaktur. Dia melihat bahwa produk biasanya diukur pada bentuk plastik dan bahwa mereka menggunakan pinggang yang sama untuk semua ukuran produk. Ini bukanlah apa yang diinginkannya, dan sebaliknya, dia melakukan uji coba pada wanita sungguhan dan menggunakan pinggang yang sesuai dengan ukuran produk. Mengenalkan Produk kepada Oprah Winfrey Sara berhasil menjadwalkan pertemuan dengan seorang pembeli dari Neiman Marcus Group. Setelah mengganti pakaian di ruang toilet, dia dapat menunjukkan manfaat produknya pada pembeli. Pada titik ini, pembeli menawarkan untuk menjual produknya di tujuh dari toko mereka. Spanx kini sudah dalam perjalanan yang sukses, diikuti oleh Bloomingdales, Saks, dan Bergdorf Goodman. Blakely juga mengirimkan keranjang produknya ke kantor Oprah Winfrey dengan kartu yang menjelaskan produk dan alasannya mengembangkannya. Oprah kemudian menamai Spanx sebagai salah satu produk favoritnya, yang langsung menyebabkan peningkatan penjualan. Pada tahun pertamanya, Spanx mencapai penjualan $4 juta dan $10 juta pada akhir tahun kedua. Dengan pengembangan banyak pakaian dalam berbagai jenis menggunakan bahan stoking yang juga menguasai aspek kenyamanan dan pas, perusahaan ini mulai tumbuh pesat. Produk baru, termasuk sepatu, jeans, dan pakaian dalam lainnya, ditambahkan selama bertahun-tahun. Sehingga pada tahun 2015, perusahaan ini mencapai nilai lebih dari $1,1 miliar, menjadikannya salah satu wanita terkaya di dunia. Selain menginnovasi banyak produk baru, perusahaan ini juga membuka toko ritelnya sendiri. Keputusan Berat Namun Harus Dilakukan Meskipun kesuksesannya, Sara mengklaim bahwa salah satu keputusan paling sulit yang pernah diambilnya adalah mundur dan melepaskan sebagian pengambilan keputusan dalam organisasi. Seiring dengan pertumbuhan perusahaan, dia harus melepaskan dan menemukan tim yang dapat terus memajukan perusahaan ke tingkat baru. Dia merekrut orang yang mungkin tidak memiliki pengalaman desain tetapi individu yang bersedia mencoba hal baru tanpa takut gagal. Keyakinannya adalah bahwa jika orang melakukannya 80 persen seperti yang dia lakukan, itu sudah dapat diterima. Sampai saat ini, timnya telah melampaui ekspektasinya. Pertumbuhan cepat sebuah perusahaan dapat menyebabkan banyak masalah organisasi seperti komunikasi, tanggung jawab, dan akuntabilitas. Bab ini berfokus pada organisasi baik dari segi struktur hukum maupun membangun tim yang berkualitas dan efektif. Baca juga yang satu ini Belajar dari Sara Blakely – Founder Spanx: Mengambil Pelajaran Berharga untuk UMKM di Indonesia Dalam dunia kewirausahaan, perjalanan Sara Blakely membuktikan bahwa keberhasilan tidak selalu memerlukan latar belakang pengetahuan mendalam tentang bisnis atau industri tertentu. Kisah suksesnya dengan perusahaan Spanx Shapewear menawarkan beberapa pembelajaran berharga, terutama untuk pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Indonesia. Berikut ini 7 Insipirasi hasil belajar dari Sara Blakely yang dapat Anda terapkan dalam bisnis Anda. 1. Kesuksesan Dimulai dari Kegagalan Sara Blakely tumbuh dalam lingkungan keluarga yang memotivasi untuk mencoba hal-hal baru tanpa takut akan kegagalan. Bagi UMKM di Indonesia, sikap ini dapat menjadi kunci kesuksesan. Keberanian untuk mencoba, bahkan jika itu berarti gagal, dapat membuka pintu untuk inovasi dan pemahaman lebih dalam tentang pasar. 2. Pahami Kebutuhan Pasar dengan Saksama Ide awal Sara Blakely muncul dari pengalamannya sebagai penjual yang memakai stoking dalam iklim Florida yang panas. Begitu pula UMKM di Indonesia harus peka terhadap kebutuhan pasar lokal. Memahami permasalahan dan keinginan konsumen adalah langkah awal untuk menciptakan produk atau layanan yang tepat sasaran. Baca juga: 6 Pembelajaran tentang Bisnis dari Steve Haftner – Kayak 3. Kreatifitas dalam Mengatasi Kendala Saat Sara Blakely menghadapi penolakan dari pabrik-pabrik, dia tetap kreatif dan gigih dalam mencari solusi. Begitu juga dengan UMKM di Indonesia, yang mungkin menghadapi keterbatasan sumber daya, harus dapat berpikir kreatif untuk mengatasi kendala dan menemukan cara baru untuk mengembangkan usaha. 4. Bangun Produk yang Berkualitas dan Unik Spanx berhasil karena memberikan solusi yang nyaman
Cerita Tentang Kayak

Kata orang dulu, belajarnya sampai ke negeri seberang. Kini, kita bisa belajar bisnis dari usaha yang sudah ada dan berhasil. Seperti dari bisnis yang dibuat oleh Steve Hafter – Kayak ini. Kita dapat belajar usaha dan menerapkannya di bisnis UMKM loh. Steve Hafner telah menjadi salah satu tokoh utama dalam perkembangan teknologi internet dan startup yang sukses. Lulusan Dartmouth College pada tahun 1991, Steve memilih jalur konsultasi setelah bekerja untuk Marketing Corporation of America dan Boston Consulting Group. Melihat perubahan signifikan dalam bisnis e-commerce, terutama di sektor perjalanan, ia mendapatkan gagasan untuk mengatasi kesulitan dalam memesan tiket pesawat, kamar hotel, dan mobil sewaan. Dengan latar belakangnya yang telah tinggal di berbagai tempat seperti Peru, Guatemala, Costa Rica, dan Texas, Steve menyadari betapa sulitnya membeli tiket pesawat, kamar hotel, atau mobil sewaan karena harus memeriksa setiap situs penyedia jasa secara terpisah. Untuk mengatasi masalah ini, bersama timnya, Steve meluncurkan Orbitz pada November 1999. Orbitz memungkinkan konsumen untuk dengan satu klik memilih layanan perjalanan seperti tiket pesawat, kamar hotel, dan mobil sewaan dari berbagai penyedia dengan harga terbaik. Orbitz tumbuh pesat dan go public pada tahun 2001 dengan nilai pasar $1.4 miliar. Steve aktif terlibat dalam strategi bisnis perusahaan dan bertanggung jawab atas pengembangan bisnis, penjualan iklan, dan pemasaran. Namun, meski sukses, Steve merasa kecewa dengan industri perjalanan karena pendapatan Orbitz hanya diperoleh saat pelanggan melakukan pembelian dari situs tersebut, yang hanya terjadi antara 2 hingga 6 persen dari waktu. Pada sebuah diskusi dengan kolega di industri perjalanan web, Steve berimajinasi tentang memiliki situs yang memberikan informasi kepada maskapai dan penyedia jasa perjalanan daripada menjual tiket langsung kepada konsumen. Ide tersebut menginspirasi lahirnya Kayak pada tahun 2004. Dengan modal tambahan $15 juta dan dukungan investor seperti AOL, Kayak berkembang pesat dan pada tahun 2006 diakui sebagai situs terbaik untuk penawaran perjalanan. Pada tahun 2012, Steve dan mitranya berhasil menjual Kayak kepada Priceline dengan penilaian pasar $1.8 miliar. Meskipun diakuisisi, Kayak tetap mempertahankan kepemimpinan individualnya di bawah kepemimpinan Steve sebagai CEO. Sebagai perusahaan induk, Priceline memiliki sejumlah perusahaan pemesanan dan penjualan ini menjadi kesepakatan yang saling menguntungkan. Steve terus mencari peluang baru dengan tujuan mengkonsolidasikan semua aspek perjalanan konsumen di bawah satu payung, menggunakan teknologi terkini yang tersedia. Mari kita elaborasi tiap tema dengan relevansi untuk pembelajaran UMKM, dengan menggunakan kasus serupa: Pengalaman dan Pemahaman Pasar Internasional: Steve Hafner dan Konteks Serupa: Steve Hafner tumbuh dalam berbagai lingkungan di Amerika Latin dan Amerika Serikat. Pengalaman ini memberinya wawasan unik tentang kebutuhan konsumen dari berbagai latar belakang. Sebagai pemilik UMKM yang beroperasi di serangkaian lokasi atau pasar yang berbeda, penting untuk memahami perbedaan budaya dan kebutuhan konsumen. Identifikasi Peluang Pasar dan Rencana Bisnis: Steve Hafner dan Orbitz: Hafner melihat peluang di industri perjalanan dengan menyadari kesulitan dalam mencari dan memesan tiket pesawat, kamar hotel, dan mobil sewaan secara terpisah. UMKM serupa dalam industri perjalanan dapat mengidentifikasi kebutuhan pasar yang belum terpenuhi dan merancang rencana bisnis yang memanfaatkan peluang ini. Penerapan Teknologi untuk Efisiensi: Steve Hafner dan Pengembangan Kayak: Dengan melihat kekurangan situs perjalanan eksisting, Hafner dan timnya menciptakan Kayak, sebuah platform yang menggunakan teknologi untuk mengumpulkan informasi dan memberikan leads kepada penyedia layanan. UMKM dapat memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan efisiensi operasional dan memberikan pengalaman pelanggan yang lebih baik. Ketika Ekonomi Bertemu Kreativitas: Menakar Kewirausahaan Digital dari Kacamata Nilai dan Pilihan Hartanto·Oktober 31, 2025·2 comments Reboan Ekonomi mengajarkan kita berpikir rasional, sementara kewirausahaan menuntun kita untuk bermimpi. Dunia digital membutuhkan keduanya agar inovasi tidak sekadar gemerlap, tapi juga berkelanjutan. Ketika Inovasi Menjadi Mimpi yang Tak Ekonomis Beberapa… Continue Reading Membaca Masa Depan Organisasi: Belajar dari Tren dan Praktik Nyata Hartanto·Juli 23, 2025·0 comments Reboan Di sebuah ruang kerja kecil di Jakarta Selatan, Andini — pemilik usaha katering sehat “DapurNusa” — tengah memeriksa laporan penjualan mingguannya. Tak seperti dulu, ia kini tak lagi bergantung pada buku… Continue Reading Pertumbuhan dan Skalabilitas Bisnis: Pengalaman Orbitz dan Kayak: Orbitz dan Kayak mencapai pertumbuhan yang signifikan dalam waktu singkat, menunjukkan bahwa bisnis dapat tumbuh dengan cepat melalui inovasi dan pemanfaatan peluang pasar. UMKM harus mempertimbangkan strategi pertumbuhan yang dapat diubah sesuai kebutuhan pasar dan skalabilitas bisnis mereka. Pentingnya Kemitraan dan Penjualan Bisnis: Penjualan Kayak ke Priceline: Hafner dan mitranya menjual Kayak kepada Priceline, menunjukkan bahwa kemitraan dan penjualan bisnis dapat menjadi langkah strategis untuk pertumbuhan dan keberlanjutan. UMKM dapat mempertimbangkan opsi penjualan atau kemitraan untuk mengamankan masa depan bisnis mereka. Kontinuitas Kepemimpinan dan Inovasi: Kepemimpinan Steve Hafner: Meskipun diakuisisi oleh Priceline, Steve Hafner tetap sebagai CEO Kayak, menunjukkan pentingnya kontinuitas kepemimpinan untuk mempertahankan identitas perusahaan. UMKM harus merencanakan suksesi kepemimpinan dan terus mendorong inovasi untuk tetap bersaing di pasar yang terus berubah. Baca juga: Cara Membangun Organisasi yang Sukses untuk UKMKM Indonesia Dengan memahami perjalanan dan keputusan Steve Hafner dalam konteks UMKM, pemilik bisnis kecil dapat mengambil inspirasi dan pelajaran berharga untuk mengembangkan bisnis mereka sendiri. Studi Kasus: Pemberdayaan UMKM Fashion melalui Inovasi dan Kemitraan – Mengikuti Jejak Steve Hafner 1. Konteks dan Pengalaman Pasar: Latar Belakang Pemilik UMKM: Seorang pemilik UMKM di bidang fashion dengan pengalaman di berbagai segmen pasar lokal. Memiliki pemahaman mendalam tentang kebutuhan dan preferensi konsumen dalam industri fashion. 2. Identifikasi Peluang Pasar dan Rencana Bisnis: Inspirasi dari Pengalaman Steve Hafner: Menemukan peluang untuk menyederhanakan pengalaman belanja fashion lokal. Saat ini, konsumen harus menjelajahi berbagai toko dan platform online untuk membeli produk fashion. Rencana bisnis mencakup pengembangan platform daring yang menyatukan berbagai merek lokal dalam satu tempat, memudahkan pelanggan menemukan dan membeli produk fashion sesuai preferensi mereka. Baca juga: Rencana Usaha/Bisnis Satu Halaman – RUSH 3. Penerapan Teknologi untuk Efisiensi: Model Bisnis Berbasis Teknologi: Menerapkan teknologi untuk menciptakan platform daring yang mengintegrasikan inventaris dari UMKM fashion lokal. Menggunakan algoritma cerdas untuk merekomendasikan produk kepada pelanggan berdasarkan preferensi sebelumnya dan tren mode. 4. Pertumbuhan dan Skalabilitas Bisnis: Strategi Pertumbuhan Berkelanjutan: Memastikan bahwa platform dapat berkembang seiring waktu dengan menambahkan lebih banyak merek dan produk dari UMKM fashion. Mempertimbangkan model bisnis yang dapat diubah dan diperluas untuk menanggapi pertumbuhan yang cepat. 5. Pentingnya Kemitraan dan Penjualan Bisnis: Kolaborasi dengan Desainer Lokal: Mengembangkan kemitraan dengan desainer lokal
Belajar Rencana Pemasaran dari Neil Blumenthal

Neil Blumenthal telah membuktikan bahwa mengembangkan rencana pemasaran yang efektif adalah salah satu area pengambilan keputusan terpenting bagi seorang pengusaha. Meskipun memiliki produk atau layanan yang unik, konsumen biasanya memiliki banyak pilihan, sehingga seorang pengusaha harus menempatkan bisnisnya dengan strategi pemasaran yang unik. Sekilas Tentang Warby Parker Besutan Neal Blumenthal Blumenthal telah membuat pemasaran menjadi bagian penting dari upayanya dalam meluncurkan Warby Parker, penjual kacamata online. Ide untuk memasarkan kacamata dimulai di Wharton School, University of Pennsylvania. Ketika ia dan sekelompok teman, berkumpul di sebuah pub lokal, menyadari bahwa hampir tidak mungkin untuk membeli kacamata resep dengan harga yang wajar. Mereka juga merasa bahwa Internet belum dimanfaatkan dalam pasar ini, jadi mereka memutuskan untuk menulis rencana bisnis dan mengikuti Wharton School Business Plan Competition. Meskipun mereka tidak memenangkan kompetisi, mereka memenangkan dukungan dari inkubator Wharton, investor, dan garis kredit bank sekitar $200.000. Dengan dana di tangan, mereka mulai mengembangkan model bisnis mereka dan meluncurkan Warby Parker pada tahun 2010. Mereka mengakui bahwa kunci kesuksesan mereka adalah menciptakan merek yang dapat ditempatkan sebagai jauh lebih dari apa yang ditawarkan oleh perusahaan e-commerce butik lainnya. Darah Wirausaha Sejak Kecil Blumenthal menjadi co-CEO bersama mitra dan teman sekelasnya, David Gilboa. Dia mengakui bahwa semangat wirausaha telah ada di keluarganya selama beberapa generasi karena kedua kakeknya adalah pengusaha. Sebagai seorang anak, saat tinggal di Greenwich Village, dia mengejar usaha wirausaha pertamanya. Setelah melihat iklan di TV untuk pengering makanan, dia berpikir bahwa dia bisa membuka stan di desa dan menjual buah kering dan dendeng. Dia meyakinkan orangtuanya untuk membeli pengering makanan, dan ketika dia menerimanya, dia menyadari bahwa ide ini tidak akan berhasil. Dia membutuhkan tiga hari untuk membuat kismis, dan itu lebih mahal daripada membelinya. Dia melihat kembali pengalaman ini sebagai ide bagus yang kurang dieksekusi. Dalam beberapa hal, konsep eksekusi rencana pemasaran tetap bersamanya, seperti yang terbukti dengan kesuksesannya bersama Warby Parker. Kisah Sukses Warby Parker Warby Parker merancang kacamata di dalam dan menjualnya langsung kepada konsumen melalui internet dengan harga $95 per pasang. Dengan menjaga operasi desain internal dan menjual melalui situs web mereka, perusahaan dapat mengendalikan biaya dan dengan demikian bersaing secara efektif dengan perusahaan besar yang merancang kacamata. Perusahaan kacamata desainer, biasanya dijual di toko ritel, sering kali menagih ratusan dolar untuk produk mereka. Harga mereka tidak hanya rendah, tetapi perusahaan juga menawarkan layanan “home try-on” yang mengirimkan konsumen potensial lima pasang kacamata secara gratis untuk dicoba sebelum membuat keputusan. Selain posisi pasar yang unik, perusahaan juga menonjol dengan distribusi kepada mereka yang membutuhkan, yaitu memberikan sepasang kacamata gratis untuk setiap yang dijual. Program “beli satu, berikan satu” ini adalah hasil dari pengalaman Blumenthal di VisionSpring, perusahaan nirlaba yang berusaha meningkatkan akses terhadap kacamata terjangkau di negara-negara berkembang. Saat bekerja di VisionSpring, dia terlibat dalam program uji coba di 10 negara yang berbeda. Selain upaya filantropis mereka, Warby Parker juga telah menunjukkan upaya besar dalam menjaga jejak karbon bersih untuk produksi internal mereka yang dianggap kritis bagi lingkungan. Sejak awal, Warby Parker telah menjual lebih dari satu juta pasang kacamata. Perusahaan baru-baru ini mengumpulkan $60 juta dari ventura dan sekarang memiliki nilai lebih dari $500 juta. Penilaian $500 juta ini lebih dari dua kali lipat sejak putaran pendanaan terakhir pada tahun 2012. Jelas, perusahaan ini adalah kisah keberhasilan besar yang mencerminkan pentingnya menciptakan dan memasarkan merek, kemudian menempatkan merek ini secara efektif dalam pasar yang sangat kompetitif. Ketika Ekonomi Bertemu Kreativitas: Menakar Kewirausahaan Digital dari Kacamata Nilai dan Pilihan Hartanto·Oktober 31, 2025·2 comments Reboan Ekonomi mengajarkan kita berpikir rasional, sementara kewirausahaan menuntun kita untuk bermimpi. Dunia digital membutuhkan keduanya agar inovasi tidak sekadar gemerlap,… Continue Reading Membaca Masa Depan Organisasi: Belajar dari Tren dan Praktik Nyata Hartanto·Juli 23, 2025·0 comments Reboan Di sebuah ruang kerja kecil di Jakarta Selatan, Andini — pemilik usaha katering sehat “DapurNusa” — tengah memeriksa laporan penjualan… Continue Reading Belajar dari Neil Blumenthal: Rencana Pemasaran dan Strategi yang Sukses untuk UMKM di Industri Fashion Dalam mengelola Warby Parker, Neil melakukan beberapa rencana pemasaran dan menerapkannya melalui strategi yang dapat ditiru oleh UMKM Indonesia, terutama yang bermain di industri fashion. Berikut beberapa poin yang dapat dipelajari mengenai rencana pemasaran dan strateginya. 1. Mengenal Pasar Neil Blumenthal berhasil mengidentifikasi kebutuhan pasar yang spesifik. Untuk UMKM di industri fashion, penting untuk benar-benar memahami selera dan kebutuhan konsumen target. Lakukan riset pasar dan temukan celah yang dapat diisi dengan produk atau layanan yang unik. 2. Brand Positioning Warby Parker berhasil menciptakan merek yang kuat dengan posisi pasar yang unik. Bagi UMKM fashion, penting untuk membangun identitas merek yang menonjol dan menarik perhatian konsumen. Pertimbangkan nilai unik yang dapat Anda tawarkan dan kembangkan cerita merek yang kuat. Seperti yang dijelaskan dalam insight sebelumnya. 3. Harga yang Terjangkau Dengan menjual langsung kepada konsumen, Warby Parker dapat menjaga harga tetap terjangkau. UMKM di industri fashion perlu mempertimbangkan strategi harga yang bersaing untuk menarik konsumen. Gunakan strategi penjualan langsung atau online untuk mengurangi biaya dan memberikan nilai tambah. 4. Pemasaran Kreatif Warby Parker menciptakan kampanye pemasaran yang kreatif, seperti layanan “home try-on.” UMKM di fashion dapat mengadopsi strategi pemasaran inovatif seperti ini. Pertimbangkan program uji coba produk, kolaborasi dengan influencer, atau kampanye sosial media yang kreatif untuk menjangkau audiens yang lebih luas. 5. Aspek Filantropi Warby Parker tidak hanya sukses secara finansial tetapi juga berkontribusi pada kebaikan sosial dengan program “beli satu, berikan satu.” UMKM di industri fashion dapat mempertimbangkan inisiatif filantropi sebagai bagian dari strategi bisnis mereka. Ini tidak hanya memberikan dampak positif pada masyarakat tetapi juga dapat meningkatkan citra merek. 6. Inovasi dalam Distribusi Warby Parker menggunakan model bisnis langsung ke konsumen melalui internet di kala pemain lainnya fokus pada pemasaran tradisional. UMKM fashion dapat mempertimbangkan memanfaatkan website untuk bisnis Anda ataupun memanfaatkan platform e-commerce dan social-commerce dan penjualan langsung untuk mencapai pelanggan tanpa melibatkan perantara. Ini tidak hanya meningkatkan profitabilitas tetapi juga memberikan kontrol lebih besar atas pengalaman pelanggan. 7. Berfokus pada Eksekusi Kesuksesan Warby Parker tidak hanya didasarkan pada ide yang bagus tetapi juga pada eksekusi yang baik. UMKM di industri fashion perlu memberikan perhatian serius pada pelaksanaan rencana